Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan
Mo Yuuran menghela napas panjang, berdiri di depan jendela kamarnya yang luas. Tatapannya kosong sejenak sebelum ia mengingat sesuatu di kehidupan pertamanya, Kaisar Zi Xuan tidak berada di istana saat ini.
“Pasti dia ke perbatasan,” gumamnya pelan. Ada sesak aneh di dadanya, namun ia segera menekannya.
Tadinya ia i ingin ke paviliun Zi Xuan, tapj ia langsung teringat jika pria itu tidak berada di tempatnya karena sedang melakukan misi mata-mata di perbatasan sama seperti di kehidupan pertamanya.
Akhirnya Mo Yuuran ke kamar pelayan dan menyuruh Xia Lu pindah. Di atas meja, sebuah kertas terbentang. Berisi daftar nama dan rencana.
Mo Yuuran menghela napas lagi. “Satu per satu aku akan memperbaiki semuanya,” bisiknya pelan.
Tatapannya mengeras saat melihat beberapa nama yang begitu ia kenal. Bo Wen. Mo Weiwei. Dan keluarga mereka.
“Dan kalian .…” suaranya menurun dingin. “Akan kupotong akar kalian dari dalam istana.”
Bibirnya terangkat tipis. Ia teringat dengan jelas semua rahasia itu. Saat ia menjadi roh mereka sendiri yang mengungkapkannya. Betapa bodohnya mereka.
Mo Yuuran terdiam, tenggelam dalam pikirannya. Namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar.
Brak!
“Mo Yuuran! Beraninya kau menghukum Ning Ning!”
Suara itu menggema tanpa sopan santun. Mo Yuuran tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu yaitu Mo Weiwei.
Mo Yuuran perlahan berdiri. Wajahnya dingin, matanya tanpa emosi saat menatap wanita yang baru saja masuk tanpa izin.
Ingatan lama berkelebat, wajahnya diinjak. Harga dirinya dihancurkan. Tapi kali ini, ia bukan Mo Yuuran yang dulu.
“Mo Yuuran! Apa kau dengar aku?!” bentak Mo Weiwei, melangkah mendekat tanpa rasa hormat. “Kenapa kau menghukum Ning Ning? Apa kau—”
“Lancang.”
Satu kata itu memotong ucapannya.
Mo Weiwei membeku. Matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Apa?” ulangnya, bingung. “Apa yang kau katakan?”
Mo Yuuran melangkah maju perlahan. Tatapannya tajam, membuat udara di ruangan itu terasa menekan. Tanpa peringatan.
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Mo Weiwei. Suara itu menggema di seluruh ruangan.
Kepala Mo Weiwei terlempar ke samping. Ia terhuyung, tangannya refleks memegang pipinya yang panas.
Ia menoleh kembali dengan cepat, matanya penuh keterkejutan. “Kau—”
Plak!
Tamparan kedua langsung menyusul, lebih keras dari yang pertama.
Tubuh Mo Weiwei oleng. Ia hampir jatuh jika tidak segera menyeimbangkan diri.
“Apa yang kau lakukan, Yuuran?!” teriaknya, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya.
Mo Yuuran mengepalkan tangannya. Kukunya hampir menembus telapak, menahan dorongan untuk melakukan lebih dari sekadar tamparan.
“Jangan memanggilku seperti itu,” ucapnya dingin. “Siapa yang mengizinkanmu menyebut namaku tanpa gelar?”
Mo Weiwei terdiam sesaat, lalu tertawa sinis. “Apa kau sudah gila? Aku kakakmu!”
“Dan aku Permaisuri,” potong Mo Yuuran tajam.
Langkahnya mendekat, membuat Mo Weiwei tanpa sadar mundur setengah langkah.
“Kau masuk tanpa izin,” lanjutnya, suaranya tenang namun menekan. “Tidak memberi hormat. Dan berani membentakku di dalam kediamanku sendiri.”
Setiap kata yang keluar terasa seperti pisau.
“Apakah kau sudah lupa etika dasar di istana?” tambahnya dingin.
Mo Weiwei menggertakkan giginya. “Sejak kapan kau mempermasalahkan hal seperti ini? Kau ini adikku!”
Mo Yuuran tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.
“Mulai sekarang, ingat baik-baik,” katanya pelan namun jelas. “Di hadapanku, kau bukan kakakku.”
Ia berhenti tepat di depan Mo Weiwei. Tatapannya lurus, penuh tekanan.
“Kau hanyalah seorang putri jenderal rendahan yang harus memberi hormat pada Permaisuri.”
Wajah Mo Weiwei memucat. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan tekanan dari Mo Yuuran.
“Dan satu lagi,” lanjut Mo Yuuran. “Mulai hari ini, panggil aku dengan benar. Atau aku akan mengajarimu dengan cara yang lebih menyakitkan.”
Suasana menjadi sangat hening. Mo Weiwei benar-benar terkejut. Sampai tidak bisa berkata-kata melihat Mo Yuuran berbeda.
Mo Yuuran berdiri dengan anggun di tengah ruangan, tatapannya dingin dan tajam seperti bilah pisau.
“Ah, ya. Kau datang ke sini karena pelayanku, bukan?” ucapnya santai, namun sarat tekanan. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang tak pernah mencapai mata.
Ia melangkah perlahan mendekat, suaranya merendah namun menusuk. “Aku jadi bingung, kenapa kau begitu memperhatikan dirinya, padahal dia hanya budakku.”
Mo Weiwei mengangkat dagu, menatap balik dengan ekspresi meremehkan. Meski ia sedikit takut dengan aura saudara tirinya itu.
“Jadi terserah aku ingin melakukan apa padanya,” lanjut Mo Yuuran, nadanya kini lebih dingin. “Bahkan aku bisa membunuhnya jika aku mau.”
Hening sejenak, lalu tawa kecil pecah dari bibir Mo Weiwei. Ia benar-benar menganggap ucapan itu hanya luapan emosi sesaat.
“Adik, kau masih marah ya soal itu,” ujarnya sambil menggeleng. “Hanya karena gagal keluar dari istana, kau jadi melampiaskan amarah pada pelayan?”
Ia melangkah mendekat, suaranya berubah seolah menasihati. “Lebih baik kau bersabar. Tak lama lagi, tahta itu akan jatuh ke tangan Bo Wen.”
Senyumnya melebar penuh keyakinan. “Dan saat itu terjadi, kau akan menjadi satu-satunya permaisuri di hatinya.”
Mo Yuuran tertawa pelan. Tawa yang terdengar ringan, tetapi menyimpan ejekan yang dalam.
Jika ini dirinya di masa lalu, mungkin ia sudah mempercayai semua omong kosong itu. Tapi sekarang setiap kata terasa seperti racun yang sudah ia kenali.
Baru saja ia hendak membuka mulut, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan keras. Suara benturan terdengar, diikuti tubuh seseorang yang terlempar masuk.
“Ah—”
Xia Lu terhempas ke lantai, tubuhnya berguling lemah. Wajahnya pucat, dan bekas luka cambukan masih terlihat jelas.
Di ambang pintu berdiri Ning Ning, napasnya memburu, matanya dipenuhi amarah. Di belakangnya, dua pelayan lain berdiri dengan wajah penuh kesombongan.
“Beraninya kau mengambil kamarku!” teriak Ning Ning lantang. “Benar-benar lancang!”
Ia melangkah masuk dengan kasar, meski tubuhnya masih terlihat lemah akibat luka kemarin. Namun amarahnya jauh lebih besar daripada rasa sakitnya.
Saat di klinik, beberapa pelayan menyampaikan informasi yang membuatnya mendidih. Yaitu, Xia Lu mengambil kamarnya bahkan barang berharga miliknya hilang. Hal itu semakin membuatnya murka.
“Barang-barang berhargaku juga hilang!” serunya. “Kau bahkan berani mencurinya?!”
Mo Yuuran menyipitkan mata, pandangannya jatuh pada Xia Lu yang tergeletak. Aura dingin langsung menyelimuti seluruh ruangan.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya pelan, namun penuh tekanan.
Ning Ning seketika berubah, wajahnya yang marah kini dipenuhi air mata. Ia berlutut setengah, suaranya terdengar penuh kepura-puraan.
“Permaisuri, hamba dijahati!” katanya sambil terisak. “Xia Lu merebut kamar hamba dan mencuri barang-barang hamba!”
“Benar-benar lancang!” sambung Mo Weiwei dengan cepat, menatap tajam ke arah Xia Lu. “Seorang pelayan berani bertindak semena-mena seperti ini!”
Xia Lu menggeleng panik meski tubuhnya gemetar kesakitan. Ia berusaha bangkit, namun gagal.
“Bukan … bukan begitu .…” suaranya lirih. “Hamba hanya melakukan perintah .…”
Ia menatap Mo Yuuran, matanya dipenuhi harapan dan ketakutan. “Hamba disuruh oleh Permaisuri .…”
Suasana langsung membeku.
“Lancang!” potong Ning Ning dengan keras. “Berani-beraninya kau menuduh Permaisuri!”
Ia menatap Xia Lu dengan kebencian yang tak disembunyikan. “Pelayan rendahan sepertimu, bahkan berani menyeret nama Permaisuri untuk membela diri?”
Xia Lu terdiam, namun tatapannya tetap pada Mo Yuuran. Ada kekecewaan yang perlahan muncul di sana.
“Jadi ini sebabnya Permaisuri menyuruhku pindah,” batinnya, tangannya mengepal kuat.
Sementara itu, Ning Ning sudah kehilangan kesabaran. Ia berdiri lagi lalu mengangkat tangannya, dan di genggamannya terlihat sebuah cambuk.
“Pelayan seperti ini harus diberi pelajaran!” serunya dingin.
Cambuk itu terangkat tinggi di udara, siap menghantam tubuh Xia Lu yang tak berdaya.
Grep!
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar