Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Yan Kai tetap menahan napasnya di balik batang pohon raksasa. Ia sama sekali tidak berniat ikut campur. Dari aura yang dipancarkan kedua belah pihak saja, ia sudah mengetahui bahwa pertarungan ini bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh. Ia memilih menjadi pengamat.
Sementara itu, di tanah lapang, salah seorang pria berjubah merah melangkah maju sambil mengarahkan pedangnya ke arah wanita bercadar tersebut. "Nona, serahkan saja peta itu. Kau tidak akan bisa melarikan diri."
Wanita berjubah putih itu tetap berdiri tenang. Angin perlahan mengibaskan ujung jubah dan cadar biru mudanya. Tatapannya yang jernih sama sekali tidak memperlihatkan sedikit pun rasa takut. "Aku sudah mengatakan sebelumnya. Peta ini bukan milik Sekte Naga Phoenix. Silakan kembali." Nada suaranya terdengar lembut, namun mengandung ketegasan yang tidak dapat dibantah.
Pria kedua mendengus dingin. "Masih berani keras kepala. Kau pasti tahu benda apa yang sedang kau bawa." Ia mengeluarkan gulungan kulit tua dari dalam Cincin Ruang. Gulungan itu hanya berisi setengah bagian gambar. "Ini adalah setengah bagian peta menuju makam seorang kultivator Ranah Penguasa. Sedangkan setengah lainnya berada di tanganmu. Jika kedua bagian itu disatukan, lokasi makamnya akan langsung diketahui."
Pria ketiga kemudian menyeringai. "Kami sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Kebetulan setengah bagian terakhir justru berada di tanganmu. Serahkan sekarang. Kami mungkin masih akan membiarkanmu hidup."
Di balik pohon, Yan Kai sedikit terkejut. "Makam seorang kultivator Ranah Penguasa..." Ranah itu berada jauh di atas kekuatan yang dimilikinya sekarang. Walaupun ia belum pernah bertemu seorang kultivator Ranah Penguasa, ia tahu bahwa setiap peninggalan mereka pasti memiliki nilai yang tak terbayangkan.
Namun wanita bercadar itu tetap terlihat tenang. Ia bahkan menggeleng pelan. "Kalian terlalu banyak bicara. Kalau ingin merebutnya, silakan coba saja."
Ucapan itu membuat wajah ketiga pria tersebut langsung berubah muram. "Sombong! Bunuh dia!"
Whusss!
Ketiganya bergerak hampir bersamaan. Aura Ranah Pemurnian Qi Tahap Awal langsung meledak dari tubuh mereka. Pedang mereka melesat dari tiga arah berbeda, menutup seluruh jalur mundur wanita itu. Kerja sama mereka terlihat sangat terlatih—jelas bukan pertama kalinya mereka bertarung bersama.
Namun wanita berjubah putih itu bahkan tidak bergeser sedikit pun. Ia hanya mengangkat pedangnya perlahan. Sebuah hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyebar ke seluruh tanah lapang.
"Kekuatan ini..." Yan Kai tanpa sadar menahan napas.
Kristal-kristal es mulai terbentuk di atas rerumputan. Suhu udara turun drastis, bahkan dedaunan di sekitar mereka mulai diselimuti embun beku.
Wanita itu akhirnya bergerak.
Whusss...!
Langkahnya begitu ringan, tubuhnya bagaikan sehelai bulu yang tertiup angin. Serangan pertama datang.
Clang!
Pedangnya dengan mudah menangkis tebasan pria berjubah merah. Belum sempat lawannya menarik kembali pedangnya, wanita itu sudah menghilang dari tempatnya.
"Apa?!"
Pria itu membelalakkan mata.
Slash!
Cahaya pedang berwarna biru muda melintas. Leher pria berjubah merah langsung terbelah. Darah bahkan belum sempat menyembur ketika tubuhnya roboh ke tanah.
"Dia membunuh Kakak Senior!"
Dua pria lainnya langsung menyerang lebih ganas. Teknik demi teknik dikeluarkan tanpa henti. Namun wanita itu tetap tenang.
Setiap langkahnya terlihat anggun, setiap ayunan pedangnya begitu sederhana, tetapi selalu mengenai titik paling mematikan.
Clang! Clang! Clang!
Suara benturan senjata terus menggema. Ketiga pria itu terus menyerang secara bersamaan. Sayangnya, tak satu pun serangan mereka berhasil menyentuh ujung pakaian wanita tersebut, seolah seluruh gerakan mereka telah dibaca sejak awal.
Yan Kai yang melihat dari kejauhan hanya bisa terdiam. "Hebat... meskipun mereka bertiga bekerja sama, mereka bahkan tidak mampu menyentuhnya."
Saat itulah wanita itu mengangkat pedangnya ke arah langit. Energi spiritual berwarna biru muda langsung berkumpul di sekeliling bilah pedangnya. Hawa dingin yang memenuhi area itu meningkat berkali-kali lipat.
"Elemen es..." Yan Kai bergumam pelan. Baru kali ini ia melihat seorang kultivator menggunakan kekuatan elemen secara langsung. Wanita itu ternyata adalah seorang kultivator Ranah Pemurnian Qi Tahap Menengah, satu tingkat lebih tinggi daripada ketiga lawannya. Meski hanya berbeda satu tahap kecil, kekuatan mereka bagaikan langit dan bumi.
"Teratai Es... Mekar."
Suara lembut wanita itu terdengar pelan. Dalam sekejap, puluhan kelopak es bermunculan di udara, masing-masing melesat secepat anak panah.
Whusss! Whusss! Whusss!
"Tidak! Aaaagh!"
Dua pria terakhir mencoba bertahan. Namun seluruh pertahanan mereka langsung hancur ditembus kelopak-kelopak es tersebut.
Slash! Slash!
Tubuh mereka dipenuhi luka dalam. Sesaat kemudian, es mulai membekukan seluruh tubuh mereka. Dalam hitungan napas, kedua pria itu berubah menjadi patung es.
Crack...
Patung-patung itu retak, lalu hancur berkeping-keping bersama tubuh di dalamnya.
Tanah lapang kembali diselimuti keheningan. Tiga mayat kultivator dari Sekte Naga Phoenix tergeletak tak bernyawa, sementara hawa dingin yang memenuhi daerah itu perlahan mulai mereda.
Wanita bercadar itu berjalan dengan langkah tenang menuju salah satu jasad. Ia berjongkok, lalu melepaskan Cincin Ruang dari jari pria tersebut.
Dengan mengirimkan sedikit Qi ke dalam cincin, kesadarannya segera memeriksa isi di dalamnya. Beberapa saat kemudian, selembar gulungan kulit tua muncul di tangannya.
Tatapan matanya sedikit berubah. "Benar... setengah bagian peta itu memang ada pada mereka."
Ia mengeluarkan gulungan lain dari dalam Cincin Ruangnya sendiri. Kedua potongan peta itu diletakkan berdampingan. Ukiran di tepinya saling menyatu dengan sempurna. Kini peta menuju makam kultivator Ranah Penguasa akhirnya lengkap.
Namun tepat ketika ia hendak menyimpan kembali peta tersebut, sepasang matanya tiba-tiba mengarah ke sebuah pohon besar di pinggir tanah lapang. Tatapannya menjadi dingin.
"Sudah cukup lama kau mengintip. Masih belum berniat keluar?"
Di balik pohon, jantung Yan Kai berdegup sedikit lebih cepat. "Dia menyadari keberadaanku..." Padahal sejak awal ia telah menekan auranya serendah mungkin.
Sebelum ia sempat berpikir, wanita itu mengangkat satu tangan. Hawa dingin yang baru saja menghilang kembali memenuhi seluruh area. Puluhan kelopak Teratai Putih yang terbuat dari es perlahan bermunculan di udara.
Whusss!
Dalam sekejap, kelopak-kelopak itu melesat menuju pohon tempat Yan Kai bersembunyi. Yan Kai tidak memiliki pilihan. Ia langsung melompat keluar. Pada saat yang sama, telapak tangan kanannya dipenuhi nyala api merah.
"Bakar!"
Booom!
Api dan kelopak es bertabrakan di udara. Suara ledakan kecil bergema. Sebagian kelopak es langsung mencair menjadi uap putih, sebagian lainnya terpental ke berbagai arah.
Yan Kai mendarat beberapa meter dari wanita tersebut. Ia menghela napas pelan. Tatapan keduanya akhirnya bertemu. Yan Kai dapat melihat lebih jelas sosok wanita itu—meski wajahnya masih tertutup cadar biru muda, sepasang matanya yang bening memancarkan ketenangan sekaligus kewaspadaan. Sementara wanita itu juga sedikit terkejut. Ia tidak menyangka serangan mendadaknya dapat dipatahkan.
Yan Kai mengangkat kedua tangannya perlahan. "Aku tidak berniat menjadi musuhmu. Aku hanya kebetulan melewati hutan ini. Ketika mendengar suara pertarungan, aku datang karena penasaran. Aku sama sekali tidak berniat mencuri ataupun merebut peta itu."
Namun tatapan wanita tersebut tidak berubah sedikit pun. "Aku tidak percaya." Suaranya tetap lembut, tetapi sedingin embun musim dingin. "Orang yang mengintai pertarungan orang lain biasanya memiliki tujuan tersembunyi. Aku tidak akan mengambil risiko."
Begitu kalimat itu selesai, pedangnya kembali terhunus. Aura membunuh yang dingin langsung memenuhi tanah lapang.
Yan Kai mengerutkan kening. "Wanita ini... langsung menyerang tanpa memastikan kebenarannya." Ia kembali mencoba berbicara. "Tunggu dulu..."
Namun wanita itu sudah menghilang dari tempatnya.
Whusss!
Pedangnya muncul tepat di depan leher Yan Kai.
Clang!
Yan Kai buru-buru mencabut pedangnya dan menangkis. Percikan api beterbangan. Benturan pertama saja membuat lengannya bergetar hebat. "Berat sekali..."
Belum sempat ia menarik napas, serangan kedua sudah datang.
Clang! Clang! Clang!
Wanita itu menyerang tanpa memberi sedikit pun kesempatan. Gerakan pedangnya begitu halus, tidak ada gerakan yang sia-sia, setiap ayunan mengarah ke titik-titik vital.
Yan Kai terus mundur. Meski telah mempelajari Teknik Pedang Bayangan selama satu tahun penuh, ia masih merasa teknik pedang wanita itu berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi. Sulit mencari celah. Bahkan ia mulai terdesak.
Slash!
Ujung pedang wanita itu berhasil menggores lengan kirinya. Darah segar mengalir keluar.
Yan Kai menggertakkan giginya. "Kalau terus seperti ini, aku akan mati." Ia tidak ingin membunuh wanita itu. Namun ia juga tidak mungkin hanya diam menerima serangan.
Akhirnya, Yan Kai menarik napas panjang. Energi kegelapan yang berada di dalam dantiannya mulai bergerak. Kabut hitam pekat perlahan menyelimuti pedangnya. Aura dingin yang sama sekali berbeda langsung memenuhi area pertarungan.
Mata wanita bercadar itu sedikit membesar. "Itu..."
Yan Kai mengayunkan pedangnya. Sebuah tebasan berwarna hitam melesat ke depan.
Whusss!
Wanita itu segera melompat ke belakang untuk menghindarinya. Tebasan hitam tersebut menghantam tanah.
Boom!
Tanah langsung retak, sementara bekas tebasan berwarna hitam membentang beberapa meter di depan mereka. Kabut gelap masih tersisa di bekas serangan itu.
Wanita bercadar itu memandang Yan Kai dengan tatapan yang kini benar-benar berubah. "Kekuatan itu... energi kegelapan." Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ekspresi tenangnya sedikit terguncang.
Pedangnya kembali terangkat, namun kali ini tatapannya dipenuhi kewaspadaan. "Bukan hanya itu. Kau mampu menggunakannya seperti elemen." Suaranya menjadi jauh lebih dingin daripada sebelumnya. "Aku tidak menyangka akan bertemu seorang kultivator Jalan Iblis di tempat seperti ini."
Mendengar tuduhan itu, Yan Kai langsung mengernyit. Ia ingin menjelaskan bahwa kekuatan tersebut bukan berasal dari Jalan Iblis. Namun melihat sorot mata wanita itu, ia tahu apa pun yang ia katakan saat ini, kemungkinan besar tidak akan dipercaya.