Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 1
Suara denting gelas anggur yang beradu dan tawa renyah memenuhi ruang makan utama kediaman Keluarga Mahendra. Malam ini adalah perjamuan rutin bulanan, sebuah tradisi di mana seluruh anggota keluarga besar berkumpul untuk memamerkan kekayaan, koneksi bisnis terbaru, dan tentu saja, pakaian-pakaian desainer yang harganya bisa untuk memberi makan satu panti asuhan selama setahun.
Di tengah lautan kemewahan itu, Theodore berdiri di sudut ruangan dekat dapur. Ia memakai kemeja putih pudar yang kerahnya sudah agak melar dan celana kain hitam yang dibelinya di pasar kaget. Tangannya memegang sebuah nampan perak besar berisi piring-piring porselen kosong yang baru saja ia kumpulkan dari meja-meja tamu.
Tiga tahun. Sudah tiga tahun ia hidup seperti ini. Menjadi tukang bersih-bersih, koki dadakan, dan sasaran empuk caci maki di rumah keluarga istrinya. Tidak ada satu pun dari orang-orang arogan di ruangan ini yang tahu bahwa pria yang sedang mengelap sisa saus di ujung piring ini adalah penguasa dunia bawah yang paling ditakuti. Di negara asalnya, namanya saja sudah cukup untuk membuat para jenderal militer dan bos mafia berkeringat dingin. Namun di sini, ia hanya "Theodore si Menantu Benalu".
"Hei, cepat sedikit bawakan piring bersihnya! Kamu pikir kami mau makan hidangan penutup pakai piring kotor?" tegur Kevin, sepupu Yevone, sambil menjentikkan jarinya ke arah Theodore.
Theodore tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, membereskan tumpukan piring kotor di nampannya, lalu berbalik menuju dapur untuk mengambil piring-piring baru. Ia sudah terbiasa mematikan emosinya. Mengendalikan amarah adalah pelajaran pertama yang harus dikuasai oleh seorang Dewa Perang. Lagipula, ia butuh penyamaran ini. Ia sengaja menghilang dari radar global untuk memancing para pengkhianat di organisasinya keluar dari sarang mereka. Rumah keluarga Mahendra ini adalah tempat persembunyian yang paling sempurna, karena tidak ada yang akan menyangka seorang raja dunia bawah mau hidup menumpang dan direndahkan seperti anjing jalanan.
Setelah meletakkan piring kotor di bak cuci, Theodore mengambil tumpukan piring porselen baru yang dihiasi motif emas pinggiran. Piring-piring ini adalah koleksi kesayangan Martha, ibu mertuanya. Harganya puluhan juta per lusin. Theodore menyusunnya hati-hati di atas nampan bersih, lalu melangkah kembali ke ruang makan.
Saat ia berjalan melewati meja tengah, Kevin yang sedang tertawa bersama beberapa kerabat sengaja memundurkan kursinya secara tiba-tiba, tepat ke jalur jalan Theodore. Pada saat yang sama, kaki Kevin menjulur keluar, menjegal langkah Theodore.
Theodore sebenarnya bisa dengan mudah menghindari jebakan murahan itu. Insting bertarungnya bisa membuat ia melompat mundur atau menendang kursi itu hingga hancur dalam sepersekian detik. Tapi, ia sedang memerankan pria lemah. Jika ia menunjukkan refleks seorang pembunuh bayaran, penyamarannya akan terbongkar.
Jadi, Theodore membiarkan kakinya tersandung.
Keseimbangannya goyah. Nampan perak di tangannya terlepas.
Prang!
Suara pecahan keramik yang memekakkan telinga langsung membungkam seluruh ruangan. Belasan piring porselen mahal itu hancur berkeping-keping, berserakan di atas karpet Persia yang juga tak kalah mahalnya. Pecahan tajamnya memantulkan cahaya lampu gantung kristal di atas mereka.
Ruang makan yang tadinya penuh tawa kini hening mencekam. Semua mata tertuju pada Theodore yang masih berdiri di tengah pecahan piring.
"Astaga! Piring-piringku!" jerit melengking memecah keheningan.
Martha, ibu mertua Theodore, bangkit dari kursinya dengan wajah memerah padam. Ia berjalan cepat menghampiri Theodore, hak sepatu tingginya berbunyi nyaring di lantai marmer sebelum ia menginjak karpet. Matanya melotot lebar, menatap kepingan porselen di lantai seolah-olah itu adalah potongan tubuh manusia.
"Dasar manusia tidak berguna! Mata ditaruh di mana, hah?!" bentak Martha, suaranya bergema di seluruh ruangan.
"Maaf, tadi kursinya tiba-tiba mundur," Theodore menjawab dengan nada datar, wajahnya menunduk menatap pecahan piring.
"Alasan! Kamu pikir aku buta? Kamu memang sengaja mau merusak barang-barang berharga di rumah ini karena kamu iri, kan? Kamu tahu berapa harga piring-piring ini? Kalau kamu kerja jadi kuli bangunan seumur hidupmu pun, kamu tidak akan sanggup menggantinya, dasar benalu!" maki Martha sambil menunjuk-nunjuk wajah Theodore. Urat-urat di leher wanita paruh baya itu sampai menonjol.
Tamu-tamu lain mulai berbisik-bisik, tidak ada satupun yang berusaha meredakan suasana.
"Sudah numpang hidup, makan gratis, sekarang merusak barang pula. Yevone itu benar-benar sial punya suami sepertinya," bisik salah satu bibi Yevone sambil menyesap anggurnya.
"Kalau aku jadi dia, aku sudah lompat dari jembatan saking malunya," timpal Kevin sambil tersenyum sinis, pura-pura tidak tahu menahu soal kakinya yang menjegal Theodore tadi.
Theodore mulai berjongkok, memunguti pecahan piring itu satu per satu dengan tangan kosong. Ia tidak peduli ujung keramik yang tajam itu sedikit menggores jari-jarinya. Baginya, luka gores seperti ini bahkan tidak terasa seperti gigitan nyamuk dibandingkan luka tembak dan sabetan pedang yang pernah menghiasi tubuhnya di medan perang.
Melihat Theodore hanya diam dan memungut piring tanpa rasa bersalah yang menurutnya cukup, amarah Martha semakin memuncak. Kesombongannya merasa tertantang. Ia meraih sebuah gelas kristal berisi air es dari meja terdekat.
Byur!
Martha menyiramkan seluruh isi gelas itu tepat ke wajah Theodore.
Air dingin bercampur es batu menghantam wajah Theodore, membasahi rambut dan kemeja usangnya. Es batu berjatuhan ke lantai, berbaur dengan kepingan piring. Suasana semakin membeku. Beberapa kerabat bahkan tersenyum puas melihat adegan itu.
"Itu biar otakmu yang lamban itu sedikit segar! Jangan cuma bisa menunduk seperti orang idiot! Jawab kalau orang tua sedang bicara!" teriak Martha dengan napas memburu.
Theodore menghentikan gerakannya memungut piring. Ia diam sejenak dengan posisi berjongkok. Air menetes perlahan dari ujung rambutnya, melewati hidungnya yang mancung, lalu jatuh ke karpet. Tangan kanannya yang sedang memegang kepingan piring mencengkeram kuat hingga keramik itu hancur menjadi bubuk di dalam genggamannya. Di jari manisnya, sebuah cincin besi hitam bermotif naga tampak berkedip samar tertimpa cahaya.
Untuk sepersekian detik, aura pembunuh yang sangat pekat dan dingin memancar dari tubuh Theodore. Suhu di sekitar ruang makan itu terasa turun drastis, membuat beberapa orang tiba-tiba merinding tanpa alasan. Jika ini terjadi di markasnya, orang yang berani menyiram air ke wajahnya sudah dipastikan akan dipotong tangannya dan dibuang ke laut.
Ia baru saja akan mendongak untuk menatap mata Martha, saat suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah pintu masuk.
"Mama! Apa-apaan ini?!"
Suara Yevone terdengar nyaring dan panik. Wanita cantik dengan setelan blazer kerja yang terlihat kusut itu berlari menerobos kerumunan keluarganya. Wajahnya terlihat sangat lelah, kantung matanya terlihat jelas menandakan ia baru saja pulang dari kantor setelah seharian bekerja keras mengurus perusahaannya yang sedang bermasalah.
Yevone langsung berjongkok di samping Theodore. Tangannya yang gemetar buru-buru mengambil saputangan dari saku blazernya dan mulai mengusap wajah basah suaminya.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka? Jangan pakai tangan kosong begini beresinnya, nanti tanganmu berdarah," ucap Yevone dengan nada cemas, suaranya sedikit bergetar menahan tangis melihat kondisi suaminya yang sangat mengenaskan di tengah-tengah keluarganya sendiri.
"Yevone! Singkirkan tanganmu dari parasit itu! Biar dia yang bersihkan semuanya. Dia harus sadar diri posisinya di rumah ini!" tegur Martha keras, menarik lengan Yevone agar berdiri.
Yevone menepis tangan ibunya. Ia berdiri dan menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca namun penuh kemarahan.
"Dia suamiku, Ma! Berhenti memperlakukannya seperti binatang peliharaan! Dia manusia!" balas Yevone lantang. Ini bukan pertama kalinya ia berdebat dengan ibunya demi membela Theodore, tapi siraman air malam ini benar-benar keterlaluan baginya.
"Suami? Cih!" Martha mendecih jijik. "Suami macam apa yang kerjanya cuma mengepel lantai dan mencuci baju? Dia itu beban, Yevone! Beban buat kamu, beban buat keluarga ini! Kapan kamu mau sadar dan menceraikan sampah ini? Di luar sana banyak pria sukses, direktur, pewaris perusahaan yang mengantre untukmu. Tapi kamu malah memelihara anjing kampung ini!"
"Cukup, Ma! Aku tidak akan pernah menceraikan Theodore. Kalau Mama terus menghinanya, kami berdua yang akan pergi dari rumah ini!" ancam Yevone, suaranya serak karena menahan emosi yang meluap-luap.
Ancaman itu membuat Martha terdiam sesaat. Keluarga ini masih membutuhkan Yevone untuk mengurus perusahaan kecil milik keluarga yang keuangannya sedang tidak stabil. Kalau Yevone benar-benar pergi, mereka bisa kehilangan sumber pemasukan utama.
"Terserah kamu, anak keras kepala! Urus saja suamimu yang cacat mental itu. Jangan harap dia bisa ikut makan malam ini. Dan suruh dia ganti semua piringku!" gerutu Martha kasar sambil berbalik pergi, kembali ke meja makannya dengan wajah bersungut-sungut. Keluarganya yang lain ikut bubar, kembali melanjutkan makan malam dan obrolan mereka seolah tidak terjadi apa-apa, membiarkan Theodore dan Yevone di sudut ruangan.
Yevone kembali menunduk, menarik lengan Theodore untuk berdiri.
"Ayo bangun, kita ke kamar saja," ajak Yevone lembut.
Theodore berdiri. Ia membiarkan Yevone menarik tangannya menjauhi ruang makan, menaiki tangga menuju kamar kecil mereka yang terletak di ujung lorong lantai dua. Sepanjang jalan, Yevone terus menggenggam tangan Theodore erat-erat, seolah takut suaminya itu akan hancur jika ia melepaskannya.
Sesampainya di kamar, Yevone mendudukkan Theodore di tepi ranjang. Ia mengambil handuk bersih dari lemari dan mulai mengeringkan rambut Theodore.
"Maafkan Mama, ya. Kamu tahu kan mulutnya memang tajam. Tolong jangan dimasukkan ke hati," Yevone berbicara pelan sambil menggosok lembut rambut Theodore. Air mata menetes dari sudut mata wanita itu, jatuh mengenai punggung tangan Theodore.
Theodore mendongak, melihat istrinya menangis dalam diam. Rasa lelah di wajah Yevone berpadu dengan rasa frustrasi dan kasihan. Hati Theodore, yang sekeras baja dan sedingin es, terasa diremas melihat air mata itu.
Tiga tahun lalu, kakek Yevone—satu-satunya orang di keluarga ini yang tahu sedikit tentang identitas asli Theodore—menyelamatkannya saat ia terluka parah. Sebagai balas budi, ia setuju menikahi Yevone untuk melindunginya dari keluarganya sendiri yang serakah. Selama ini ia hanya diam karena ia merasa ini adalah cara terbaik untuk tidak menarik perhatian musuh-musuhnya ke arah Yevone.
Tapi melihat wanita ini terus berkorban dan dihina demi membelanya, Theodore menyadari bahwa diam saja tidak lagi cukup.
Theodore mengangkat tangannya, mengusap air mata di pipi Yevone dengan ibu jarinya yang kapalan. Cincin naga hitam di jarinya menyentuh pipi Yevone dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, Yevone. Kamu tidak perlu menangis untukku," ucap Theodore dengan suara baritonnya yang tenang dan dalam.
"Aku cuma capek, Theo. Capek melihatmu terus diinjak-injak," keluh Yevone sambil memegang tangan Theodore yang ada di pipinya. "Aku janji, aku akan bekerja lebih keras lagi. Nanti kalau perusahaan sudah stabil, kita beli rumah kecil sendiri. Kita pindah dari sini. Kamu tidak perlu lagi mendengar hinaan mereka."
Theodore tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan. Di balik senyuman itu, sebuah keputusan besar telah dibuat.
Waktu bermain petak umpet sudah habis. Ia sudah cukup memulihkan kekuatannya. Jika keluarga ini menganggap Yevone dan dirinya adalah kotoran yang bisa diinjak sesuka hati, maka ia akan menunjukkan kepada mereka siapa sebenarnya yang sedang mereka injak.
"Iya, kita akan punya tempat kita sendiri," Theodore berbisik lembut, tatapannya menembus ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota yang gemerlap di kejauhan. "Dan aku berjanji, mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang berani membuatmu menangis lagi."