Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transformasi Fisik
Cahaya merah keunguan menyebar terang dari bunga kecil yang tumbuh di balik akar pohon tua.
Lu Mingseng segera melangkah mundur, tetapi tiga pemuda suruhan Fang Rui yang mengepungnya justru menunjukkan ekspresi rakus.
"Tanaman apa itu?" seru salah satu dari mereka takjub.
Pemuda berjubah kelabu menoleh cepat. Begitu melihat pendar cahaya aneh itu, matanya terbelalak.
"Bunga Darah Roh!"
Kedua temannya tersentak. "Bunga Darah Roh? Bukankah itu jenis tumbuhan langka yang hanya bisa tumbuh di atas urat nadi spiritual bumi?"
"Entahlah! Tapi lihat kilau energinya! Sekalipun ini baru tunas muda, harganya jauh melampaui puluhan Rumput Embun Biru!" Pemuda berjubah kelabu itu langsung mengarahkan ujung pedangnya pada Mingseng dengan beringas. "Serahkan bunga itu juga!"
Mingseng menatap mereka tajam. "Bunga ini bukan milik kalian."
"Hah! Seekor calon murid sampah berani bicara soal kepemilikan di hadapan kami?!"
Sret!
Pemuda itu melompat maju, menebaskan pedangnya dengan kasar. Mingseng berhasil mengelak, namun ujung bilah besi itu tetap menyayat lengan kirinya, meninggalkan luka dangkal yang merembeskan darah.
Sebelum Mingseng sempat memulihkan keseimbangan, penyerang kedua menendang lututnya dari samping.
Bruk! Mingseng terjerembab ke atas tanah berbatu.
"Makanya jangan banyak tingkah, bodoh!" maki penyerang tersebut sambil menginjak punggung Mingseng keras-keras.
Mingseng menggertakkan giginya hingga berdarah.
Ia sudah sering mengalami hal semacam ini sepanjang hidupnya—dihina, disiksa, ditendang, hingga tak mampu melawan. Penderitaan itu tidak membuatnya kebal pada rasa sakit, namun mengajarkannya satu kebenaran mutlak: jika ia terus membiarkan orang lain menginjaknya, ia akan selamanya menjadi korban.
'Bangunlah, Mingseng,' suara Kaisar Keabadian bergema di kesadarannya. 'Jangan adu tenaga mentah. Amati celah gerakan mereka.'
Mingseng menarik napas dalam-dalam.
Ia melirik ke bawah. Penyerang yang menginjak punggungnya berpostur besar, namun tumpuan kaki kanannya terlalu berat, dan posisi pedangnya terlalu jauh dari jangkauan efektif. Penyerang kedua bergerak lincah, namun selalu menurunkan bahu kirinya sebelum melancarkan tusukan.
Sedangkan pemimpin mereka—si pemuda berjubah kelabu—berdiri paling tenang di belakang, menunggu saat yang tepat.
Sekarang!
Mingseng tiba-tiba menggulingkan tubuhnya ke samping, meraup segenggam tanah bercampur kerikil tajam, lalu melemparkannya telak ke wajah penyerang di atasnya!
"Argh! Mataku...!" teriak penyerang bertubuh besar itu spontan menutup muka.
Memanfaatkan kelengahan itu, Mingseng bangkit kilat dan menghantam pergelangan tangan lawan dengan pedang kayunya.
Tak! Genggaman pedang pendek itu terlepas jatuh ke tanah. Mingseng langsung menendangnya menjauh.
"Sialan, berani sekali kau melawan?!" penyerang kedua menerjang kalap.
Mingseng mengingat polanya: bahu kiri turun. Ia memiringkan badannya ke kanan, membiarkan serangan itu melesat tipis di samping telinganya, lalu menghantam rusuk lawan dengan sikunya.
Bruk! Penyerang itu terhuyung mundur.
Namun, sisa tenaga mereka bertiga membuat Mingseng yang belum sepenuhnya pulih kewalahan. Sebuah hantaman telak mendarat di dadanya, melemparkannya hingga menubruk batu besar.
Uhuk! Darah segar menyembur dari bibir Mingseng. Dadanya terasa sesak luar biasa.
Pemuda berjubah kelabu melangkah maju dengan seringai dingin. "Kau benar-benar ulet untuk ukuran sampah. Tapi permainan ini selesai."
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Serahkan Bunga Darah Roh itu, lalu berlututlah mencium sepatu kami! Mungkin kami akan membiarkanmu merangkak kembali ke sekte dengan selamat."
Mingseng menyeka darah di bibirnya. Matanya menatap tajam sang pemimpin. "Siapa... yang menyuruh kalian?"
Senyum di wajah pemuda berjubah kelabu itu membeku sesaat. "Pertanyaan bodoh."
"Fang Rui?" tebak Mingseng tanpa ragu.
Pemuda itu terdiam, namun ekspresi wajahnya yang menegang sudah cukup menjadi jawaban telak.
Mingseng tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan kebencian yang membatu. "Jadi, kalian bahkan anak buah pengecut yang hanya berani bersembunyi di balik punggungnya."
"Kalau begitu, matilah di sini!" teriak pemuda kelabu murka, melompat menerjang dengan tebasan maut ke leher Mingseng!
Mingseng tidak punya waktu menghindar lagi. Namun saat bilah pedang itu mendekat, ia menendang tumpukan batu kecil di bawah kakinya ke arah pijakan musuh.
Krek!
Pijakan pemuda berjubah kelabu itu mendadak tergelincir bebatuan. Keseimbangannya runtuh sepersekian detik!
Satu detik yang amat berharga itu dimanfaatkan Mingseng sepenuhnya. Ia melesat maju, menghantam pergelangan tangan lawan hingga pedangnya terlepas, lalu berbalik menekan leher pemuda itu ke tanah dengan lututnya, sementara ujung pedang kayunya menodong tepat di depan matanya!
Suasana hutan mendadak senyap. Dua pengikut lainnya terperangah ketakutan, tak berani bergerak.
Pemuda berjubah kelabu menatap ujung pedang di lehernya dengan keringat dingin membasahi pelipis. "Kau...!"
"Jawab aku," bisik Mingseng dingin. "Apakah Fang Rui yang menyuruh kalian merampas tugasku dan mencelakaiku?"
"I-Iya!" teriak pemuda itu ketakutan. "Fang Rui hanya menyuruh kami memberi pelajaran! Kami tidak berniat membunuhmu!"
Mingseng menarik napas panjang. Ia teringat bagaimana Fang Rui dan kelompoknya menginjak harga dirinya, menghina fisiknya, dan membawa-bawa nama mendiang ibunya.
Namun, ia tahu membunuh mereka di wilayah sekte akan mendatangkan malapetaka baginya sendiri.
Mingseng menarik pedangnya, lalu—Krak!—ia menghantamkan gagang pedangnya telak ke bahu pemuda itu hingga terdengar suara tulang patah.
"Arghhh...!" Jeritan kesakitan pecah di hutan sunyi tersebut.
"Bawa teman kalian dan pergi dari sini!" bentak Mingseng tajam menatap dua orang lainnya. "Jika kalian berani menggangguku lagi, pedang ini tidak akan berhenti di bahu kalian!"
Tanpa pikir panjang, kedua pengikut itu memapah pemimpin mereka yang mengerang kesakitan dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Ledakan Energi Tanaman Spiritual
Usai perkelahian itu, Mingseng menyandarkan tubuhnya ke batu besar dengan napas memburu. Kemenangan kecil ini harus dibayar dengan tubuhnya yang remuk redam.
Ia kembali melangkah mendekati akar pohon tempat Bunga Darah Roh itu tumbuh.
Ia berencana membungkusnya dengan kain agar aman dibawa ke sekte. Namun saat ujung jarinya menyentuh batang bunga tersebut, sebulir cairan merah pekat jatuh dari kelopaknya dan langsung meresap ke dalam luka terbuka di telapak tangannya!
Zzztt...!
Bunga itu mendadak layu dalam hitungan detik, berubah menjadi debu halus yang tertiup angin lereng gunung.
'MINGSENG! TARIK KESADARANMU!' teriak roh Kaisar Keabadian panik di dalam benaknya.
Namun, semuanya terlambat.
Sebuah gelombang panas yang dahsyat meledak dari telapak tangan Mingseng, menyebar membakar sekujur pembuluh darah dan jaringan ototnya!
"Aaaarrghhh...!"
Mingseng berteriak histeris. Rasa sakitnya ribuan kali lipat lebih menyiksa ketimbang saat membuka Meridian Pertama. Pembuluh darah di leher dan lengannya menonjol keluar, seolah kulitnya hendak robek oleh amukan energi misterius!
Tulang-tulangnya dihancurkan, lalu dipaksa dibentuk ulang oleh energi tersebut.
Di dalam kesadarannya, roh Kaisar Keabadian mencoba menstabilkan kekacauan itu. Namun setiap kali ia memeriksa tubuh Mingseng, tabir kabut misterius kembali menutupinya. Ia hanya bisa melihat satu meridian utama yang kini bergetar dahsyat menahan badai energi.
Transformasi Fisik yang Luar Biasa
Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika langit sore mulai berubah jingga, badai energi di dalam tubuh Mingseng akhirnya mereda.
Mingseng terbaring lemah di atas tanah. Ia perlahan membuka matanya.
Rasa sakit yang hebat telah lenyap, menyisakan sensasi kesegaran dan kekuatan baru yang luar biasa mengalir di setiap jengkal ototnya. Luka-luka di bahunya telah mengering sempurna.
Ia perlahan bangkit berdiri.
Mata Mingseng melirik sebuah batu seukuran kepala anak kecil di tanah. Dulu, mengangkat batu itu saja butuh tenaga penuh. Kini, ia hanya perlu meraupnya dengan satu tangan.
Krek!
Tanpa pengerahan tenaga yang berarti, batu keras itu hancur berkeping-keping di antara jemarinya!
Mingseng terbelalak menatap tangannya sendiri. "Ini... kekuatan apa ini?"
'Kondisi fisikmu mengalami lompatan evolusi yang luar biasa,' suara Kaisar Keabadian terdengar takjub bercampur cemas. 'Meskipun kau belum masuk ranah Pengumpulan Qi, kekuatan otot, tulang, dan daya tahan tubuhmu kini setara dengan kultivator tingkat menengah berbadan baja!'
Mingseng mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu, perubahan ini membawanya pada level pertahanan dan kekuatan fisik yang jauh melampaui peserta seleksi lainnya.
Ia lalu memungut sepuluh batang Rumput Embun Biru yang aman di dalam tasnya, lalu berjalan menuruni lereng gunung kembali ke kompleks Sekte Pedang Awan.
Kepulangan yang Membawa Petaka Baru
Menjelang senja, Mingseng tiba di Aula Tugas dan menyerahkan sepuluh Rumput Embun Biru kepada pengawas. Pria berjubah abu-abu itu mengangguk puas dan menyerahkan sebuah token kayu kecil.
"Lima Poin Kontribusi. Kerja bagus, Mingseng."
Mingseng menerima token kecil itu dengan tatapan lega. Namun begitu ia melangkah keluar dari aula, sebuah sosok menghadangnya.
Fang Rui.
Pemuda bangsawan itu menatap Mingseng dari atas ke bawah. Begitu melihat pakaian Mingseng yang compang-camping dan ada bekas darah kering di bahunya, senyum merendahkan langsung merekah di bibirnya.
"Hahaha! Lihat dirimu! Kau pulang dalam keadaan babak belur, ya?" ejek Fang Rui nyaring. "Mana tiga orang pengikutku yang kuutus untuk mencarimu? Jangan bilang kau lari ketakutan sambil menangis?"
Mingseng berhenti melangkah. Ia menatap lurus mata Fang Rui dengan senyum dingin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kau sebaiknya bertanya sendiri pada mereka... jika mereka masih sanggup berdiri."
Senyum di wajah Fang Rui mendadak membeku. "Apa maksudmu?"
"Mereka tidak akan kembali untuk melaporkan kegagalan padamu," jawab Mingseng tenang, lalu ia melangkah melewati Fang Rui begitu saja.
Fang Rui menoleh cepat dengan amarah yang meluap-luap di dadanya. Salah satu pengikut di dekatnya berbisik panik, "Kakak Fang, anak-anak buah kita memang belum ada yang kembali sejak siang tadi..."
Wajah Fang Rui berubah kelam sepekat malam. Ia mengepalkan tangannya hingga berdarah.
Pemuda sampah yang dulunya hanya bisa menunduk dan menerima segala hinaan di hadapannya kini telah berubah. Ada aura dingin dan berbahaya yang terpancar dari diri Lu Mingseng—sebuah ancaman nyata yang membuat punggung Fang Rui mendadak merinding.
Dan di dalam keheningan malam di kamar asrama, Mingseng tahu persis: Balas dendam pertamanya barulah permulaan.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳