NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Aroma CPO dan Secangkir Kopi Pahit

Kipas angin di kamar mess putri berdecit. Pelan, ritmis. Seperti menghitung mundur kesabaran.

Jam tujuh malam.

Di luar, suara mesin boiler pabrik masih berdengung. Tempat ini memang tidak pernah tidur. Dua puluh empat jam mesin jalan. Dua puluh empat jam bau asap dan minyak sawit mengambang di udara.

Nadia berdiri di depan cermin kecil di atas wastafel yang retak.

Seragam biru dongkernya yang penuh debu tadi siang sudah ia gantung. Ia baru selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah. Ia ganti baju. Bukan baju tidur. Ia pakai atasan rajut marun berkerah V yang sopan, tapi memang ngepas di badan. Dipadu dengan celana jeans cutbray gelap.

Ia tidak dandan untuk siapa-siapa. Begitu katanya pada diri sendiri.

Padahal tangannya sempat mengambil lip balm. Sempat merapikan alis. Sempat menyemprotkan parfum sisa yang ia bawa dari Padang Panjang.

Ponselnya getar di atas kasur yang seprainya tipis.

Layar menyala. Rizki - Tunangan.

Nadia menghela napas. Ia buka pesannya.

"Nad, malam ini aku koreksi tugas anak kelas 12. Kamu sudah makan? Jangan lupa minum susu sebelum tidur. Besok aku ada rapat KKG, jadi kita skip teleponan ya. Assalamualaikum."

Nadia menatap pesan itu lama.

Tidak ada kata rindu. Tidak ada tanya bagaimana hari pertamaku. Semua seperti daftar tugas yang harus dicentang. Dingin. Rapi. Seperti Rizki.

Rizki memperlakukanku seperti porselen mahal yang harus disimpan di lemari kaca, bukan sebagai perempuan yang punya darah dan punya rasa, batin Nadia.

"Dasar kaku," gumamnya pelan. Ia lempar ponsel itu ke kasur.

Jam tujuh tepat. Ia harus ke ruang administrasi. Janji sama Arif.

Udara malam Dharmasraya lebih dingin dari siang, tapi bau pabrik tetap ada. Bau asam lemak, bau minyak mentah, bau asap kayu bakar dari boiler. Orang sini menyebutnya bau CPO. Bau Crude Palm Oil. Bau uang, kata mereka. Bagi Nadia, baunya menyengat dan bikin pusing.

Ruang administrasi ada di gedung dua lantai yang terpisah dari pabrik. Tangga kayunya berderit saat dinaiki. Dari lantai dua, terlihat cahaya kuning temaram dari ruangan paling ujung. Pintunya setengah terbuka.

Nadia ketuk kusen pintu tiga kali.

"Permisi, Pak."

"Masuk. Tidak dikunci," suara bariton itu terdengar dari dalam.

Nadia mendorong pintu dan masuk.

Ruangan itu luas. Berantakan tapi terorganisir. Tumpukan dokumen pengiriman, peta blok kebun, dan botol sampel tanah berserakan di atas meja kayu jati besar. Di sudut, ada kalender yang sudah lewat dua bulan.

Di dekat jendela yang terbuka, Arif berdiri. Ia sudah ganti baju. Tidak pakai flanel lagi. Sekarang ia pakai kaos polo hitam polos. Kaos itu menempel pas di dada dan lengannya. Di tangannya ada rokok yang asapnya tipis mengepul, bercampur angin malam.

"Kamu telat dua menit, Nona Nadia," kata Arif tanpa menoleh. Matanya masih menatap gelapnya kebun sawit di luar.

Nadia menelan ludah. Jantungnya berdegup lagi, sama seperti siang tadi.

"Maaf, Pak. Saya salah hitung waktu jalan dari mess, soalnya jalan ke sini Gelap banget."

Arif akhirnya menoleh. Matanya menyapu Nadia dari ujung rambut sampai sepatu. Tatapannya tidak nakal, tapi berat. Membuat Nadia merasa pakaiannya tiba-tiba terasa tipis.

Ia matikan rokoknya di asbak.

"Silahkan duduk. Kamu terlihat seperti mau pingsan kalau berdiri terus," kata Arif sambil menunjuk kursi di depan mejanya.

Nadia duduk. Kakinya ia silangkan. AC di ruangan itu dingin sekali, sampai kulit lengannya merinding.

"Terima kasih... Pak Arif. Maaf kalau penampilan saya kurang sesuai," kata Nadia.

Arif tertawa kecil. Ia berjalan ke mejanya dan duduk. Ia condongkan badan ke depan, menatap Nadia lekat.

"Ekspektasi saya cuma satu: kamu tidak boleh cengeng. Di pabrik ini kalau mesin press macet jam dua pagi, saya tidak peduli kamu lagi pakai gaun pesta atau lagi flu. Kamu harus turun ke lantai produksi. Bisa?"

"Aku tidak akan cengeng," jawab Nadia tegas. "Aku sudah bilang siang tadi."

"kalau cuma omongan aja gampang, Nona," Arif menyandarkan punggung, jari-jarinya yang kasar mengetuk-ngetuk meja. "Tapi lihat tanganmu. Halus. Tidak ada kapalan. Kamu pasti biasa pegang pena, bukan pegang kunci inggris."

Nadia sedikit tersinggung, tapi ia tahan. Ia tahu Arif sedang mengujinya. Laki-laki seperti Arif memang begitu. Suka menguji.

"Kalau masalah kunci inggris saya bisa belajar. Tapi kalau masalah stok CPO dan hitung-hitungan biaya produksi, saya yakin justru Bapak yang butuh bantuan saya," jawab Nadia. Nada suaranya ia jaga tetap tenang.

Ruangan hening beberapa detik. Hanya terdengar dengung AC dan suara jangkrik dari luar.

Lalu Arif tersenyum. Kali ini senyumnya sampai ke mata. Ada garis halus di sudut matanya. Senyum itu berbahaya, tapi jujur.

"Dasar gadis keras kepala," gumamnya. Ia bangkit menuju dispenser di sudut ruangan. "Mau kopi atau teh? Di sini cuma ada dua. Kopi hitam pahit, atau teh celup yang sudah hambar."

"Kopi hitam saja. Biar melek," jawab Nadia.

Arif tuang air panas ke dua cangkir kaca. Saat ia berjalan kembali dan menyodorkan cangkir itu, tangan mereka bersentuhan.

Jari-jari Arif yang kasar dan hangat menyenggol ujung jari Nadia yang dingin. Cuma sepersekian detik.

Tapi Nadia merasakan aliran aneh menjalar dari ujung jarinya sampai ke leher. Napasnya tercekat pelan. Cangkir di tangannya hampir tumpah.

Arif tidak langsung menarik tangannya. Ia biarkan jemarinya menempel di tangan Nadia yang memegang cangkir. Tatapannya turun ke bibir Nadia, lalu naik lagi ke matanya. Udara di antara mereka tiba-tiba terasa tebal.

"Kamu kedinginan?" ucap Arif pelan. Suaranya turun satu oktaf, serak.

"AC-nya terlalu dingin," jawab Nadia tergagap. Ia coba tarik tangannya, tapi Arif menahannya lembut. Tidak kuat, hanya cukup untuk membuat Nadia sadar ia tidak bisa lepas begitu saja.

"Pak..." bisik Nadia. Namanya terdengar seperti peringatan sekaligus undangan.

Arif akhirnya lepaskan. Ia kembali duduk, menyeruput kopinya. Seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kamu punya tunangan khan? Guru sejarah itu," tanya Arif tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Nadia kehilangan keseimbangan.

"Dari mana Bapak.. tau kalau saya udah punya Tunangan?

"ya.. saya harus tau profile orang yang akan jadi admin saya di sini, jangan sampai urusan pribadi mengganggu pekerjan kedepannya"(Arif mengetahui profile Nadia dari Temannya yang kerja di RO Padang.)

"Bapak tenang aja masalah pribadi saya gak akan mengganggu pekerjaan, saya profesional koq orang nya. "

"Hmm.. ok, Ngomong-ngomong kapan kamu mau nikah sama tunangan mu itu?

"InsyAllah bulan depan. "

Arif menatap cangkirnya, menghela napas pelan.

"Bulan depan. Cepat sekali," kata Arif. "Saya juga punya tunangan di Medan. Dokter. Sudah LDR tiga tahun. Kadang saya merasa seperti punya pacar virtual. Dia cuma telepon kalau butuh uang belanja atau minta dibelikan baju."

Ia menatap Nadia, tatapannya kini lebih jujur, lebih capek.

"Kadang saya tanya ke diri sendiri, apa saya menikahi perempuan yang benar-benar saya kenal, atau hanya menikahi pilihan orang tua saya. Sama seperti kamu, mungkin?"

Nadia diam. Jantungnya berdetak liar. Kata-kata Arif menembus pertahanannya. Ia ingin membantah, ingin membela Rizki, tapi kata-kata itu tidak keluar. Karena di lubuk hatinya, Arif benar.

"Kita ini sama-sama terikat, Nadia," ucap Arif lembut, untuk pertama kalinya memanggil nama depannya tanpa embel-embel Nona. "Jadi mari kita sepakat. Di ruangan ini, di pabrik ini... kita cuma teman. Teman yang saling jaga. Tidak ada yang perlu merasa bersalah, kan?"

Teman. Kata itu terdengar seperti gencatan senjata. Tapi Nadia tahu itu adalah awal dari perang.

"Kecuali..." Arif menambahkan, senyum miringnya kembali muncul, "kalau kamu tidak kuat menahan godaan."

Nadia menelan ludah. Ia berdiri dari kursinya, memegang cangkir kopi yang kini hangat di tangannya.

"Kopinya enak, pak. Terima kasih. Saya permisi balik ke mess," kata Nadia cepat.

"Hati-hati di jalan. Gelap di luar. Banyak anjing liar," ucap Arif, matanya kembali menatap dokumen di mejanya, seolah percakapan intim tadi tidak pernah terjadi.

Nadia berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah goyah. Saat menuruni tangga kayu, ia tempelkan punggung tangannya yang masih terasa hangat bekas sentuhan Arif ke pipinya yang memanas.

Ia baru saja setuju untuk menjadi teman dari pria yang tunangannya ada di Medan, sementara ia sendiri bertunangan dengan pria di kampung.

Sebuah pertemanan yang berbahaya. Sebuah permainan api di tengah tumpukan daun sawit yang kering.

Dan yang paling menakutkan bagi Nadia... ia tidak ingin permainan ini berhenti. Bahkan ia menunggu kapan permainan itu akan dimulai lagi.

Di mess, ponselnya bergetar lagi. Rizki mengirim foto dirinya sedang mengoreksi tugas.

Nadia hanya melihatnya sekilas, lalu meletakkan ponsel itu tertelungkup. Di kepalanya yang ada cuma aroma kopi pahit dan tatapan mata hitam Arif.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!