"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.
Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.
Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:
Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?
Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?
Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama
Aku melihat kearah jarum jamku dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul 4 sore tepat di hari minggu. Hari ini Adrian berjanji akan datang untuk mengambil kemejanya. Namun sampai saat ini Adrian belum juga datang.
Sebenarnya aku punya rencana untuk bersantai di tepi pantai sore ini. Untuk melihat matahari terbenam seperti biasanya. Sudah dua kali hari minggu aku hanya berada dirumah, aku merasa sangat-sangat bosan dan ingin melihat matahari terbenam.
" Sepertinya, sebaiknya aku pergi saja, aku mau menikmati sunset di tepi pantai. Lagi pula kami bertetangga, Adrian bisa datang lagi kapanpun yang ia mau, kalau-kalau waktu Adrian datang dan aku sedang tidak berada dirumah..".
"Baiklah.. Saatnya bersiap-siap, aku sudah tidak sabar mau memakai dress pantai cantikku yang berwarna putih, hasil jahitanku sendiri.."
-
Wahh..
Sudahku duga, matahari tenggelam di sore ini benar-benar indah. Mungkin karena cuaca hari ini yang lumayan cerah.
Dan seperti biasanya, aku duduk di area yang biasanya aku tempati. Untuk kali ini aku membawa kain sebagai alas untuk aku bersantai dan aku juga membawa beberapa cemilan sebagai pengalih fikiran, di saat hatiku mulai terasa sedih.
Seperti biasanya, pantai di area ini tidak begitu ramai, hanya saja ada beberapa pria yang biasanya bermain bola kaki tidak jauh di sebelah sana. Aku hanya berharap mereka sudah tidak mengingatku, atau sudah melupakan kejadian teriakanku yang memalukan saat itu. Aku hanya perlu pura-pura tidak perduli dan tetap menikmati waktuku disini.
-
Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 6 sore.
Ku lihat samar-samar dari kejauhan, ada seorang pria yang datang menghampiriku.
"Astaga, apakah pria ini salah satu pria yang bermain bola waktu itu? Haruskah aku kabur? Atau pura-pura saja bahwa itu bukan aku? Atau.. atau..".
"Briar..?". Sapanya.
"Hmm.. Adrian..? Kamu.. lagi disini..?". Jawabku, dengan terkejut sambil memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Adrian hanya memakai celana pendek sport hitam dengan jersey putih tanpa lengan. Seperti sebelumnya, dia terlihat sangat tampan meski banyak berkeringat.
"Iya.. aku sedang bermain bola bersama teman-temanku.. dan aku perhatikan kamu selalu duduk di sini..". Adrian mengatakanya sambil tersenyum.
"Hmm..? Kamu sering melihatku di sini..??". Jawabku sambil mengerutkan dahi.
Adrian hanya tersenyum..
"Aku sudah menduganya bahwa wanita yang berteriak waktu itu adalah kamu..". Jawabnya dengan tangan kanannya sedikit menutupi mulutnya, seperti hampir tertawa.
"Mm..mm..maksudnya.. kamu waktu itu tau kejadiannya..?". Aku bertanya pada Adrian dan berharap Adrian tidak membicarakan hal yang memalukan waktu itu.
"Sebenarnya, aku ingin bertanya apa itu kamu sewaktu aku mengantar pakaianku. Hanya saja.. aku takut salah orang, jadi aku memilih untuk tidak bertanya..". Jawab Adrian.
"Ja.. jadi kamu disini.. sewaktu aku berteriak waktu itu..?". Tanyaku sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku.
"Iya.. tapi santai aja.. Setiap orang punya hari yang berat.. Jadi jangan terlalu di fikirkan.. Aku bahkan tidak menertawakanmu saat itu..". Adrian mencoba menenangkanku dengan jawabannya.
"Mm.. baiklah, terimaksih..". Sambil sedikit tersenyum mendengarnya.
Adrian tiba-tiba duduk di sampingku..
"Jadi.. apakah aku sudah bisa mengambil pakaianku nanti..?". Tanya Adrian
"Ahh.. iyaa tentu, sebenarnya sudah selesai sejak kemarin..". Jawabku.
"Baiklah nanti akan aku ambil sepulang dari sini..". Adrian menjawab sambil menatap kearah matahari terbenam.
"Baiklah..". Jawabku.
"Briar..?". Tiba-tiba Adrian menyebut namaku.
"Iya.. ada apa?". Jawabku.
"Apa kamu masih mengingatku..?". Tanyanya.
"Mm.. ingat..? Maaf sepertinya tidak, apa kita penah bertemu sebelumnya..?". Aku menjawab sambil memikirkan apakah aku pernah mengenalinya.
"Mm.. sudahlah.. sepertinya aku salah orang.. lupakan saja. Dan.. kalau boleh tau, berapa usiamu sekarang?". Tanyanya.
"Mmm.. sekarang aku baru memasuki usia yang ke 21tahun, kamu..?". Tanyaku ragu.
"Aku sudah menduganya kalau kamu masih berusia 20an tahun, usiaku cukup jauh dari usiamu, sekarang aku sudah memasuki usia 32 tahun..". Jawab Adrian sambil menyentuh kepala bagian belakangnya seolah-olah sedikit malu untuk mengakui usianya.
"Benarkah? Tapi kamu tidak terlihat seperti pria yang berumur 30an.. Aku bahkan berfikir, kalau kamu berusia sekitar 25 tahun..". Dengan sedikit terkejut mengetahui usianya.
"Baguslah kalau aku tidak terlihat setua itu..". Balas Adrian dengan sedikit terkekeh.
"Oh iya Adrian.. aku sepertinya harus segera pulang, karena hari sudah mulai gelap..". Sambil melihat ke arah langit.
"Kamu kesini naik apa? Kamu membawa kendaraan..?". Tanya Adrian.
"Aku jalan kaki..". Jawabku.
"Bukankah itu cukup jauh..?". Tanya Adrian sambil menatap kearahku.
"Mmm.. sebenarnya aku sengaja berjalan kaki karena aku suka. Aku suka berjalan sambil mendengarkan musik. Rasanya cukup menyenangkan". Jawabku sambil tersenyum.
"Hari sudah mulai gelap, menurutku sebaiknya kita pulang bersama..". Adrian mengatakanya begitu saja.
"Bersama..? Memangnya kamu jalan kaki juga..?". Tanyaku.
"Bukan, aku kesini bersepeda, aku sangat suka bersepeda setiap ke pantai..". Adrian menjawab dengan senyuman yang menunjukan bahwa bersepeda di pantai adalah hal yang disukainya.
"Mmm.. apa itu tidak akan merepotkan..?". Tanyaku ragu-ragu.
"Tidak.. lagi pula aku cukup khawatir jika kamu memilih untuk berjalan kaki sendirian, karena jalanan sudah mulai gelap..". Jawabnya.
"Baiklah.. kalau begitu terimaksih..". Aku mengangguk sambil tersenyum
"Kamu tunggu disini, biar aku ambil tasku dulu..". Adrian mulai berdiri bersiap pergi.
"Baiklah..". Jawabku, sambil melihat kearah Adrian yang berlari menuju ke arah teman-temannya.
-
Adrian akhirnya datang menghampiriku dengan membawa sepedanya. Adrian sudah duduk, dan bersiap mengemudikan sepedanya. Lalu menyuruhku duduk. Aku duduk menyamping di bangku belakang, dengan sedikit berpegangan pada punggungnya.
Lagi-lagi aku bersentuhan dengannya..
"Sudah siap..?". Tanya Adrian memastikan bahwa aku sudah siap jalan.
"Sudah..". Jawabku
"Baiklah mohon sedikit berpegangan..". Ucap Adrian padaku.
"Baik..". Dengan malu-malu aku memegang pinggangnya dari belakang.
Selama di perjalanan, aku melihat pemandangan sekitar, jalanan disisi pantai terlihat terang di hias dengan lampu-lampu yang menyala. Dan aku masih tidak percaya kalau aku di bonceng oleh Adrian, seorang pria tampan. Bahkan meskipun ia berkeringat, aroma tubuhnya yang wangi tercium olehku selama di perjalanan.
Kami tidak bicara selama di perjalanan. Akupun tidak tau harus bagaimana memulai sebuah percakapan.
-
"Baiklah kita sudah sampai, aku fikir aku harus sekalian mampir untuk mengambil kemejaku, karena besok aku harus menggunakanya..". Ucap Adrian mengehentikan sepedanya.
"Oh, iya sebentar biar aku buka pintu dulu dan mengambilnya.. kamu boleh duduk disini dulu sebentar, apakah kamu butuh minum..?". Tanyaku sambil berusaha membuka pintu.
"Aku fikir tidak usah repot-repot, aku akan segera pulang karena tubuhku teras gatal-gatal setelah bermain bola..". Ucapnya.
"Oh baiklah..". Sambil bergegas masuk dan mengambil kemejannya.
"Ini..". Sambil mengulurkan paperbag yang berisi kemeja Adrian.
Saat Adrian mengulurkan tangannya, Adrian tanpa sengaja menyentuh tanganku, dan segera melepasnya untuk mengambil paperbag yang aku berikan.
"Terimakasih, berapa semuanya..?". Tanya Adrian.
"Hanya memperbaiki 1 baju, aku fikir tidak perlu bayar karena kamu sudah mengantarkan aku pulang..". Jawabku.
"Kamu melakukan pekerjaan, jadi aku harus tetap membayar..". Sambil menyodorkan sejumlah uang ke tanganku.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. lain kali jika aku butuh bantuan dengan pakaianku, aku akan kembali kesini..". Ucap Adrian, lalu mulai berpaling dan segera menghampiri sepedanya.
"Adrian.. Terimakasih..". Ucapku sedikit berteriak sebelum Adrian pergi.
Adrian hanya tersenyum ramah, sambil mulai mengayuh sepedanya.
Dan akupun masuk kedalam dan segera bergegas membersihkan diri, lalu pergi beristirahat..
Sungguh menyenangkan..