NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - PENGEPUNGAN APOTEK

Keheningan yang baru saja tercipta di dalam Apotek Sentral mendadak menguap, berganti menjadi ketegangan pekat yang mencengkeram dada. Dinding semen dan jeruji besi tempa yang mengunci mereka memang terpasang kokoh, namun kisi-kisi ventilasi atas dan celah-celah selat pintu tanpa sengaja telah menjadi saluran penghubung antara ruangan steril di dalam dan dunia mati di luar.

Sisa-sisa busa hidrogen peroksida yang membilas darah kotor dari bahu Steve, bercak jaringan terbuka, serta aroma tajam cairan antiseptik melayang lambat menerobos keluar. Di udara pagi yang dingin dan lembap, bau amis darah segar itu menyebar cepat bagaikan umpan tak kasat mata yang melintasi aspal Jalan Sudirman.

Luna berdiri membeku di tengah selasar kasir. Tangan kanannya yang menggenggam busur recurve terangkat sedikit, sementara dua jemarinya sudah menjepit notch anak panah karbon di atas tali busur.

"Tahan napas kalian. Jangan buat suara sekecil apa pun." bisik Luna seraya matanya memindai tirai kain tebal yang menutupi pintu kaca depan.

Steve yang baru saja selesai dibalut perban elastis mencoba bangkit dari kursi plastik melamin. Namun, Endru dengan cepat menahan bahu kanan Steve, menggelengkan kepala dengan raut wajah cemas.

"Jangan berdiri dulu, Steve. Cairan antibiotiknya baru saja masuk ke pembuluh darahmu." kata Endru seraya berbisik lirih.

"Aku tidak bisa cuma duduk manis kalau ada bahaya mendekat, Endru." balas Steve seraya mengepalkan tangan kanannya di gagang pipa besi tebal.

Dari balik tirai kain biru yang membatasi interior apotek dengan pelataran luar, suara derap langkah kaku bergesekan dengan pecahan kaca aspal mulai terdengar makin jelas. Bukan cuma satu atau dua pasang kaki. Suara gesekan menyeret itu bertambah secara berlipat ganda, diiringi oleh dengusan napas serak dan erangan rendah dari tenggorokan yang telah mengering akibat paparan spora Cordyceps.

Rian melangkah mundur dua langkah, memeluk ranselnya dengan tubuh gemetaran kaku. "M-mereka mencium bau darah dari dalam..."

"Nancy, matikan lampu meja sekarang." perintah Luna tanpa memalingkan pandangannya.

Nancy dengan lincah menekan tombol daya pada lampu meja bertenaga baterai di atas meja kasir. Pendaran cahaya kekuningan seketika padam, melempar seluruh ruangan apotek ke dalam remang-remang bayangan fajar yang suram.

Tepat saat kegelapan melingkupi ruangan, sebuah benturan keras menghantam jeruji besi tempa depan.

KLANG!

Getaran hebat merambat di sepanjang kerangka besi, membuat engsel baja di dinding semen berderit kaku. Di balik tirai kain yang tersingkap akibat hentakan tersebut, sesosok figur manusia terinfeksi tampak menempelkan wajahnya pada kisi-kisi besi. Kepala makhluk itu telah dipenuhi kerak jamur kekuningan yang membengkak di bagian pelipis, mata yang memutih tanpa pupil menatap kosong ke dalam ruangan, sementara mulutnya yang menghitam mengatup-atup haus darah.

"L-lord... makhluk itu ada tepat di depan jeruji..." bisik Endru dengan napas tercekat histeris.

Sebelum ketakutan itu sempat mereda, benturan kedua dan ketiga menyusul dengan daya dorong yang jauh lebih dahsyat.

KLANG! PRANGGG!

Kaca ganda etalase depan yang tadinya retak seribu akhirnya pecah berantakan terkena tekanan massa dari luar. Pecahan kaca tebal berhamburan jatuh ke atas lantai keramik selasar depan, menciptakan celah terbuka lebar yang kini hanya dihalangi oleh satu-satunya barikade tersisa—jeruji besi tempa hitam berukuran tebal.

Puluhan zombie yang berkerumun di Jalan Sudirman mulai memadati pelataran depan apotek. Mereka terdorong oleh insting liar penciuman darah segar, saling berdesakan memadati area sempit di luar jeruji. Tangan-tangan kurus berkerak jamur menerobos masuk melalui celah-celah jeruji besi, menggapai-gapai udara kosong dengan gerak cakar yang histeris.

"Mundur ke balik meja kasir utama!" seru Luna tegas seraya melangkah maju dua langkah.

Luna menarik tali busur recurve-nya hingga menempel erat di sudut bibirnya. Dengan ketenangan taktis yang luar biasa di tengah kekacauan, mata kelamnya membidik titik paling rentan dari makhluk terdepan yang menempel di jeruji.

BSSST!

Anak panah karbon meluncur deras menembus celah jeruji besi, menancap tepat di tengah dahi zombie berkepala jamur tersebut. Makhluk itu seketika terkulai lemas, namun tubuhnya tidak jatuh ke lantai karena terhimpit rapat oleh belasan zombie lain yang terus merangsek maju dari belakang.

"Satu tumbang, tapi di luar makin ramai!" teriak Rian dari balik tumpukan kardus obat.

"Jeruji besi ini tidak bakal bertahan lama kalau mereka menumpuk massa seperti ini!" seru Steve seraya melangkah berdiri di samping Luna, mengayunkan pipa besinya ke arah jemari zombie yang menerobos celah besi.

Brak! Brak!

Ayunan pipa besi Steve mematahkan jemari kaku makhluk-makhluk tersebut, membuat beberapa tangan terdorong mundur. Namun, jumlah mereka terus bertambah tanpa henti. Bau amis darah dari luka Steve yang tadinya tipis kini seolah menjadi suar pemanggil bagi seluruh terinfeksi di distrik tersebut.

Endru yang berdiri di pojokan ruangan menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak lebar. Keberanian profesionalnya saat memegang jarum suntik tadi kini terguncang hebat melihat lautan monster yang mencoba merobohkan benteng pertahanannya.

Nancy melangkah mendekati Endru, memegang erat bahu pemuda berkacamata itu seraya menggenggam jemarinya yang gemetaran dingin.

"Endru, tatap aku. Jangan panik." kata Nancy dengan nada suara yang hangat dan membumi.

"Nancy... jeruji itu... kalau jeruji itu patah, kita bakal terperangkap di sini..." tutur Endru dengan vokal yang gemetaran berat.

"Kita punya Luna dan Steve di depan, dan aku punya peta gedung ini. Kita pasti ketemu jalan keluar, Endru." balas Nancy seraya menyunggingkan senyum jujurnya yang memberikan kekuatan emosional.

Endru menatap mata jernih Nancy di balik lensa kacamata tebal wanita itu. Rasa hangat dan perhatian murni dari Nancy perlahan menjinakkan panik di dadanya, membakar kembali sisa-sisa keberanian di dalam dirinya.

"A-aku bantu amankan ransel obatnya." kata Endru seraya mengangguk mantap, langsung berbalik memeluk dua ransel medis yang sudah diraciknya.

Di selasar depan, tekanan dari kerumunan zombie makin tidak terkendali. Suara derit besi yang melengkung mulai terdengar menyayat hati. Kerangka besi tempa yang tertancap di semen dinding mulai goyah akibat dorongan puluhan tubuh terinfeksi yang saling bertumpuk tanpa rasa sakit. Massa zombie di pelataran luar kini telah membentuk lautan manusia berdaging busuk yang mengunci rapat seluruh akses keluar pintu depan.

Bahkan jika jeruji besi itu berhasil menahan gempuran, kelompok mereka sudah sepenuhnya terisolasi dan terkepung dari arah jalan raya utama.

"Luna! Pintu depan sudah sepenuhnya tertutup tumpukan zombie! Kita tidak bisa keluar dari jalur bawah!" seru Steve seraya menahan dorongan jeruji dengan pipa besinya.

Luna melepaskan anak panah terakhir dari quiver-nya, menumbangkan satu zombie lagi sebelum menarik napas panjang untuk menilai kondisi taktis mereka. Lorong depan adalah jalan buntu yang mematikan.

"Nancy! Cari rute pelarian sekunder di lantai atas sekarang!" perintah Luna tegas seraya menoleh cepat ke arah meja kasir.

Nancy dengan cepat menyalakan layar tablet digitalnya. Antarmuka cetak biru dua dimensi Apotek Sentral berpendar terang di kegelapan, menampilkan struktur bangunan dua lantai beserta seluruh saluran ventilasi dan utilitasnya.

"Lantai dasar tidak punya pintu keluar lain selain lorong samping yang sudah terkunci." kata Nancy seraya jemarinya menari lincah di atas layar sentuh.

"Lalu di mana jalan keluarnya?" tanya Rian panik.

"Di lantai dua! Ada saluran ventilasi pembuangan udara berukuran besar di atap gedung yang terhubung langsung ke area pemukiman belakang!" jawab Nancy membeberkan rute pelarian yang ditemukannya.

Luna mengangguk cepat, memberi isyarat mundur penuh kepada seluruh anggota tim.

"Steve, Rian, Endru, bergerak ke tangga lantai dua sekarang! Nancy, pimpin jalurnya!" perintah Luna dengan kepemimpinan yang tak terbantahkan.

Diiringi suara gemertak kerangka besi yang makin memprihatinkan di pintu depan, kelompok penyintas itu berbalik meninggalkan selasar kasir, bergegas menaiki anak tangga semen menuju lantai atas untuk mencari keselamatan dari kepungan maut Kota Mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!