NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DOKUMEN DAN SYARAT

“Jam sepuluh kurang lima menit. Kamu tidak terlambat, Aura.”

Suara Hendra menggema pelan di dalam ruang kerja utamanya yang megah dan sangat luas di lantai paling atas Gedung Fahreza Tower. Pria itu berdiri di dekat jendela kaca besar berketinggian ganda yang memperlihatkan pemandangan lanskap pencakar langit Jakarta di bawah sana.

Hendra tidak mengenakan jas lengkap seperti semalam. Pagi ini, ia hanya mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga batas siku, memperlihatkan lengan kokohnya yang berurat halus serta jam tangan Patek Philippe yang melingkar elegan di pergelangan tangan kirinya. Dasi mewahnya sedikit dilonggarkan, memberikan kesan santai namun tetap dominan dan berwibawa.

Aura berdiri tegak di tengah ruangan berkarpet tebal tersebut. Ia melangkah anggun mengenakan setelan blazer berwarna krem pastel dipadu celana kain dengan potongan tajam yang membingkai tubuh jenjangnya. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, menampilkan leher jenjang dan wajah cantiknya yang dipoles riasan alami namun sangat berkelas.

“Seorang profesional selalu menghargai waktu, Pak Hendra,”

sahut Aura tenang seraya melangkah mendekati meja kerja kayu mahoni berukuran besar tempat Hendra biasa mengendalikan bisnis triliunannya.

Hendra berbalik, menatap Aura dari kejauhan sebelum berjalan perlahan menghampirinya. Langkah pria matang itu begitu teratur dan berbobot, memancarkan aura pemimpin sejati yang terbiasa membuat keputusan-keputusan besar hanya dalam hitungan detik.

“Duduklah,”

ujar Hendra mengisyaratkan dua kursi kulit di depan mejanya.

Aura duduk dengan posisi tubuh yang tegak dan percaya diri. Ia meletakkan sebuah map kulit hitam tipis yang dibawanya tepat di tengah meja mahoni tersebut.

Hendra menarik kursi kerjanya, menyandarkan punggungnya yang tegap, lalu memandangi map hitam itu sejenak sebelum menatap lurus ke dalam manik mata Aura. ada binar penasaran yang begitu tajam di balik mata cokelat gelap milik sang taipan.

“Saya berikan waktu sepuluh menit seperti yang kamu janjikan semalam,”

tutur Hendra datar, melirik jam dinding klasik di sudut ruangan.

“Mulai dari sekarang.”

Aura mengangguk pelan tanpa keraguan sedikit pun. Jemari lentiknya membuka sampul map hitam tersebut, memperlihatkan beberapa lembar dokumen berformat sangat rapi dan legal.

“Ini adalah draft Perjanjian Pra-Nikah (Prenuptial Agreement) yang sudah saya susun bersama konsultan hukum independen pagi ini,”

buka Aura dengan nada suara yang jernih, profesional, dan sangat lugas.

“Ada empat poin utama yang menjadi dasar penawaran saya.”

Hendra menaikkan sebelah alisnya, sedikit kagum dengan kesiapan dan kecepatan kerja wanita muda di hadapannya. Ia tidak menyangka Aura benar-benar menyiapkan draft legal dalam hitungan jam setelah pertemuan mereka di balkon semalam.

“Lanjutkan,” sahut Hendra ringkas.

“Poin pertama, pemisahan harta sepenuhnya,”

jelas Aura tegas, mengetuk pelan paragraf pertama dokumen.

“Saya melepaskan seluruh hak atas aset pribadi Anda, saham Fahreza Group, warisan, maupun kekayaan yang Anda miliki sebelum dan selama pernikahan berlangsung. Jika pernikahan ini berakhir di kemudian hari, saya tidak akan menuntut pesangon, gono-gini, atau klaim finansial apa pun dari Anda.”

Hendra mendengarkan dengan saksama. Poin pertama ini sudah cukup untuk meruntuhkan tuduhan bahwa Aura adalah wanita pemburu harta (gold digger) yang biasa mengincar posisinya.

“Poin kedua,” sambung Aura tanpa jeda.

“Peran publik dan reputasi. Saya berkomitmen penuh untuk mendampingi Anda di setiap acara resmi, pertemuan relasi bisnis, serta agenda media. Saya akan memastikan nama baik Anda dan kestabilan citra keluarga besar Fahreza tetap terjaga sempurna tanpa skandal.”

Hendra menyandarkan sikutnya di lengan kursi, menopang dagunya dengan jemari kokohnya.

“Dan apa poin ketiganya?”

“Poin ketiga adalah batasan ranah pribadi,”

ujar Aura, matanya menatap tajam ke manik mata Hendra.

“Kita akan tinggal di satu atap di kediaman utama Anda untuk menjaga formalitas di mata publik dan keluarga besar. Namun, kita tidak saling mencampuri urusan pribadi, pekerjaan, atau masa lalu masing-masing, kecuali hal itu berdampak langsung pada nama baik pernikahan kita.”

Hendra tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh makna yang sulit diartikan.

“Kamu sangat rinci, Aura. Lalu bagaimana dengan kewajiban kamu sebagai seorang istri di dalam rumah?”

“Saya akan mengelola seluruh urusan domestik kediaman Anda dengan standar tertinggi,” jawab Aura mantap.

“Mulai dari manajemen staf rumah tangga, acara keluarga, hingga memastikan kebutuhan harian Anda terpenuhi tanpa cela.”

“Termasuk menghadapi anak saya?”

potong Hendra pelan. Suara beratnya terdengar begitu dalam saat menyebut kata 'anak'.

Jantung Aura berdesir pelan, namun ia mempertahankan raut wajah dinginnya. Bayangan wajah Aris yang arogan saat mencampakkannya di kafe sebulan lalu mendadak terbayang kembali. ‘Ayahku nggak bakal pernah sudi punya menantu seperti kamu!’ gema suara Aris di dalam ingatannya justru menjadi pemicu keberanian terbesar Aura saat ini.

“Termasuk menghadapi Aris,” sahut Aura penuh keyakinan.

“Saya tahu dia adalah satu-satunya putra Anda. Saya akan memastikan posisi saya sebagai pendamping Anda dihormati oleh siapa pun di rumah itu, tanpa terkecuali.”

Hendra mengamati wajah Aura dengan sangat teliti. Ada ketegasan yang luar biasa di balik tatapan wanita muda ini saat membicarakan Aris—sebuah dinamika yang terasa unik bagi Hendra, meski ia belum menyadari ikatan masa lalu di antara mereka berdua. Hendra meraih draft dokumen tersebut, membalik lembarannya secara perlahan dan membaca setiap ayat hukum yang tertulis di sana.

Semua klausul disusun dengan sangat cerdas, adil, dan benar-benar melindungi kepentingan Fahreza Group. Aura tidak menyisakan celah sekecil apa pun untuk merugikan Hendra.

“Dan poin keempat?” tanya Hendra seraya mendongak kembali.

Aura menghirup napas dalam-dalam.

“Poin keempat adalah imbalan untuk saya. Sebagai gantinya, Anda harus memberikan saya otorisasi penuh sebagai Nyonya Hendra Fahreza. Kedudukan sosial, akses kehormatan, dan pengakuan mutlak dari Anda di hadapan keluarga besar serta kolega Anda bahwa saya adalah istri sah Anda yang memiliki wewenang penuh di dalam rumah tangga Fahreza.”

Hendra menyandarkan punggungnya kembali. Pria berusia 38 tahun itu memandangi Aura dalam diam selama beberapa saat. Ruang kerja berplafon tinggi itu diliputi hening yang menegangkan.

Bagi Hendra, penawaran ini adalah sebuah kemenangan bisnis yang sempurna. Ia mendapatkan seorang istri yang cantik, cerdas, berpendidikan, serta tidak berpotensi menggerogoti hartanya. Di sisi lain, kehadiran Aura akan membungkam tekanan dewan direksi, menghentikan manuver keluarga konglomerat lain yang berniat menjodohkannya, serta memberikan stabilitas pada citra publik Fahreza Group.

Namun lebih dari sekadar hitungan bisnis, Hendra merasakan ketertarikan pribadi yang sangat kuat terhadap Aura. Keberanian, ketenangan, dan pesona dingin wanita ini telah menyalakan kembali gairah dan rasa penasaran di dalam diri sang taipan yang sudah bertahun-tahun membeku.

Hendra melirik jam di dinding.

“Tepat tujuh menit. Kamu menyelesaikan presentasimu tiga menit lebih cepat dari batas waktu.”

Aura mengukir senyuman tipis yang sangat anggun.

“Saya sudah katakan, saya tidak suka membuang waktu Anda, Pak Hendra.”

Hendra terkekeh rendah. Pria itu membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah pulpen buatan Jerman bersepuh emas, lalu tanpa ragu sedikit pun menandatangani lembar persetujuan di bagian bawah draft Perjanjian Pra-Nikah tersebut.

Sret. Sret.

Tanda tangan tegas sang taipan terukir sempurna di atas kertas linen tebal itu.

Aura menahan napas sejenak saat melihat goresan tinta emas tersebut. Rencana pembalasan dendamnya kini resmi menginjak titik poin tanpa jalan kembali (point of no return).

Hendra menutup map hitam tersebut, lalu mengulurkannya kembali kepada Aura. Pria matang itu berdiri dari kursinya, merapikan lengan kemeja putihnya, lalu melangkah keluar dari balik meja mahoni hingga berdiri sangat dekat di hadapan Aura.

Kehadiran Hendra yang begitu tegap dan tinggi memancarkan aura dominasi mutlak yang sanggup membuat lutut wanita mana pun lemas. Aroma parfum kayu sandalwood dan amber maskulin milik Hendra seketika menyerbak lembut di sekitar mereka.

Hendra menundukkan sedikit kepalanya, mengikis jarak di antara wajah mereka hingga Aura bisa merasakan kehangatan napas sang taipan di kulit pipinya.

“Dokumen ini sudah sah secara prinsip,”

ujar Hendra dengan suara beratnya yang begitu dalam dan seksi.

“Pernikahan kita akan digelar secara privat dua minggu dari sekarang, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan kerabat terdekat.”

Aura menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap milik Hendra, menjaga agar suaranya tetap stabil.

“Dua minggu adalah waktu yang sangat cukup, Hendra.”

Hendra tersenyum menawan—sebuah senyuman tipis yang memancarkan kekuasaan dan ketertarikan yang tak lagi disembunyikan. Pria itu mengulurkan tangannya yang kokoh, mengusap lembut helai rambut Aura yang terlepas dari ikatannya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga wanita muda itu dengan gerakan yang sangat berkelas.

Touch halus jemari Hendra di kulit lehernya membuat desiran hangat yang sengit menjalar di sepanjang tulang belakang Aura.

“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu, Calon Istriku,”

bisik Hendra pelan, matanya menatap bibir merah Aura sebelum kembali mengunci pandangannya.

“Malam minggu ini, saya mengadakan makan malam keluarga di rumah utama untuk mengenalkanmu secara resmi kepada putra tunggal saya, Aris.”

Aura mengukir senyuman paling mematikan yang pernah ada di bibirnya. Kilat dingin pembalasan dendam memancar indah di balik matanya.

“Saya sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Aris, Hendra,”

sahut Aura dengan suara lembut namun sarat akan ancaman terselubung.

Hendra menatap raut wajah Aura yang begitu memesona, lalu terkekeh pelan seraya memegang dagu Aura dengan lembut.

“Bagaimana kalau kita merayakan kesepakatan ini dengan makan siang bersama sekarang, Nyonya Fahreza?”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!