Dua puluh tahun lalu, malam berdarah menghancurkan Klan Lin di Ibu Kota Yanjing. Lin Xuan, yang saat itu baru berusia lima tahun dan menderita keracunan meridian mematikan, diselamatkan oleh seorang pertapa misterius menuju Lembah Kabut Abadi di Pegunungan Kunlun. Di sana, ia digembleng oleh Tujuh Guru Agung yang masing-masing merupakan legenda hidup di bidangnya: pengobatan kuno, bela diri dalam (Neigong), alkimia, formasi/fengshui, senjata rahasia, strategi finansial bawah tanah, dan intelijen global.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Penghinaan di Lantai VIP dan Tiga Jarum Penentu Nyawa
Dua puluh empat jam kemudian, di lantai tertinggi Rumah Sakit Internasional Pertama Kota Jianghai.
Lorong ruang ICU VIP dipenuhi oleh belasan orang berpakaian jas mewah dan gaun bermerek. Namun, alih-alih menunjukkan kesedihan atas kritisnya Patriark Keluarga Su, Su Zhenhai, sebagian besar dari mereka justru saling berbisik dengan senyum tertahan.
Di depan pintu kaca ruang ICU, seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun berdiri dengan wajah pucat namun tetap memancarkan aura dingin yang memukau. Ia mengenakan setelan kerja berwarna putih bersih yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut hitamnya digelung rapi, memperlihatkan leher jenjang seputih salju dan fitur wajah yang begitu indah hingga membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas. Dialah Su Qingxue, presiden direktur Su Group sekaligus wanita tercantik nomor satu di Kota Jianghai.
"Qingxue, berhentilah bersikap keras kepala," ujar seorang wanita paruh baya berpakaian perhiasan emas mencolok—Liu Fang, ibu kandung Su Qingxue sendiri, sambil menarik lengan putrinya. "Dokter Zhao Ming dan Profesor Wilson dari Amerika saja sudah menyerah. Kakekmu paling lama hanya bisa bertahan satu jam lagi! Daripada membuang waktu, lebih baik kau segera menandatangani surat persetujuan pernikahan dengan Tuan Muda Wang Teng dari Klan Wang. Hanya Klan Wang yang bisa menyelamatkan saham keluarga kita setelah kakekmu tiada!"
"Ibu! Kakek bahkan belum mengembuskan napas terakhir, dan kalian semua sudah ribut membagi-bagi warisan serta menjualku ke Klan Wang?!" suara Su Qingxue bergetar menahan amarah.
"Jaga bicaramu, Qingxue!" bentak Paman Ketiga, Su Guodong, dengan wajah dingin. "Selama ini kau bisa duduk di kursi CEO Su Group hanya karena orang tua itu melindungimu! Begitu dia mati hari ini, saham mayoritas akan ditarik kembali oleh dewan keluarga. Apalagi kemarin kakekmu yang sudah pikun itu masih sempat-sempatnya mengigau tentang tunangan gunungmu yang bernama Lin Xuan! Memangnya bocah gunung yang entah hidup atau mati itu bisa mengalahkan kekayaan Klan Wang?"
Tepat pada saat itu, pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter muda berjas putih rapi dengan kacamata berbingkai emas keluar bersama seorang profesor Barat. Dialah Dr. Zhao Ming, wakil direktur bedah yang baru kembali dari studi doktoralnya di luar negeri dan diam-diam mengejar Su Qingxue atas suruhan Klan Wang.
"Bagaimana kondisi Kakek, Dokter Zhao?" tanya Su Qingxue cepat.
Zhao Ming menghela napas panjang dengan ekspresi penuh wibawa palsu. "Maafkan saya, Nona Qingxue. Organ dalam Tuan Besar Su mengalami kegagalan multi-organ akut akibat sindrom nekrosis langka. Bahkan dengan peralatan medis tercanggih di dunia saat ini, tidak ada seorang pun di Kota Jianghai—bahkan di seluruh negeri ini—yang mampu menghidupkannya kembali. Kami sarankan pihak keluarga segera mempersiapkan pemakaman."
Wajah Su Qingxue seketika memutih tanpa setitik darah pun. Tubuhnya limbung ke belakang. Jika kakeknya meninggal hari ini, bukan hanya satu-satunya anggota keluarga yang menyayanginya yang pergi, tetapi seluruh usahanya mempertahankan Su Group juga akan hancur lebur.
"Gagal multi-organ akibat sindrom nekrosis?"
Sebuah suara tenang yang terdengar sedikit geli tiba-tiba memecah keheningan lorong VIP.
"Dengan keahlian medis serendah itu, kau masih berani memakai jas dokter dan memvonis mati seseorang? Jika Kakek Su benar-benar dimakamkan hari ini, dia bukan mati karena penyakitnya, melainkan mati karena kebodohan kalian."
Semua kepala di lorong itu serempak menoleh ke arah lift.
Seorang pemuda tinggi tegap dengan kemeja putih sederhana, celana jins pudar, dan sepatu kets murah berjalan santai menghampiri mereka. Meski pakaiannya tampak seperti dibeli di pasar malam dengan harga tak sampai dua ratus ribu, sorot matanya yang tajam dan langkah kakinya yang tenang memancarkan wibawa aneh yang membuat para pengawal di lorong tanpa sadar mundur selangkah.
"Siapa kau?! Berani sekali masuk ke lantai VIP dan menghina diagnosis Profesor Wilson dan aku!" wajah Dr. Zhao Ming langsung memerah karena malu dan marah. "Pengawal! Usir gelandangan gila ini sekarang juga!"
Pemuda itu tidak menghiraukan teriakan Zhao Ming. Pandangannya langsung tertuju pada Su Qingxue, lalu ia mengeluarkan selembar kertas perkamen merah tua dari sakunya.
"Kau pasti Su Qingxue, bukan? Aku Lin Xuan. Guru menyuruhku turun dari Gunung Kunlun untuk menyelamatkan nyawa Kakek Su—sekaligus memenuhi janji pertunangan kita."
Hening.
Selama tiga detik penuh, seluruh lorong VIP itu membisu, sebelum akhirnya tawa terbahak-bahak meledak dari mulut Su Guodong dan Liu Fang.
"Hahaha! Jadi kau bocah gunung bernama Lin Xuan itu?!" Liu Fang menunjuk hidung Lin Xuan dengan tatapan jijik luar biasa. "Lihat pakaianmu dari atas sampai bawah! Kau bahkan tidak sanggup membeli satu kancing jas milik Tuan Muda Wang, tapi berani bermimpi menikahi putriku yang seorang CEO bernilai ratusan juta dolar?!"
"Dan apa katamu tadi? Menyelamatkan nyawa Kakek Su?" Dr. Zhao Ming mencibir sinis sambil melipat tangan di dada. "Hei bocah kampung, aku lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Johns Hopkins! Semua indikator di monitor EKG menunjukkan detak jantung Tuan Besar Su tinggal di bawah dua puluh denyut per menit. Dengan cara apa kau mau menyelamatkannya? Dengan jampi-jampi dukun gunungmu?"
Lin Xuan menatap Dr. Zhao Ming sekilas seperti menatap seekor semut yang berisik.
"Pertama, Kakek Su sama sekali tidak menderita gagal organ alami, melainkan terkena Racun Ulat Es Tujuh Hari yang dicampurkan ke dalam daun tehnya selama tiga bulan terakhir," ujar Lin Xuan dengan suara jernih yang menggema di seluruh lorong. "Kedua, jarum infus penguat jantung yang baru saja kau suntikkan lima menit lalu justru mempercepat pembekuan darah di meridian jantungnya. Jika dalam sepuluh menit racun itu tidak dikeluarkan melalui titik Tanzhong dan Baihui, barulah dia benar-benar akan mati."
Begitu kata-kata "Racun Ulat Es Tujuh Hari" dan "daun teh" terucap, pupil mata Paman Ketiga Su Guodong menyusut tajam selama sepersekian detik! Meski ia cepat-cepat menyembunyikan keterkejutannya, perubahan ekspresi mikro itu tertangkap jelas oleh Mata Spiritual Lin Xuan.
Jadi pengkhianatnya memang ada di dalam rumah sendiri, batin Lin Xuan dingin.
Sementara itu, Su Qingxue tersentak. Ia teringat bahwa selama tiga bulan terakhir, kakeknya memang selalu mengeluh dadanya terasa dingin seperti membeku setiap kali selesai meminum teh sore! Tidak ada satu pun dokter di rumah sakit ini yang mengetahui detail itu karena kakeknya mengira itu hanya masuk angin biasa!
"Kau... bagaimana kau bisa tahu soal rasa dingin di dada Kakek?!" tanya Su Qingxue dengan suara bergetar.
"Karena ilmu medis kakekmu dulu diajarkan oleh guruku," jawab Lin Xuan lembut saat menatap mata Su Qingxue. Ia bisa melihat ketulusan dan kelelahan luar biasa di balik mata indah wanita itu. "Qingxue, beri aku waktu lima menit di dalam ruangan itu. Aku akan mengembalikan kakekmu dalam keadaan hidup dan sehat."
"Omong kosong! Qingxue, jangan percaya pada penipu ini!" teriak Su Guodong panik, takut rahasianya terbongkar jika orang tua itu benar-benar sadar. "Dokter Zhao, jangan biarkan dia masuk! Kalau orang tua itu mati di tangannya, siapa yang akan bertanggung jawab?!"
"Tenang saja, Tuan Su," Dr. Zhao Ming melangkah maju, menghalangi pintu ICU dengan dagu terangkat angkuh. "Bocah kampung, kalau kau berani menyentuh pasienku dan gagal, aku akan memastikan kau membusuk di penjara seumur hidup! Tapi kalau kau memang sehebat mulut besarmu... bagaimana kalau kita bertaruh? Jika kau bisa membuat Tuan Besar Su sadar dalam lima menit, aku, Zhao Ming, akan berlutut di depanmu, memanggilmu Kakek Guru, dan merangkak keluar dari lobi rumah sakit ini sambil menggonggong seperti anjing!"
Sudut bibir Lin Xuan terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.
"Aku tidak butuh cucu murid sebodoh dirimu," sahut Lin Xuan tenang. "Tapi karena kau begitu ingin merangkak dan menggonggong, aku akan mengabulkannya."
"Biar dia masuk!" suara tegas Su Qingxue menghentikan para pengawal. Wanita itu menatap Lin Xuan dalam-dalam. "Lin Xuan, jika kau berbohong padaku, aku sendiri yang akan menuntutmu. Tapi jika kau benar-benar bisa menyelamatkan Kakek... mulai hari ini, tak seorang pun di Keluarga Su yang boleh menghinamu!"