Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.Penyambutan
Satu jam perjalanan yang penuh dengan ketegangan akhirnya berakhir ketika mobil itu akhirnya berbelok memasuki kawasan mega-kompleks Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa.
Lentera, yang selama ini hanya bisa melihat kemegahan rumah sakit ini dari layar ponsel atau brosur seminar medis, hanya bisa melongo.
Gedung rumah sakit itu menjulang tinggi dengan arsitektur kaca modern yang futuristik, dikelilingi oleh taman hijau yang asri dan pos penjagaan berlapis dengan teknologi tinggi.
Ini adalah tempat perawatan medis paling elit di negara ini, tempat di mana hanya para pejabat tinggi, selebritas papan atas, dan konglomerat multinasional yang mampu membayar biaya perawatannya.
Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai saat mobil berhenti tepat di depan lobi utama UGD khusus VVIP.
Pintu mobil belum sempat dibuka sepenuhnya oleh sang sopir ketika puluhan orang yang mengenakan jas dokter putih bersih, seragam perawat premium, serta belasan pria berjas hitam dengan alat komunikasi di telinga mereka sudah berbaris rapi.
Di barisan paling depan, berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut kelabu yang Tera kenali dari papan pengumuman eksekutif, Profesor Baskoro, Direktur Utama Rumah Sakit.
"Tuan Sean!"
Profesor Baskoro berteriak dengan wajah yang memucat pasi oleh ketakutan, langsung membuka pintu mobil belakang tempat Sean berada.
Begitu Sean menampakkan dirinya dengan kondisi bersimbah darah, seluruh dokter spesialis, profesor, dan staf medis yang ada di sana serentak membungkuk hormat.
Suasana lobi mendadak sunyi senyap, digantikan oleh aura ketegangan yang pekat.
"Tim bedah trauma sudah siap di ruang operasi satu! Tim saraf dan radiologi sudah siaga! Brankar VVIP, cepat!" perintah Profesor Baskoro dengan suara bergetar.
Tera ikut keluar dari mobil, mencoba membantu memegangi lengan Sean, namun, melihat kerumunan dokter senior yang begitu agung, dia refleks mundur selangkah.
Beberapa petugas keamanan berjas hitam segera merangsek maju, membentuk pagar betis untuk mengamankan Sean.
Salah seorang kepala keamanan melihat pakaian Tera yang kotor terkena noda darah dan debu jalanan, lalu menganggapnya sebagai orang asing yang mencurigakan.
"Nona, mohon menjauh dari Tuan Sean. Anda tidak memiliki otoritas di sini. Silakan laporkan identitas Anda ke pos penjagaan luar," ucap kepala keamanan itu dengan nada dingin dan tegas, sambil menaruh tangannya di depan tubuh Tera untuk menghalau gadis itu.
"Tunggu," sebuah suara rendah namun penuh wibawa mutlak memecah hiru-pikuk itu.
Sean, yang sudah berada di atas brankar mewah berlapis kasur khusus, mengangkat tangan kanannya sedikit.
Matanya yang tajam menatap langsung ke arah kepala keamanan yang sedang mencoba mengusir Tera.
"Jangan sentuh dia," kata Sean dingin.
Pandangannya beralih kepada Profesor Baskoro. "Dia dokter yang menyelamatkan saya. Biarkan dia ikut masuk ke dalam. Siapa pun yang berani memintanya pergi, akan saya pastikan dipecat dari rumah sakit ini hari ini juga."
Profesor Baskoro terkejut, melirik ke arah Lentera dengan tatapan mata yang langsung berubah penuh selidik dan rasa hormat yang dipaksakan.
"Baik, Tuan Sean. Dimengerti. Nona_ maksud saya, Dokter, silakan ikut kami ke dalam."
Tera hanya bisa mengerjapkan matanya berulang kali. Dia menatap Sean yang kini didorong masuk ke dalam ruang perawatan intensif VVIP.
Pria ini_sebenarnya siapa dia? pikir Tera dengan dada berdebar kencang.
Setahun lalu di UGD rumah sakit pusat kota, dia hanya mendengar nama "Tuan Sean" diteriakkan dalam panik.
Namun hari ini, melihat bagaimana seorang Direktur Utama Rumah Sakit terbesar di kota ini membungkuk seperti seorang pelayan di depan Sean, Tera menyadari bahwa pria yang dia marahi di dalam mobil tadi adalah sosok yang bisa mengguncang kota ini hanya dengan satu jentikan jari.
Lentera berjalan mengekor di belakang rombongan besar itu, melintasi koridor khusus VVIP yang dilapisi karpet tebal dan dinding berpanel kayu mahoni yang mewah.
Tidak ada kesan rumah sakit yang menakutkan di sini, tempat ini lebih mirip dengan hotel bintang lima plus yang memiliki fasilitas medis tersembunyi.
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Lentera menginjakkan kaki di dunia yang selama ini berada di luar batas imajinasinya.
***
Di dalam ruang tindakan darurat VVIP yang luasnya setara dengan rumah kontrakan Tera dikaki lima, proses pemeriksaan berjalan dengan kecepatan yang luar biasa.
Tiga orang dokter spesialis bedah saraf dan dua orang ahli trauma memeriksa Sean dengan sangat teliti menggunakan peralatan tercanggih.
Lentera berdiri di sudut ruangan, mengamati setiap prosedur dengan cermat. Otak cerdasnya mencatat setiap detail tindakan yang dilakukan para senior itu.
Namun, keanehan mulai terjadi saat hasil pemeriksaan awal keluar.
"Ini_,ini tidak mungkin," gumam salah seorang dokter spesialis saraf sambil menatap layar monitor yang menampilkan hasil pemindaian cepat.
"Profesor Baskoro, lihat ini."
Profesor Baskoro mendekat, keningnya berkerut dalam.
"Bagaimana bisa? Tadi di laporan ambulans lapangan dikatakan terjadi benturan hebat dan potensi pendarahan internal akibat ledakan. Tapi_grafik vitalnya sangat stabil. Bahkan luka robek di pelipisnya_"
Tera ikut mencuri pandang ke arah monitor.
Sebagai lulusan terbaik, dia tahu persis bagaimana membaca grafik vital pasien trauma. Dan apa yang dia lihat di layar itu benar-benar menentang semua teori kedokteran yang dia pelajari selama bertahun-tahun di universitas.
Detak jantung Sean berada di angka ideal 80 denyut per menit, tekanan darahnya 120 per 80, yang lebih tidak masuk akal adalah, luka robek di kepalanya yang tadi sempat mengalirkan darah deras, kini sudah berhenti berdarah sama sekali secara alami.
Jaringan kulit di sekitar luka luar itu tampak mulai menutup dan beregenerasi dengan kecepatan yang tidak wajar.
Sean berbaring tenang, matanya menatap langit-langit ruangan. Dia tidak tampak seperti orang yang baru saja lolos dari maut.
Sementara itu, di dalam benak Sean, sebuah kesadaran baru telah mengkristal dengan sangat jelas.
Gadis ini_, dia adalah kuncinya, batin Sean sambil melirik ke arah Tera yang masih berdiri di sudut dengan wajah bingung yang menggemaskan.
Sean memiliki sebuah rahasia besar yang disembunyikan dari dunia luar, sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh lingkaran inti keluarga Nugraha.
Sejak lahir, Sean dianugerahi kekuatan supranatural yang luar biasa pekat—sebuah energi internal yang diwariskan secara turun-temurun dalam garis darah Nugraha murni.
Kekuatan itulah yang membuatnya mampu membaca pergerakan musuh, memiliki refleks di luar batas manusia, dan insting bisnis yang tak pernah meleset.
Namun, selama lima tahun terakhir, kekuatan itu mengalami gangguan besar. Energi supranatural di dalam tubuhnya tidak sempurna, sering kali bergejolak tidak terkendali, membakar pembuluh darahnya sendiri dari dalam, dan menyebabkannya mengalami serangan kejang hebat yang menyiksa setiap kali dia mencoba mengerahkan energinya secara maksimal.
Karena cacat inilah, klan-klan hitam di dunia bawah menganggap Sean sebagai "anggota keluarga Nugraha yang paling lemah" dan menjadikannya target pembunuhan utama.
Yuhu, komen dong kak, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.
sean anaknya siapa ini?