PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGAN YANG TERTAHAN
Mobil hitam itu berhenti di depan gang rumah Nadine.
Lampu jalan baru saja menyala ketika Nadine melepaskan sabuk pengamannya. Sepanjang perjalanan dari rumah Axel, pikirannya terus kembali pada satu hal yang belum bisa ia cerna sepenuhnya.
Setahun lalu.
Bagi Nadine, kejadian di ruang disiplin SMA Garuda itu seharusnya sudah selesai. Ia hanya mengatakan apa yang dilihatnya ketika beberapa siswa sibuk menyalahkan satu sama lain. Setelah guru mengetahui duduk perkaranya, Nadine kembali menjalani hari-hari seperti biasa.
Ia bahkan hampir tidak pernah memikirkannya lagi.
Namun, Axel mengingatnya.
Bukan hanya kejadian itu. Axel juga mengingat bahwa Nadine tidak pernah datang untuk meminta balasan atau mendekatinya setelah semuanya selesai.
Dan sekarang, laki-laki itu memilihnya untuk menjadi pacar kontrak.
"Lo kenapa?" tanya Axel.
Nadine menoleh. "Kenapa apanya?"
"Dari tadi diam."
"Gue lagi mikir."
"Mikirin gue?"
Nadine mendengus. "Jangan terlalu percaya diri."
Sudut bibir Axel terangkat sedikit.
"Nggak salah kalau gue berharap."
"Harapan lo terlalu tinggi."
"Makanya gue perlu usaha."
Jawaban itu membuat Nadine kehilangan balasan selama sesaat. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah pintu.
"Gue pulang."
"Ya."
Nadine baru hendak turun ketika Axel kembali memanggilnya.
"Din."
"Apa lagi?"
"Akhir pekan ini, ayah gue mungkin bakal minta kita datang ke acara keluarga."
Nadine menghentikan gerakan tangannya.
"Mungkin?"
"Dia belum kasih tahu jam pastinya. Gue juga belum jawab."
"Terus, kenapa lo ngomong sekarang?"
"Supaya lo punya waktu buat mempertimbangkan."
Nadine memperhatikannya. "Acara keluarga yang seperti apa?"
"Makan siang. Ada beberapa kerabat yang datang."
"Keisha juga?"
"Setahu gue, nggak."
Nadine menyandarkan punggung ke kursi.
"Axel, gue punya pekerjaan dan urusan beasiswa. Gue nggak bisa tiba-tiba mengosongkan jadwal cuma karena keluarga lo mau ketemu."
"Gue tahu."
"Dan gue nggak mau dijadikan pajangan lagi."
Raut wajah Axel berubah. Ia tampak ingin menyanggah, tetapi menahan kalimatnya.
"Gue nggak akan membiarkan ayah gue memperlakukan lo seperti itu."
Nadine mengangkat alis.
"Lo nggak bisa menjamin semua yang bakal dilakukan ayah lo."
Axel terdiam.
Kali ini, Nadine tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya membuka pintu dan turun dari mobil.
Sebelum menutupnya, ia sempat menoleh.
"Kalau jadwalnya sudah jelas, kabari gue. Nanti gue pertimbangkan."
Axel mengangguk.
"Oke."
Nadine berjalan menuju rumah tanpa menunggu mobil itu pergi. Dari sudut matanya, ia melihat Axel tetap diam di tempat sampai ia mencapai gerbang.
Ia tidak tahu mengapa laki-laki itu melakukan hal tersebut. Mungkin hanya memastikan dirinya sampai dengan selamat.
Atau mungkin Axel memang selalu merasa perlu memastikan sesuatu berjalan sesuai keinginannya.
Nadine belum cukup mengenalnya untuk membedakan keduanya.
Dan ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan.
---
Ratih sedang duduk di ruang tengah ketika Nadine masuk. Sebuah keranjang pakaian berada di sampingnya, sementara televisi menyala dengan volume rendah.
"Kamu sudah pulang?"
"Iya, Bu."
Nadine meletakkan tas, lalu membantu melipat beberapa pakaian.
Ratih melirik putrinya.
"Tadi yang mengantar kamu Axel?"
Nadine mengangguk.
"Dia anak yang sama yang kamu ceritakan kemarin?"
"Iya."
Ratih tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia menunggu sampai Nadine selesai melipat satu potong pakaian sebelum kembali membuka percakapan.
"Bagaimana makan malamnya?"
Nadine menarik napas.
"Rasanya seperti ikut wawancara kerja, Bu."
Ratih tersenyum tipis. "Separah itu?"
"Ayahnya banyak bertanya soal sekolah, rencana kuliah, sampai bagaimana gue bisa membayar kuliah nanti."
"Dan kamu menjawab apa?"
"Yang memang perlu dijawab."
"Bagus."
Nadine menoleh. "Ibu nggak penasaran?"
"Tentu saja penasaran. Tapi Ibu lebih ingin tahu bagaimana perasaan kamu."
Pertanyaan itu membuat Nadine terdiam.
Ia bisa menjelaskan sikap Arman yang membuatnya tidak nyaman. Ia juga bisa menceritakan bagaimana Keisha ternyata tidak seburuk bayangannya.
Namun, ada hal lain yang terus mengganggu pikirannya.
"Axel bilang dia memilih gue karena kejadian setahun lalu."
Ratih menghentikan lipatannya.
"Kejadian apa?"
Nadine menceritakan kembali insiden di sekolah itu. Tentang Axel yang disalahkan, tentang beberapa siswa yang saling melempar tuduhan, dan tentang dirinya yang akhirnya menyampaikan apa yang benar-benar ia lihat.
"Itu saja?" tanya Ratih setelah mendengarkan ceritanya.
Nadine mengangguk.
"Menurut gue, itu bukan sesuatu yang istimewa. Kalau gue tahu apa yang sebenarnya terjadi, ya gue tinggal bilang."
"Justru mungkin itu yang membuatnya mengingat kamu."
Nadine menghela napas.
"Tapi masa iya karena itu dia memilih gue buat jadi pacar kontraknya?"
"Ibu tidak tahu. Kamu juga belum tahu."
Ratih kembali melipat pakaian.
"Jadi, jangan mengisi bagian yang belum kamu ketahui dengan dugaanmu sendiri."
Nadine memandang ibunya.
"Kalau ternyata dia punya alasan lain?"
"Kalau begitu, kamu berhak bertanya. Dan kamu berhak menentukan apakah alasan itu bisa kamu terima."
Ratih meletakkan pakaian terakhir ke dalam keranjang.
"Nak, kamu boleh menerima bantuan seseorang tanpa harus menyerahkan keputusan hidupmu kepadanya. Tapi kamu juga perlu jujur pada diri sendiri. Kalau suatu hari perasaanmu berubah, jangan berpura-pura tidak merasakannya hanya karena semuanya berawal dari kontrak."
Nadine menunduk.
"Masalahnya, Bu, gue bahkan belum tahu apa yang gue rasakan."
"Kalau begitu, tidak perlu memaksakan jawaban sekarang."
Ratih mengusap tangan putrinya sebentar sebelum berdiri untuk membawa keranjang ke kamar.
Nadine tetap duduk di ruang tengah.
Ia tidak takut pada kemungkinan menyukai Axel.
Yang lebih ia takutkan adalah kehilangan kendali atas hidupnya sendiri karena mulai memikirkan laki-laki itu terlalu sering.
Beasiswa, pekerjaan, dan pengobatan ibunya masih menjadi hal-hal yang harus ia selesaikan. Ia tidak bisa membiarkan hubungan kontrak ini menggeser semua yang sudah ia perjuangkan.
Setidaknya, itulah yang ingin terus ia yakini.
---
Keesokan paginya, Nadine datang ke sekolah dengan membawa map berisi dokumen beasiswa.
Ia baru saja mengeluarkan buku ketika Raka menghampiri mejanya.
"Gue sudah periksa berkas yang lo kirim semalam."
Nadine langsung menoleh.
"Ada yang kurang?"
"Ada satu dokumen yang formatnya nggak sesuai. Terus surat keterangan penghasilan orang tua lo perlu diperbarui."
Nadine mengerutkan kening.
"Padahal gue sudah cek dua kali."
"Makanya gue cek lagi. Kadang-kadang yang kelewat justru bagian yang kita pikir sudah beres."
Raka menyodorkan selembar kertas berisi daftar dokumen yang perlu diperbaiki.
Nadine memeriksanya dengan saksama.
"Untung lo teliti."
"Kalau urusan gue sendiri, belum tentu."
Nadine tertawa kecil.
Raka memang begitu. Ia tidak banyak bertanya tentang kehidupan pribadi Nadine, tetapi ketika menyangkut tugas atau dokumen, ia bisa diandalkan.
"Kalau lo mau, nanti sepulang sekolah kita bisa cek lagi di perpustakaan," kata Raka. "Biar sebelum dikirim, semuanya sudah benar."
Nadine melihat jadwal kerjanya.
"Gue cuma bisa sampai jam tiga. Setelah itu harus ke tempat Pak Udin."
"Cukup. Kita mulai dari bagian yang paling penting."
"Terima kasih, Rak."
Raka mengangguk, lalu kembali ke bangkunya.
Nadine mulai menandai dokumen yang perlu diperbarui. Ia sedang mencatat tenggat pengumpulan ketika sebuah bayangan jatuh di atas mejanya.
Axel berdiri di samping bangku.
Matanya sempat tertuju pada daftar dokumen di hadapan Nadine.
"Beasiswa?"
Nadine mengangkat wajah.
"Iya."
"Yang buat universitas luar kota?"
Pulpen Nadine berhenti bergerak.
"Lo tahu dari mana?"
"Lo pernah cerita."
"Gue nggak ingat pernah cerita ke lo soal itu."
Axel memasukkan tangan ke saku celananya.
"Gue dengar waktu lo ngomong sama Raka."
Nadine menatapnya beberapa detik.
"Lo sadar itu bukan alasan yang bikin gue nyaman, kan?"
Axel tampak hendak menjawab, tetapi kemudian mengurungkan niatnya.
"Iya. Kedengarannya gue kayak sengaja menguping."
"Karena memang begitu kedengarannya."
Rahang Axel mengeras sedikit. Untuk sesaat, Nadine mengira ia akan membalas dengan nada ketus.
Namun, laki-laki itu justru mengembuskan napas.
"Oke. Gue seharusnya nggak ikut campur."
Nadine kembali melihat dokumennya.
"Kalau gue butuh bantuan, gue bakal bilang."
"Gue tahu."
Axel menarik kursi di depannya, tetapi sebelum duduk, ia berhenti.
"Gue boleh duduk di sini?"
Nadine mendongak. Pertanyaan itu terasa janggal keluar dari mulut seseorang yang biasanya tidak perlu meminta izin untuk melakukan apa pun.
"Boleh. Asal lo nggak ganggu."
Axel duduk.
Ia tidak menyentuh dokumen Nadine. Tidak bertanya lagi soal beasiswa. Ia hanya mengeluarkan ponsel dan membaca pesan yang masuk.
Beberapa menit kemudian, Dimas muncul di ambang pintu kelas.
"Xel, ke lapangan. Bima sudah nunggu."
Axel berdiri.
"Gue ke lapangan dulu," katanya kepada Nadine.
Nadine mengangkat wajah dari kertasnya.
"Oke."
Axel berjalan pergi tanpa menunggu tanggapan lebih jauh.
Nadine memperhatikan punggungnya sebentar, lalu kembali bekerja.
Perubahan itu masih kecil. Terlalu kecil untuk dijadikan bukti bahwa Axel sudah benar-benar berubah.
Namun, setidaknya hari ini, ia tidak perlu menghabiskan waktu menjelaskan hal yang sama berulang kali.
Dan itu cukup melegakan.
---
Menjelang pulang sekolah, Nadine dan Raka duduk berhadapan di meja perpustakaan.
Di antara mereka terbentang beberapa lembar dokumen, buku catatan, dan sebuah laptop milik Raka.
"Bagian ini harus disesuaikan dengan format yang diminta kampus," kata Raka sambil menunjuk layar.
Nadine mendekat untuk membaca.
"Oh, iya. Kalau pakai format yang lama, kolomnya malah berantakan."
"Makanya jangan langsung dikirim."
"Gue tahu, Pak Editor."
Raka tertawa.
"Kalau nanti lo jadi mahasiswa, gue bisa buka jasa pemeriksaan dokumen."
"Bayarnya pakai apa?"
"Diskon."
"Diskon apa?"
"Diskon omelan kalau ada yang salah."
Nadine tertawa lebih lepas kali ini.
Di luar perpustakaan, seseorang yang baru melewati lorong melambatkan langkah.
Axel.
Ia baru selesai mengambil buku di ruang guru ketika melihat Nadine dan Raka duduk berdekatan di balik kaca perpustakaan. Keduanya sedang memperhatikan layar laptop yang sama.
Raka mengatakan sesuatu.
Nadine tertawa.
Axel berhenti.
Ia tidak mendengar percakapan mereka. Ia juga tidak punya alasan untuk masuk dan mengganggu.
Namun, pemandangan itu membuat sesuatu di dadanya terasa mengganjal.
Ia mengenal Raka sebagai teman sekelas Nadine. Ia tahu laki-laki itu membantu urusan beasiswa.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Tidak ada satu pun aturan dalam kontrak mereka yang melarang Nadine menghabiskan waktu bersama teman laki-laki.
Axel sendiri yang menyetujui aturan tersebut.
Tetapi mengetahui sesuatu secara logis ternyata tidak membuatnya mudah menerima perasaan yang muncul ketika melihatnya secara langsung.
"Lo ngapain berdiri di sini?"
Suara Dimas membuat Axel menoleh.
Axel segera melanjutkan langkahnya.
"Nggak ngapa-ngapain."
Dimas mengikuti arah pandang temannya ke perpustakaan.
"Oh."
Satu kata itu terdengar terlalu panjang bagi Axel.
"Apaan?" tanya Axel.
"Gue belum ngomong apa-apa."
"Tapi muka lo sudah ngomong."
Dimas menyeringai.
"Gue cuma baru tahu kalau lo sekarang suka memperhatikan orang belajar."
"Berisik."
"Atau mungkin bukan belajar yang lo perhatikan?"
Axel menatapnya tajam.
Dimas mengangkat kedua tangan.
"Oke, gue diam."
Mereka berjalan menuju tangga, tetapi Dimas kembali bicara sebelum mencapai ujung lorong.
"Xel, lo masih ingat aturan yang dibuat Nadine?"
"Kenapa?"
"Karena gue tahu lo."
Axel berhenti.
Dimas kali ini tidak tersenyum.
"Lo bisa menerima aturan waktu semuanya masih gampang. Tapi begitu lo mulai merasa sesuatu, biasanya lo pengin mengambil kendali."
Axel tidak menjawab.
"Gue bukan bilang lo nggak boleh cemburu," lanjut Dimas. "Perasaan begitu bisa muncul kapan saja. Tapi jangan sampai Nadine harus membatasi hidupnya cuma supaya lo merasa tenang."
Tatapan Axel mengeras.
"Gue tahu apa yang gue lakukan."
"Semoga."
Dimas berjalan lebih dulu.
Axel tetap berdiri beberapa detik di tangga, memikirkan kalimat temannya.
Ia ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
Namun, ia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa beberapa menit lalu, ia berhenti hanya untuk melihat Nadine tertawa bersama orang lain.
Dan ia tidak menyukai perasaan yang muncul setelahnya.
Bukan karena Nadine melakukan sesuatu yang salah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, Axel menyadari bahwa ia mungkin menginginkan sesuatu yang tidak bisa ia peroleh hanya dengan membuat sebuah kesepakatan.
---
Sore itu, Nadine keluar dari tempat fotokopi setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Ia baru berjalan beberapa meter ketika melihat sebuah mobil hitam terparkir di dekat warung kecil di ujung gang.
Axel berdiri di sampingnya.
Nadine menghentikan langkah.
"Lo ngapain di sini?"
Axel menoleh.
"Gue ada urusan di dekat sini."
"Terus?"
"Gue juga mau ngomong soal acara keluarga akhir pekan ini."
Nadine melirik mobilnya, lalu kembali menatap Axel.
"Lo sengaja nunggu gue?"
Axel terdiam sesaat.
"Iya."
Jawaban jujur itu membuat Nadine menghela napas.
"Lo bisa kirim pesan."
"Gue tahu."
"Kenapa nggak?"
"Gue pikir lebih gampang kalau ngomong langsung."
"Lebih gampang buat lo, belum tentu buat gue."
Axel mengusap tengkuknya.
"Oke. Gue salah."
Nadine tidak menyangka ia akan mengakuinya secepat itu. Namun, ia juga tidak ingin membiarkan percakapan tersebut berhenti hanya karena Axel meminta maaf.
"Kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan, hubungi gue dulu. Jangan menganggap gue selalu bisa ditemui kapan pun lo mau."
Axel mengangguk.
"Dimengerti."
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan pesan yang dikirim ayahnya tentang acara keluarga pada hari Minggu.
"Makan siang pukul dua belas. Ayah gue minta gue membawa lo."
Nadine membaca pesan itu.
"Dia bilang harus membawa gue?"
"Kurang lebih."
"Berarti gue dianggap bagian dari rencana keluarga lo sekarang?"
Axel mengernyit.
"Lo pacar gue di depan keluarga. Wajar kalau dia ingin mengenal lo."
"Dan kalau gue nggak datang?"
"Gue akan bilang lo punya urusan lain."
"Tanpa menyuruh gue mengubah jadwal?"
"Tanpa menyuruh lo mengubah jadwal."
Nadine memasukkan tangan ke saku tasnya.
"Gue belum bisa memastikan. Gue harus menyelesaikan dokumen beasiswa."
"Oke. Kabari gue kalau sudah tahu."
Axel tidak mendesaknya lagi.
Nadine melangkah melewatinya, tetapi gerakannya terhenti ketika tali tasnya tersangkut pada ujung pagar besi di samping jalan.
Ia belum menyadarinya ketika Axel spontan mengangkat tangan.
Jari-jari laki-laki itu bergerak ke arah bahunya, seolah hendak menariknya menjauh dari pagar.
Namun, sebelum menyentuh Nadine, tangannya berhenti di udara.
Nadine menoleh.
Jarak di antara mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Axel.
"Ada apa?"
"Tas lo tersangkut."
Nadine melihat ke belakang, lalu melepaskan tali tasnya sendiri.
"Oh."
Ia membetulkan posisi tas, kemudian kembali menatap Axel.
"Kenapa berhenti?"
Axel menurunkan tangannya.
"Karena gue ingat lo nggak suka disentuh tanpa izin."
Nadine terdiam.
Jawaban itu membuatnya lebih sulit bereaksi daripada jika Axel langsung menyentuh bahunya.
Ia bisa melihat bahwa gerakan tadi terjadi secara spontan. Axel tidak sedang memikirkan cara untuk membuatnya terkesan. Ia hanya hendak membantu, lalu menghentikan dirinya sendiri ketika menyadari batas yang telah disepakati.
"Kamu bisa bilang dari tadi," ujar Nadine, kali ini dengan suara lebih pelan.
Axel mengangkat alis.
"Lo barusan bilang gue harus tanya dulu."
"Gue tahu."
"Jadi?"
Nadine mengembuskan napas.
"Jadi, kalau gue nggak dengar, gue mungkin nggak bakal sadar tas gue tersangkut."
Axel menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
"Oke. Lain kali gue bilang dulu."
Nadine memperbaiki tali tasnya.
"Gue bisa mengurusnya sendiri."
"Gue tahu."
"Lo nggak perlu selalu menyelesaikan semuanya."
Kalimat itu membuat Axel terdiam lebih lama.
Lalu ia menjawab, "Gue lagi belajar."
Tidak ada nada bercanda dalam suaranya.
Nadine menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ditunjukkan Axel di hadapannya: ketidakpastian.
Laki-laki itu tidak selalu tahu bagaimana harus bersikap. Ia hanya terbiasa bertindak lebih dulu, seolah-olah keraguan adalah sesuatu yang tidak boleh terlihat.
Dan sekarang, ia sedang berusaha menahan kebiasaan tersebut.
Nadine tidak tahu apakah usaha itu akan bertahan ketika mereka menghadapi masalah yang lebih besar. Ia juga tidak tahu apakah Axel akan tetap menghormati batasnya ketika kecemburuan mulai menguasai pikirannya.
Namun, ia bisa menghargai usaha yang dilakukan hari ini tanpa harus menjanjikan apa pun untuk besok.
"Terima kasih sudah berhenti," katanya.
Axel menatapnya.
"Gue belum ngapa-ngapain."
"Justru itu."
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Lalu Nadine melanjutkan langkahnya menuju rumah.
Axel tidak mengikuti.
Ia hanya berdiri di samping mobil, membiarkan Nadine berjalan sendiri sampai perempuan itu menghilang di balik gerbang.
---
Malamnya, Nadine duduk di meja belajar dengan dokumen beasiswa yang telah diperbaiki.
Ia baru saja mengirim pesan kepada Raka untuk mengonfirmasi jadwal pemeriksaan terakhir ketika sebuah notifikasi masuk dari Axel.
Axel: Jadi, lo bisa datang hari Minggu?
Nadine membaca pesan itu sambil melihat kalender kecil di dinding.
Nadine: Belum tahu. Besok gue baru bisa memastikan.
Axel: Oke.
Tidak ada pesan lanjutan.
Nadine meletakkan ponselnya dan kembali memeriksa dokumen.
Beberapa menit kemudian, pesan dari Raka masuk.
Raka: Besok kita cek lagi jam tiga di perpustakaan. Jangan lupa bawa surat yang perlu diperbarui.
Nadine: Siap. Makasih, Rak.
Raka: Sama-sama. Semoga semuanya lancar.
Nadine tersenyum kecil, kemudian meletakkan ponselnya.
Baginya, percakapan itu tidak lebih dari urusan beasiswa. Raka membantu karena mereka berteman dan memiliki tujuan yang sama: memastikan dokumen Nadine selesai tepat waktu.
Namun, Nadine tidak tahu bahwa pada saat yang hampir bersamaan, Axel sedang menatap layar ponselnya sendiri.
Dimas baru saja mengirimkan foto yang diambilnya tanpa sengaja di perpustakaan sore tadi. Dalam foto itu, Nadine dan Raka tampak sedang membahas sesuatu di depan laptop.
Pesan Dimas menyertai foto tersebut.
Dimas: Nih, calon pacar lo lagi serius belajar. Jangan ganggu.
Axel menatap foto itu lebih lama daripada yang ia inginkan.
Ia tahu Nadine sedang mengurus beasiswa. Ia tahu Raka membantunya. Dan ia tahu dirinya tidak memiliki hak untuk melarang kedekatan itu.
Tetapi mengetahui apa yang benar tidak serta-merta membuat perasaannya menghilang.
Jempol Axel bergerak ke kolom pesan Nadine.
Ia sempat mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapusnya lagi.
Akhirnya, ia meletakkan ponsel di meja tanpa mengirim apa pun.
Untuk pertama kalinya, Axel menyadari bahwa menjaga sebuah hubungan mungkin bukan tentang menemukan cara agar seseorang selalu berada di dekatnya.
Mungkin justru tentang belajar menghadapi perasaan sendiri ketika orang itu memilih menghabiskan waktunya bersama orang lain.
Dan Axel belum tahu apakah ia cukup dewasa untuk melakukannya.
Yang ia tahu, besok ia akan kembali bertemu Nadine di sekolah.
Ia hanya berharap dirinya tidak melakukan sesuatu yang akan membuat perempuan itu menyesal telah memberinya kesempatan.