Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Matahari pagi menyinari gedung pencakar langit PT Cipta Sentosa dengan sangat cerah.
Suasana di lantai eksekutif tampak jauh lebih sibuk daripada biasanya.
Tap, tap, tap.
Suara langkah kaki cepat terdengar di sepanjang koridor berlapis karpet tebal.
Para direktur dan manajer divisi tampak membawa berbagai dokumen tebal menuju ruang rapat utama.
Hari ini adalah hari pertama pelaksanaan rapat pleno besar untuk membahas ekspansi global perusahaan.
Bima duduk di ujung meja rapat panjang berlapis kayu mahoni gelap dengan tenang.
Ia mengenakan setelan jas hitam rapi tanpa ada kerutan sedikit pun di kerahnya.
"Selamat pagi, Tuan Bima," sapa Rian sambil membungkuk sopan di sebelah kursi pimpinan.
"Pagi, Rian, apakah semua kepala divisi sudah hadir di dalam ruangan?" tanya Bima datar.
"Sudah lengkap, Tuan, mereka sedang menunggu arahan langsung dari Anda," jawab Rian cepat.
Bima mengangguk pelan dan memberikan isyarat dengan lambaian tangannya.
"Kalau begitu, mari kita mulai rapat penting ini sekarang juga," perintah Bima tegas.
Rian segera menekan tombol remote untuk menyalakan layar proyektor besar di depan ruangan.
Wus...
Layar putih itu menampilkan peta navigasi logistik internasional kawasan Asia Tenggara.
"Seperti yang Anda lihat di layar, target pasar kita berikutnya adalah memperluas jaringan ke Singapura dan Malaysia," buka Rian menjelaskan.
Bisik-bisik pelan langsung terdengar dari bangku para kepala divisi yang hadir di dalam ruangan.
Salah satu direktur senior mengangkat tangannya ragu-ragu untuk memberikan tanggapan.
"Maaf, Tuan Bima, ekspansi lintas negara butuh modal yang sangat masif dan risiko kerugian yang tinggi," protes direktur itu.
Bima menatap tajam pria paruh baya di depannya tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.
"Risiko tinggi selalu ada dalam setiap bisnis besar, tapi diam di tempat berarti kita mati perlahan," jawab Bima dingin.
Direktur senior itu tertegun kaku mendengarkan argumen telak dari bos mudanya tersebut.
"Kita tidak akan bersaing secara sembarangan, kita masuk dengan standar efisiensi digital yang lebih unggul," tambah Bima menjelaskan.
Rian mengganti halaman presentasi di layar proyektor menampilkan data analisis pasar yang sangat rinci.
"Data ini menunjukkan peningkatan permintaan logistik laut di kawasan Selat Malaka melonjak tajam tahun ini," lanjut Rian.
Semua peserta rapat memperhatikan angka-angka statistik yang terpampang nyata di hadapan mereka.
"Apakah kita sudah menyiapkan izin operasional dan jalur pelabuhan di sana, Rian?" tanya Bima serius.
"Tim hukum kita sudah merintis kerja sama awal dengan otoritas pelabuhan setempat, Tuan," jawab Rian mantap.
Wusssh...
Suara pendingin ruangan berdengung pelan di tengah keheningan yang menyelimuti aula rapat.
Bima menyandarkan punggungnya di kursi kulit sambil melipat kedua tangan di dada.
"Pastikan semua dokumen legalitas bebas dari celah hukum sekecil apa pun," instruksi Bima mutlak.
"Baik, Tuan Bima, kami akan kawal proses perizinan lintas negara ini sampai tuntas," balas Rian patuh.
"Bagaimana dengan tanggapan para investor asing sejauh ini?" selidik Bima menyelidiki.
"Banyak investor luar negeri yang antusias menanamkan modal setelah melihat kesuksesan kita melumpuhkan sindikat kemarin," lapor Rian tersenyum.
Bima mendengus kecil mendengar respons positif dari pasar internasional terhadap perusahaannya.
"Mereka tertarik karena kita kuat, bukan karena kita ramah," batin Bima dingin dalam hati.
"Tetap selektif memilih investor luar, kita tidak ingin ada mata-mata asing menyusup ke internal kita lagi," pesan Bima tajam.
"Pesan Anda sangat jelas, Tuan, kami akan menyaring setiap penawaran modal secara ketat," jawab kepala divisi keuangan.
Rapat strategi global itu terus berlanjut selama lebih dari dua jam penuh dengan diskusi intensif.
Tidak ada satu pun peserta rapat yang berani meremehkan keputusan atau visi besar yang dicanangkan Bima.
Mereka melihat sosok pemimpin muda yang memiliki ketegasan, visi tajam, dan perhitungan matang.
Keluarga besar PT Cipta Sentosa kini benar-benar bertransformasi menjadi kekuatan korporasi yang disegani.
Menjelang siang hari, rapat pleno besar tersebut akhirnya resmi ditutup dengan hasil yang sangat memuaskan.
Satu per satu para direktur dan kepala divisi membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruang rapat.
Bima tetap duduk di kursi pimpinannya sambil merapikan beberapa lembar dokumen di atas meja.
"Kerja bagus hari ini, Rian, presentasimu sangat membantu kelancaran rapat," puji Bima singkat.
"Terima kasih, Tuan Bima, ini semua berkat arahan strategi yang Anda susun sejak malam tadi," balas Rian merendah.
Bima berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju jendela kaca besar yang menghadap kota.
"Besok lusa aku harus terbang langsung ke Singapura untuk memantau survei pelabuhan secara langsung," ucap Bima serius.
"Baik, Tuan, saya akan siapkan tiket pesawat jet pribadi dan jadwal agenda perjalanan Anda," jawab Rian sigap.
"Bagus, pastikan tidak ada kebocoran jadwal keberangkatanku ke publik," pesan Bima mengingatkan.
"Dimengerti, Tuan Bima, kerahasiaan perjalanan ini akan dijaga ketat," balas Rian sebelum pamit keluar.
Krek...
Pintu ruang rapat tertutup rapat kembali menyisakan Bima seorang diri di dalam ruangan luas.
Ia menatap lalu-lalang kendaraan di jalan raya dari ketinggian lantai puluhan gedung pencakar langit.
"Dulu aku berjalan kaki di bawah terik matahari tanpa tujuan pasti," kenang Bima dalam hati kecilnya.
"Sekarang, langkah kakiku menentukan arah perdagangan logistik di kancah internasional," lanjutnya tersenyum tipis.
Perjalanan hidupnya membuktikan bahwa kerja keras, kecerdasan, dan mental baja mampu mengubah takdir seseorang.
Namun Bima tahu betul bahwa semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpa puncaknya.
Di balik kesuksesan ekspansi global ini, pasti ada pihak-pihak lain yang mulai merasa terancam dengan kehadiran perusahaannya.
Dan Bima sudah siap siaga menghadapi segala bentuk intrik maupun ancaman baru yang akan datang menguji.