OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Nadira Prameswari punya firasat bahwa hari itu akan menyebalkan.
Firasatnya terbukti begitu ia menginjakkan kaki di markas ASTRAL dan disambut oleh seorang laki-laki yang berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan terlipat di dada.
Raka Adhitama.
Jersey hitam, rambut sedikit berantakan, dan ekspresi yang seolah mengatakan bahwa kedatangan Nadira adalah gangguan terbesar dalam hidupnya.
Nadira tersenyum cerah.
"Selamat pagi, Kapten. Sudah siap menghadapi pertanyaan yang layak dijawab?"
Raka meliriknya sekilas.
"Sudah siap menulis artikel tanpa judul provokatif?"
"Belum. Saya suka judul yang menarik pembaca."
"Tentu. Apalagi kalau korbannya saya."
"Korban? Wah, saya baru tahu seorang juara turnamen bisa merasa teraniaya oleh tulisan."
Raka mengembuskan napas panjang.
Sepertinya, mengundang perempuan ini adalah keputusan yang buruk.
"Ikut saya."
Nadira berjalan di sampingnya menuju ruang latihan.
"Jadi, apa tujuan undangan ini? Mau klarifikasi?"
"Saya ingin menunjukkan sesuatu."
"Kalau mau menunjukkan koleksi piala, saya sudah lihat di internet."
Raka berhenti berjalan dan menoleh.
"Anda selalu bicara sebanyak ini?"
"Hanya kalau lawan bicara saya menarik."
Untuk sesaat, Raka terdiam.
Nadira baru menyadari bagaimana kalimatnya terdengar setelah terlanjur mengucapkannya.
Ia segera menambahkan, "Menarik untuk diwawancarai."
"Sayang sekali." Raka kembali berjalan. "Saya hampir salah paham."
Nadira mendengus pelan.
Sombong. Benar-benar sombong.
Dan yang lebih menyebalkan, laki-laki itu tahu persis bagaimana membuatnya kehilangan kata-kata selama satu detik penuh.
Ruang latihan ASTRAL dipenuhi suara keyboard dan percakapan para pemain.
Bima, rekan setim Raka yang kemarin sempat mengejeknya, langsung melambaikan tangan ketika melihat Nadira.
"Wah, wartawan viral datang!"
Nadira membalas lambaian itu. "Wah, penggemar gosip berkumpul."
Bima tertawa keras.
Raka menatapnya tajam. "Bima, latihan."
"Siap, Bos."
Bima duduk kembali, tetapi senyumnya tidak menghilang.
Raka menunjuk sebuah kursi di belakang meja komputernya.
"Duduk."
Nadira meletakkan tas dan buku catatannya.
"Kalau ini interogasi, saya minta pengacara."
"Kalau ini interogasi, Anda sudah bicara terlalu banyak."
"Berarti Anda belum pernah menginterogasi orang yang tepat."
Raka menggeleng, lalu menyalakan komputernya.
"Saya akan bermain satu pertandingan. Anda boleh mengamati langsung."
Nadira mengangkat alis.
"Untuk membuktikan apa?"
"Bahwa keputusan yang terlihat egois dari luar belum tentu salah di dalam permainan."
Jawaban itu membuat Nadira berhenti bercanda.
Akhirnya, mereka membicarakan sesuatu yang benar-benar penting.
"Baik," katanya. "Saya akan mengamati."
"Tapi jangan mengganggu."
"Saya jurnalis, bukan penonton berisik."
Raka meliriknya.
"Artikel Anda berkata sebaliknya."
Nadira mengambil pulpen dan membuka buku catatan.
"Main saja, Vex."
Raka memasang headset.
Kali ini, ia tidak membalas.
Begitu pertandingan dimulai, perubahan pada diri Raka terasa jelas.
Laki-laki yang tadi menghabiskan waktu untuk berdebat dengannya kini terlihat sepenuhnya berbeda. Tatapannya fokus, jemarinya bergerak cepat, dan suaranya terdengar tegas saat memberikan instruksi kepada rekan setimnya.
"Jaga sisi kiri. Jangan maju sebelum gue kasih tanda."
"Siap."
"Rotasi sekarang. Bima, tahan posisi."
"Copy."
Nadira mencatat beberapa hal.
Raka memang mengambil keputusan cepat, tetapi ia juga mendengarkan laporan anggota timnya. Ia membaca pergerakan lawan dengan cermat, mengubah strategi ketika situasi memburuk, dan tidak ragu mengambil risiko untuk membuka jalan bagi rekan setimnya.
Pada satu momen, strategi mereka hampir gagal.
Salah satu pemain kehilangan posisi, membuat pertahanan ASTRAL terbuka.
"Maaf, gue salah hitung!" seru pemain itu.
"Enggak apa-apa. Mundur dua langkah, lindungi objektif. Gue alihkan perhatian mereka," jawab Raka tenang.
Tidak ada bentakan. Tidak ada tuduhan.
Hanya instruksi singkat yang membuat timnya kembali terorganisasi.
Beberapa menit kemudian, ASTRAL memenangkan pertandingan.
Bima mengangkat kedua tangan. "GILA! Itu baru Vex!"
Nadira menutup buku catatannya perlahan.
Raka melepas headset dan menoleh kepadanya.
"Jadi?"
Nadira menatap layar yang masih menampilkan hasil pertandingan.
"Permainan Anda bagus."
Raka menyandarkan tubuh ke kursi.
"Hanya bagus?"
"Jangan rakus. Pujian saya terbatas."
Sudut bibir Raka terangkat.
"Tapi?"
Nadira menghela napas.
"Tapi saya mengakui bahwa Anda tidak bermain sendirian. Anda memberi ruang kepada tim Anda untuk bergerak."
"Seperti yang saya bilang kemarin."
"Jangan merusak momen ini. Saya belum selesai."
Raka menyilangkan tangan.
"Silakan."
"Keputusan Anda memang efektif dalam pertandingan tadi. Namun, satu pertandingan tidak cukup untuk membuktikan bahwa gaya kepemimpinan Anda selalu berhasil."
Senyum Raka perlahan menghilang.
Lalu ia tertawa kecil.
Bukan tawa mengejek.
Lebih seperti tawa seseorang yang akhirnya memahami sesuatu.
"Anda benar-benar tidak bisa memberikan pujian tanpa menyelipkan kritik."
"Dan Anda benar-benar tidak bisa menerima pujian tanpa mengharapkan lebih."
Mereka saling menatap.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Bima menyela dari belakang.
"Maaf, gue enggak mau mengganggu, tapi kalian berdua sadar enggak kalau debat kalian lebih seru daripada pertandingan tadi?"
"Bima!" bentak Raka.
Nadira tertawa.
Tawa yang lepas dan spontan.
Raka tanpa sadar memperhatikan wajahnya.
Ada sesuatu yang berubah ketika perempuan itu tertawa. Ekspresinya menjadi lebih ringan, matanya menyipit, dan seluruh kesan tajam yang biasanya melekat padanya menghilang sesaat.
Raka segera mengalihkan pandangan ke monitor.
Tidak penting.
Sama sekali tidak penting.
Setelah selesai mencatat hasil pengamatannya, Nadira memasukkan buku catatan ke dalam tas.
"Terima kasih sudah memberi saya kesempatan melihat latihan kalian."
Raka mengangguk.
"Semoga artikel berikutnya lebih adil."
"Adil bukan berarti selalu setuju dengan Anda."
"Saya tahu."
Jawaban itu membuat Nadira sedikit terkejut.
Ia mengira Raka akan kembali menyindirnya.
Namun, laki-laki itu justru menatapnya dengan ekspresi yang lebih tenang daripada sebelumnya.
"Saya tidak keberatan dikritik," lanjut Raka. "Saya hanya tidak suka ketika orang membuat kesimpulan tanpa memahami situasinya."
Nadira mengangguk pelan.
"Itu masuk akal."
Raka mengangkat alis, seolah tidak menyangka akan mendengar persetujuan darinya.
"Ternyata kita bisa sepakat."
"Jangan terbiasa."
Nadira mengulurkan tangan untuk berpamitan.
Raka menyambutnya.
"Jangan menulis hal yang tidak Anda lihat."
"Jangan melakukan hal yang tidak bisa Anda pertanggungjawabkan."
Jabat tangan mereka terlepas.
Nadira berjalan menuju pintu, lalu menoleh sekali lagi.
"Oh, satu hal lagi."
Raka menghela napas. "Apa lagi?"
"Anda tadi bermain bagus."
Ia tersenyum tipis.
"Kali ini, tanpa kritik."
Sebelum Raka sempat menjawab, Nadira sudah menghilang di balik pintu.
Bima muncul di sampingnya beberapa detik kemudian.
"Bro."
"Apa?"
"Lo suka sama dia?"
Raka menatapnya seolah Bima baru saja menyarankan agar mereka membubarkan tim.
"Enggak."
"Yakin?"
"Seratus persen."
Bima mengangguk dengan wajah serius.
"Oke. Berarti lo enggak bakal keberatan kalau gue minta nomor dia."
Raka langsung menoleh.
"Jangan."
Bima terdiam.
Kemudian, senyumnya melebar.
"OHHH."
"Latihan, Bima."
"SIAP, BOS!"
Tawa Bima kembali memenuhi ruang latihan.
Raka mengambil headset-nya, berusaha mengabaikan tatapan jahil rekan setimnya.
Ia tidak menyukai Nadira.
Perempuan itu berisik, keras kepala, dan punya bakat luar biasa untuk membuatnya kesal.
Namun, satu hal harus ia akui.
Nadira Prameswari tidak mudah terkesan oleh nama besar, jumlah penggemar, atau deretan piala.
Dan entah mengapa, Raka mulai merasa bahwa memenangkan pertandingan melawannya akan jauh lebih sulit daripada memenangkan turnamen mana pun.