NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Cacing di perut Kila sudah melakukan demonstrasi besar-besaran.

Habis berurusan dengan Pak Rhaegar yang menguras energi dan emosi, ia langsung lari ke kantin. Lapar, haus, capek. Sekarang ia hanya punya satu misi di dunia ini: mencari kursi kosong.

Yang ternyata mustahil, karena kantin sedang penuh sesak di jam makan siang.

"Woyy bocil, disini... disini...!" teriak Elvano dari sudut kantin sambil melambaikan tangan dan menunjuk kursi kosong di sampingnya.

Kila tersenyum lega, langsung menghampirinya. Ia duduk dengan helaan napas panjang yang terdengar sangat dramatis.

"Dari mana aja sih, kok baru nongol?" tanya Elvano sambil menyodorkan botol air mineral miliknya ke arah Kila.

"Aku habis dari ruangan Pak Rhaegar," jawab Kila lalu langsung meneguk air itu tanpa jeda.

"Busettt, pelan-pelan aja, nggak ada yang mau ngambil air kamu kok!" Elvano tertawa melihat Kila yang minum seperti baru selesai maraton.

"Sorry, haus banget soalnya," kata Kila setelah botol itu setengah kosong.

"Oiyya tadi kenapa bisa telat? Dan ngapain juga ke ruangannya Pak Rhaegar?"

Kila pun mulai bercerita. Dari awal sampai akhir. Dari ban motornya yang bocor dan robek pagi tadi, harus mendorong jauh mencari tukang tambal ban, sampai harus ujian sendirian di ruangan Pak Rhaegar dan hanya diberi waktu 60 menit untuk 90 soal.

Bukannya menunjukkan rasa simpati, Elvano malah tertawa lepas.

"Hahahaha, kasian masih bocil tapi ujian hidup udah sekeras itu," katanya sambil gemas mengacak-acak rambut Kila yang memang sudah berantakan sejak pagi.

"Aku udah dewasa tau, walaupun badan aku minimalis tapi umurku kan udah dewasa, buktinya aku udah ada KTP!" protes Kila sambil berusaha merapikan rambutnya kembali.

"Sekali bocil, tetap bocil. Makanya makan yang banyak biar cepat gede," balas Elvano sambil mencubit pipi Kila dengan gemas.

Dan saat itu juga Kila sadar, ia kembali menjadi pusat perhatian satu kantin. Tatapan-tatapan cemburu dari segala arah tertuju padanya.

Hal yang sudah sangat biasa kalau Kila sedang bersama Elvano. Laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya hampir 4 tahun ini adalah idola kampus. Tinggi, wangi, senyumnya menawan, dan semua mahasiswi mengenalnya.

"Liat tuhh, semua orang liatin aku, kayak mau makan aku aja," kata Kila bergidik sambil sedikit bersembunyi di balik Elvano.

"Lebay deh, rugi tau makan kamu, nggak punya daging gitu, hahahha," goda Elvano sambil dengan santainya dadah-dadah dan melempar senyum ke arah mahasiswi-mahasiswi yang sedang melihat mereka.

"Kurang ajar, bodygoal gini dibilang nggak ada daging," kata Kila tak mau kalah, memegangi pinggangnya dengan bangga.

Mereka pun mengakhiri perdebatan kecil itu dan mulai makan bersama seperti biasa. Berisik, saling mengejek, tapi nyaman.

Selesai makan, Kila sudah berada di parkiran, siap untuk pulang dan merebahkan diri.

"Bocil, aku nebeng yahh," kata Elvano yang tiba-tiba muncul di samping motor Kila.

"Lahh, motor kamu mana?"

"Motor ku masuk bengkel, tadi pagi aku diantar sama mami," jawab Elvano sambil dengan lancang mengambil alih motor Kila dan langsung duduk di posisi pengemudi.

Kila pun tidak protes, ia langsung duduk di jok belakang, menyilangkan tangannya dengan manja di perut Elvano.

"Wahh, panas banget yahh," kata Kila mengeluh, matahari siang itu memang menyengat.

"Kalau nggak mau panas bawa mobil," balas Elvano.

"Yehhh, aku lebih suka naik motor daripada naik mobil. Kalau kita naik mobil kan aku jadi nggak bisa meluk kamu kayak gini," kata Kila terkekeh, mengeratkan pelukannya.

"Hahahaha, ganjen banget sih, awas aja kalau kamu berani peluk cowok lain," ancam Elvano sambil menjalankan motor.

"Emang kenapa? Kan kamu juga cowok? Sama aja dong."

"Ya beda lah, aku kan cowok baik-baik, ganteng pula," jawab Elvano dengan percaya diri yang levelnya hampir menyamai Pak Rhaegar.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Elvano yang besar dan asri.

"Mampir dulu yuk, mumpung nggak ada orang," kata Elvano sambil menunjukkan senyum iblisnya yang sudah sangat Kila kenal.

"Apaan sih, katanya anak baik-baik."

"Hahahaha, canda sayang, siapa juga yang mau berduaan sama bocil, yang ada aku dikatain main-main sama anak di bawah umur," goda Elvano lagi.

"Ya udah, anak kecil ini mau balik dulu," kata Kila sambil mengambil alih kembali motornya.

"Yeehh ngambek, beneran nggak mampir dulu, sekalian silaturahmi sama calon mertua," balas Elvano.

"Calon mertua apaan? Udah yahh aku balik dulu, salam sama tante."

Kila menjalankan motornya kembali. Sampai di rumah, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari itu begitu melelahkan, antara ujian, Pak Rhaegar, dan Elvano.

Ia teringat lagi bagaimana ia diperlakukan oleh Pak Rhaegar tadi pagi. Rasa kesal itu masih ada, tapi entah kenapa... wajahnya terus terbayang. Matanya berat, perlahan tertutup. Tanpa ia sadari, Kila sudah tertidur pulas karena kelelahan.

Di dalam mimpinya, ia sedang boncengan lagi. Siang yang panas, tangannya meluk erat pengemudi di depannya.

Enak. Nyaman. Hangat.

Tapi kok kemeja yang ia peluk rapi banget? Wanginya bukan parfum Elvano yang biasanya manis dan segar. Wangi ini lebih dewasa, lebih... maskulin.

Kila mengintip dari belakang helm.

Yang membawa motor bukan Elvano. Pengemudi itu memakai kacamata. Dan ketika ia menoleh ke belakang, senyum itu terlihat.

Senyum dengan gigi gingsul.

Pak Rhaegar.

Kila langsung terbangun. Duduk tegak di atas kasur, napasnya ngos-ngosan, jantungnya berdegup tidak karuan.

"GILA! Kenapa jadi dia! Ya Tuhan, kenapa jadi Pak Rhaegar yang aku peluk!"

Ia menutup mukanya dengan bantal, malu pada dirinya sendiri. Mukanya merah sepanas knalpot motornya tadi siang.

 

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!