Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Bima melangkah keluar dari stasiun kota dengan napas terengah-engah.
Suara bising kendaraan bermotor langsung menyambut telinganya.
"Upaku sudah semakin tipis," gumam Bima pelan pada dirinya sendiri.
Ia merogoh saku celananya untuk menghitung sisa uang kertas yang tersisa.
"Sisa uangku tinggal seratus ribu pas," keluh Bima dengan wajah masam.
Ia harus segera mencari tempat tinggal yang lebih layak sebelum malam tiba.
Matanya menatap selembar sertifikat tanah tua yang tersimpan di dalam tas kecilnya.
Sertifikat itu adalah aset berharga milik mendiang ibunya yang tersimpan di brankas bank kemarin.
"Tanah ini ada di kawasan pinggiran kota," batin Bima sambil membaca alamat pada sertifikat.
Ia memutuskan untuk mendatangi lokasi tanah warisan itu keesokan harinya.
Untuk sekarang, ia butuh tempat sewa bulanan yang bersih dan aman.
Bima berjalan menyusuri jalan raya mencari papan petunjuk rumah kontrakan.
Tidak lama kemudian, ia melihat sebuah plang kecil bertuliskan kontrakan kosong.
Bima langsung menghampiri sebuah rumah kecil berpagar biru di dekat ruko-ruko tua.
Tok, tok, tok.
Bima mengetuk pintu kayu rumah tersebut dengan sopan.
Kriet...
Pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya berbadan gempal.
"Cari siapa ya, Mas?" tanya wanita itu ramah sambil merapikan daster batik yang dikenakannya.
"Saya mau tanya soal kontrakan kosong di sebelah sini, Bu," jawab Bima langsung pada intinya.
"Oh, kontrakan paviliun belakang maksudnya? Masih kosong kok," jawab ibu itu tersenyum lebar.
"Berapa harga sewa perbulannya, Bu?" tanya Bima penasaran.
"Tujuh ratus ribu sebulan, Mas. Air dan listrik sudah termasuk di dalamnya," jawab ibu pemilik kontrakan.
Bima terdiam sejenak mendengar harga tersebut.
Uangnya saat ini tentu tidak cukup untuk membayar sewa satu bulan penuh di muka.
"Bisa dibayar setengah dulu separuhnya, Bu?" tanya Bima dengan nada sedikit ragu.
"Waduh, biasanya minimal harus bayar penuh di depan, Mas," jawab ibu itu dengan nada menyesal.
Bima menghela napas panjang mendengar jawaban tersebut.
"Sayang sekali, kalau begitu saya cari tempat lain saja," kata Bima sambil berbalik badan.
"Tunggu sebentar, Mas," panggil ibu itu cepat.
Bima menghentikan langkahnya dan menoleh kembali. "Ada apa lagi, Bu?" tanya Bima.
"Kamu kelihatan bukan orang jahat, jadi saya bisa beri kelonggaran," kata ibu itu tersenyum ramah.
"Maksud Ibu?" tanya Bima meminta kejelasan.
"Kamu bisa bayar uang muka seratus ribu dulu, sisanya bisa dibayar minggu depan pas kamu sudah gajian," jelas ibu itu panjang lebar.
Bima merasa sedikit lega mendengar penawaran tersebut.
"Baiklah, Bu. Saya ambil kontrakannya sekarang," jawab Bima mantap.
Ia mengeluarkan seluruh sisa uang seratus ribu rupiah dari sakunya dan menyerahkannya.
Ibu itu menerima uang tersebut dan memberikan sebuah kunci gembok besi.
"Ini kunci paviliun nomor tiga di belakang sana," kata ibu itu sambil menyerahkan kunci.
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Bima tulus.
"Sama-sama, Nak. Namaku Bu Siti, panggil saja begitu kalau perlu apa-apa," balas Bu Siti.
Bima mengangguk pelan dan berjalan menuju bagian belakang rumah.
Ia melewati jalan setapak kecil yang dikelilingi pot-pot tanaman bunga melati.
Suasana di bagian belakang terasa cukup tenang dan jauh dari kebisingan jalan raya.
Bima berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna putih kusam bernomor tiga.
Ia memasukkan kunci gembok dan membukanya.
Klotak...
Suara gembok terbuka dengan mudah.
Bima mendorong pintu kayu itu pelan-pelan.
Bau cat baru dan aroma debu tipis langsung tercium saat ia melangkah masuk.
Ruangan itu tidak terlalu besar tapi cukup bersih untuk ditinggali seorang diri.
Ada sebuah kasur busa ukuran single, lemari pakaian plastik, dan kamar mandi kecil di dalam.
Bima meletakkan tas kecilnya di atas kasur busa tersebut.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur karena merasa sangat lelah setelah berjalan seharian.
"Akhirnya aku punya tempat tinggal sementara," batin Bima lega.
Ia menatap langit-langit ruangan sambil memikirkan rencana selanjutnya.
Data digital di flashdisk miliknya adalah senjata paling ampuh untuk menghancurkan Hendra.
Namun ia tidak bisa langsung menyerahkan data itu ke kantor polisi begitu saja.
Ia butuh koneksi dan orang dalam yang kuat untuk memastikan hukum berjalan adil.
"Keluarga Hendra pasti sedang bersenang-senang sekarang," gumam Bima sinis.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah keluarga Hendra, situasinya sangat kontras.
Hendra sedang duduk di ruang keluarga sambil memijat keningnya yang pusing.
"Bagaimana bisa proyek pembangunan perumahan itu mendadak ditolak oleh bank?" tanya Hendra dengan nada tinggi.
Rina yang duduk di samping suaminya berusaha menenangkan dengan suara lembut.
"Tenang dulu, Ayah. Mungkin itu hanya masalah administrasi biasa."
"Masalah administrasi apa kalau dananya tertahan dan saham kita anjlok drastis?!" bentak Hendra marah.
Kevin yang baru saja pulang sekolah masuk ke ruang keluarga dengan santai.
"Ada apa sih, Pa? Kok teriak-teriak dari luar?" tanya Kevin tanpa rasa sopan.
"Perusahaan kita sedang dalam masalah besar, Kevin!" jawab Hendra tajam.
Kevin mendengus kecil mendengar ucapan ayahnya. "Paling juga nanti beres sendiri seperti biasanya," kata Kevin acuh tak acuh.
Rina menatap anak kandungnya dengan tatapan memperingatkan agar tidak berbicara sembarangan.
"Jangan bicara begitu, Kevin. Ayahmu sedang stres berat."
"Biarin saja, kan masih ada aset lama dari mendiang istri pertama Papa yang bisa dijual," celetuk Kevin tanpa beban.
Hendra mendadak terdiam mendengar ucapan Kevin barusan.
Wajah Hendra langsung memucat seketika.
"Jangan pernah sebut-sebut harta perempuan itu lagi!" bentak Hendra dengan suara bergetar.
Kevin mengangkat kedua bahunya tanda tidak peduli dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Langkah kaki Kevin berderap naik tangga.
Krok, krok, krok.
Suara pintu kamar Kevin terbanting keras dari lantai atas.
Hendra menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya yang meledak-ledak.
Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada kehidupannya akhir-akhir ini.
"Apakah sialnya kita ini ada hubungannya dengan pengusiran Bima kemarin?" batin Hendra mulai merasa cemas.
Rina langsung menggelengkan kepalanya cepat untuk menepis pikiran suaminya itu.
"Mana mungkin, Ayah. Anak bodoh seperti Bima tidak punya kemampuan apa-apa untuk menjatuhkan kita."
"Kamu benar, dia cuma anak pemalas yang tidak berguna," gumam Hendra berusaha meyakinkan diri sendiri.
Kembali ke paviliun tempat Bima tinggal, pemuda itu sedang duduk di lantai sambil merapikan barang-barangnya.
Bima mengambil sertifikat tanah tua dari dalam tas.
Ia membaca kembali lokasi tanah tersebut dengan teliti.
"Tanah ini terletak di kawasan industri pinggiran kota yang harganya akan melonjak tinggi," batin Bima menganalisis.
Di dalam catatan ibunya, tanah itu dulunya sengaja dibeli sebagai investasi jangka panjang.
Hendra tidak pernah tahu keberadaan sertifikat tanah tersebut karena disimpan di brankas pribadi sang ibu.
"Kalau aku jual atau jaminkan tanah ini, aku bisa dapat modal besar untuk mendirikan perusahaan tandingan," pikir Bima dengan mata berbinar tajam.
Rencana balas dendamnya kini mulai tersusun rapi di dalam kepalanya.
Ia tidak hanya ingin membuat Hendra miskin, tapi juga ingin merebut seluruh kejayaan pria itu sampai jatuh tersungkur di tanah.
Bima menyimpan kembali sertifikat itu ke tempat yang sangat aman di dalam tasnya.
Ia merebahkan diri di atas kasur busa untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.
Malam semakin larut menyelimuti kota kecil tempat Bima memulai langkah barunya.
Suara jangkrik mengerik pelan dari halaman belakang paviliun.
Bima memejamkan matanya dengan senyum penuh arti terukir di bibirnya.
"Besok adalah hari pertama aku mulai merebut kembali apa yang menjadi hak ibuku," janji Bima dalam hati.