Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 30
"Nggak mau! Aku nggak akan pernah nemuin Zico!" Yevone menggelengkan kepalanya keras-keras dengan raut wajah meliuk tegang.
Suara tegas Yevone menggelegar memotong histeria ibunya di ruang makan. Napas Yevone memburu, matanya memancarkan rasa ketakutan bercampur amarah yang tertahan. Baginya, nama Zico sudah seperti racun yang merusak ketenangannya selama beberapa minggu terakhir. Pemuda dari Keluarga Z itu berkali-kali mencoba memanfaatkannya, bersikap kurang ajar, dan secara terang-terangan ingin menghancurkan rumah tangganya dengan Theodore.
"Yevone! Kamu jangan gila ya!" Martha menjerit melengking, bangkit berdiri dari lantai sambil mencengkeram bahu Yevone dengan kuat. Tangannya gemetar, matanya melotot tajam. "Kamu tega ngeliat Ibu diseret ke penjara?! Kamu tega ngeliat Kakekmu mati kena serangan jantung gara-gara rumah ini disita bank?!"
"Tapi nggak dengan cara minta uang sama Zico, Bu!" pangkas Yevone sambil menghempaskan tangan ibunya perlahan. "Zico itu punya niat jahat sama aku! Ibu sendiri tahu dia cuma mau manfaatin situasi ini buat maksa aku cerai sama Theo!"
"Lalu kenapa kalau cerai?!" Kevin menyela kasar dari balik meja makan, melangkah maju dengan wajah memerah. "Si gembel Theodore itu memang pantes diceraikan! Lihat tuh gara-gara dia bawa sial, dua anak perusahaan kita bangkrut dalam semalam! Kamu mau mengorbankan seluruh Keluarga Mahendra cuma demi ngebela beban tak guna ini?!"
"Cukup, Kevin!" Yevone membentak sepupunya. "Masalah keuangan perusahaan itu gara-gara manajemen kamu yang bobrok dan Ibu yang kemakan investasi bodong! Kenapa sekarang semuanya malah dilimpahkan ke Theo?!"
"Yevone Mahendra!"
Kakek Surya memotong perdebatan itu dengan bentakan serak yang berat. Pria tua itu berdiri perlahan dari kursi kebesarannya, bersandar payah pada tongkat kayu naganya. Wajahnya yang keriput tampak sangat pucat, dengan urat-urat biru menonjol tegang di sekitar pelipisnya.
"Kamu masih menganggap aku sebagai Kakekmu atau bukan?" Kakek Surya menatap Yevone dengan sorot mata penuh tekanan batin. "Hutang Mahendra Group sekarang membengkak ratusan miliar akibat pembekuan kredit secara sepihak dari bank. Kalau besok pagi kita tidak bisa menyuntikkan dana segar minimal lima puluh miliar rupiah untuk menutup utang jangka pendek, seluruh aset tanah dan rumah ini akan dilelang oleh otoritas perbankan!"
Pria tua itu menghela napas berat, dadanya naik turun dengan payah. "Keluarga Z adalah satu-satunya konglomerat di kota ini yang punya saham likuid dan koneksi langsung dengan petinggi bank swasta. Cuma Zico yang bisa menyelamatkan kita dari kemiskinan total!"
"Kakek... Zico itu serigala berbulu domba," panggil Yevone dengan suara memelan, mencoba mengetuk hati nurani Kakeknya. "Dia pasti bakal ngajuin syarat yang merendahkan aku dan keluarga kita!"
"Memangnya kenapa kalau ada syarat?!" Martha memotong histeris, mencengkeram kedua lengan Yevone kembali sambil menumpahkan air mata buaya. "Demi Ibu, Yev! Demi Kakekmu yang sudah tua ini! Apa kamu tega ngeliat kita semua diusir ke jalanan jadi pengemis?! Kamu anak kandung Ibu, Yev! Kamu utang budi melahirkan dan membesarkanmu sampai sukses seperti sekarang!"
Yevone merasa kepalanya seperti dihantam godam besar. Tekanan moral yang ditumpahkan keluarga besarnya begitu berat dan mengimpit dadanya hingga ia sulit bernapas. Mereka tidak pernah peduli pada harga diri atau keselamatannya; mereka hanya memandangnya sebagai alat penyelamat di saat keuangan keluarga terguncang.
Di tengah-tengah tekanan yang menyesakkan itu, sebuah tangan hangat mendadak merengkuh jemari Yevone dari belakang.
Theodore melangkah maju satu titik, berdiri tegap di samping istrinya. Ia menatap Martha dan Kakek Surya dengan raut wajah datar namun memancarkan kehangatan yang melindungi Yevone.
"Jangan paksa Yevone," Theodore bersuara tenang, nadanya sangat teratur. "Kalau kalian butuh dana untuk menutup masalah utang keluarga, ada banyak cara lain tanpa harus mengorbankan Yevone kepada Keluarga Z."
Seketika itu juga, tiga pasang mata keluarga Mahendra tertuju ke arah Theodore. Wajah Martha dan Kevin langsung berubah menjadi sangat jijik.
"Banyak cara lain?!" Kevin tertawa menyeringai dengan suara penuh cemoohan. "Cara apa, hah?! Mau jual ginjalmu yang murahan itu?! Atau mau jual baju-baju bekasmu di pasar kaget?! Kamu itu cuma benalu miskin yang hidup dari sisa makanan kami! Nggak usah sok ikutan campur urusan orang kaya!"
"Benar-benar tidak tahu diri!" maki Martha sambil meludah ke lantai di dekat kaki Theodore. "Gara-gara kamu hadir di pesta kemarin, nasib keluarga kami jadi hancur begini! Sekarang kamu masih berani melarang anakku membantu keluarganya sendiri?!"
"Theo, kamu diam saja..." Yevone berbisik parau, meremas jemari suaminya karena takut Theodore kembali menjadi sasaran amukan ibunya.
Kakek Surya mengambil satu langkah mendekati Theodore dan Yevone, mengetukkan tongkatnya keras-keras ke lantai marmer.
"Dengar baik-baik, Yevone!" ancam Kakek Surya dengan suara dingin yang menusuk. "Kalau hari ini kamu menolak pergi menemui Tuan Muda Zico untuk meminjam dana bantuan, maka detik ini juga Kakek akan mencabut seluruh jabatanmu di anak perusahaan cosmetics Mahendra! Kakek juga akan mengusirmu dan si benalu ini dari rumah, lalu mencoret namamu secara permanen dari silsilah keluarga!"
Kata-kata Kakek Surya mendarat bagaikan petir di siang bolong. Yevone terpaku di tempatnya. Perusahaan cabang cosmetics itu adalah hasil jerih payahnya sendiri selama bertahun-tahun dari nol, satu-satunya tempat di mana ia bisa membuktikan kemampuannya sebagai wanita mandiri. Jika tempat itu dicabut, ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk mempertahankan hidupnya.
"Kakek... tega banget sama aku..." Yevone berbisik pelan, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang mulus.
"Kakek tidak tega, tapi kamu yang memaksa Kakek melakukan ini!" tegas Kakek Surya tanpa rasa iba sedikit pun. "Pilihannya cuma dua: pergi menemui Tuan Muda Zico dan bawa pulang pinjaman dana itu, atau angkat kaki dari keluarga Mahendra selamanya!"
Martha terus merengek dan menangis di samping Yevone, memohon-mohon sambil meremas tangannya. Sementara Kevin tersenyum sinis di belakang, merasa puas melihat Yevone akhirnya tersudut tanpa pilihan.
Suasana ruang makan menjadi sangat hening dan pengap. Yevone menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya berguncang pelan menahan isak tangis yang sangat menyakitkan. Ia merasa sendirian di tengah keluarga yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.
Theodore mengelus jemari Yevone dengan sangat lembut, memberikan kehangatan yang tak terlihat. Ia bisa saja memanggil Exel detik ini juga untuk membeli seluruh Mahendra Group dan melemparkan Kakek Surya beserta Martha ke jalanan. Namun, melihat betapa Yevone masih menghargai ikatan darah dengan keluarganya, Theodore memilih untuk menahan diri dan mengikuti permainan ini sedikit lebih lama.
Yevone menyapu air matanya dengan ujung lengan kemejanya. Ia mendongak, menatap Kakek Surya dengan pandangan yang sudah kehilangan binar kehangatan.
"Baik..." jawab Yevone dengan suara bergetar namun pasrah. "Aku bakal pergi ketemu Zico hari ini."
"Bagus! Nah begitu dong, anak pintar!" Martha langsung menyergap gembira, air mata buayanya menguap begitu saja digantikan oleh senyuman lebar yang penuh keserakahan. "Ibu tahu kamu pasti nggak tega ngeliat Ibu susah!"
"Tapi ada syaratnya," potong Yevone dingin, menatap ibunya tajam. "Aku datang ke sana murni atas nama profesional untuk mengajukan pinjaman bisnis resmi beragun aset perusahaan, bukan untuk menjual diri atau membicarakan pernikahan. Dan..."
Yevone menoleh menatap suaminya. "...Theo harus ikut mendampingi aku ke kantor Keluarga Z."
"Ngapain si gembel itu ikut?!" sergah Kevin tidak setuju. "Dia cuma bakal bikin malu di kantor Tuan Muda Zico!"
"Kalau Theo nggak boleh ikut, aku batal pergi!" tegas Yevone tanpa kompromi sedikit pun.
Martha buru-buru menyenggol lengan Kevin agar tidak memperpanjang masalah. "Sudah, sudah! Biarkan si benalu itu ikut jadi sopir! Yang penting kamu bawa pulang surat perjanjian pinjaman lima puluh miliar rupiah itu sore ini, Yev!"
Yevone tidak menjawab lagi. Ia meremas jemari Theodore dengan erat, lalu berbalik melangkah menuju kamarnya untuk bersiap-siap dengan hati yang hancur.
Theodore berjalan di samping istrinya dengan langkah tenang. Sebelum pintu kamar tertutup, Theodore menyempatkan diri melirik ke arah ruang makan. Tatapan mata hitamnya yang dingin terkunci pada wajah Kakek Surya dan Martha yang sedang tersenyum lega.
*Kalian sendiri yang membuka pintu perangkap ini,* batin Theodore dengan senyuman misterius yang sangat mematikan. *Hari ini, aku akan memastikan Keluarga Z dan kesombongan kalian hancur di tempat yang sama.*