Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Fajar membawa suasana lain ke seluruh properti. Hari pernikahan telah tiba, dan sejak pagi rumah sudah sibuk.
Di kamar Nadira, Hana, Ratna, Sinta, Era, dan Intan membantu menyelesaikan detail terakhir gaunnya.
Sementara itu di sisi lain rumah, Agim, Altin, Besnik, Haryo, Erlangga, dan Dimas menemani Drilon, yang sedang mengenakan setelan gelap tradisional yang dipakai dalam upacara keluarga.
"Tak pernah kusangka akan melihatmu gugup," kata Altin.
"Aku juga tidak."
"Masih sempat kabur," kata Besnik.
"Jangan berani-berani," kata Agim.
Semua tertawa.
"Jaga putriku baik-baik," kata Haryo.
"Akan kujaga dia dan Bintang seumur hidupku."
Haryo mengangguk setuju. Di kamar Nadira, Ratna membetulkan cadar putrinya.
"Kamu cantik sekali."
"Aku gugup."
"Semua pengantin begitu," kata Hana.
"Sebentar lagi hilang," kata Intan.
"Nikmati setiap momennya," kata Sinta.
Nadira menarik napas dalam.
"Sudah waktunya, Nak," kata Hana.
"Ayo." Ia mengikuti para perempuan itu.
Upacara berlangsung di aula besar properti. Mengikuti tradisi keluarga, ketua dewan menunggu di samping Drilon.
Semua tamu berdiri, musik mulai mengalun, dan Haryo masuk menggandeng Nadira.
Ia berjalan pelan di lorong, dan Drilon tak sanggup mengalihkan mata darinya. Ketika mereka tiba di altar, Haryo menggenggam tangan putrinya.
"Berbahagialah."
"Terima kasih, Papa."
Ia meletakkan tangan Nadira dengan lembut di atas tangan Drilon, dan ketua dewan memulai upacara.
"Hari ini dua keluarga menjadi satu."
Aula tetap sunyi senyap. Sesuai tradisi, Drilon mengulang setiap sumpah yang diucapkan ketua dewan.
Lalu giliran Nadira. Meski terharu, ia mengulang setiap kata dengan mantap. Setelah keduanya selesai, ketua dewan tersenyum.
"Di hadapan keluarga ini dan tradisi kuno, aku menyatakan kalian suami istri."
Tepuk tangan menggema di aula. Drilon menatap Nadira.
"Selamat datang di hidup baru kita."
Ia tersenyum.
"Terima kasih."
Pesta berlangsung berjam-jam. Anak-anak berlarian di taman. Vania, Ayu, dan Bimo bermain bersama, sementara Bintang direbutkan para kakek-neneknya.
Agim tertawa melihatnya berusaha meraih sepotong kue, dan Hana mengobrol riang dengan Ratna.
Musik memenuhi malam. Ketika para tamu terakhir mulai berpamitan, Drilon mendekati Nadira.
"Capek?"
"Sedikit."
"Ayo."
Ia setuju. Keduanya berjalan berdampingan menyusuri koridor-koridor rumah sampai tiba di kamar yang disiapkan untuknya. Kamar itu sunyi.
Perayaan akhirnya usai, dan untuk pertama kalinya hari itu Drilon dan Nadira hanya berdua.
Perlahan ia mencabut beberapa jepit dari rambutnya, membiarkan helaiannya jatuh ke bahu.
Drilon tetap berdiri dekat pintu beberapa detik. Terasa aneh.
Pria yang tak pernah takut di hadapan lawan atau rapat mafia tampak sepenuhnya tak percaya diri, dan Nadira menyadarinya.
"Kamu gugup."
Ia tersenyum canggung.
"Sedikit."
Ia berbalik menghadapnya.
"Tak perlu."
Drilon menarik napas dalam.
"Dalam keluargaku ada sebuah tradisi," katanya sekaligus.
"Tradisi apa?"
"Ayahku melakukannya pada ibuku. Kakekku melakukannya pada nenekku, dan banyak lagi sebelum aku. Hanya saja aku tidak melakukannya pada mantan istriku." Nadira tak menjawab, hanya menunggu penasaran. "Ini cara mendoakan perlindungan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi istri di hari pertama pernikahan."
"Dan apa yang harus kamu lakukan?"
"Hanya kalau kamu mengizinkan."
Ia mengangguk.
"Aku mengizinkan."
Drilon mendekat pelan-pelan, dengan lembut berdiri di belakangnya. Tanpa sepatah kata, ia menyibakkan rambut Nadira ke satu sisi dengan hati-hati.
Ia merasakan geli yang halus. Kedua tangan Drilon bertumpu lembut di bahunya. Gerakannya lambat dan tenang, hanya belaian lembut, seakan ingin meringankan seluruh beban hari yang panjang itu.
Nadira memejamkan mata. Ketegangan yang ia bawa sejak pagi mulai lenyap.
Drilon menggeser tangannya ke lengan Nadira dalam gerakan yang tenang, lalu kembali ke bahu, mengelusnya ringan.
Ia menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, tak ada rasa takut dalam sentuhan itu, hanya perhatian.
Drilon mendekatkan wajah dan menempelkan bibirnya lembut di pipi Nadira, lalu tetap memeluknya dari belakang beberapa saat.
Nadira hanya menikmati momen itu. Ia tak berkata apa-apa, juga tak berusaha menjauh, dan merasa nyaman secara mengejutkan.
Drilon tersenyum tipis melihat Nadira rileks. Beberapa detik lagi ia bertahan dalam pelukan hening itu, sambil membisikkan kata-kata dalam bahasa Albania, kemudian, sangat pelan, melepaskannya.
"Sudah?" tanya Nadira bingung.
"Sudah."
Ia berbalik menghadapnya, masih sedikit bingung.
"Kukira..."
Drilon tersenyum.
"Akan berbeda?"
Ia tertawa kecil malu-malu.
"Sedikit."
"Kita masih punya banyak waktu."
Ia berjalan ke pintu.
"Kamu mau pergi?"
"Iya."
Ia mengerutkan kening.
"Tidur di kamar lain?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena aku berjanji tak akan pernah membuatmu merasa tertekan." Ia membuka pintu. "Kalau hari itu tiba dan kamu ingin berbagi kamar ini denganku, keputusannya milikmu."
Nadira terdiam. Drilon tersenyum sekali lagi.
"Selamat malam, Nadira."
"Selamat malam."
Ia keluar kamar dan menutup pintu hati-hati. Nadira masih berdiri sesaat menatap pintu tertutup itu.
Sejujurnya ia berharap malam itu berakhir dengan cara lain. Ia mengusap lengannya sendiri, teringat pelukan yang tenang dan kelembutan Drilon, lalu menggeleng, masih tak percaya.
YA TUHAN... DIA PERGI.
Senyum kecil lolos dari bibirnya, senyum tak percaya. Pada saat yang sama, ia merasakan sengatan kecewa tak terduga karena kedekatan itu berakhir begitu cepat.
Sambil menggerutu pelan pada dirinya sendiri, ia mematikan lampu kamar.
"Mafia dari neraka itu bakal membayarnya," gumamnya sambil menuju kamar mandi.
Ia melepas gaunnya, mandi, mengenakan piama, dan dengan pikiran tertuju pada Drilon, berbaring di ranjang dan pelan-pelan tertidur.