Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahap Revisi ( Pertukaran Bab 2)
Flashback On...
Seminggu yang lalu... Zaman Modern...
"Apa... yang terjadi?" gumam seorang pria sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.
Rasa sakit itu seperti menghantam dinding tengkoraknya dari dalam, memaksanya berjuang keras hanya untuk sekadar mengumpulkan kesadaran.
Saat matanya terbuka sepenuhnya, seketika ia terbelalak kaget. Jantungnya berdegub kencang, berpacu dengan rasa tidak percaya yang tiba-tiba menyergap seluruh dadanya.
Di hadapannya, ia melihat sebuah tempat aneh dan asing—benar-benar berbeda dari dunia tempatnya tinggal selama ini.
Di depannya, ia melihat beberapa gedung menantang langit yang terbuat dari kaca dan baja, kendaraan mesin menderu berjalan tanpa ditarik kuda, dan orang-orang yang berlalu lalang dengan pakaian aneh namun terasa familiar di dalam ingatannya.
"Ini... bagaimana bisa?" Yun Shadom melongo dengan mata terbelalak kaget. Napasnya tertahan di tenggorokan, terkunci oleh pemandangan yang begitu mustahil.
"Kakak... kita ada di mana?!" seru Yun Sharam, sang adik, dengan nada heboh yang langsung memecah keheningan sesaat setelah ia membuka mata dan melihat suasana yang sangat berbeda di sekeliling mereka.
Yun Shadom dan Yun Sharam saling pandang. Tanpa komando, mereka bangkit dengan kasar, mengabaikan rasa ngilu yang menjalar di sekujur persendian mereka.
Tubuh mereka gemetar hebat—bukan karena rasa takut, melainkan karena syok atas situasi yang sedang mereka saksikan. Di tempat yang sangat asing tapi terasa familiar ini, arus manusia dan deru peradaban modern seolah menelan keberadaan mereka.
Yun Sharam segera melangkah mundur, menempelkan tubuhnya sedekat mungkin mendekati sang kakak, mencari perlindungan dan kepastian yang biasa ia dapatkan.
"Apa kita sedang bermimpi? Katakan padaku, Kak, apakah ini semua hanya ilusi tingkat tinggi yang dipasang oleh musuh?" tanya Yun Sharam dengan suara yang bergetar hebat, matanya bergerak liar menatap benda-benda logam beroda yang melesat di jalanan depan mereka.
Yun Shadom menelan ludah dengan susah payah. Untuk pertama kalinya, pria dingin yang biasanya tidak pernah goyah oleh ancaman kematian sekalipun, kini merasakan sesuatu yang benar-benar berbeda. Rasa ngeri yang berbaur dengan ketakjuban yang kelam.
"Ini bukan mimpi," jawab Yun Shadom, suaranya berat dan nyaris berbisik namun terdengar sangat tegas di telinga adiknya. "Kita... kita berada di dunia modern... persis seperti dunia yang sering ibu ceritakan saat masa kecil kita."
Keduanya kembali saling pandang—panik, syok, dan benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungan itu, ingatan terakhir mereka berputar kembali seperti kaset rusak yang diputar paksa.
Mereka ingat semuanya dengan sangat jelas. Adik perempuan mereka, Yun Sheren, diserang dengan kekuatan elemen angin tingkat tinggi dan jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar.
Demi menyelamatkannya, mereka berdua tanpa ragu melompat menyusul, namun tiba-tiba sebuah ledakan energi yang dahsyat muncul diantara mereka. Setelah itu... kegelapan total, hingga mereka terbangun dan terdampar di tempat asing ini.
"Yun Sheren?!" pekik Yun Sharam tiba-tiba, kepanikan yang sempat tertahan kini meledak sepenuhnya. "Dimana adik?! Di mana dia, Kak?!" jeritnya histeris hingga membuat beberapa orang yang sedang berjalan melewati mereka tersentak kaget.
Orang-orang kota itu menatap mereka dengan tatapan terganggu dan penuh penghakiman, namun buru-buru melanjutkan langkah kaki mereka dengan cepat.
Mereka menganggap Yun Shadom dan Yun Sharam adalah orang aneh atau orang yang sedang kehilangan akal. Apalagi melihat pakaian hanfu mereka yang robek di beberapa sisi, kotor oleh noda tanah—penampilan mereka saat ini sudah persis seperti gelandangan kota.
"Kakak! Kita harus mencari adik! Aku yakin dia juga ada disini! Bagaimana kalau dia terluka di tempat asing ini?!" seru Yun Sharam lagi, mengguncang bahu kakaknya dengan frustrasi.
Sementara itu, Yun Shadom masih terdiam, tenggelam di dalam pusaran pikirannya sendiri yang berkecamuk.
Ia memejamkan mata perlahan, mencoba merasakan aliran energi spiritual di sekitarnya yang ternyata sangat tipis, lalu kembali membukanya dengan kilatan tekad yang dingin.
Tangannya terkepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan badai emosi yang siap meledak di dalam dadanya.
"Sial..." desisnya lirih.
Namun, sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis yang sarat akan ironi terukir di sudut bibirnya. "Sepertinya kita harus bisa menaklukkan dunia ini," ucapnya dingin sembari melirik sang adik yang masih didera kepanikan hebat.
Mendengar kalimat itu, Yun Sharam hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun.
Matanya menatap nanar ke arah benda-benda persegi bercahaya yang menempel di dinding, kereta-kereta besi tanpa kuda yang melesat di depan sana, dan segala kegilaan teknologi yang tidak masuk akal ini.
Baginya, menaklukkan dunia modern jauh lebih sulit dan mengerikan dibandingkan berhadapan dengan ribuan musuh di medan perang.
Bahkan jika ada pilihan yang tersisa saat ini, Yun Sharam akan jauh lebih memilih membunuh ribuan musuh dengan tangan kosong, daripada harus menghadapi dunia yang sangat canggih dan membingungkan ini.
Flashback Of...
Sudah satu minggu sejak takdir membawa Yun Shadom dan Yun Sharam datang ke zaman modern. Tujuan mereka hanya satu sampai saat ini---- menemukan keberadaan adik mereka yang mereka yakini juga terlempar ke dunia modern ini.