Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.
Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.
Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.
Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.
Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.
Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. JANGAN SENTUH ANAK-ANAKKU
Mendengar jawaban itu, keduanya terkejut—mereka tak menyangka Saras akan menjawab begitu. Dengan gelisah mereka bertanya, kenapa, kenapa jawabannya begitu. Saras menggenggam tangan masing-masing dari mereka dan berkata dengan tenang.
"Aku sangat berterima kasih pada kalian berdua, tapi aku tak mau menjadi beban siapa pun. Aku harus terbiasa hidup sendiri dengan bayi-bayiku, belajar merawat mereka, belajar mandiri. Tolong jangan tersinggung, tapi cobalah pahami posisiku, dengarkan aku dulu. Lihat, kalau aku pindah ke rumah dr. Klaudia, dia sudah punya suami, mereka butuh ruang mereka sendiri. Aku tak mau menyebabkan masalah bagi pasangan yang seharmonis kalian, karena bisa timbul salah paham—atau bayi-bayiku mungkin membuat suamimu terganggu, tangisan mereka tak membiarkannya beristirahat. Dan untuk dr. Marisa, meski kau tinggal sendiri, kau tetap butuh ruangmu sendiri. Mungkin kau punya kekasih, momen-momen santaimu; aku tak mau merepotkanmu, apalagi bayi-bayiku pasti takkan membiarkanmu beristirahat. Itu tak adil bagi kalian berdua. Lagi pula, apa yang akan terjadi ketika aku harus kembali nanti? Aku toh harus terbiasa hidup sendiri, jadi lebih baik dari awal saja."
Klaudia memahami betul maksudnya, lalu berkata dengan tenang, "Saras, apa yang harus kami lakukan denganmu? Kau selalu mengutamakan orang lain di atas kenyamananmu sendiri. Tapi mungkin kau benar, salah paham memang bisa terjadi, dan suamiku bukan pria yang mudah. Namun aku tetap ingin membantumu, jadi besok akan kubawakan bahan makanan yang cukup dan aku akan datang memeriksamu setiap hari. Karena itu aku juga mau satu kunci apartemenmu—aku perlu selalu mengawasi keadaanmu."
Marisa berkata dengan kesal, "Menurutku kau akan jauh lebih nyaman di apartemenku. Ada lift, ada dua kamar, jauh lebih luas daripada di sini, kau punya lebih banyak ruang. Kupikir kau bahkan bisa tinggal menetap bersamaku, kita bisa berbagi sewa. Kita berdua sama-sama lajang, kita pasti akur. Tapi aku tak akan memaksa lagi. Aku akan memberimu ruang, biar waktu yang membuktikan semuanya. Aku akan datang menjengukmu setiap hari, memasakkan makanan untukmu, memeriksamu dan bayi-bayimu, karena aku sama sekali tak berniat meninggalkanmu sendirian."
Saras berterima kasih kepada keduanya. Terakhir, ia meminta tolong agar mereka mengurus cuti melahirkannya. Keduanya menyanggupi. Mereka meninggalkan sup yang sudah dimasak untuk sarapan, makan siang, dan makan malamnya, menata semuanya dengan rapi, lalu membawa serta sampah saat pergi. Ketika Saras tinggal berdua bersama bayi-bayinya, ia mengabdikan diri merawat dan menjaga mereka. Namun seperti yang sudah diduga, hari-hari pertama terasa berat baginya—begadang, kelelahan, beradaptasi dengan kehidupan barunya.
Setiap hari sepulang kerja, Marisa dan Klaudia mampir menjenguknya, membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci pakaiannya dan pakaian bayi-bayi, memasakkan makanan untuk sepanjang hari, membawakan bahan makanan, buah agar ia selalu ada camilan, sayuran matang, dan selalu berusaha memvariasikan menunya agar ia makan sehat dan bisa menikmatinya.
Rumah sakit memberi Saras cuti dua bulan untuk mengurus bayi-bayinya. Masa itu berat baginya, tetapi ia berhasil melaluinya, dan sejak hari itu hidupnya berubah. Ia hanya bekerja di malam hari dan merawat anak-anaknya di siang hari. Begitulah selama tiga tahun pertama: dari rumah ke tempat kerja, dan ia tak pernah membiarkan siapa pun menjaga mereka. Ia mulai melupakan dirinya sendiri—ya, ia lupa bahwa ia juga ada sebagai seorang perempuan, bukan hanya seorang ibu; ia melupakan mimpi-mimpinya. Saras menutup diri dalam dunianya sendiri, tempat ia tak boleh merasa takut atau sedih, tak boleh lemah di hadapan siapa pun. Ia harus kuat demi anak-anaknya, menjadi seekor harimau betina untuk melindungi dan memberi mereka kehidupan yang layak.
Ketika ia mulai bekerja kembali, di malam hari anak-anaknya tidur di tempat penitipan anak, dan di siang hari ia membawa mereka pulang ke apartemen. Saat si kembar berusia tiga tahun, malam hari mereka tetap tidur di tempat penitipan—dan Saras bersyukur untuk itu. Setiap kali ada waktu istirahat, ia pergi menengok mereka tidur, dan pagi harinya ia menjemput mereka, membawa mereka pulang, memberi mereka sarapan, lalu mengantar mereka ke TK. Ia pulang sendiri ke apartemen, mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, lalu tidur beberapa jam sebelum kembali menjemput anak-anaknya pukul setengah satu siang. Ia membawa si kembar pulang ke apartemen, mereka makan siang bertiga, tidur beberapa jam, dan bangun pukul empat sore. Ia menemani mereka mengerjakan tugas, lalu bermain dan mengobrol bersama mereka—persis seperti yang dulu ayahnya lakukan padanya—sebelum akhirnya kembali ke rumah sakit dengan membawa serta si kembar.
Itulah rutinitasnya. Namun setelah empat bulan di TK, ia dihubungi dan diminta datang ke TK karena salah satu anaknya berkelahi. Saras sedang sangat lelah dan hanya ingin beristirahat, tetapi ia tak punya pilihan selain kembali ke TK. Sesampainya di sana, ia masuk ke ruang tunggu di depan kantor kepala sekolah, tepat pada waktunya untuk mencegah seorang perempuan yang murka memukul putranya. Melihat perempuan itu mengangkat tangan hendak memukul si kecil, tepat di luar kantor kepala sekolah, Saras bergegas mendekat dan menangkap tangan perempuan itu. Dengan geram ia berkata.
"Kalau kau sentuh anakku, aku tak bertanggung jawab atas perbuatanku."
Perempuan itu menoleh menatapnya dan dengan kasar menepis tangan Saras. Dengan angkuh ia berkata.
"Kau tak seharusnya menyentuhku. Kau tak tahu berurusan dengan siapa. Kalau kau tak mau ada yang menegur anak haram-mu itu, didik dia baik-baik."
Kata-kata perempuan itu membuat Saras sangat berang. Mungkin ia tak akan berkata apa-apa seandainya hinaan itu ditujukan padanya. Tetapi yang tak akan ia biarkan atau maafkan adalah orang menghina anak-anaknya, apalagi mencoba memukul mereka. Dengan murka ia mengangkat tangan dan menampar perempuan itu begitu keras hingga bibirnya sobek. Dengan geram ia berkata.
"Jangan pernah lagi seumur hidupmu menghina anak-anakku. Kau tak punya hak sedikit pun bicara seperti itu di depan anakku, apalagi menghukumnya. Untuk itu ada aku, ibunya."
Perempuan itu balas berkata dengan murka, "Kau perempuan kotor, berani-beraninya kau memukulku! Kau tak tahu baru saja berurusan dengan siapa. Akan kupastikan anak-anak haram-mu dikeluarkan dari TK ini, dan kau takkan menemukan TK lain untuk para berandal itu—biar mereka tak bersekolah seperti binatang!"
Saras kembali menamparnya dan berkata dengan suara meninggi, "Kau tak berhak mengusik anak-anakku. Dan kalau anakku memang berbuat salah, aku yang akan menghukumnya. Tapi kau, berhentilah menghina anak-anakku. Jaga lidahmu dan berhenti bertingkah seperti anak manja, itu sangat memalukan. Kau ini orang dewasa."
Saat itu terdengar suara kepala sekolah TK yang panik.
"Ada apa ini? Bu Ester, Anda kenapa? Bibir Anda berdarah. Cepat, bawakan kotak P3K!"
Kalimat terakhir ia teriakkan kepada sekretaris, dan yang terdengar berikutnya adalah suara Ester yang berang.
"Pak Kepala, bagaimana mungkin TK ini menerima anak-anak dari perempuan sekasar dia? Sudah jelas, anak-anaknya belajar darinya, makanya mereka memukul anak saya. Dan Pak Kepala, saya tegaskan sekarang juga: kalau Anda tidak mengeluarkan anak-anak dekil ini, anak saya takkan menginjak tempat ini lagi. Lupakan juga sumbangan dari suami saya untuk ruang bermain itu."
Saras berkata dengan geram, "Jadi semuanya soal uang. Pak Kepala, pikirkan baik-baik apa yang akan Anda lakukan, karena saya tak akan tinggal diam. Kalau Anda mengeluarkan anak-anak saya, saya berjanji akan membuat keributan besar di media sosial, membawa kasus ini ke media massa. Anak-anak saya tidak kasar, dan kalaupun anak saya memukul anaknya, saya ingin tahu kenapa. Pasti anaknya sudah berbuat sesuatu sampai anak saya bereaksi begitu."
Kepala sekolah mulai merasa tegang. Ia tak mau kehilangan Ester—sumbangan uang yang akan ia terima sungguh besar, dan bukan hanya untuk keperluan yang direncanakan, melainkan juga untuk bagiannya sendiri. Namun mendengar ucapan Saras, ada hal yang tak bisa ia biarkan: sebuah skandal akan membuat seluruh sistem TK diperiksa, dan pasti akan terbongkar segala kejanggalan yang ada. Ia jadi gugup, tak tahu harus berbuat apa, sambil memandangi kedua perempuan yang menatapnya menunggu jawaban.