Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Jingga mengira kejadian pagi itu akan menjadi rahasia kecil yang bisa ia simpan sendiri, tetapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Setelah kembali ke ruang perawat, ia masih merasa lemas dan kepalanya sedikit pening. Ia berusaha menyelesaikan pekerjaan yang tertunda sambil menghindari tatapan rekan-rekannya.
Menjelang siang, Maya akhirnya datang menemuinya. Perempuan itu langsung menghampiri Jingga begitu mendengar kabar bahwa sahabatnya sempat mengalami serangan panik di lorong ruang rawat anak.
“Jingga, kamu benar-benar nggak apa-apa?” tanya Maya sambil menarik kursi di sampingnya.
Jingga mengangguk kecil. “Aku sudah lebih baik.”
“Siapa yang menolongmu tadi?”
“Dokter Samudera.”
Maya mengangkat alis. “Dokter Samudera Gentala?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma tahu beliau dokter yang cukup disegani di sini.” Maya memperhatikan wajah Jingga. “Tapi yang paling penting, kamu jangan berpura-pura baik-baik saja kalau sebenarnya masih kesulitan.”
Jingga menunduk, memainkan ujung lengan seragamnya. “Aku malu, May. Aku perawat, tapi tadi aku malah seperti pasien yang nggak bisa mengendalikan dirinya sendiri.”
Maya menghela napas. “Kamu manusia, Jingga, bukan mesin. Kamu kehilangan anakmu sendiri, wajar kalau ada hal-hal yang masih membuatmu terluka.”
“Tapi setiap kali mengingat malam itu, aku selalu merasa gagal. Aku ada di rumah sakit, aku tahu bagaimana menangani pasien, tetapi aku tetap nggak bisa menyelamatkan anakku.”
Maya menggenggam tangan sahabatnya. “Kamu sudah berusaha, Jingga. Jangan terus menghukum dirimu sendiri untuk sesuatu yang bahkan belum tentu bisa kamu kendalikan.”
Jingga rasanya ingin mempercayai perkataan sahabatnya, tetapi rasa bersalah yang telah menemaninya selama berbulan-bulan tidak mudah hilang hanya karena beberapa kalimat penghiburan.
Sore harinya, setelah menyelesaikan tugas dan mendapat izin untuk pulang lebih awal, Jingga berjalan menuju loker. Ia baru saja mengambil tas ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
“Jingga, sebentar.”
Ia menoleh dan mendapati Samudera berdiri tidak jauh darinya. Dokter itu masih mengenakan jas putih, dengan beberapa berkas berada di tangannya.
“Iya, Dok?”
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Masih merasa sesak atau pusing?”
“Sudah jauh lebih baik, Dok. Terima kasih karena tadi sudah membantu saya.”
Samudera mengangguk. “Bagus. Tapi kalau kejadian seperti tadi berulang, jangan memaksakan diri melanjutkan pekerjaan sebelum kondisimu memungkinkan. Kamu sudah membicarakan kejadian itu dengan atasanmu?”
“Belum semuanya. Saya hanya bilang sedang kurang sehat.”
“Kalau begitu, sebaiknya kamu mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Reaksi seperti yang kamu alami tadi bisa berkaitan dengan kecemasan atau pengalaman traumatis. Kita perlu memahami kondisimu lebih lanjut, bukan langsung menyimpulkan penyebabnya.”
Jingga terdiam sebentar. “Apa saya harus berhenti bekerja dulu?”
“Belum tentu. Itu tergantung kondisi dan hasil penilaianmu nanti. Yang jelas, kesehatanmu juga penting. Kamu tidak harus membuktikan apa pun dengan memaksakan diri.”
Jingga mengangguk, ada kehangatan dalam cara Samudera menyampaikan sarannya. Pria berahang tegas dengan mata tajam, tapi terlihat hangat itu, tidak merendahkan Jingga saat ia mengalami kesulitan. Apalagi memperlakukannya seolah-olah ia sudah tidak mampu menjalankan pekerjaannya.
“Terima kasih, Dokter. Saya akan memikirkannya.”
“Baik. Istirahat yang cukup, ya.”
Samudera kemudian pergi, meninggalkan Jingga yang masih berdiri di depan lokernya. Ia tidak tahu mengapa perhatian sederhana itu terasa begitu berarti. Mungkin karena sudah lama sekali dalam pernikahannya dengan Rangga, ia jarang didengarkan tanpa disalahkan. Ia bahkan terbiasa meminta maaf untuk hal-hal yang bukan kesalahannya.
Dalam perjalanan pulang, Jingga memikirkan percakapan mereka. Ia tahu Samudera hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai dokter. Tidak ada alasan untuk mengartikan perhatian itu sebagai sesuatu yang lebih. Meski begitu, setelah sekian lama ia merasa tidak sepenuhnya sendirian menghadapi rasa takutnya.
Sesampainya di kos, Jingga mengganti pakaian dan duduk di tepi ranjang. Ia mengambil foto putranya, lalu menatapnya lama. Kenangan malam itu kembali muncul, tetapi kali ini ia mencoba tidak langsung menyalahkan dirinya sendiri.
“Bunda masih belajar, Sayang. Bunda belum bisa berhenti sedih, tapi Bunda akan berusaha.”
Air matanya jatuh membasahi pipi. Ia menangis cukup lama sebelum akhirnya menyimpan kembali foto itu. Dan keputusannya untuk bercerai tidak berubah, ia tidak ingin kembali kepada Rangga hanya karena takut menjalani hidup sendirian.
Sementara itu, di rumah keluarga Cendana, Rangga mulai kehilangan kesabarannya. Sudah beberapa hari Jingga meninggalkan rumah, tetapi perempuan itu tidak juga menghubunginya untuk meminta maaf atau memohon agar diizinkan pulang. Pesan-pesannya pun hanya dibalas seperlunya, bahkan terkadang tidak dijawab sama sekali.
“Dia benar-benar menganggap dirinya bisa hidup tanpa keluarga ini?” gerutu Rangga ketika meletakkan ponsel di meja.
Bu Farah yang sedang duduk di ruang tengah menoleh. “Kalau kamu ingin dia pulang, seharusnya kamu bicara baik-baik dengannya.”
“Kenapa aku harus membujuknya? Dia yang pergi dari rumah.”
“Rangga, bagaimanapun juga dia istrimu.”
Rangga tertawa pendek. “Istri yang mempermalukanku di depan Mama? Dia bahkan mengancam akan menceraikanku!”
Bu Farah sendiri masih berharap Jingga akan berubah pikiran dan kembali seperti dahulu. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari perempuan itu. Jingga tidak lagi memohon agar diterima, tidak lagi berusaha menjelaskan dirinya setiap kali dituduh, dan tidak lagi terlihat takut kehilangan Rangga.
Perubahan itu membuat mereka gelisah, meskipun belum ada seorang pun yang mau mengakuinya.
Malam semakin larut ketika Jingga menerima pesan dari nomor yang tidak disimpannya. Pesan itu singkat, menanyakan apakah kondisinya sudah membaik setelah kejadian di rumah sakit.
Jingga membaca pesan tersebut beberapa kali sebelum menyadari siapa pengirimnya, Dokter Samudera.
Ia membalas dengan sopan, mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Samudera membalas bahwa ia hanya berharap Jingga mendapatkan bantuan yang tepat dan tidak mengabaikan kesehatannya sendiri.
Tidak ada percakapan panjang setelah itu. Namun, Jingga menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum meletakkannya di samping bantal.
Ia belum siap membuka hati untuk siapa pun. Luka akibat pernikahannya masih terlalu dalam, dan kenangan tentang putranya masih sering membuatnya terbangun dengan dada sesak. Untuk sekarang, ia hanya ingin belajar hidup tanpa rasa takut dan tanpa harus meminta izin kepada siapa pun untuk bahagia.
Di tempat lain, Samudera kembali memeriksa berkas pasien sebelum pulang. Sesekali ia teringat Jingga, terutama tatapan perempuan itu ketika menyalahkan dirinya sendiri atas kematian anaknya. Ia tahu dirinya tidak bisa menyelesaikan semua masalah Jingga, tetapi ia berharap perempuan itu tidak terus menanggung beban tersebut sendirian. Sebab, ia pun pernah merasakan kehilangan yang sama.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu