Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTANDINGAN DUA RATU
“Bagaimana kalau kita selesaikan permainan wanita ini sebelum jam makan siang, Mas?”
Suara Aura mengalun tenang namun sarat akan ketajaman yang menuntut kepatuhan. Binar kepercayaan diri memancar penuh dari mata jernihnya, membalikkan atmosfer panik di ruang kendali bursa menjadi aura pertempuran Finansial kelas atas.
Hendra Fahreza menyunggingkan senyuman dominan. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu mempererat rangkulannya di pinggang Aura, memberikan tumpuan dan kehangatan mutlak di tengah guncangan pasar modal.
“Sesuai perintahmu, Ratu saya,” bisik Hendra seksi tepat di dekat earphone nirkabel yang terpasang di telinga Aura. “Seluruh dana cadangan dua puluh triliun sudah siap diotorisasi oleh tim keuangan dalam tiga detik.”
Tepat saat jam dinding digital ruang bursa menunjukkan pukul 09.00 WIB—suara lonceng pembukaan pasar saham berbunyi nyaring!
Layar-layar monitor raksasa seketika berkedip liar. Garis grafik merah menukik tajam begitu skema short selling bernilai triliunan rupiah milik Aero Capital digelontorkan secara serentak ke pasar bebas, memicu kepanikan di kalangan investor ritel.
“Pasar mulai goyah, Nyonya Aura! Harga saham anak perusahaan pelayaran kita turun delapan persen dalam dua menit pertama!” seru Laras tegang, jemarinya menari cepat di atas keyboard terminal Bloomberg.
Aura tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Ia melangkah satu titik lebih dekat ke meja komando utama, berdiri tegap membelakangi puluhan analis yang menunggu instruksinya dengan napas tertahan.
“Tahan pembelian selama tiga menit,” perintah Aura jernih dan tegas. “Biarkan Evelyn melontarkan seluruh amunisi jualnya sampai dia merasa menang di angka sepuluh persen.”
Hendra berdiri tegap di samping istrinya, melipat kedua tangannya di depan dada. Wibawa dingin sang taipan puncak membentengi seluruh ruangan dari gelombang kepanikan. “Dengarkan instruksi Komisaris Utama kalian. Tidak ada satu pun keputusan yang boleh mendahului perintah Aura.”
“Baik, Pak Hendra!” sahut seluruh analis secara serentak.
Waktu tiga menit terasa seperti tiga abad di dalam ruangan tegang tersebut. Grafik saham terus merosot hingga menyentuh batas minus sembilan koma delapan persen.
Di penthouse mewahnya, Evelyn Vane tersenyum culas seraya menggoyangkan gelas anggur di tangannya. “Lihat? Aura Fahreza bahkan tidak sanggup merespons serangan pertama kita. Dia terlalu lambat.”
Namun tepat di menit keempat...
“Sekarang. Eksekusi pembelian serentak di seluruh blok bursa,” instruksi Aura selembut sutra, namun bagaikan ketukan palu kematian bagi lawannya.
CLICK!
Puluhan pialang Fahreza Group menekan tombol beli secara bersamaan! Dana likuiditas fantastis sebesar dua puluh triliun rupiah diserap masuk ke dalam bursa dalam hitungan detik.
Seketika itu juga, penawaran jual masif milik Aero Capital disapu bersih tanpa tersisa selembar pun! Efek dari penyerap modal raksasa itu membuat garis grafik merah yang tadinya menukik tajam mendadak melompat naik secara vertikal ke area hijau, melonjak hingga mencapai batas Auto Rejection Atas (ARA) sebesar dua puluh lima persen!
Keheningan di ruang bursa seketika pecah oleh sorak-sorai histeris para analis dan pialang!
“Saham kita melonjak naik dua puluh lima persen! Aero Capital terkena Short Squeeze! Mereka menderita kerugian lebih dari tiga triliun rupiah dalam waktu kurang dari sepuluh menit!” teriak Laras gembira dengan mata berbinar-binar.
Hendra terkekeh rendah—sebuah suara berwibawa yang sarat akan rasa bangga mutlak. Pria matang itu merangkul bahu Aura, menarik tubuh indah istrinya ke dalam dekapannya lalu mengecup pelipisnya dengan sangat mesra di depan seluruh staf.
“Perhitungan yang sangat jenius, Sayang,” puji Hendra dengan suara beratnya yang seksi. “Kamu baru saja memaksa Evelyn membayar mahal atas kesombongannya di lantai bursa kita.”
Aura membalas ciuman suaminya dengan senyuman anggun, merapikan kerah blazer biru tuanya. “Ini baru pemanasan, Mas. Evelyn pasti sedang panik setengah mati di penthouse-nya sekarang.”
Di penthouse hotel bintang lima.
PRANG!
Gelas kristal anggur merah di tangan Evelyn Vane terpelanting hancur berkeping-keping di atas lantai marmer! Wajah cantik wanita keturunan bangsawan Asia Timur itu berubah pucat pasi, matanya membelalak tak percaya menatap layar monitor yang menampilkan grafik lonjakan saham Fahreza Group.
“Bagaimana mungkin?!” jerit Evelyn histeris, napasnya memburu penuh kemarahan. “Dari mana Aura Fahreza mendapatkan likuiditas dua puluh triliun dalam waktu kurang dari lima menit?! Bukankah arus kas mereka terikat di proyek pelabuhan?!”
Asisten pribadinya gemetar kaku di sudut ruangan. “M-mohon maaf, Nyonya Evelyn... Laporan analisis kita salah besar. Kas pribadi milik Pak Hendra dan alokasi modal privat Aura Fahreza ternyata jauh melampaui cadangan likuiditas bank utama kita.”
Evelyn mengepalkan jemarinya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa malu, marah, dan kekalahan telak menghantam harga dirinya yang tinggi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah karirnya di pasar modal internasional, Evelyn Vane ditundukkan secara tragis hanya dalam waktu kurang dari satu jam!
Sebelum Evelyn sempat meluapkan kemarahannya lebih jauh, bel pintu suite penthouse mewahnya berbunyi halus.
Dua orang pengawal pribadi Evelyn bergegas membuka pintu. Namun sebelum mereka sempat bertanya, empat pengawal berbadan tegap bersetelan jas hitam milik Fahreza Group melangkah masuk dengan tenang namun dominan, memotong barisan keamanan Evelyn tanpa celah.
Pintu ganda teribuka lebar.
Hendra Fahreza melangkah masuk dengan langkah tegap berwibawa, merangkul pinggang Aura yang tampil amat anggun dan memikat dalam balutan gaun kasual putih gading. Kehadiran pasangan paling berpengaruh di Asia Tenggara itu seketika mengubah atmosfer penthouse menjadi begitu menekan.
Evelyn membalikkan tubuhnya, menatap Aura dan Hendra dengan raut wajah memadat dingin.
“Siapa yang memberi kalian izin masuk ke penthouse pribadi saya?!” bentak Evelyn berusaha mempertahankan wibawanya.
Hendra menatap Evelyn dengan pandangan merendahkan khas seorang penguasa puncak. “Gedung hotel bintang lima ini berada di bawah naungan anak perusahaan properti Fahreza Group, Miss Vane. Saya pemilik tempat ini.”
Evelyn terpaku kaku, bibirnya terkatup rapat.
Aura melangkah satu titik ke depan di samping Hendra. Wanita anggun berusia dua puluh delapan tahun itu menyunggingkan senyuman paling manis namun paling mematikan di bibir kemerahannya. Ia menatap Evelyn yang berdiri gemetar di hadapannya.
“Selamat pagi, Miss Evelyn Vane...” sapa Aura dengan suara selembut sutra yang jernih dan tenang. “Saya datang untuk mengucapkan terima kasih atas sumbangan tiga triliun rupiah dari Aero Capital ke kas anak perusahaan kami pagi ini.”
Evelyn menahan napasnya, matanya menatap tajam ke dalam manik mata jernih Aura. “Kamu sengaja memancingku melontarkan skema short selling itu, Aura?”
Aura memiringkan kepalanya sedikit, merapatkan jemarinya di lengan tegap Hendra. Ketajaman intuisinya sebagai Komisaris Utama terpancar begitu kuat.
“Papan catur di bursa efek Jakarta ini adalah rumah saya, Evelyn,” tutur Aura halus namun sarat akan dominasi mutlak. “Kamu boleh menang di Singapura atau Eropa, tapi di sini... kamu cuma pendatang amatir yang mencoba bermain-main dengan api.”
Hendra merapatkan dekapan di pinggang istrinya, menatap Evelyn dengan kilat mata yang sangat dingin.
“Ini peringatan pertama dan terakhir dari saya, Miss Vane,” tegas Hendra dengan suara beratnya yang menggelegar tenang. “Tinggalkan Indonesia sebelum matahari terbenam sore ini, atau seluruh aset Vane & Co di Asia Tenggara akan saya bekukan lewat gugatan manipulasi pasar modal.”
Evelyn mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh, menahan rasa malu dan kekalahan yang luar biasa mendalam. Ia tahu persis, kekuasaan dan jaringan hukum Hendra Fahreza di negeri ini tak tersentuh oleh kekuatan finansial asing mana pun.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Evelyn menundukkan kepalanya tipis, mengisyaratkan kekalahan mutlak sebelum berbalik melangkah menuju ruang dalam penthouse-nya.
Hendra membimbing Aura berbalik, melangkah keluar dari penthouse dengan kemenangan sempurna di tangan mereka.
Sore harinya di kediaman utama Fahreza.
Suasana di area taman belakang rumah terasa sangat hangat dan damai. Pendar sinar matahari terbenam berwarna keemasan mewarnai langit sore. Rendra tampak tertawa riang bermain bersama anjing peliharaan keluarga di atas rumput hijau yang asri.
Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota, Hendra melangkah keluar hanya mengenakan kemeja putih kasual yang terbuka dua kancing atasnya. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu membawa dua gelas jus buah segar.
Aura berdiri di tepi pagar pembatas balkon, menikmati angin sore yang berembus lembut membelai rambut hitam panjangnya.
Hendra mendekat dari arah belakang, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang mulus Aura, menyandarkan dagunya di bahu sang istri. Kehangatan dada bidang Hendra menyelimuti tubuh Aura, membawa aroma wangi sandalwood yang amat memabukkan.
Aura menyandarkan kepalanya di dada suaminya, memegang jemari tegap Hendra yang melingkar di perutnya.
“Mas... terima kasih ya untuk hari ini,” bisik Aura lembut, berbalik pelan di dalam dekapan suaminya.
Hendra menatap bibir merah istrinya dengan binar rasa cinta, gairah, dan kekaguman abadi yang tak pernah padam. Pria matang itu membungkuk sedikit, menanamkan kecupan-kecupan mesra di leher jenjang Aura sebelum menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, intim, dan penuh kehangatan jiwa.
Aura memejamkan matanya, merangkulkan kedua tangannya di leher tegap Hendra, membalas ciuman suaminya dengan seluruh rasa cinta yang ia miliki. Seluruh dendam, badai, dan ancaman masa lalu telah musnah sepenuhnya, digantikan oleh kebahagiaan sejati di samping pria yang paling mencintainya.
Namun, di tengah kehangatan ciuman mesra mereka di bawah pendar mentari terbenam, suara langkah kaki terburu-buru dari Pak Biantoro kembali terdengar di pintu masuk balkon.
Pak Biantoro memegang sebuah surat amplop berstempel resmi dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
“Mohon maaf mengganggu waktu Anda, Pak Hendra... Nyonya Aura,” panggil Pak Biantoro tegang.
Hendra melepaskan ciumannya pelan, mengusap bibir merah Aura seraya menoleh dingin. “Ada apa, Pak Biantoro?”
Pak Biantoro menyerahkan amplop tersebut dengan tangan bergetar. “Surat pemberitahuan resmi dari kejaksaan... Sidang putusan akhir vonis seumur hidup untuk Aris Pratama dan Paman Danu akan digelar besok pagi, dan pihak pengadilan memohon kehadiran Nyonya Aura sebagai saksi kunci utama!”