Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : DEBARAN ASING
Suasana kafe kecil di seberang gedung kantor sore itu terasa hangat oleh aroma biji kopi yang diseduh. Namun di salah satu sudut meja kayu dekat jendela, Raisha duduk dengan raut wajah melipat.
Dia mengaduk-aduk es kopi susunya menggunakan sedotan secara acak, menunjukkan rasa frustrasi yang jarang sekali terpancar dari wajah biasanya yang tenang.
Di hadapannya, Nova, sahabat karibnya sejak masa kuliah yang paling paham luar dalam sifat Raisha menatapnya dengan gelengan kepala pasrah.
"Sekarang aja pas gue mau berusaha pacaran, malah ada gosip gue ini playgirl," rutuk Raisha dengan suara yang ditahan agar tidak memancing perhatian pengunjung lain. Tangannya berhenti mengaduk es kopi.
"Aneh banget tahu nggak? Sebelum gue nyoba pacaran, orang-orang sibuk nyuruh gue pacaran, dibilang jual mahal lah, milih-milih lah. Tapi begitu gue buka diri dan nerima nembakan cowok-cowok itu, gue malah dibilang penjahat asmara yang suka buang cowok. Mereka tuh sebenarnya maunya apa, sih?"
Nova menarik napas panjang, lalu menyeruput minumannya sebelum menatap Raisha lurus-lurus. Tidak ada tatapan kasihan di mata Nova, yang ada justru rasa kesal yang agak tertahan.
"Ya lu pacarannya benar-benar nggak niat banget, Raisha!" cetus Nova tanpa aling-aling.
"Nggak ada orang yang pacaran dengan pola pikir kayak lu. Kamu tuh nerima mereka cuma buat formalitas biar dibilang 'normal', bukan karena kamu suka! Ya kasihan lah cowok-cowok yang jadi pacar kamu itu. Mereka berasa nggak dihargai sama sekali!"
Raisha terdiam seketika. Ujuran Nova yang frontal itu menghantam tepat di dadanya.
"Nggak dihargai gimana maksud lu?" tanya Raisha pelan, nadanya menyiratkan kebingungan yang tulus.
"Gue nggak pernah jahatin mereka. Gue nggak pernah minta beliin barang-barang mahal, gue selalu mau diajak makan di mana aja, gue juga nggak pernah marah-marah nggak jelas. Kurang menghargai gimana lagi?"
Nova memutar bola matanya gemas.
"Raisha, sayangku... pacaran itu bukan cuma soal nggak nuntut ini-itu! Pacaran itu soal pertukaran perasaan. Lu dihubungin nggak pernah nyariin balik, diajak jalan mukanya lempeng kayak mau melayat, pas diputusin lu cuma bilang 'oke makasih'. Gimana mereka nggak berasa kayak lagi pacaran sama tembok? Lu bikin harga diri mereka remuk!"
Raisha menunduk, menatap titik-titik embun air yang menetes di dinding gelas plastiknya. Dalam hatinya, dia mengakui kebenaran kata-kata Nova, namun di saat yang sama, rasa bingung yang amat sangat menyelimuti pikirannya.
Raisha tidak pernah tahu bagaimana caranya bersikap 'seharusnya' selama berpacaran. Dia bukan tipe cewek romantis yang mahir merangkai kata-kata manis.
Dia bukan cewek manja yang bisa bersikap lenjeh atau bergelayut di lengan pria untuk meminta perhatian. Dan karena sejak awal dia menjalani hubungan-hubungan itu tanpa menggunakan hati, dia hanya bisa merespons seadanya, menjalani hari demi hari sebatas menggugurkan kewajiban.
"Terus gue harus gimana?" bisik Raisha lirih, kepalanya terangkat menatap Nova dengan mata jernihnya yang bingung.
"Gue jujur nggak tahu harus ngerasa apa. Gue nggak pernah ngerasain desiran atau apa pun yang sering lu atau orang-orang ceritain."
Nova mendesah pelan, raut wajahnya melunak melihat kebingungan tulus sahabatnya itu.
"Lu nggak bisa memaksakan perasaan, Ra. Jangan nerima cowok lagi kalau kamu memang belum ketemu orang yang bener-bener bikin hati lu tergerak. Biarin aja gosip playgirl itu mampir, nanti juga hilang sendiri."
Percakapan sore itu berakhir tanpa solusi yang benar-benar memuaskan bagi Raisha, namun setidaknya dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi nekat menjadikan pria sebagai "eksperimen sosial" demi membungkam mulut orang lain.
Satu minggu berlalu sejak percakapan di kafe itu. Lingkungan kantor Raisha kedatangan beberapa karyawan baru untuk mengisi posisi di divisi operasional dan analitik. Salah satunya ditempatkan di sebuah meja kubikel yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari lorong utama.
Nama cowok itu Aldo Otavian.
Divisi tempat Aldo bekerja memang berbeda dengan Raisha, namun posisinya sangat strategis dalam rute harian Raisha. Jika Raisha ingin pergi ke pantry untuk menyeduh teh, mencuci cangkir, atau hendak keluar menuju lantai bawah melalui area lift, Raisha dipastikan harus berjalan melewati kubikel tempat Aldo duduk.
Sejak hari pertama kehadirannya, Aldo dengan cepat menarik perhatian banyak pasang mata di lantai itu. Pria itu bukan tipe tampan yang dominan dengan rahang tegas atau perawakan seperti model majalah, mantan pacar pengusaha Raisha yang dulu secara objektif jauh lebih tampan dan rupawan secara fisik.
Aldo memiliki paras yang manis, namun dipadukan dengan struktur wajah yang tampan pas dan proporsional. Senyumnya ramah, matanya hangat, dan dia memiliki gestur tubuh yang sangat tenang namun memancarkan aura kepercayaan diri yang kuat. Aldo bukan sekadar tampan; dia berkarisma.
Awalnya, Raisha memperlakukan kehadiran Aldo sama seperti karyawan baru lainnya: sebuah objek asing yang tak perlu dipedulikan. Namun, sebuah kejadian kecil di hari Selasa mengubah segalanya.
Sore itu, Raisha sedang berjalan menuju pantry membawa cangkir keramiknya. Saat melewati rute kubikel Aldo, pria itu mendadak mendongak dari monitornya karena hendak mengambil beberapa lembar kertas di printer lorong.
Secara tak sengaja, pandangan mereka beradu dalam jarak yang cukup dekat.
Aldo menyunggingkan senyum tipis yang sangat hangat, sebuah senyuman sopan dari seorang karyawan baru kepada rekan kerjanya.
"Sore," sapa Aldo pelan, suara baritone-nya terdengar sangat halus di udara sore yang tenang.
"Sore," balas Raisha otomatis, mengangguk singkat lalu melanjutkan langkahnya menuju pantry.
Namun, begitu Raisha melangkahkan kakinya masuk ke dalam pantry dan pintu besi itu tertutup rapat, dia mendadak berdiri terpaku di depan dispenser.
Deg. Deg. Deg.
Dada sebelah kirinya berdegup dengan ritme yang tak beraturan. Ada sensasi aneh yang seperti menjalar dari ujung dadanya, menyetrum pelan hingga membuat telapak tangannya mendadak terasa agak dingin. Sebuah desiran asing yang belum pernah sekalipun dia rasakan sepanjang dua puluh empat tahun hidupnya.
Raisha memegang dadanya sendiri, bernapas sedikit lebih cepat.
"Kenapa ini...?" gumamnya heran pada diri sendiri.
Awalnya, logika Raisha yang selalu rasional mencoba mencari penjelasan logis. Raisha membatin bahwa reaksi tubuhnya ini mungkin hanya respon sesaat karena visual Aldo cukup sesuai dengan kriteria estetika atau "tipe ideal" yang tanpa sadar disukainya.
Dia berusaha menyangkal sensasi itu. Mantan gue yang pengusaha kemarin jauh lebih ganteng secara fisik, pikir Raisha mencoba membandingkan.
Namun, logika itu runtuh seiring berjalannya hari.
Mantan pengusahanya memang tampan dan kaya, tetapi Raisha bisa menatap mata pria itu selama berjam-jam tanpa merasakan apa pun selain rasa bosan. Sementara Aldo? Pria itu memiliki karisma yang sangat berbeda.
Cara Aldo berbicara dengan rekan timnya, caranya membetulkan letak jam tangan kulitnya, hingga caranya tersenyum tipis saat fokus menatap layar monitor... semuanya memiliki daya pikat yang tidak bisa diterjemahkan oleh logika Raisha.