NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:589.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 11

Malam itu di kamar utama, keheningan merayap begitu dingin. Aidil berbaring memunggungi sisi ranjang Zivana, menatap kosong pada kegelapan dinding. Rasa bersalah terus menggagahi pikirannya. Pria itu sadar bahwa kebohongannya telah mengikis perlahan kepercayaan istrinya. Namun, ketakutan luar biasa akan kehilangan Zivana, wanita yang kini mulai mengisi seluruh rongga dadanya dengan benih-benih cinta, membuatnya memilih bertahan dalam kebohongan. Garis ini harus kuselesaikan sendiri tanpa melibatkan Ziva lagi, batin Aidil berusaha membenarkan keputusannya yang keliru.

Keesokan harinya, kecangguhan di antara mereka makin menebal. Zivana melayani kebutuhan Aidil dan anak-anak seperti biasa, menyiapkan sarapan, merapikan dasi, hingga menyunggingkan senyum tipis untuk Khaisar dan Amora. Namun tak ada lagi binar di matanya saat tatapannya beradu dengan Aidil. Aidil berangkat ke kantor dengan dada yang terasa berat, membawa rentetan kebohongan yang belum sempat diluruskan.

Sore harinya, saat jarum jam menunjuk angka empat dan Aidil bersiap untuk pulang demi memperbaiki suasana di rumah, ponsel di atas meja kerjanya mendadak bergetar hebat. Nama Stela terpampang di sana.

Aidil mengabaikannya dua kali, namun panggilan ketiga masuk disusul sebuah pesan singkat:

'Dil, tolong... aku tidak bisa berdiri. Dadaku sesak sekali. Aku cuma punya kamu di kota ini...'

Aidil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mengingat ancaman Stela sebelumnya tentang jalur hukum untuk hak asuh anak, pria itu akhirnya mendengus kasar dan menekan tombol panggil balik.

"Ada apa lagi, Stela? Aku harus pulang," cetus Aidil dingin.

Dari seberang telepon, suara Stela terdengar sangat parau dan lemah, diselingi ringisan menahan sakit.

'Dil... tolong ke apartemenku sebentar saja. Aku jatuh di kamar mandi... kepalaku pusing sekali, aku tidak sanggup memanggil ambulans...'

"Stela, jangan buat alasan yang tidak-tidak..."

'Aku tidak bohong, Aidil!' potong Stela terbatuk-batuk, suaranya melemah dramatis.

'Tolong... sebentar saja. Kamu boleh bawa aku ke rumah sakit kalau tidak percaya. Tapi tolong ke sini...'

Sambungan terputus. Aidil memijat pelipisnya yang mendadak pening luar biasa. Dilema menghantam kepalanya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Stela di apartemen itu dan keluarganya tahu, masalah hak asuh Khaisar dan Amora bisa menjadi makin rumit. Dengan berat hati, Aidil meraih kunci mobilnya. Sebelum melangkah keluar, ia menekan nomor ponsel Zivana.

Di rumah, Zivana baru saja selesai menata piring-piring makan malam di atas meja kayu. Ketika ponselnya berdering, jantungnya berdesir pelan. Ia mengangkatnya dengan suara tenang yang tertahan.

"Halo, Mas?"

'Ziva...' suara Aidil terdengar agak terburu-buru di seberang sana. Pria itu menahan napas sejenak, kembali menyusun kebohongan baru demi menutupi tujuannya.

'Ziva, maaf sekali... sepertinya malam ini Mas pulang agak terlambat.'

Zivana mematung di samping meja makan. Jemarinya yang memegang tepi meja mengerat hingga buku jarinya memutih.

"Ada apa, Mas? Ada masalah di kantor?"

'Iiya,' sahut Aidil gagap, mengutak-atik alasannya.

'Ada klien penting dari luar kota yang mendadak minta meeting makan malam untuk revisi proyek besar. Mas tidak bisa menolaknya. Kamu dan anak-anak makan malam duluan saja, ya? Jangan menunggu Mas.'

Setetes air mata yang hangat luruh melewati pipi Zivana tanpa suara. Klien luar kota? batin Zivana dengan dada yang rasanya dihantam benda tumpul. Ia tahu betul jadwal kantor Aidil karena sekretaris Aidil, Sarah, sempat mengonfirmasi bahwa seluruh agenda luar kantor minggu ini kosong.

Zivana memejamkan mata, menelan kepahitan yang menyumbat tenggorokannya. "Begitu ya, Mas... Ya sudah. Hati-hati di jalan."

'Maafkan Mas ya, Sayang. Mas usahakan pulang secepatnya. Mas mencintaimu,' bisik Aidil lembut sebelum mematikan telepon.

Kalimat manis itu kini terdengar bagai racun berbalut gula bagi Zivana. Ia menurunkan ponselnya pelan-pelan, menatap hidangan makan malam yang masih berasap di atas meja dengan tatapan hampa.

Tiga puluh menit kemudian, Aidil tiba di depan unit apartemen mewah milik Stela. Ia mengetuk pintu beberapa kali dengan nada tidak sabar. Saat pintu perlahan terbuka, Stela berdiri bersandar pada daun pintu. Wajah wanita itu tampak pucat tanpa riasan, mengenakan gaun tidur longgar, dengan tangan kiri memegang dadanya.

"Dil..." bisik Stela lemah, hampir merosot jika Aidil tidak refleks menangkap bahunya.

"Kamu kenapa, Stela?" tanya Aidil ketus, meski tangannya tetap menahan tubuh mantan istrinya agar tidak jatuh. Ia menuntun Stela berjalan canggung menuju sofa di ruang tamu.

"Dadaku sesak sejak sore, Dil... Pusing sekali," puji Stela seraya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan mata rapat-rapt.

"Terima kasih kamu mau datang... Aku benar-benar tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi di kota ini."

Aidil berdiri menjauh, menatap Stela dengan jarak aman. "Kalau memang sakit parah, aku akan telepon ambulans sekarang juga atau antar kamu ke UGD. Aku tidak bisa lama-lama di sini."

Stela membuka matanya pelan, menatap Aidil dengan binar keputusasaan dan kerinduan yang mendalam. "Kenapa kamu seberubah ini, Aidil? Dulu... kalau aku sakit sedikit saja, kamu akan panik dan menemaniku semalaman."

"Itu dulu, Stela! Sebelum kamu jalan keluar dari pintu rumah dan meninggalkan anak-anak kita!" tegur Aidil tajam, suaranya menekan namun dingin.

"Sekarang situasiku berbeda. Aku punya istri yang menungguku di rumah."

Stela terkekeh pelan, tawa pahit lolos dari bibirnya yang pucat. "Istri? Wanita yang baru beberapa bulan kamu nikahi itu? Apa dia benar-benar bisa menggantikan posisi yang pernah kita bangun selama bertahun-tahun, Dil?"

"Zivana tidak pernah menggantikan posisimu, Stela," potong Aidil penuh penekanan, menatap Stela lurus tanpa keraguan.

"Dia membuka lembaran baru yang jauh lebih baik. Dia mencintai anak-anakku tanpa syarat, dan aku mencintainya dengan seluruh hatiku. Jadi tolong, jangan pernah merendahkannya lagi."

Wajah Stela kian memucat mendengar penegasan itu. Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, menahan amarah yang membakar dada.

"Kamu bohong, Dil. Kamu cuma terbiasa ada dia di rumahmu! Kamu belum sepenuhnya lupa padaku!"

"Aku sudah lama melupakan rasa itu, Stela. Yang tersisa hanya rasa tanggung jawab kemanusiaan karena kamu ibu dari anak-anakku," balas Aidil datar. Pria itu merogoh saku jasnya, mengambil ponsel untuk memesan layanan medis darurat.

"Aku akan panggilkan dokter pribadi untuk datang ke sini. Setelah itu aku pulang."

"Tidak perlu!" potong Stela mendadak bangkit dari sofa, meski tubuhnya sedikit limbung. Ia melangkah cepat menghalangi jalan Aidil menuju pintu keluar.

"Aku tidak butuh dokter! Aku cuma butuh kamu mendengarkan aku sebentar saja, Aidil!"

Aidil menghentikan langkahnya, menatap Stela dengan raut wajah penuh kekecewaan. Ia sadar, sakitnya Stela mungkin hanya separuh nyata dan sisanya adalah drama untuk menahannya di tempat itu.

"Kamu membohongiku lagi, Stela?" tanya Aidil dengan suara sangat rendah dan berbahaya.

"Aku memang sakit, Dil! Hati dan dadaku sakit melihat kamu dan anak-anak menjauh dariku!" jerit Stela, air matanya akhirnya menetes. Ia nekat maju dan memegang kedua lengan Aidil.

"Beri aku kesempatan... Tolong, biarkan aku kembali jadi bagian dari hidup kalian..."

"Lepaskan, Stela!" bentak Aidil, menghempaskan tangan Stela secara kasar hingga wanita itu mundur beberapa langkah.

"Jangan pernah gila! Aku tidak akan pernah mengkhianati Zivana!"

1
Rehaan Aamir
Laaahh Koq Jd Almarhumah Tiba2...Bukanya Siska Ntu Emak Kandungnya Melvin Ya????...Apa Bkln Ada Plot Twist Lagi????...
Katherina Ajawaila
itu sebab akibat gembel sja belagu korupsi uang kantor ngk kira" SMP 500 M, fi mana untung nya. ngj mikir itu keringat orgtua. tau nya enak aja. kalian itu bukan darah Hadinata ada pada kalian, tau diri numpak Merck 😎
Katherina Ajawaila
msk in aja k prodeo, ngk usah malu biar masing" punya rasa tanggung jawab 🤫
Katherina Ajawaila
kel, ngk jelas masing" kesenangan baru katain istri nya Melvin dia, janda rasa gadis kalau kamu Clarisa gadis pasti. rasa janda 🤭
Katherina Ajawaila
Zivana, encee otak nya tau ja sistem yg ada celah biar koruptor merajalela 😳
Katherina Ajawaila
Nunjak Clarisa sm Jason dan Siska, jelas" ngk ikatan darah bukan rendah hati, ini nunjak mau Kuasain, bagus ngk msk prodeo kalau ngk jd gembel 🤑
Rehaan Aamir
Dua2 Nya Pada BEGOOOOOOO...Yg Laki Gk Mau Jujuuuurrr Yg Perempuan Juga Knp Gk Lgsg Nanya Aja K Intinya Biar Gk Ada Salah Faham....
Katherina Ajawaila
telat Aidil bego, ngomong kaya sama org idiot ulang" 😎
Katherina Ajawaila
keren lah rencana nya semoga berjalan lancar biar tau diri Clarissa dan Jason sampah masyarakat yg numpang beken /Gosh/
Katherina Ajawaila
mantap calon suami yg posesif🤭
Katherina Ajawaila
jgn" kira tipe yg seperti Melvin ini yg bahaya, diam" menghanyutkan, senggol bacok ya kan🤫
Katherina Ajawaila
Aidil ko bodok kebanyak kena daging basi sih jd bego masa ngk bisa tuntut balik anak kandung di siksa. jd gemes liat Aidil 🤭
Katherina Ajawaila
kasihan anak ya biar ngk lahir dr rahim bunda tapi merasakan ksh sayang fi urus sm bunda. sedih juga /Puke/
Ds Phone
semua habis kena kaut
Katherina Ajawaila
Khaisar lebih punya prinsip dr pd papa nya yg hanya fi ksh kiss luluh, menjijikan. bekas_:org diluar sana udh mgk kepalai jd artis makanya balik lg, Aidil bego 🤑
Ds Phone
tahu matah masa pakai duit tak ingat duia
Katherina Ajawaila
Sivana hrs berani kalau sayang anak dia jgn liat Aidil., liat aja anak" yg merasa asing dgn ibunya, ngk brani bicara, terus terang sm Aidil, yg jd bodok" di atur Stela 🤑
Katherina Ajawaila
Ziva bego lg du tanya bukan jawab kalau kamu liat smuanya biar tau diri Aidil. ngk usah pakai ngumpat" jd ngk sakit hati sendiri, ngapain di pendem ntar jd penyakit 😎
Katherina Ajawaila
urusan nya buat bsk, lucu Aidil. bicaranya di telp ngj etis bener, toh mah plng kerja bicara lah di rmh. boleh jadi CEO di kantor pimpin perusahan tapi utk atas anin istri yg ngk jelas ngk bisa tegas, pret lah /Toasted/
Katherina Ajawaila
untung " blm di ambil perawan mu Ziva, rugi amat kalau punya suami plin plan, mmg nya bola pimpong🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!