Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.
Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.
Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.
Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.
Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.
Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benci
Pagi-pagi sekali, Claudia memberi arahan kepada seluruh staf mansion Mario Adikara. Sejak kedatangan Mario dan istrinya, segalanya berubah.
"Kau masak apa?" Claudia melirik makanan di dalam oven.
"Steik daging domba saus ceri dan salad," jawab wanita yang bertugas memasak.
"Pastikan tak ada yang mengandung kacang kenari, almond, atau apa pun sejenisnya," tegas Claudia.
"Kami sudah menambahkan sedikit kenari ke saladnya. Nona Maura dan Nyonya Maharani sangat menyukainya," jawabnya.
"Buat salad lagi. Yang tak mengandung kenari atau apa pun sejenisnya. Nyonya Adikara alergi kenari dan almond."
Mendengar itu, Maura sedikit mengangkat pandangannya. Ia sedang duduk di salah satu meja. Seperti setiap pagi, ia bangun sangat awal lalu ke dapur untuk mengobrol dengan para pelayan. Pagi itu ia seakan sedang beruntung, sebab semalaman ia sama sekali tak bisa tidur.
Kini ia tahu dari mana harus menyerang Elisa tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Buat lagi saladnya. Aku juga tak akan makan kenari."
"Baik, Nona."
Claudia sedikit menoleh. Maura tengah menatap sebuah majalah mode. Gadis itu harus memilih gaun yang cantik untuk dikenakan di pesta akhir bulan. Seperti setiap kali pesta digelar, ia akan hadir menggandeng lengan Mario, dan kali ini pun takkan berbeda.
"Sudah siang. Kukira jam segini semua orang sudah bangun. Mario selalu bangun sangat pagi..."
Claudia berbalik sepenuhnya menghadap Maura. Gadis itu menaruh kedua sikunya di atas meja, menopang pipinya dengan kedua tangan, memasang tampang polos, lalu berkata.
"Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan. Mario pria beristri dan sekarang ada urusan yang harus ia lakukan di kamarnya..."
"Semalam, aku lewat di koridor dan mendengar suara-suara aneh dari sana. Kukira dia sedang membunuh seekor jalang yang sedang berahi."
"Nak, jaga caramu bicara soal istri kakakmu. Dia sang nyonya, dan kau harus lebih berhati-hati," tegur Claudia.
"Nyonya?" desis gadis itu di sela gigi.
"Satu-satunya nyonya di sini adalah aku. Sudah jelas?"
Selesai berkata begitu, Maura memutar bola matanya, lalu menunduk, menyembunyikan kebencian yang ia rasakan pada istri Mario.
Claudia, yang mengenalnya terlalu baik, mendekat, mengusap rambut ikalnya, dan berkata.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri lagi, Nak. Ada orang-orang yang hanya bisa kita cintai dan kita sayangi dalam diam."
Kau keliru menilaiku. Aku tak sepertimu, yang bertahun-tahun jatuh cinta pada ayahku. Pada akhirnya dia mati dan kau hanya tinggal dengan kenangan sialan itu. Aku tahu cara memperjuangkan pria yang kucintai, dan aku tak peduli apa pun. Pada akhirnya Mario akan jadi milikku. Begitu batin Maura sambil menatap lurus ke mata Claudia.
Maura bangkit berdiri. Seulas senyum terbit di bibirnya, lalu ia mencium pipi Claudia. Seketika, ia bergegas keluar dari dapur.
Ia menaiki tangga, melewati kamar Mario dan Elisa. Gadis itu berhenti di depan kamar, matanya bagai dua bola api yang berkobar.
"Aku lapar sekali. Kita bisa pesan sarapan ke kamar," usul Elisa pada Mario.
Mario menegakkan separuh tubuhnya, dan membelai pipi istrinya.
"Kenapa tidak. Ucapanmu adalah perintah bagiku." Mario meletakkan dua jarinya di dagu Elisa, memiringkan sedikit kepalanya untuk mencium bibir gadis itu.
"Aku mau mandi," ucap Elisa, mencoba bangkit dari ranjang.
"Tunggu, aku ikut denganmu."
"Aku akan menyabuni punggungmu dan seluruh tubuhmu."
Pipi gadis itu memerah. Sudah lebih dari jelas apa yang ingin Mario lakukan di dalam kamar mandi.
"Dasar bodoh, kau kira aku tak tahu apa yang mau kau lakukan padaku." Elisa menjawab kesal.
Mario menyibakkan seprai dari tubuhnya, membiarkan tubuhnya telanjang sepenuhnya. Ia menunjuk ke bawah, dan berkata.
"Lihat apa yang cuma kau yang bisa membangkitkannya."
Gadis itu memejamkan mata, masih tak percaya bahwa semua itu telah masuk ke dalam dirinya. Mario bangkit dari ranjang dan menghampiri gadis yang berdiri itu, menyingkap seprai yang menutupi tubuh Elisa, lalu mengangkatnya ke dalam pelukan.
Gadis itu merasa akan terjatuh, buru-buru melingkarkan tangannya di leher Mario. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Mario menurunkannya ke lantai, untuk menyiapkan bak dan mandi bersama.
Tak lama, bak telah terisi. Minyak khusus dan lilin-lilin aromatik di sekeliling bak membuat suasana amat romantis.
Mario mendekat dari belakang Elisa. Bibirnya mulai menyusuri leher gadis itu, sementara tangannya menjelajahi tubuh telanjangnya.
Elisa memutar tubuhnya, memeluk tubuh Mario. Kulit telanjang mereka menyatu bagai membentuk satu jiwa. Gadis itu membuka kedua kakinya dan dengan sekali lompatan, melingkarkannya di pinggang Mario.
Mario meletakkan tangannya di pinggul gadis itu, sembari mencium bibirnya penuh gairah. Perlahan, ia masuk ke dalam bak. Untuk menghindari kecelakaan, ia menurunkan Elisa. Keduanya masuk ke dalam air dan kembali bercinta.
Di kamar tidur, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Maura masuk. Ia menatap penuh muak pada ranjang yang berantakan dan pakaian mereka yang berserakan di lantai. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, hingga kukunya menancap di telapak tangannya.
Belum puas, ia mendekat ke pintu kamar mandi, mendengarkan desahan-desahan kenikmatan yang keluar dari dalam.
Air mata mulai membasahi pipi Maura. Dengan hati yang hancur, gadis itu berbalik dan berlari keluar dari kamar. Suara pintu yang dibanting keras menarik perhatian Mario dan Elisa.
"Kau dengar itu? Ada yang masuk ke kamar kita," ujar Elisa.