NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Hal-hal Baru yang Ditemui

Pagi pertama di tempat baru aku bangun sebelum matahari benar-benar naik. Cahayanya baru samar-samar masuk lewat celah tirai jendela, udara di kamar masih terasa sejuk. Aku bangkit, buka jendela lebar-lebar, dan hirup napas dalam-dalam. Bau pagi di sini beda dari di rumah. Ada aroma tanah basah dan tanaman hijau yang lebih kuat, campur dengan aroma kopi yang mulai tercium dari kedai di lantai bawah. Rasanya segar banget, kayak dunia baru sedang membukakan pintunya perlahan untuk aku. Aku berdiri di jendela sebentar, melihat orang-orang mulai berjalan di jalan di bawah sana — ada yang berjalan cepat menuju halte, ada yang membawa tas belanja, ada yang melambaikan tangan ke tetangganya. Semuanya terasa asing, tapi sekaligus terasa ramah.

Aku turun ke bawah, pesan roti bakar dan teh hangat di kedai kecil persis di lantai dasar penginapanku. Pemiliknya seorang wanita paruh baya yang ramah banget. Dia senyum dan bilang, "Baru datang ya? Selamat pagi, semoga hari pertamamu di sini menyenangkan." Kata-katanya sederhana banget tapi langsung bikin hatiku terasa hangat. Ternyata nggak sulit untuk merasa diterima di tempat baru, kan? Cuma butuh satu senyum tulus dari orang asing.

Pekerjaanku di majalah dimulai hari itu juga. Kantornya nggak besar, cuma beberapa ruangan di lantai dua sebuah bangunan tua yang nyaman banget. Di dindingnya penuh foto lama dan peta-peta kota yang dipigura rapi. Orang-orangnya ramah juga, nggak kaku, langsung ajak aku ngobrol seolah aku udah lama kenal mereka. Tugasku membantu menyusun tulisan-tulisan dari kontributor, sesekali pergi ke tempat-tempat tertentu untuk mewawancarai orang biasa dengan cerita yang luar biasa. Itu yang paling aku suka. Bukan soal orang-orang terkenal atau kisah yang dramatis. Tapi cerita orang biasa yang hidupnya sederhana namun penuh makna. Persis kayak cerita kita.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang tenang. Pagi aku bangun, sarapan sederhana, jalan kaki sebentar ke kantor. Siang aku makan siang di warung kecil di sekitar kantor, duduk sendirian sambil mendengarkan orang-orang di sekitarku bercerita. Sore pulang, lalu duduk di meja dekat jendela kamarku sambil menulis. Bukan tulisan untuk majalah, tapi tulisan untuk diriku sendiri. Cerita tentang hari itu, hal-hal kecil yang aku lihat, hal-hal yang membuatku tersenyum atau teringat sesuatu. Setiap malam sebelum tidur aku selalu menyempatkan diri untuk menuliskan satu hal yang aku syukuri hari itu. Kadang cuma "langit sore tadi indah banget", kadang "wanita di kedai tadi tanya kabarku", kadang "hari ini nggak terjadi hal buruk, dan itu sudah cukup baik". Hal-hal kecil yang dulu sering aku lewati begitu aja, sekarang terasa begitu berharga.

Tentu nggak setiap hari mulus kayak jalan aspal yang rata sempurna. Ada hari-hari di mana rindu datang menyerang tiba-tiba, tepat di tengah keramaian kota. Kadang aku melihat sepasang orang berjalan beriringan sambil tertawa, lalu jantungku berhenti sebentar, dan aku harus berhenti melanggar sebentar sampai rasa sesak itu mereda. Ada malam-malam di mana sepi terasa lebih dingin dari biasanya, dan aku terbangun tengah malam karena mimpi yang bikin dadaku terasa berat. Saat itu aku cuma pegang liontin di leherku, usap pelan, dan bisik pelan ke dalam gelap, "Aku rindu kamu. Tapi aku nggak apa-apa. Tidur yang tenang ya, aku jaga diriku di sini." Nggak perlu pura-pura kuat terus-menerus kan? Boleh banget merasa sedih sebentar, asal jangan terlalu lama sampai lupa cara tersenyum lagi.

Minggu-minggu berlalu dan aku mulai kenal beberapa orang di sekitarku. Ada Pak Jaya yang punya toko buku bekas di seberang jalan. Toko itu kecil banget, raknya sampai ke langit-langit, dan baunya persis kayak perpustakaan tua yang pernah Bima ceritakan dulu. Pak Jaya sudah tua, rambutnya putih semua, tapi matanya berbinar tiap kali bicara soal buku. Dia suka cerita soal pemilik-pemilik buku sebelumnya yang datang dan pergi membawa cerita mereka sendiri. "Buku itu nggak cuma kertas dan tinta nak," katanya suatu sore sambil menyeka debu dari sampul buku tua. "Di dalamnya ada bagian dari jiwa penulisnya, dan juga bagian dari jiwa pembacanya. Tiap kali buku itu berpindah tangan, ceritanya ikut tumbuh dan berubah, tergantung siapa yang membacanya dan kapan dia membacanya." Aku suka cara dia melihat dunia. Persis kayak cara Bima melihat kehidupan — sebagai sesuatu yang terus berjalan, berubah, dan tumbuh.

Ada juga Lina, gadis yang tinggal dua pintu di sebelah kamarku. Dia kerja di sebuah toko bunga di pusat kota. Sore-sore dia sering pulang sambil membawa tangkai bunga yang belum terjual, lalu membaginya ke tetangga sekitar. Suatu hari dia mengetuk pintuku, menyodorkan seuntai bunga matahari kecil yang cerah banget warnanya. "Buat kamu. Bunga ini bikin suasana hati lebih baik, katanya. Semangat ya di tempat baru." Aku terima dengan senyum yang tulus banget. Bunga itu aku taruh di gelas berisi air di meja belajarku. Tiga hari kemudian layu, tapi kehangatan dari pemberian itu tetap terasa di hatiku lama setelah kelopaknya jatuh. Itu mengajarkan aku sesuatu — kebaikan nggak harus mahal atau besar. Kadang cuma seuntai bunga, senyum, atau sapaan singkat, dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama dari benda itu sendiri.

Setiap akhir pekan aku jalan kaki menjelajahi sudut-sudut kota ini. Ada taman kecil yang sepi tapi asri, ada jembatan tua di atas sungai yang airnya jernih, ada pasar pagi yang ramai banget di mana orang-orang tertawa sambil menawar harga sayuran segar. Di setiap tempat baru yang aku kunjungi, aku berdiri sebentar, tarik napas, dan bilang dalam hati, Bima, lihat kan? Tempat ini indah juga. Kamu pasti suka suasana di sini. Aku catat semua tempat ini di bukuku, bukan cuma nama dan alamatnya, tapi perasaanku saat berada di sana. Rasanya kayak aku sedang menyusun peta kebahagiaan yang aku temukan di perjalananku. Suatu hari nanti kalau aku pulang, aku bisa bawa pulang bukan cuma cerita, tapi juga kebahagiaan-kebahagiaan kecil ini untuk dibagikan ke orang-orang di rumah.

Suatu sore hujan turun deras banget saat aku sedang di kantor. Aku menunggu agak lama sampai reda, lalu jalan pulang dengan payung pinjaman. Jalanan basah dan memantulkan cahaya lampu kota yang berkelap-kelip. Langit berwarna abu-abu gelap, tapi di kejauhan terlihat sisa cahaya matahari yang terbenam di balik awan tebal. Saat berjalan di bawah payung itu, tiba-tiba aku teringat sore pertama kali kita ngobrol di taman, saat hujan baru reda dan kamu berdiri di bawah pohon sambil tersenyum basah. Dadaku terasa hangat dan sedikit perih sekaligus. Aku berhenti sebentar di pinggir jembatan, melihat air sungai di bawah sana mengalir tenang membawa sisa hujan. "Aku baik-baik saja di sini. Hujannya juga sama kayak di rumah, dingin tapi menenangkan. Jangan khawatir soal aku ya. Aku tetap hati-hati di mana pun aku berada."

Malam itu aku tulis panjang banget di buku catatanku. Tentang bagaimana aku pikir pergi berarti melarikan diri dari kesepian, tapi ternyata kesepian itu ikut ke mana pun aku pergi, sampai aku belajar berteman dengannya. Tentang bagaimana aku takut kalau aku bertemu orang baru aku akan melupakan yang lama, padahal mencintai yang baru nggak berarti mengkhianati yang lama. Tentang bagaimana tempat baru nggak menyembuhkan luka secara ajaib, tapi memberiku ruang yang luas untuk tumbuh di samping lukaku.

"Aku pikir aku datang ke sini untuk mencari sesuatu. Ternyata aku datang ke sini untuk menemukan diriku sendiri. Versi diriku yang lebih berani, lebih mandiri, lebih menghargai hal-hal kecil. Bima, kamu pasti bangga ya melihat aku sekarang? Aku belum sempurna, masih sering salah langkah, masih kadang lupa makan kalau lagi sibuk menulis. Tapi aku hidup. Benar-benar hidup. Dan aku tahu itu yang paling kamu mau dari awal. Terima kasih sudah mendorong aku pergi walau kamu nggak ada di sini untuk melihatku sampai. Aku janji, aku akan terus berjalan, terus melihat, terus belajar, sampai aku pulang membawa diriku yang lebih utuh."

Aku tutup bukuku, letakkan di meja di samping bunga matahari yang sudah agak layu tapi masih terlihat cerah. Mataku terasa berat, tapi hatiku ringan banget. Besok adalah hari baru lagi. Nggak tahu apa yang menunggu. Mungkin hujan, mungkin cerah, mungkin sibuk, mungkin tenang. Apa pun itu, aku siap menyambutnya. Karena aku tahu, setiap langkah yang kuambil adalah langkah yang berharga. Dan aku nggak pernah benar-benar sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!