NovelToon NovelToon
Sistem Ibu Super Hebat

Sistem Ibu Super Hebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Jam dinding di kamar Elvan sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Kekacauan di dalam istana kardus akhirnya berakhir setelah Elvan menguap lebar beberapa kali.

"Wah, rajanya sudah mengantuk nih," goda Dewi sambil mengusap sisa cat di pipi Elvan dengan tisu basah.

Raka yang duduk bersandar di dinding dekat kardus ikut menghela napas panjang.

"Akhirnya selesai juga, tulang punggungku rasanya mau patah merangkak di dalam sana tadi," keluh Raka sambil meregangkan tangannya.

"Maklum Bos, umur memang tidak bisa bohong," ledek Dewi yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari sang CEO.

Dewi menggendong Elvan dan meletakkannya di atas tempat tidur berukuran king size itu dengan hati-hati.

"Papa jangan pergi dulu, Papa temani Elvan tidur," rengek Elvan sambil menarik ujung kemeja putih Raka.

Raka yang baru saja berniat berdiri untuk kembali ke ruang kerjanya terpaksa mengurungkan niat.

"Papa ada banyak pekerjaan sayang, biar Mama saja yang temani ya?" bujuk Dewi mencoba membantu bosnya itu.

"Tidak mau! Mau sama Papa juga!" bantah Elvan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Raka mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar tidak bisa menolak permintaan putranya ini.

"Baiklah, Papa duduk di karpet bawah sini sampai kau tertidur," ucap Raka mengalah dan mendaratkan bokongnya di atas karpet tebal.

Dewi tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.

"Oke, karena Papa sudah menemani, sekarang waktunya Mama bercerita," ucap Dewi sambil menarik selimut menutupi dada Elvan.

"Sistem, aktifkan Skill Dongeng Pengantar Tidur Tingkat Dewa sekarang juga!" perintah Dewi dalam hati.

Ding!

[Skill Dongeng Pengantar Tidur Tingkat Dewa diaktifkan!]

[Memancarkan gelombang suara frekuensi delta yang sangat menenangkan pikiran dan merangsang kantuk.]

Dewi berdehem pelan untuk membersihkan tenggorokannya.

Entah kenapa, dia merasa pita suaranya menjadi jauh lebih rileks dan nafasnya lebih teratur.

"Pada zaman dahulu kala, di sebuah hutan ajaib yang dipenuhi kunang-kunang biru..."

Dewi mulai bercerita dengan suara yang sangat lembut, stabil, dan berirama mengayun.

Nada suaranya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, pas sekali di telinga seperti melodi kotak musik kuno.

Elvan menatap wajah Dewi dengan mata yang perlahan-lahan mulai meredup.

Hanya dalam hitungan tiga menit, nafas bocah itu sudah terdengar sangat teratur dan dalam.

"Ajaib sekali skill ini, belum juga ceritanya masuk ke konflik, anaknya sudah pingsan duluan," batin Dewi takjub melihat efek ceritanya.

Dewi menghentikan ceritanya dan berniat menyuruh Raka kembali ke kamarnya.

"Bos, anakmu sudah..."

Ucapan Dewi terhenti di udara saat dia menoleh ke arah karpet di samping tempat tidur.

Raka Mahardika, CEO tampan yang terkenal dengan julukan monster gila kerja itu, kini sudah terlelap.

Kepalanya bersandar miring di pinggiran kasur dengan kedua mata terpejam rapat.

Dengkuran sangat halus terdengar dari hidung mancungnya.

"Loh, kok bapaknya ikut-ikutan pingsan?" gumam Dewi bingung sambil memiringkan kepalanya.

Dewi perlahan turun dari tempat tidur dan berjongkok di depan Raka.

Dia melambaikan tangannya di depan wajah pria es itu, tapi tidak ada reaksi sama sekali.

"Tuan Jas Mahal? Bos? Hei, bangun, ini bukan kamarmu," bisik Dewi sambil menusuk pelan pipi Raka dengan telunjuknya.

Raka hanya melenguh pelan dan malah memiringkan kepalanya semakin mencari posisi nyaman di pinggiran kasur.

Dewi menepuk jidatnya sendiri dengan pasrah.

Dia baru ingat gosip dari pelayan kalau Raka menderita insomnia parah selama bertahun-tahun sejak kepergian mantan istrinya.

Skill dongeng dari sistem ini rupanya tidak sengaja menghantam otak Raka yang kelelahan itu dengan efek maksimal.

"Sistem, ini bagaimana ceritanya bosku malah ikut ketiduran di lantai?" protes Dewi dalam hati.

Ding!

[Peringatan: Skill Dongeng memancarkan efek area. Siapa pun yang berada dalam radius tiga meter akan tertidur lelap!]

"Astaga naga, kenapa kau baru bilang sekarang sistem bodoh!" rutuk Dewi kesal.

Dewi menatap pria besar yang tertidur pulas di depannya ini dengan tatapan bingung.

Tidak mungkin dia menyeret Raka kembali ke kamarnya, badan pria ini beratnya pasti sangat merepotkan.

Kalau dia memanggil Bram untuk menggotongnya, gengsi bos besar ini pasti akan hancur lebur besok pagi.

"Ya sudahlah, biarkan saja dia tidur di sini, anggap saja ganti rugi karena sering marah-marah," putus Dewi akhirnya.

Dewi mengambil sebuah bantal tambahan dari atas kasur dan dengan hati-hati meletakkannya di bawah kepala Raka.

Lalu dia mengambil selimut tebal cadangan dan menyelimuti tubuh besar CEO itu.

Wajah Raka yang sedang tidur terlihat jauh lebih tenang dan damai, tidak ada kerutan tajam di dahinya seperti biasa.

"Kalau sedang tidur begini, dia lumayan tampan juga sih," gumam Dewi tanpa sadar.

Dewi buru-buru menampar pelan bibirnya sendiri.

"Sadarlah Dewi Anjani, kau ini cuma ibu kontrakan, jangan sampai jatuh cinta pada balok es ini," peringat Dewi pada dirinya sendiri.

Dewi akhirnya mematikan lampu utama kamar dan hanya menyisakan lampu tidur berbentuk bintang.

Dia ikut membaringkan dirinya di sebelah Elvan dan segera terlelap menyusul ayah dan anak itu.

Sinar matahari pagi menembus celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Raka.

Pria itu menggeliat pelan, merasakan tubuhnya luar biasa segar seakan baru saja diisi ulang baterainya sampai penuh.

Namun saat Raka membuka matanya, dia langsung kebingungan menatap langit-langit kamar yang terasa asing.

Ini bukan lampu gantung mahal di kamar utamanya.

Raka buru-buru bangun untuk duduk dan menyadari bahwa dia baru saja tidur beralaskan karpet di kamar anaknya.

"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tertidur di sini?" gumam Raka dengan suara serak khas bangun tidur.

Ingatan terakhirnya adalah dia sedang mendengarkan suara Dewi yang bercerita tentang hutan ajaib dan kunang-kunang.

Suara itu begitu menenangkan sampai membuat semua beban pikirannya menguap begitu saja.

Klek.

Pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka.

Dewi keluar dengan wajah segar setelah mencuci muka, rambutnya dijepit asal ke belakang.

"Oh, pangeran tidur kita sudah bangun rupanya," sapa Dewi dengan nada mengejek yang sangat khas.

Raka langsung membersihkan tenggorokannya dan buru-buru berdiri, mencoba mengembalikan wibawanya yang tercecer di lantai.

"Kenapa kau tidak membangunkan aku semalam?" protes Raka sambil merapikan kemejanya yang sangat kusut.

"Membangunkanmu? Aku sudah menusuk pipimu dan memanggilmu berkali-kali Bos."

"Kau malah tertidur pulas seperti bayi beruang kelaparan," balas Dewi sambil bersedekap dada.

Wajah Raka seketika berubah agak memerah menahan malu.

"Jaga bicaramu, aku memiliki jadwal tidur yang sangat teratur di kamar utamaku!" bantah Raka mencari alasan.

"Terserah kau saja Bos, yang jelas kau berhutang ucapan terima kasih padaku."

"Kalau aku tidak memberimu selimut dan bantal semalam, punggung tuamu itu pasti sudah masuk angin sekarang," sindir Dewi.

Raka menatap selimut tebal yang tadi menutupi tubuhnya di lantai.

Pria itu terdiam sejenak, gengsinya meronta-ronta untuk mengucapkan terima kasih pada wanita bar-bar ini.

"Aku hanya kelelahan karena urusan kantor, bukan karena dongeng konyolmu itu," kilah Raka membuang muka.

"Iya, iya, terserah alasan Bos saja, yang penting aku tidak memungut biaya sewa tempat tidur semalam," balas Dewi santai.

Elvan yang masih tertidur di kasur perlahan membuka matanya karena mendengar suara perdebatan itu.

Anak itu langsung tersenyum cerah melihat papanya masih ada di dalam kamar.

"Papa! Papa tidur sama Elvan ya semalam?" tanya anak itu dengan suara khas bangun tidur yang lucu.

Raka menghampiri pinggiran kasur dan mengusap rambut putranya dengan lembut.

"Iya jagoan, Papa tidur di sini menemani Elvan dan Mama," jawab Raka dengan suara yang tiba-tiba berubah sangat lembut.

Dewi sedikit tersentak mendengar pemilihan kata Raka barusan.

Menemani Elvan dan Mama?

Jantung Dewi mendadak berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi dia buru-buru menepis perasaan aneh itu.

"Bos pasti cuma salah bicara karena otaknya belum kumpul sepenuhnya," batin Dewi meyakinkan dirinya sendiri.

Ding!

[Selamat pagi Tuan Putri!]

[Tingkat Afeksi Tuan Raka meningkat secara rahasia! Dia mulai kecanduan dengan ketenangan yang Anda berikan!]

Dewi hanya bisa menahan nafas membaca notifikasi dari sistem yang semakin hari semakin absurd itu.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu memecah suasana canggung yang mulai terbangun di antara Raka dan Dewi.

"Tuan Raka, apakah Anda di dalam? Jadwal sarapan pagi sudah siap," terdengar suara Bram dari luar.

"Ya, aku segera keluar," balas Raka dengan suara keras.

Raka menoleh ke arah Dewi yang sedang membantu Elvan merapikan piyamanya.

"Bersihkan sisa cat di wajah kalian, aku tunggu di ruang makan dalam sepuluh menit," perintah Raka kembali ke mode CEO kaku.

"Siap laksanakan Bos, asal jangan potong gaji saja," jawab Dewi asal.

Raka memutar bola matanya malas, lalu melangkah keluar dari kamar Elvan.

Dewi bisa mendengar percakapan Raka dan Bram dari balik pintu yang sengaja tidak ditutup rapat oleh Raka.

"Bram, batalkan jadwalku bermain golf siang ini," ucap Raka di luar sana.

"Baik Tuan Raka. Apakah ada agenda lain yang harus saya siapkan?" tanya Bram terdengar bingung.

"Siapkan mobil keluarga. Aku ingin mengajak Elvan dan wanita berisik itu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan."

Dewi yang mendengar percakapan itu dari dalam kamar langsung menepuk jidatnya.

"Astaga, pria dingin itu benar-benar mau mengajak kita jalan-jalan?" gumam Dewi heran.

"Pasti kepalanya terbentur kardus terlalu keras semalam."

Elvan yang mendengar kata jalan-jalan langsung melompat-lompat kegirangan di atas kasur.

"Hore! Jalan-jalan sama Papa dan Mama!" seru anak itu riang.

Dewi hanya bisa tersenyum pasrah melihat tingkah majikan kecilnya ini.

Tampaknya hari libur santainya di rumah harus diganti dengan mengawal dua sultan ini keliling mall.

1
Dewiendahsetiowati
Marisa cari lawan yang salah,siap2 nyungsep deh
kiyoe: hehehe iyaa kak salah nya sendiri waktu si Raka jatuh bangkrut malah bawa kabur uang di brankas dan menikah lagi sama si kevin🤭
total 1 replies
RaMna Hanyonggun Isj
𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒕𝒂𝒅𝒊 𝑪𝒉𝒆𝒇 𝑨𝒓𝒏𝒐𝒍𝒅😄😄
Astiana 💕
nah gitu dong akhirnya menikah beneran juga 🤣
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Astiana 💕
perasaan dewi dan raka belum menikah deh🤔
cuma sekedar tandatangan kayak nya
kiyoe
okeey kaka makasih yaa kak atas dukungan nya 🙏
aldo
lanjut author
kiyoe
pasti kak Dewiendahsetiowati juga punya sistem yaa
Dewiendahsetiowati
jangan takut Dewi pasti sistem akan bantu
kiyoe: jangan² kak Dewiendahsetiowati juga punya sistem yaa hehe🤭
total 1 replies
Adelina Lin
thor, hancurkan saja kariernya si marisa, biar dia tau rasa bagaimana jadi gembel
kiyoe: hehehe tunggu update bab selanjutnya yaa kak 🤭
total 1 replies
Astiana 💕
lanjut thor💪🏻
kiyoe: heheh terimakasih kak Astiana terus ikutin cerita Dewi yaa kak dan semoga sehat selalu 🙏
total 1 replies
Astiana 💕
ayo dewi, semangat😁
kiyoe: Semangat juga kak Astiana
total 1 replies
Adelina Lin
thor, jangan sampai marisa menghancurkan kebahagian Elvan, kasihan dia masih kecil
Dewiendahsetiowati
menang banyak nih Dewi
Dewiendahsetiowati
mantab Dewi,bikin musuhmu keok
Adelina Lin
thor, jangan sampai rencana mantan isterinya Raka berhasil, kasih dia pelajaran yang paling berharga sama seperti Dewi kasih pelajaran ke pembantu yang jahat itu
kiyoe: hehehe siap kak 🙏
total 1 replies
Astiana 💕
jangan lupa, anak jadi jadian itu anak mu tuan raka🤣
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭
Astiana 💕: sama-sama ☺️🫰🏻
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
salah lawan boz,nyesel kan pada akhirnya
kiyoe: hehehe iya nyesel kan pasti datang nya belakangan kak
total 1 replies
Adelina Lin
thor, kalau gk salah yang punya group lentera itu keluarganya ayodhya, bukan Raka Mahardika 🤭
kiyoe: heheh iyaa kak maaf yaa 🙏🤭
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Marni durjana ternyata jadi mata2,hajar saja itu nenek peot
Dewiendahsetiowati
bikin mereka melongo dengan masakanmu Dewi🤣🤣
kiyoe: pastinya dong kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!