Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Satpam itu terkejut setengah mati dan langsung menoleh ke belakang dengan panik.
Wajahnya seketika pucat pasi melihat siapa wanita cantik yang baru saja bersuara dari belakangnya.
Sebagai satpam mall kelas atas, dia sangat mengenali wajah istri dari pemilik Wegan Group yang sangat ditakuti itu.
"Ma-maaf, Nyonya Nabila. Saya sama sekali tidak bermaksud membuat keributan," ucap satpam itu terbata-bata.
"Saya hanya sedang mengusir pengemis bau ini agar tidak mengganggu penciuman Nyonya," lanjutnya sambil membungkuk sangat rendah.
Nabila sama sekali tidak mempedulikan alasan murahan dari satpam mall tersebut.
Tatapan mata Nabila kini tertuju sepenuhnya pada gadis kecil yang masih meringkuk di lantai itu.
Gadis kecil yang pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai, dan wajahnya dipenuhi noda debu jalanan.
Luna perlahan mendongakkan kepalanya yang mungil karena penasaran dengan suara wanita itu.
Dia ingin tahu suara merdu siapa yang baru saja menolongnya dari pukulan kasar satpam tadi.
Mata bulat Luna yang biasanya selalu redup dan penuh penderitaan kini berserobok langsung dengan sepasang mata indah Nabila.
Deg!
Jantung Nabila seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh saat melihat wajah anak itu.
Meski wajah anak itu penuh coretan tanah dan terlihat sangat tirus, ada cetakan raut wajah yang membekukan darah Nabila.
Hidung kecil yang mancung itu dan bentuk bibir tipisnya terlihat sangat tidak asing.
Sepasang mata bulat hitam lekat yang memancarkan penderitaan itu adalah saksi bisu kemiripan yang luar biasa.
Semuanya memancarkan versi masa kecil dari wajah Leon Wegan yang sangat identik tanpa celah sedikit pun.
"Anak ini... kenapa struktur wajahnya sangat mencetak wajah suamiku," batin Nabila dengan nafas yang mendadak tercekat.
Tiba-tiba angin siang dari jalan raya berembus cukup kencang menyapu area lobi mall tersebut.
Angin itu menyibakkan rambut panjang Luna yang sejak tadi menutupi leher dan daun telinga kirinya.
Dan tepat pada detik embusan angin itu, waktu di sekitar Nabila terasa benar-benar berhenti berputar.
Mata Nabila membelalak lebar melihat sebuah titik kecil berwarna hitam pekat.
Titik itu tersembunyi tepat di balik daun telinga kiri gadis malang yang sedang terduduk di depannya ini.
Sebuah tahi lalat hitam yang posisinya teramat presisi dan ukurannya sangat pas.
Bentuknya mustahil untuk salah dikenali oleh mata seorang ibu yang pernah melahirkannya.
"Tahi lalat itu..." bibir Nabila bergetar sangat hebat saat menggumamkan dua kata itu.
Ingatan Nabila langsung terlempar paksa ke kejadian enam tahun lalu di sebuah rumah sakit.
Di malam hujan badai saat dia melahirkan bayinya dengan susah payah.
Nabila sangat mengingat sensasi hangat saat dia mengecup belakang telinga bayinya untuk pertama kali.
Dia melihat tahi lalat hitam unik itu dan menganggapnya sebagai tanda lahir yang sangat spesial.
Namun keesokan harinya saat perawat rumah sakit menyerahkan bayinya untuk dibawa pulang, tanda lahir itu menghilang.
Saat itu suster Rini beralasan dengan santai bahwa tanda lahir kadang memang bisa memudar sendiri.
Katanya tanda lahir bisa hilang terserap kulit bayi dalam hitungan jam.
Dan Nabila bodoh yang saat itu masih lemah akibat obat bius pasca operasi hanya bisa mempercayai kebohongan itu.
"Tidak mungkin... logika ini tidak mungkin terjadi," batin Nabila menolak keras apa yang dilihatnya.
Namun insting keibuannya di dalam hati menjerit sangat keras membenarkan semua petunjuk yang ada di depan matanya.
Air mata Nabila akhirnya jatuh menetes deras tanpa bisa dikendalikan lagi membasahi pipinya.
Tubuh langsing Nabila bergetar begitu hebat hingga kakinya melemas seketika.
Dia jatuh terduduk bertumpu pada kedua lututnya tepat di atas lantai lobi mall yang keras.
Gaun sutra mahalnya kini kotor menyentuh lantai pelataran mall yang berdebu.
Namun wanita itu sudah tidak peduli pada hal duniawi apa pun lagi detik ini.
Nabila merangkak perlahan mendekati gadis kecil malang yang justru masih menatapnya dengan pandangan kebingungan itu.
"Nyo-nyonya cantik kenapa menangis?" tanya Luna dengan suaranya yang lembut dan tulus.
"Tolong jangan menangis, Nyonya. Nanti riasan wajah Nyonya jadi rusak," lanjut gadis kecil itu mencoba menghibur.
Tangan kecil Luna yang kotor penuh daki terulur dengan sangat ragu-ragu ke depan.
Dia mencoba menghapus air mata di pipi mulus Nabila dengan ujung jarinya yang kasar.
Sentuhan kasar dari telapak tangan Luna yang penuh kapalan itu bagaikan aliran listrik yang sangat besar.
Sengatan imajiner itu menusuk langsung ke ulu hati Nabila dengan sangat menyakitkan sekaligus melegakan.
Kehangatan murni yang mengalir dari sentuhan kulit anak itu seketika mengisi lubang raksasa di batin Nabila.
Sebuah ruang kosong di hatinya yang selama enam tahun ini tidak pernah bisa diisi oleh Bianca.
Ikatan batin luar biasa kuat yang tidak pernah sekalipun Nabila rasakan, kini meledak menghancurkan keraguannya.
"A-anakku... Ya Tuhan, benarkah kau putri kecilku," rintih Nabila dengan suara pecah tangisan yang sangat menyayat hati.
Nabila langsung menarik paksa tubuh kurus kering itu ke dalam dekapannya.
Dia memberikan sebuah pelukan yang teramat posesif dan erat seolah takut kehilangan anak itu lagi.
Bau asam dan kotor dari keringat tubuh Luna sama sekali tidak mengganggu penciuman Nabila saat ini.
Bagi sang ibu yang akhirnya menemukan permata hatinya yang hilang, ini adalah pelukan terbaik seumur hidupnya.
Luna yang tubuhnya tiba-tiba dipeluk begitu hangat oleh wanita asing itu hanya bisa diam mematung.
Seumur hidupnya selama enam tahun bernafas di dunia yang kejam ini, dia tidak pernah dipeluk seperti ini.
Ini adalah kali pertama ada orang dewasa yang memeluknya dengan kasih sayang.
Luna akhirnya bisa merasakan pelukan yang tulus tanpa ada sedikit pun niat untuk menyakitinya.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget