Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Dua Puluh Tiga Oktober
Gips itu sudah dilepas sembilan hari yang lalu. Kaki kanannya terlihat lebih kurus dan pucat daripada kaki kirinya, seperti kaki orang lain yang dipinjamkan kepadanya. Kalau dia berdiri terlalu lama, pergelangan kakinya mulai berdenyut.
"Kamu yakin bisa naik gunung?" tanya Damar di bandara Juanda, ketika Nala turun dari tangga pesawat dengan sedikit pincang.
"Kita tidak naik gunung. Kita naik mobil ke perkemahan."
"Perkemahan di gunung."
"Kamu yang mengajakku."
Damar tidak membantah. Tapi sepanjang perjalanan darat dari Surabaya ke Probolinggo, lalu menanjak ke arah Tosari, dia beberapa kali melirik ke kaki Nala, seolah kaki itu bisa patah lagi hanya karena jalannya berbelok-belok.
Mobil jip sewaan itu berguncang di jalan yang semakin sempit. Reza duduk di depan di sebelah sopir, sibuk dengan ponselnya. Laras dan dua teman kuliahnya, dua gadis berjilbab dengan jaket gunung warna-warni, mengobrol keras di mobil kedua di belakang.
"Satu orang itu," kata Nala tiba-tiba, sambil menatap jendela.
Damar menoleh.
"Yang dibilang Bianca. Aku tidak peduli." Dia mengangkat bahu. "Kamu tidak perlu cerita. Kita semua punya satu orang."
"Kamu juga?"
Nala tidak menjawab. Dia hanya tersenyum ke jendela, ke lereng-lereng yang ditanami kol dan bawang daun sampai ke tepi jurang.
"Kamu tidak pernah menjawab pertanyaan," kata Damar.
"Kamu juga tidak."
Di kursi depan, Reza mendengus. "Kalian berdua kayak dua kucing yang lagi saling cakar di karung. Aku capek dengarnya."
"Kamu bisa turun di sini," kata Damar.
"Aku yang ngatur semua acara malam ini, Mar. Aku turun, nggak ada kue."
***
Perkemahan di dekat Penanjakan itu sudah disiapkan sebelum mereka tiba. Lima tenda dome berjajar di sebuah dataran kecil di antara pohon-pohon cemara gunung. Di tengahnya ada lingkaran batu untuk api unggun, dan di atasnya, di ketinggian yang membuat napas sedikit lebih pendek, langit sudah mulai ungu.
Udaranya dingin sekali. Nala menarik risleting jaketnya sampai ke dagu dan masih bisa merasakan dingin itu menembus sampai ke tulang.
Pemandu mereka seorang laki-laki Tengger berumur lima puluhan, dengan sarung yang diselempangkan di bahu seperti selimut dan kupluk rajut di kepala. Istrinya dan anak perempuannya datang dari desa di bawah untuk membantu memasak. Mereka menyalakan api unggun, membakar jagung, merebus air untuk kopi dan teh jahe.
Ketika langit sudah hitam dan bintang-bintang muncul begitu banyak sampai terlihat seperti debu, Reza berdiri dan mengetuk termos dengan sendok.
"Perhatian. Perhatian." Dia mengeluarkan sebuah kotak dari tas ranselnya dan membukanya dengan hati-hati. Kue cokelat kecil, agak penyok di satu sisi. "Hari ini, laki-laki paling menyebalkan di Jakarta genap tiga puluh tiga tahun. Dan dia masih belum belajar senyum."
Laras dan teman-temannya bersorak. Damar menatap kue itu dengan wajah datar, seperti menatap dokumen yang salah ketik.
"Tiup," kata Laras. "Mas, tiup! Make a wish dulu!"
Damar meniup lilinnya tanpa memejamkan mata. Lilin itu langsung mati, karena angin gunung sudah mematikan separuhnya lebih dulu.
Nala memperhatikan pergelangan tangannya ketika dia mengangkat tangan untuk menepis asap lilin. Di ujung lengan kemeja di balik jaketnya, ada kilau perak kecil.
Kancing manset itu. Dia memakainya.
Di bawah cahaya api, bunga platina kecil di tengahnya berkilau sekali, lalu tertutup lagi oleh lengan jaket. Nala tahu di balik yang kiri ada huruf H, diukir sedikit lebih dalam daripada huruf A. Dia tahu tangan siapa yang menekan alat ukir itu lebih keras, dan untuk siapa.
Laki-laki itu tidak tahu. Dia memakainya di pergelangan tangannya pada hari ulang tahunnya, di puncak gunung, di depan adiknya dan sahabatnya, seperti memakai sesuatu yang berharga.
Nala memalingkan wajah ke api.
"Kak." Laras menjatuhkan diri di sebelahnya di atas tikar, menyodorkan segelas teh jahe. "Kakak tahu nggak, ini pertama kalinya Mas mau dirayain ulang tahunnya? Tiap tahun Kak Reza ngajak, Mas selalu bilang sibuk. Tahun lalu dia malah di Batam." Dia menyenggol bahu Nala. "Pasti gara-gara Kakak."
"Gara-gara Reza bawa kue."
"Kuenya penyok gitu." Laras tertawa. Lalu suaranya mengecil. "Makasih ya, Kak. Udah mau ikut."
Nala memegang gelas teh itu dengan kedua tangan. Hangatnya menjalar ke telapak tangannya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, jadi dia hanya mengangguk.
***
"Kak Nala nggak kasih kado?" tanya Laras, setengah bercanda, ketika jagung bakar sudah habis dan kopi sudah dituang kedua kalinya.
"Sudah. Lebih awal."
"Ah, nggak seru. Kado yang sekarang mana?"
Nala menatap gadis itu. Lalu menatap Damar, yang duduk di seberang api unggun, wajahnya separuh merah oleh cahaya api dan separuh gelap. Lalu dia berdiri.
Dia berjalan ke istri pemandu, yang sedang membersihkan panci di dekat tenda dapur, dan berbicara dengan suara pelan. Ibu itu tertawa, menutup mulutnya, lalu melepaskan sarung yang dia lilitkan di pinggang dan menyerahkannya kepada Nala.
Nala melilitkan sarung itu di atas celana panjangnya. Dia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah aplikasi, dan memutar lagu.
Dangdut. Kendang dan seruling dan suara penyanyi perempuan yang mendayu-dayu, keras sekali di tengah sunyi gunung.
Laras menjerit tertawa.
Nala menari. Bukan tarian yang bagus. Dia menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan yang sengaja dilebih-lebihkan, mengangkat tangannya ke udara dengan jari-jari yang meliuk, berputar di depan api unggun dengan wajah yang sangat serius, seperti penyanyi dangdut di panggung kampung yang sedang menghayati lagu tentang suami yang selingkuh. Pergelangan kakinya protes. Dia mengabaikannya.
Teman-teman Laras ikut berdiri dan bergoyang. Anak perempuan pemandu bertepuk tangan. Bahkan Reza, yang biasanya menganggap dirinya terlalu keren untuk apa pun, tertawa sampai kopinya tumpah ke jaket.
Lalu Nala mengganti lagunya.
Cha-cha. Irama yang lebih lambat, lebih rapi. Dia berjalan mengitari api unggun dan berhenti di depan Damar. Mengulurkan tangannya.
"Bangun."
"Aku tidak menari."
"Malam ini kamu menari."
Damar menatap tangan itu. Semua orang menatap Damar. Lalu, dengan wajah seperti seseorang yang berjalan ke ruang sidang, dia menyambut tangan Nala dan berdiri.
Dia tidak bisa menari. Itu jelas dalam tiga detik pertama. Langkahnya kaku dan selalu terlambat setengah ketukan. Dia menginjak kaki kiri Nala dua kali. Tapi dia tidak melepaskan tangannya, dan dia tidak berhenti. Nala menuntunnya. Maju, mundur, satu-dua-tiga. Maju, mundur.
Di ketukan kesekian, Damar tertawa.
Bukan senyum tipis yang biasanya. Tertawa. Kepalanya sedikit mendongak, matanya menyipit, dan suaranya pecah di udara gunung yang dingin. Laras berhenti bergoyang dan menatap kakaknya dengan mulut terbuka, seperti melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat.
Nala menarik laki-laki itu lebih dekat. Dia berjinjit sedikit dan berbicara di dekat telinganya, di bawah suara musik.
"Damar, kamu suka?"
Damar berhenti melangkah. Dia menatap Nala.
Pertanyaan itu bisa berarti dua hal, dan mereka berdua tahu itu.
"Suka," katanya.
Dia tidak menjelaskan maksudnya.
***
Pukul dua belas lewat, Nala terbangun di dalam tenda karena dia tidak bisa bernapas.
Bukan sesak seperti orang yang habis berlari. Ini lain. Seperti ada sesuatu yang berat diletakkan di atas dadanya, dan setiap kali dia menarik napas, udara yang masuk tidak cukup. Kepalanya berdenyut. Perutnya mual. Tubuhnya menggigil begitu keras sampai giginya beradu, meskipun dia sudah terbungkus kantong tidur dan dua lapis jaket.
Dia mencoba duduk. Dunia di dalam tenda berputar.
"Anala?"
Damar, di sebelahnya, sudah terbangun. Dia menyalakan senter dan menyorot wajah Nala, dan Nala melihat ekspresinya berubah.
"Bibirmu," katanya. "Bibirmu biru."
"Dingin," kata Nala. Suaranya hampir tidak keluar. "Aku cuma kedinginan..."
Damar tidak mendengarkan. Dia menarik Nala keluar dari kantong tidur, membungkusnya dengan selimut dari kantong tidurnya sendiri, mengangkatnya, dan menerobos keluar dari pintu tenda.
Udara di luar lebih dingin lagi. Api unggun sudah tinggal bara. Nala bisa merasakan dada Damar di bawah pipinya, dan jantung laki-laki itu berdetak sangat cepat.
"Reza!"
Suaranya membelah perkemahan. Tenda-tenda di sekitar mereka mulai bergerak. Reza keluar dari tendanya dengan rambut berantakan dan kaki telanjang.
"Lima menit," kata Damar. Suaranya tidak seperti suaranya. "Cari dokter. Lima menit. Kalau dia kenapa-kenapa, kubakar tempat ini."
"Mar, tenang..."
"Lima menit!"
Reza tidak bergerak. Dia melangkah maju dan mencengkeram lengan Damar dengan kedua tangannya.
"Mar! Dengar aku!" Suara Reza tinggi dan tajam. "Nala bukan Sekar. Dia tidak akan mati!"
Nama itu.
Nala mendengarnya. Di antara dengung di telinganya, di antara gigi yang beradu dan dada yang tidak mau mengembang, dia mendengar nama itu seperti seseorang memukulkan lonceng tepat di sebelah kepalanya.
Sekar.
Jadi benar.
Jadi itu satu orang yang dimaksud Bianca. Itu nama yang dia gumamkan di kursi belakang sedan di tengah hutan. Itu nama yang membuat Reza berteriak sekarang, dengan wajah seseorang yang sudah pernah melihat semua ini terjadi sekali, dan tidak mau melihatnya lagi.
Nala ingin tertawa. Atau menangis. Atau keduanya.
Sekar, pikirnya. Sekar, kamu dengar itu?
Matanya terasa panas. Sesuatu mengalir dari sudut matanya ke pelipis, hangat di kulitnya yang dingin.
Dia merasakan Damar menunduk, merasakan napasnya yang memburu di dahinya. Dia mendengarnya mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu sudah terlalu jauh.
Bintang-bintang di atas kepala laki-laki itu memudar satu per satu.
Lalu semuanya gelap.