"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segelas Susu
"Lobak... Tante bawakan kamu susu," ucap Aluna yang masuk ke dalam kamar milik Elova.
"Ndak mau. Jangan dekat-dekat sama Lopa. Itu susunya pasti ada lacunnya kan? Kaya lagu madu di tangan kananmu. Lacun di tangan kilimu,"
"Tante bawa susunya di tangan kili, belalti isinya lacun." seru Elova yang langsung bangkit dari posisi berbaringnya.
Elova yang tidak bisa tidur, malah menatap langit sambil menghitung jari mungilnya. Terlalu sibuk menghitung jarinya, dia tidak mendengar suara ketukan pintu. Ini lah Elova yang selalu kesepian saat malam hari. Tidak ada yang menemani tidur. Pengasuhnya hanya bekerja sampai sore hari dan weekday saja. Sedangkan saat malam atau weekend, seharusnya Bian dan Reyhan yang menemani. Namun Reyhan sudah punya dunianya sendiri. Sedangkan Bian, dia sibuk dengan pekerjaannya.
Elova terkejut saat ada suara seseorang yang membawakannya susu. Biasanya ada ART yang memberikannya susu sebelum tidur. Namun Elova sudah sedari tadi tak diberi susu. Elova duduk di atas kasur kecilnya kemudian menatap Aluna yang masuk dalam kamarnya. Sebelah kanan memegang tongkat kayu dan kirinya membawa satu gelas susu.
"Ini tidak ada racunnya, lobak. Coba kamu cicip dulu. Kalau kejang-kejang, berarti ada racunnya." ucap Aluna sambil terkekeh pelan. Elova sampai membulatkan bibirnya saat mendengar ucapan dari Aluna.
"Halusnya yang cicip itu Tante lho. Masa Lopa," seru Elova dengan raut wajah kesalnya.
Hehehe...
"Ini benar tidak ada racunnya, lobak. Sudah terbukti aman. Yang bikin juga Bibi kok, bukan Tante." ucap Aluna berusaha meyakinkan Elova.
"Ndak yakin Lopa mah. Muka Tante ndak meyakinkan," ucap Elova sambil melengoskan wajahnya.
Aluna sama sekali tak tersinggung atas tuduhan dari Elova. Aluna meraba kamar Elova untuk mengetahui dimana letak meja nakas. Setelah menemukannya, Aluna meletakkan gelas itu di atas meja. Elova sedari tadi mencuri pandang bagaimana cara Aluna meletakkan susunya. Antara dia penasaran dan takjub dengan apa yang dilakukan oleh Aluna. Tak sampai di situ, Aluna pun segera duduk di ranjang kecil milik Elova. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba saja Elova menarik tangan Aluna.
"Situ kan pinggil, nanti jatuh. Lopa bisa dimalahin sama Papa nanti kalau tiba-tiba Tante jatuh," seru Elova langsung menarik tangan Aluna karena tadi perempuan itu hendak duduk di posisi yang salah.
Cieee...
"Lobak perhatian sama Tante. Takut Tante jatuh," ceplos Aluna menggoda Elova membuat bocah cilik itu memelototkan matanya.
"Ndak pelhatian Lopa mah. Olang tadi sudah bilang kalau nanti Papa malah kalau Tante jatuh lho. PP sekali Tante ini," gerutu Elova sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena digoda oleh Aluna. Walaupun Elova tahu kalau Aluna tidak bisa melihatnya sedang malu-malu begini.
"PD lobak, Sayang." ucap Aluna sambil terkekeh pelan.
"Sama saja. Wajal anak kecil begini salah ngomong," ucap Elova dengan santainya.
"Ayo susunya diminum, lalu tidur. Anak kecil tidak boleh begadang," ucap Aluna penuh perhatian.
"Begadang boleh saja, kalau ada duitnya." Elova langsung mendendangkan lagu dangdut untuk menjawab ucapan Aluna.
Aluna sampai terkikik geli mendengar semua kosa kata ajaib yang keluar dari Elova. Anak ini walaupun belum bisa dekat atau menerimanya, tapi tetap cerewet. Aluna pun segera mengambil gelas yang tadi diletakkannya di atas meja kemudian menyerahkan pada Elova. Bocah cilik itu merasa ragu dengan susu yang sudah ada di tangannya. Dia masih mengingat pesan dari Reyhan agar tak makan atau minum apapun pemberian dari Aluna. Namun Elova nanti pasti tidak bisa tidur kalau tak minum susu.
"Tenang saja, itu beneran nggak ada racunnya kok. Tante nggak mungkin meracuni bocil lucu seperti kamu," ucap Aluna merasa bahwa Elova masih belum mau untuk minum susu yang dibawanya.
"Sudah habis kok susunya. Negatif ting ting sekali ini olang," Padahal Elova memang belum minum susu itu. Dia tak mau keracunan seperti pesan dari Reyhan.
"Lalu mana gelas kosongnya?" tanya Aluna sambil menjulurkan telapak tangannya.
"Lopa bawa sendili ke dapul saja. Tante mending ke kamal," usir Elova yang langsung mempunyai ide agar aksinya tidak ketahuan.
"Tante mau bercerita lho, malah diusir." ucap Aluna dengan raut wajah dibuat sendu.
Elova benar-benar dibuat bimbang oleh Aluna. Dia yang merasa kesepian, tentu ingin dibacakan dongeng atau cerita sebelum tidur. Apalagi selama ini tak pernah dia dibacakan cerita. Pernah beberapa kali dibacakan cerita oleh Reyhan dan Bian sih. Namun isi cerita mereka sangat aneh dan ekspresinya tidak masuk. Apalagi Reyhan malah menceritakan tentang teman-teman sekolahnya yang sering membolos. Sedangkan Bian menceritakan harga buah dan sayuran yang anjlok. Sangat datar, membuat Elova seperti orang pusing.
"Lopa jadi ndak tega kan lihat mukanya. Kenapa sih jadi olang ndak tegaan?" gerutu Elova merutuki dirinya sendiri.
"Ya sudah duduk sini. Lopa kasih kesempatan buat bacakan celita. Tapi ndak celita bolos sekolah atau halga sayul tulun ya? Lopa ndak ngelti," ucapnya memberikan persyaratan.
"Ini cerita, bukan mau jualan atau sekolah." ucap Aluna sambil terkekeh pelan.
Tanpa sadar, Elova langsung minum susunya dengan habis kemudian meletakkan gelas itu ke meja. Kemudian dia berbaring dan Aluna memposisikan badannya bersandar di dashboard ranjang. Itu pun masih dibantu Elova untuk diarahkan karena Aluna belum hafal seluk beluk kamar ini. Aluna mengingat cerita yang pernah dibacakan oleh Bibi Tari dan dia juga sempat membacanya dulu ketika masih bisa melihat.
"Jadi kulcaci itu yang bantu..."
"Iya. Mereka kurcaci yang sangat baik. Mereka membantu dan melindungi sang Ratu dari orang-orang jahat. Padahal Ratu sangat baik, tapi entah kenapa dijahati sama oranglain." ucap Aluna menceritakan salah satu buku cerita yang pernah dibacanya.
"Semua olang ili kalena latu sangat cantik dan suka menolong. Meleka ndak suka olanglain dibantu," ucap Elova mulai terhanyut dengan cerita yang dibacakan oleh Aluna.
"Benar sekali. Jadi lobak harus ja..."
Zzzzzzz...
Aluna yang mendengar suara dengkuran halus pun langsung tersenyum. Aluna mengelus rambut Elova kemudian menarik selimutnya agar bocah cilik itu nyaman dalam tidurnya. Aluna sengaja mendekati Elova terlebih dahulu karena tahu bahwa bocah cilik itu sepertinya lebih mudah untuk ditaklukkan. Walaupun dia belum berpengalaman menjadi seorang Ibu, tapi pengalaman hidupnya sudah mengajarkan banyak hal. Dia kesepian dan dikucilkan hingga butuh kasih sayang juga rasa nyaman. Itu juga yang berusaha dihindari Aluna pada Elova saat ini. Memberikan kasih sayang dan rasa nyaman kepada Elova. Tanpa Aluna sadari, sedari tadi ada seorang bocah laki-laki berdiri di depan pintu kamar Elova yang tak sepenuhnya tertutup.
"Dasar modus. Jangan harap kamu bisa dekat sama Lova," gumam bocah laki-laki yang tak lain adalah Reyhan. Dia segera pergi dari sana setelah memastikan adiknya baik-baik saja.
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..
🙏😍💪