Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Berkas cahaya mentari pertama yang menyusup lewat tirai beludru biru tebal menampar wajahnya bagai tamparan hangat, merenggutnya secara kasar dari tidur.
Zaira membuka mata dengan tersentak.
Ia mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan siluet langit-langit berukir yang menjulang di atasnya dengan keindahan yang dingin dan asing. Sesaat, benaknya melayang di antara mimpi dan jaga, bingung, tergantung dalam limbo pekat tempat waktu seakan berhenti ada.
Sengat ketakutan menembus dadanya.
Ia tak mengenali tempat itu.
Udara sarat aroma yang menusuk, campuran kayu terbakar, minuman keras mahal, dan wangi maskulin yang terasa samar-samar akrab. Sensasi gelisah yang lengket merambati kulitnya yang telanjang. Seprai sutra, dingin dan lembut bagai air yang tergenang, berantakan di sekelilingnya, membelit paha-pahanya yang nyeri.
Rasa sakit itu.
Itulah jangkar pertamanya pada kenyataan.
Sengat tajam di antara kedua kakinya merenggut satu erangan tertahan. Ia tersentak menegakkan tubuh bertumpu pada sikunya, napas terputus-putus, sementara jantungnya berpacu bagai kuda liar.
"Di mana aku...?" gumamnya, suaranya serak, terasa aneh dan asing di bibirnya sendiri.
Matanya menyapu kamar itu dengan putus asa: dinding-dinding tinggi berlapis beludru, lampu kristal tergantung bagai rembulan buram, kilau botol-botol setengah kosong di atas meja konsol marmer, sebuah kursi berlengan dengan gaun yang samar ia kenali sebagai miliknya... dan ketiadaan yang paling menakutkan dari semuanya: ketiadaan sosok orang lain.
Ia sendirian.
Tak ada suara. Tak ada bayangan. Tak ada penjelasan.
Ia menekankan sebelah tangan ke keningnya yang basah oleh keringat dingin. Kepalanya berdenyut hebat, seakan di dalamnya ada mesin yang menggedor kenangan agar terbangun. Kabut berat mengaburkan ingatannya. Serpihan-serpihan yang tak nyambung menari di balik kelopaknya yang terpejam: tawa, cahaya berkedip, segelas minuman yang terlalu manis, musik yang memekakkan, sebuah tangan kuat mencengkeram lengannya, lift, sebuah kamar keemasan...
Dan sebuah wajah.
"Tidak..." bisiknya, memejamkan mata rapat-rapat. "Apa yang terjadi?"
Ia berbalik di ranjang, cemas mencari petunjuk, sesuatu yang bisa memastikan bahwa ia telah berbagi kamar itu dengan seseorang... dan ia menemukan sebuah jas potongan pria, tergantung sembarangan di sandaran kursi. Wangi parfum masih mengambang di udara, tak mau pergi.
Napasnya menjadi kacau.
Lalu ia teringat.
Pintu masuk klub, tawa gugup Tatiana, kehadiran dua pria bersetelan mahal yang mengundang mereka ke area VIP... lalu, saat ketika segalanya berubah kabur. Tatiana berbicara dengan salah satu dari mereka, dan ia... apa ia menerima segelas minuman?
Ya. Segelas. Hanya satu.
Ingatan itu menghantamnya bagai kilat: sebuah lift dengan cahaya temaram, bayangan dirinya di cermin yang terdistorsi oleh alkohol, suara seorang pria yang berbicara dekat telinganya, mengatakan kamar sudah siap... dan Tatiana, di belakang, mengatakan ia akan menyusul nanti. Bahwa Zaira naik saja lebih dulu.
Sensasi dingin merambati punggungnya.
Apa Tatiana meninggalkannya sendirian di sana?
Dengan siapa?
Jari-jarinya yang gemetar menyusuri tepi seprai sementara ia menelan ludah dengan susah payah. Ia merasakan sesuatu yang lain meluncur di pahanya: sepasang stoking yang robek. Pakaiannya berserakan di lantai bagai bukti sebuah kisah yang tak bisa ia ingat akhirnya.
Dan kemudian ia melihatnya.
Di atas meja samping ranjang, di sebelah jam keemasan yang jarumnya berhenti, segepok uang terikat pita emas.
Darahnya membeku.
Kamar itu berputar samar.
Pusing yang menyengat memaksanya duduk di tepi ranjang, kedua tangan menekan pelipis. Mual merayap naik ke kerongkongannya, kental bagai ter. Ia mengulurkan tangan yang gemetar dan mengangkat secarik kertas kecil yang tergeletak di atas uang itu.
"Beristirahatlah, boneka. Kau berhak atas ini."
Hanya beberapa patah kata.
Tetapi tiap katanya adalah batu yang langsung menghantam ulu hatinya.
"Tidak... tidak mungkin..." ia tergagap.
Bibirnya terbuka melepaskan isak bisu, sementara beban rasa malu menimpanya bagai lempeng batu. Matanya penuh air mata yang membara. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, merasakan segala yang ada di dalam dirinya hancur menjadi kepingan-kepingan tajam.
Gagasan bahwa seseorang, seorang asing, telah memiliki akses ke tubuhnya sementara ia nyaris tak bisa mengingat apa pun, adalah kengerian yang mencabik kulitnya dari dalam.
Dan Tatiana... sahabatnya. Mengapa ia meninggalkannya sendirian?
Pengkhianatan itu berdenyut berdampingan dengan rasa sakit, tumbuh di tiap kenangan, di tiap bayangan yang kembali sedikit demi sedikit bagai hukuman.
Ia memaksa diri berdiri, tubuhnya memprotes dengan kaku. Tiap langkah di atas karpet empuk terasa nyeri, secara fisik maupun batin. Ia memungut pakaiannya dengan gerakan mekanis, menghindari bayangannya sendiri di cermin, takut pada apa yang mungkin ia temukan terpantul di sana.
Ketika akhirnya ia menatapnya, itu tak terhindarkan.