Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : RACUN DIATAS MEJA MAKANAN
Keheningan pagi di kediaman Pratama kini memancarkan atmosfer yang berbeda. Tidak ada lagi kebekuan yang menusuk tulang, namun ketegangan baru mulai teruji oleh dinamika yang samar.
Kirana berdiri di dapur, menyeduh teh melati. Gaun kasual berwarna krem yang melekat pas di tubuhnya memperlihatkan potongan yang lebih segar dan tegas. Tatapan matanya tidak lagi redup oleh keputusasaan; ada binar kedewasaan dan keberanian seorang wanita yang sadar akan hak serta kewajibannya sebagai nyonya rumah.
Langkah kaki Aris terdengar menuruni tangga. Pria itu tampak jauh lebih rapi dibanding hari-hari sebelumnya. Kemeja putihnya tersetrika sempurna, dan raut wajahnya tidak lagi sepenuhnya diselimuti keangkuhan yang dingin.
"Selamat pagi, Mas," panggil Kirana halus namun penuh rasa percaya diri saat Aris melangkah ke area dapur.
Aris menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya tertuju pada Kirana, meneliti perubahan kecil namun mendasar pada cara istrinya berdiri dan menyapa. Ada rasa hangat yang membakar dadanya—sebuah perasaan asing yang selama lima tahun ini mati rasa.
"Selamat pagi, Kirana," balas Aris, suaranya lebih lembut dari biasanya. Ia mendekat, lalu dengan gerakan canggung namun tulus, memegang jemari Kirana sejenak sebelum mengambil cangkir teh yang disodorkan. "Anak-anak sudah bangun?"
"Leo dan Maya sedang bersiap-siap. Hari ini aku memasak sup ayam ginseng untuk mereka," ujar Kirana.
Namun, sebelum Aris sempat membalas, bel pintu utama berdering keras. Mbak Asih terburu-buru berlari menuju pintu depan, sementara Kirana dan Aris saling bertukar pandang.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang lebar dan penuh intimidasi bergema di koridor. Seorang pria berusia awal tiga puluhan berpenampilan necis namun dengan tatapan mata yang licik masuk tanpa mengetuk pintu dining room.
Roy. Adik kandung almarhumah Rina.
"Wah, wah... betapa harmonisnya pemandangan pagi ini," sindir Roy dengan nada tajam yang dipaksakan ramah. Matanya melirik ke arah Kirana dengan pandangan meremehkan. "Mas Aris, sepertinya kamu cepat sekali berpaling dari kakakku. Belum juga genap beberapa tahun Rina pergi, ruangan ini sudah sepenuhnya dikuasai wanita muda ini."
Atmosfer di ruangan itu mendadak turun drastis. Kirana merasakan desiran panas di dadanya, namun ia menahan diri untuk tidak terpancing. Ia tahu betul siapa Roy—pria yang selama ini menanamkan racun prasangka ke dalam pikiran Leo bahwa Kirana hanyalah wanita pemuas harta.
Aris meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan dentingan yang agak keras. Wajahnya mengeras. "Jaga bahasamumu, Roy. Kirana adalah istriku yang sah. Ada perlu apa kamu datang sepagi ini tanpa memberi tahu lebih dulu?"
Roy terkekeh sinis, melangkah mendekat dan menarik salah satu kursi makan tanpa diundang. "Aku datang untuk keponakan-keponakanku, Mas. Aku mendengar dari Leo kemarin kalau wanita ini mulai mencampuri urusan pribadi mereka dan bertingkah seolah-olah dia ibu kandung mereka. Aku hanya ingin memastikan hak-hak anak almarhumah Rina tidak terancam oleh kehadiran... orang asing."
"Aku bukan orang asing di rumah ini, Mas Roy," potong Kirana. Suaranya tidak tinggi, namun intonasinya begitu tegas dan tajam hingga membuat Roy menoleh terkejut.
Kirana melangkah mendekati meja makan, berdiri sejajar di depan Roy tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Aku adalah istri sah Mas Aris dan ibu di rumah ini," lanjut Kirana, matanya menatap Roy lurus-lurus. "Jika ada hal yang berkaitan dengan kesejahteraan Leo dan Maya di rumah ini, itu adalah tanggung jawabku dan Mas Aris. Mas Roy sebagai paman tentu boleh berkunjung, tetapi bukan untuk menanamkan kebencian atau mencampuri urusan internal rumah tangga kami."
Roy membelalak. Pria itu biasa melihat Kirana sebagai sosok wanita muda yang pendiam, pemalu, dan mudah ditindas. Perubahan drastis pada aura Kirana membuat lidahnya mendadak kelu untuk beberapa detik.
"Kamu... berani-beraninya kamu mengajariku?!" suara Roy meninggi, wajahnya memerah karena harga dirinya tersentil. Ia bangkit berdiri, hendak menunjuk wajah Kirana. "Kamu itu cuma ibu tiri! Kamu masuk ke rumah ini cuma demi harta Aris, kan?! Jangan berlagak seperti wanita suci!"
"CUKUP, ROY!" bentak Aris, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Pria itu berdiri dan pasang badan di depan Kirana, melindungi istrinya dari ancaman Roy. "Keluar dari rumahku sekarang juga!"
"Mas Aris! Kamu melindunginya?!" seru Roy tak percaya. "Kamu lupa bagaimana Rina menderita?! Kamu lupa—"
"Aku tidak lupa pada Rina!" potong Aris, matanya merah memancarkan kemarahan dan penyesalan yang mendalam. "Tapi aku juga sadar selama ini aku telah melimpahkan rasa bersalahku pada orang yang salah! Kirana adalah istriku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk kamu—merendahkannya di rumahku sendiri!"
Tepat di saat ketegangan mencapai puncaknya, Leo dan Maya berjalan turun menuruni tangga. Leo menggandeng adiknya, dan kedua anak itu membeku melihat pemandangan di ruang makan.
Roy yang melihat kedatangan kedua anak itu langsung mengubah taktiknya. Wajahnya yang tadinya garang mendadak memelas, mencoba memanfaatkan kepolosan Leo.
"Leo! Lihat, Nak!" seru Roy seraya mendekati Leo. "Papa kalian sudah sepenuhnya terpengaruh oleh wanita ini! Om datang untuk membela kalian, tapi Papa malah mengusir Om!"
Leo menatap pamannya, lalu beralih menatap Aris, dan berakhir pada Kirana yang berdiri tenang di samping suaminya.
Dulu, racun ucapan Roy akan langsung membuat Leo berteriak dan menyerang Kirana. Namun pagi ini, ingatan Leo tertuju pada kejadian kemarin—saat air mata Kirana menetes bukan karena marah, melainkan karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya saat Kirana sendiri berdarah-darah di atas pecahan keramik.
Leo melepaskan genggaman tangannya dari Roy secara perlahan.
"Om Roy..." kata Leo dengan suara pelan namun jelas. "Tolong jangan teriak-teriak pada Tante Kirana."
Roy melotot sempurna. "L-Leo? Apa yang kamu katakan?! Dia itu ibu tiri jahat yang—"
"Tante Kirana gak jahat!" potong Leo, suaranya gemetar namun mantap. Anak laki-laki itu mengambil satu langkah mendekati Kirana, berdiri di depan ibu tirinya. "Kemarin... kemarin Tante Kirana terluka gara-gara Leo, tapi Tante Kirana gak marahin Leo. Tante Kirana malah ngelindungin Leo dari Papa. Om Roy yang bohong... Om bilang Tante Kirana mau usir kita, tapi Tante Kirana bilang mau ngerawat kita!"
Kata-kata dari bibir bocah sepuluh tahun itu bagaikan petir di siang bolong bagi Roy. Seluruh tuduhannya runtuh seketika di hadapan kepolosan anak-anak yang telah merasakan ketulusan nyata dari Kirana.
Aris menatap anaknya dengan dada bergemuruh haru. Ia melangkah mendekat, merangkul pundak Leo dan menatap Roy dengan dingin. "Kamu dengar itu, Roy? Anak-anakku tidak butuh kompor provokasi dari luar. Pergi dari sini sebelum aku panggilkan sekuriti."
Roy menatap mereka bertiga dengan napas memburu dan rasa malu yang amat sangat. Tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun lagi, pria itu memutar badannya dan melangkah pergi menyebarkan kekalahan dengan menghentakkan kaki keras-keras.
Pintu depan tertutup kembali. Keheningan yang menyelimuti ruang makan kali ini terasa sangat lega.
Kirana berlutut di hadapan Leo. Matanya berkaca-kaca menatap anak tiri yang baru saja membelanya. "Leo... terima kasih, Sayang."
Leo menunduk malu, pipinya merona merah. "L-Leo cuma ngomong yang jujur, Tante..." bisiknya, lalu dengan canggung mengulurkan tangannya yang mungil, memegang erat jemari Kirana.
Aris menyimak momen tersebut dengan rasa syukur yang tak terhingga. Ia menyadari bahwa wanita muda yang dipersuntingnya bukan sekadar pelengkap status, melainkan sosok penyembuh yang dikirimkan takdir untuk merajut kembali keutuhan keluarganya yang hancur.
Tiga minggu berlalu. Kehidupan di kediaman Pratama bertransformasi dengan cepat. Suasana rumah yang dulunya mencekam kini dipenuhi oleh gelak tawa kecil Maya dan percakapan hangat di meja makan. Aris mulai belajar untuk pulang lebih awal dari kantor, menyisihkan waktu untuk mendampingi Leo belajar dan mendengarkan cerita Kirana tentang perkembangan anak-anak.
Namun, takdir yang mempermainkan manusia tidak pernah membiarkan kebahagiaan tumbuh tanpa ujian yang lebih berat.
Siang itu, Kirana sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk membelikan baju baru bagi Maya dan Leo. Angin pendingin udara mal terasa sejuk, tetapi langkah Kirana mendadak terhenti saat seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun dan penuh perhiasan berdiri menghadang jalannya di depan sebuah butik mewah.
Wanita itu adalah Ibu Ratna—ibu kandung almarhumah Rina sekaligus mantan ibu mertua Aris.
"Rupanya ini wanita yang sudah membuat Aris lupa diri dan mengabaikan kenangan putriku," ucap Ibu Ratna dengan suara dingin penuh kecaman.
Kirana menata napasnya, mencoba tetap bersikap sopan. "Selamat siang, Tante Ratna. Apa kabar?"
"Jangan panggil aku Tante!" potong Ibu Ratna tajam. Matanya menatap Kirana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan nada menghina. "Roy sudah menceritakan semuanya padaku. Kamu sudah berhasil meracuni pikiran Aris dan anak-anak, kan? Kamu pikir dengan wajah polosmu itu kamu bisa menghapus jejak Rina dari rumah itu?"
Kirana menarik napas dalam-dalam. Ia tidak lagi membiarkan dirinya ditindas oleh bentakan orang lain. Sebagai wanita dewasa yang telah paham betul akar permasalahan keluarga ini, ia memilih menatap mertua almarhumah itu dengan ketegangan yang terkontrol.
"Saya tidak pernah berniat menghapus Mbak Rina, Tante," ujar Kirana tenang namun bervolume. "Mbak Rina adalah ibu dari Leo dan Maya. Tapi Mas Aris dan anak-anak berhak untuk bahagia dan melanjutkan hidup. Menyiksa diri dalam duka bertahun-tahun tidak akan mengubah apa pun."
"Tahu apa kamu tentang penderitaan putriku?!" cibir Ibu Ratna, matanya mengkilat oleh amarah yang tertahan. "Kamu cuma wanita muda yang beruntung mendapatkan Aris saat dia sedang lemah! Tapi ingat, Kirana... kamu tidak akan pernah benar-benar memiliki Aris. Karena kamu tidak tahu rahasia terbesar mengapa Aris begitu merasa bersalah pada Rina!"
Kata-kata itu membuat jantung Kirana berdesir cepat. Rahasia terbesar? Bukankah rahasia itu adalah surat medis dan depresi Mbak Rina?
Ibu Ratna maju satu langkah, berbisik tepat di samping telinga Kirana dengan nada racun yang menusuk. "Kamu pikir Aris merasa bersalah hanya karena Rina meninggal? Kamu tidak tahu, kan, bahwa sebelum Rina mengambil keputusannya... Aris yang secara tidak langsung menyebabkan kematian anak ketiga mereka yang masih di dalam kandungan? Dan kamu tahu kenapa Rina depresi? Karena Aris pernah membuat kesalahan fatal dengan wanita lain di masa lalu!"
Deg!
Bumi seolah berhenti berputar di bawah pijakan kaki Kirana. Wajahnya memucat seketika. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas.
"Apa... apa maksud Tante?" bisik Kirana, suaranya mendadak parau.
Ibu Ratna tersenyum puas melihat reaksi Kirana. "Tanya pada suamimu tercinta. Tanya padanya tentang rahasia sepuluh tahun lalu sebelum dia menikahi Rina. Kirana... kamu hanyalah korban berikutnya dari kepalsuan Aris Pratama. Kamu pikir dia mencintaimu? Dia hanya memanfaatkanmu untuk membersihkan dosanya!"
Dengan tawa dingin yang menyakitkan, Ibu Ratna berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Kirana yang berdiri membeku di tengah keramaian mal.
Dada Kirana terasa begitu sesak, seakan pasokan udara mendadak sirna. Kata-kata Ibu Ratna terus bergema di kepalanya bagaikan dentang lonceng kematian. Kesalahan fatal dengan wanita lain? Anak ketiga yang gugur?
Apakah kebenaran yang dibacanya di ruang kerja Aris waktu itu barulah separuh dari kenyataan yang sebenarnya? Apakah Aris masih menyimpan kebohongan yang jauh lebih besar darinya?
Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur kota Jakarta dengan lebat. Suara petir sesekali menyambar, mempertegas suasana mencekam di dalam kamar utama kediaman Pratama.
Aris baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Ia tersenyum saat melihat Kirana duduk di tepi ranjang. Namun, senyum Aris perlahan pudar ketika menyadari raut wajah istrinya yang sangat pucat dan mata bening itu menatapnya dengan tatapan hampa yang teramat dingin.
"Kirana? Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanya Aris cemas, melangkah mendekat dan hendak menyentuh dahi Kirana.
Kirana menepis tangan Aris secara perlahan namun tegas.
Sentuhan dingin penolakan itu membuat Aris membeku. "Kirana... ada apa?"
Kirana mengangkat wajahnya, menatap Aris lurus-lurus dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mas Aris... siapa wanita yang ada dalam hidupmu sepuluh tahun lalu?"
Pertanyaan itu meluncur tenang dari bibir Kirana, namun dampaknya bagaikan ledakan bom di dalam kamar tersebut.
Wajah Aris berubah pucat pasih seketika. Matanya membelalak penuh horor, dan seluruh tubuhnya menegang parah. "K-Kirana... dari mana... bagaimana kamu..."
"Tadi siang aku bertemu dengan ibu dari Mbak Rina," potong Kirana, suaranya bergetar menahan kepedihan mendalam yang kembali membakar dadanya. "Dia menceritakan sesuatu yang membuatku sadar... bahwa pernikahan kita ini memang dibangun di atas fondasi kebohongan yang sangat tebal."
"Kirana, dengarkan aku dulu!" Aris panik, berusaha menggenggam kedua tangan Kirana, tetapi Kirana membentenginya dengan berdiri menjauh.
"Aku sudah mendengarkanmu selama tiga bulan, Mas!" seru Kirana, air matanya akhirnya pecah melintasi pipinya. "Aku mencoba mengerti lukamu, aku mencoba memahami rasa bersalahmu atas kematian Mbak Rina, aku bahkan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu dan anak-anak dari rasa benci! Tapi ternyata... kamu masih menyimpan kebohongan besar dariku!"
"Itu masa lalu, Kirana! Itu tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita!" teriak Aris emosional, matanya memerah menahan rasa takut luar biasa akan kehilangan wanita di depannya.
"TIDAK ADA HUBUNGANNYA?!" lawan Kirana dengan suara melengking penuh emosi yang memuncak. "Kamu bilang padaku bahwa cintamu mati bersama Mbak Rina karena rasa bersalahmu! Tapi kenyataannya, kamu menyembunyikan dosa besar yang membuat Mbak Rina gila dan mengakhiri hidupnya! Kamu menjadikanku istri untuk mencuci dosamu dari masa lalu, Aris!"
"Bukan seperti itu, Kirana! Demi Tuhan, aku mencintaimu!" pangkas Aris, kata-kata yang selama ini ditahannya akhirnya terlontar dari mulutnya dalam keadaan paling terdesak.
Namun, pengakuan cinta itu datang di saat yang salah.
Kirana tertawa hampa, sebuah tawa getir yang sarat akan sindiran takdir yang teramat pahit. "Cinta? Kamu sebut ini cinta, Mas? Kamu mencintaiku atau kamu hanya takut kehilangan sosok yang bisa menyembuhkan rasa bersalahmu?"
Kirana membalas menatap Aris dengan kedalaman rasa sakit seorang wanita yang merasa dikhianati rasa percayanya. Ia berjalan menuju lemari, menyambar tas tangannya, dan melangkah menuju pintu kamar.
"Kirana! Mau ke mana kamu?!" Aris mengejar dan menahan lengan Kirana di depan pintu.
"Aku butuh waktu, Aris," ucap Kirana, suaranya mendadak sangat dingin dan tenang—ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan kemarahan. "Jangan cari aku sebelum kamu siap jujur sepenuhnya tentang siapa kamu sebenarnya dan dosa apa yang sedang kamu sembunyikan dariku."
"Jangan pergi, Kirana... aku mohon..." pinta Aris dengan suara parau, berlutut di depan istrinya tanpa memedulikan harga dirinya lagi.
Namun Kirana menghempaskan genggaman tangan Aris perlahan. Ia tidak bisa lagi bertahan di rumah ini jika setiap sudutnya dipenuhi oleh bayang-bayang kebohongan yang belum terurai.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Kirana melangkah keluar menerobos hujan malam, meninggalkan Aris yang tersungkur di lantai koridor dalam penyesalan yang kian membakar jiwa. Takdir sekali lagi menertawakan mereka—menunjukkan bahwa sebelum fajar kebahagiaan benar-benar terbit, badai tergelap harus diarungi hingga ke dasarnya.