NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan di Balik Layar

​"Lihat saja nanti... kamu tidak akan menikmati kehidupanmu yang tenang setelah ini," desis Arsyila pelan dengan seringai sinis yang mengembang di bibirnya.

​Matanya tak lepas menatap kotak video Kirana di layar monitor. Jemarinya dengan cepat mengambil ponsel pintar miliknya, lalu mengambil foto tampilan layar yang memperlihatkan wajah Kirana beserta nama lengkap dan nomor induk mahasiswa sementara yang tertera di sistem.

​Arsyila terkekeh puas. Di matanya, keberadaan Kirana di kampus yang sama bukanlah sebuah kebetulan buruk, melainkan sebuah kesempatan emas untuk menjatuhkan perempuan panti asuhan itu dari singgasana yang baru saja ia duduki.

​"Kamu pikir kamu bisa bersembunyi di balik nama besar Rian dan berpura-pura menjadi mahasiswi terpelajar?" gumam Arsyila, menatap fotonya dengan sorot mata dipenuhi niat jahat. "Aku akan buat seluruh kampus tahu siapa kamu sebenarnya, dan kita lihat apakah kamu masih bisa mengangkat kepalamu di depan semua orang."

​Sementara itu, di kamar utama mansion Wijaya yang tenang, Kirana sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata penuh kedengkian sedang mengawasinya dari balik layar. Dengan penuh konsentrasi dan buku catatan di samping laptop peraknya, Kirana menyimak setiap instruksi dan materi pembukaan dari Dekan serta panitia PKKMB.

​Bagi Kirana, kesempatan berkuliah ini adalah keajaiban yang harus ia perjuangkan dengan sepenuh hati. Senyum tipis terukir di wajah cantiknya saat mencatat poin-poin penting, memancarkan semangat jernih dari seorang gadis yang siap menaklukkan masa depannya.

​Namun, tanpa ia ketahui, badai pertama di lingkungan kampus telah mulai dirancang oleh Arsyila dari balik kegelapan.

​Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) secara daring itu berlangsung selama dua jam penuh. Kirana mengikuti setiap sesi dengan saksama, mencatat berbagai informasi penting mengenai sistem akademik, pengenalan jurusan, hingga tata tertib kampus di buku catatannya.

​Tepat setelah sesi penutupan dan pengumuman tugas kelompok pertama selesai disampaikan oleh panitia di layar kaca, Kirana mengembuskan napas lega. Ia meregangkan sedikit otot-otot lehernya yang terasa agak kaku karena terlalu lama menatap layar laptop.

​"Bagaimana PKKMB-nya?"

​Sebuah suara bariton yang berat mendadak menyapa dari arah belakang, membuat Kirana tersentak kecil dan langsung menoleh.

​Rian berdiri di sana dengan santai, mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu terang. Rupanya pria itu sudah selesai dengan urusan kerjanya pagi ini dan menyempatkan diri menghampiri kamar utama, melihat bagaimana hari pertama sang istri menjalani orientasi kampus.

​Kirana tersenyum manis, memutar kursi belajarnya menghadap Rian.

​"Seru dan sangat informatif, Mas," jawab Kirana jujur, matanya berbinar antusias. "Meskipun lewat daring, penjelasannya sangat jelas. Tadi juga sudah dijelaskan tentang sistem perkuliahan dan tugas-tugas kelompok yang harus mulai dipersiapkan minggu depan."

​Rian melangkah mendekat, melirik sekilas ke arah layar laptop perak yang kini menampilkan halaman utama Google Meet yang mulai kosong. Sudut bibir Rian terangkat membentuk senyuman tipis penuh kepuasan.

​"Baguslah kalau kamu menikmatinya," ujar Rian pelan, lalu meletakkan sebelah tangannya di sandaran kursi Kirana. "Apakah ada kendala? Atau ada materi yang membuatmu kesulitan?"

​Kirana menggeleng pelan, merasakan kehangatan yang menjalar dari perhatian tulus yang diberikan suaminya. "Tidak ada sama sekali, Mas. Semua fasilitas dari Mas Rian—termasuk laptop dan internetnya—bekerja dengan sangat baik. Aku tidak akan kesulitan."

​Rian mengangguk puas. "Kalau begitu, bersiaplah untuk makan siang. Bi Asih sudah menyiapkan makanan di bawah."

​Meski hari ini berjalan lancar di dalam kamar yang tenang, Kirana sama sekali belum tahu bahwa di luar sana, di layar kampus yang sama, Arsyila telah memasang mata dan siap melemparkan duri di setiap langkah masa depannya.

1
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!