NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: KDRT

Ketika Arya menyalakan lampu halaman, aku sudah mengenali orang di luar pagar.

Wati berdiri di samping motor dengan kerudung miring dan sudut bibir pecah. Tangan kirinya memeluk kantong plastik berisi pakaian, sedangkan tangan kanannya terus gemetar.

Jagoan masih menggonggong karena ada bau orang asing dan asap motor yang menempel pada Wati. Arya menyuruh anjing itu mundur, membuka pintu kecil, lalu membawa adiknya masuk ke halaman.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Wati menggeleng, tetapi air matanya terus mengalir.

Aku tidak memaksanya bicara di depan pagar. Aku membawanya ke dapur, menyuruhnya duduk, lalu memberinya segelas air hangat. Saat dia mengulurkan tangan, lengan bajunya bergeser dan memperlihatkan memar di pergelangan.

Warnanya lebih gelap dan jumlahnya lebih banyak daripada saat Lebaran.

“Sofyan?” tanyaku.

Wati menutup lengannya. “Kami bertengkar.”

“Dia memukulmu?”

“Aku juga salah.”

“Itu bukan jawaban.”

Arya berdiri di seberang meja. Wajahnya begitu tenang hingga aku tahu kemarahannya sedang ditekan sekuat tenaga.

“Siapa yang memukul?” tanyanya.

“Sofyan.”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Aku mengambil kotak pertolongan pertama. Luka di bibir dibersihkan, kemudian kutempelkan kompres dingin pada pipinya yang mulai bengkak. Ada goresan di bahu dan memar berbentuk jari di lengan atas.

Sebelum memotret, aku meminta izinnya. Wati sempat menutup wajah karena malu, tetapi Arya berkata foto itu tidak akan disebarkan dan hanya disimpan sebagai bukti jika dia memilih melapor.

Kami mengambil gambar dari jarak yang cukup jelas tanpa memaksanya membuka pakaian di depan kakaknya. Luka yang tertutup akan diperiksa tenaga kesehatan perempuan besok. Aku menulis waktu, tempat, dan penjelasan singkat Wati di buku, lalu mengirim salinan foto ke penyimpanan aman agar tidak hilang jika ponselnya dirampas lagi.

“Ponselmu sendiri di mana?” tanyaku.

“Dibanting Sofyan.”

Dia mengeluarkan perangkat dengan layar retak dari plastik pakaian. Kartu SIM masih ada. Kami mematikannya setelah mencatat pesan ancaman yang masuk.

“Kita foto dengan tanggal,” kataku. “Besok periksa ke puskesmas atau rumah sakit. Kalau pusing, muntah, sulit bernapas, atau sakitnya bertambah, kita pergi malam ini.”

Wati mengangguk lemah.

Suara kami membangunkan Raka dan Bayu. Mereka muncul di tangga. Bayu langsung hendak turun ketika melihat darah di bibir bibinya.

“Kembali ke kamar,” kata Arya.

“Tapi Bibi Wati...”

“Bunda dan Ayah akan menolong. Kalian temani Sasa.”

Raka menarik Bayu kembali. Sebelum pergi, dia mengambil selimut dari lemari tangga dan meletakkannya di anak tangga bawah untuk Wati. Tidak ada pertanyaan lain.

Aku menyelimuti bahu Wati.

“Kenapa pertengkarannya?” tanya Arya.

Wati menatap meja. Dia menemukan pesan Sofyan dengan perempuan lain. Saat diminta menjelaskan, Sofyan merampas ponsel, menuduh Wati gagal mengurus rumah dan usaha, lalu menampar. Ketika Wati mencoba keluar, dia ditarik sampai jatuh dan dipukul lagi.

“Sudah berapa kali?”

“Yang separah ini baru pertama.”

“Yang tidak separah ini?” tanyaku.

Wati mengaku Sofyan pernah mendorong, mencengkeram pergelangan, dan melempar barang. Sesudahnya dia selalu meminta maaf, membelikan sesuatu, lalu menyalahkan Wati karena membuatnya marah. Keluarga suaminya meminta diam agar usaha mereka tidak menjadi gosip.

“Aku pikir kalau jualan berhasil, dia akan menghargai aku,” katanya.

“Kekerasan bukan terjadi karena kamu kurang menghasilkan uang,” jawabku. “Dan kesuksesan usaha tidak menyembuhkan orang yang merasa berhak memukul.”

Arya menatap meja, rahangnya keras. Dia tidak memotong atau menyuruh Wati langsung bercerai. Keputusan sebesar itu tetap milik adiknya.

Wati menangis lebih keras. Jadi bekas di pergelangan saat Lebaran memang bukan benturan lemari.

Arya menutup kedua tangannya di belakang punggung. “Kamu tinggal di sini.”

“Sofyan akan marah.”

“Rumah ini rumahmu juga.”

“Aku takut dia datang.”

“Dia tidak masuk.”

Kami menyusun rencana sederhana untuk malam itu. Pintu dan jendela dikunci, Pak RT diberi tahu tanpa menyebarkan rincian, Wati tidur di kamar bawah agar tidak sendirian, dan kunci motornya disimpan di dekatku. Kalau Sofyan datang membawa senjata atau mencoba menerobos, kami akan langsung menelepon polisi.

Arya juga meminta Bang Gino menugaskan satu pekerja berjaga di gerbang luar, bukan untuk menyerang, hanya sebagai saksi dan bantuan darurat. Jagoan dipindah ke rantai yang lebih pendek agar tidak lepas dalam keributan.

Wati menatapku, seolah menunggu aku menolak. Setelah apa yang dia lakukan pada resep, mungkin dia berpikir aku akan mengingatnya sebelum membuka pintu.

“Kamar bawah kosong,” kataku. “Kamu bisa tinggal selama perlu. Besok kita periksa luka dan bicara tentang pilihanmu.”

“Mbak masih mau menolongku?”

“Perbuatanmu kepadaku akan dibicarakan pada waktunya. Malam ini yang penting kamu aman.”

Wajahnya berubah. Kalimat tentang perbuatannya jelas menyentuh rahasia yang belum kuungkap. Dia membuka mulut, tetapi ponselnya berdering.

Nama Sofyan muncul.

Arya menyalakan pengeras suara setelah Wati mengizinkan.

“Pulang sekarang,” suara Sofyan terdengar. “Jangan bikin malu keluarga.”

Wati menggenggam selimut. “Aku tidak pulang malam ini.”

“Kakakmu menghasut?”

Arya bicara. “Dia memilih tinggal di tempat aman.”

Sofyan diam sesaat, lalu menuduh Wati mencuri uang usaha dan mengancam akan datang mengambilnya. Arya hanya menjawab, “Jangan masuk rumahku tanpa izin. Besok bicara dengan kepala dingin dan saksi.”

Telepon ditutup dari seberang.

Tak sampai setengah jam, Jagoan kembali menggonggong. Lampu motor berhenti di depan pagar. Sofyan benar-benar datang.

Dia memukul gerbang dan memanggil istrinya pulang. Arya berdiri di teras, tidak membuka kunci.

Aku merekam dari balik jendela. Wati tetap di ruang tengah, jauh dari pandangan Sofyan. Dia berhak menentukan apakah hendak bicara, dan malam itu dia memilih tidak bertemu.

“Pergi,” katanya.

“Dia istriku!”

“Bukan barangmu.”

“Ini urusan rumah tangga kami.”

“KDRT bukan urusan yang boleh ditutup pagar.”

Aku menelepon Pak RT. Begitu lampu beberapa rumah menyala dan tetangga mulai keluar, Sofyan berhenti memukul gerbang. Dia masih berteriak bahwa Wati pembohong, lalu pergi sebelum Pak RT tiba.

Kami mencatat waktu kedatangannya dan menyimpan rekaman suara dari kamera teras.

Pak RT tiba setelah Sofyan pergi. Dia melihat gerbang yang sempat dipukul, mendengar rekaman ancaman, lalu bersedia menjadi saksi. Dia juga mengingatkan bahwa laporan KDRT dapat dibuat tanpa menunggu serangan berikutnya.

“Besok kami antar Wati periksa,” kata Arya.

“Simpan semua bukti,” pesan Pak RT. “Jangan selesaikan hanya dengan janji minta maaf.”

Wati terduduk di ruang tamu. “Maaf,” katanya kepadaku.

“Untuk apa?”

“Banyak hal.”

Dia belum sanggup menjelaskan. Aku tidak memaksa.

Saat hendak membantunya berdiri, lengan bajunya tersangkut. Kain itu naik sampai siku dan memperlihatkan memar luas di sepanjang lengan.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Arya menatap luka itu. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.

Lalu dia mengambil jaket dari sandaran kursi dan berjalan menuju pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!