Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Garis yang Mengubah Segalanya
Matahari pagi mulai nampak, menembus tirai jendela kamar tidur apartemen. Nadira bangun dengan tubuh yang terasa remuk. Saat membuka mata, ia terdiam beberapa saat. Sudah dua hari ia merada tidak nyaman dengan kondisi tubunya.
Nadira akhirnya memutuskan pergi ke rumah sakit. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan napas pendek yang beberapa kali dialaminya membuatnya tidak nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.
Dia berangkat sendiri. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi persoalan dengan Arga, tetapi kali ini dia berusaha mengesampingkannya. Dia ingin memastikan kondisi tubuhnya terlebih dahulu sebelum memutuskan apa pun tentang hubungan mereka.
Setelah menjalani pemeriksaan awal, dokter menanyakan beberapa hal mengenai keluhannya, termasuk perubahan yang belakangan dirasakan Nadira. Ketika ditanya tentang kemungkinan kehamilan, Nadira sempat terdiam.
Dia tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan itu di tengah masalah yang sedang dihadapinya.
“Saya belum tahu, Dok,” jawabnya jujur.
Dokter menyarankan pemeriksaan kehamilan untuk memastikan. Nadira mengikuti arahan tersebut, kemudian menunggu di ruang pemeriksaan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Beberapa saat kemudian, dokter kembali membawa hasil pemeriksaan.
“Nyonya Nadira, hasil tes menunjukkan bahwa Anda positif hamil.”
Nadira menatap dokter tanpa segera menjawab. “Hamil?” ulangnya lirih, seolah perlu mendengar kata itu sekali lagi untuk memercayainya.
Dokter mengangguk. “Ya. Namun, karena Anda juga mengeluhkan tubuh yang mudah lelah dan napas pendek, kita perlu memeriksa kondisi Anda lebih lanjut.”
Nadira menunduk. Tangannya perlahan bertaut di pangkuan. Dia hamil. Ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam tubuhnya, anak dari laki-laki yang dicintainya. Seharusnya kabar itu menjadi sesuatu yang membahagiakan. Namun, yang muncul justru perasaan campur aduk yang sulit dia uraikan.
Beberapa hari terakhir, dia bahkan sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungannya dengan Arga. Dia belum tahu apakah masih sanggup melanjutkan kehidupan bersama laki-laki itu setelah mengetahui pernikahannya dengan Alya. Sekarang, bagaimana dia harus menghadapi kenyataan ini?
“Apakah usia kehamilannya sudah bisa diketahui, Dok?” tanyanya setelah beberapa saat.
Dokter menjelaskan bahwa pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memperkirakan usia kehamilan dan memastikan kondisinya. Nadira mendengarkan dengan saksama, berusaha menangkap setiap penjelasan meskipun pikirannya masih terpaku pada berita yang baru diterimanya.
Dia belum memberi tahu Arga. Bahkan, untuk dirinya sendiri pun, dia masih membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan tersebut.
Pemeriksaan tidak berhenti setelah kehamilan terkonfirmasi. Dokter ingin menelusuri keluhan napas pendek dan kelemahan yang dialami Nadira, terutama karena gejala itu sudah muncul sebelum dia mengetahui dirinya hamil.
Setelah pemeriksaan awal, dokter menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperiksa lebih jauh. Nadira kemudian dirujuk untuk menjalani evaluasi lanjutan oleh dokter spesialis.
Hari itu, dia belum mendapatkan jawaban lengkap mengenai kondisi tubuhnya. Namun, dia diminta tidak mengabaikan gejala yang dialaminya dan segera mencari pertolongan jika sesak napasnya memburuk.
Nadira mengangguk. Dia tahu dirinya harus mengikuti arahan dokter, tetapi pikirannya masih sibuk memproses kabar kehamilan tersebut.
Dalam perjalanan pulang, dia beberapa kali meletakkan tangan di atas perutnya. Belum ada perubahan yang bisa dia rasakan, tetapi sekarang dia tahu bahwa dirinya tidak lagi menjalani hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Ada seorang anak yang kelak akan bergantung kepadanya.
Air matanya mengalir tanpa disadari. “Bagaimana sekarang, Nak?” bisiknya lirih. Dia tidak tahu apakah pertanyaan itu ditujukan kepada bayi dalam kandungannya atau kepada dirinya sendiri.
***
Sesampainya di apartemen, Nadira duduk lama di tepi ranjang. Tasnya masih tergeletak di lantai, sementara hasil pemeriksaan tersimpan di dalamnya.
Dia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Arga. Nama laki-laki itu masih menjadi bagian penting dalam hidupnya, meskipun sekarang dia tidak lagi tahu bagaimana menempatkan dirinya dalam kehidupan Arga.
Nadira ingin mengatakan bahwa mereka akan memiliki seorang anak. Dia membayangkan reaksi Arga ketika mendengar kabar itu, bagaimana wajah laki-laki tersebut mungkin berubah, dan apakah dia akan merasa bahagia.
Namun, bayangan itu segera diikuti oleh pertanyaan yang lebih menyakitkan.
Apakah kabar kehamilan ini akan membuatnya kembali bertahan dalam hubungan yang telah melukai hatinya?
Nadira tidak ingin menjadikan anak mereka alasan untuk mengabaikan semua persoalan yang belum selesai. Dia juga tidak ingin mengambil keputusan besar hanya karena takut menghadapi masa depan seorang diri.
Jemarinya sempat menyentuh kolom pesan, tetapi tidak ada satu kata pun yang dia tulis. Dia belum siap memberi tahu Arga. Setidaknya, bukan sebelum dirinya sendiri memahami apa yang sedang terjadi dan menentukan langkah berikutnya.
Nadira meletakkan ponsel, kemudian kembali memandang hasil pemeriksaan yang dibawanya pulang. Di sana tertulis kenyataan yang kini tidak mungkin dia abaikan.
Dia hamil. Namun, di balik kabar yang mengubah seluruh pertimbangannya itu, masih ada keluhan fisik yang belum menemukan jawaban.
Nadira belum tahu bahwa pemeriksaan lanjutan akan membawanya pada kenyataan yang jauh lebih berat daripada yang bisa dia bayangkan.
Untuk malam itu, dia hanya bisa duduk dalam keheningan, memikirkan seorang anak yang belum pernah ditemuinya dan masa depan yang tiba-tiba terasa semakin rumit.