Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Gaun Pilihan
Keesokan paginya, Aira sedang duduk di ruang tengah ketika Arga menghampirinya.
"Nona Aira, Nyonya Siska sudah tiba bersama beberapa perancang busana."
Aira meletakkan ponselnya, lalu berdiri.
"Baik, Pak Arga. Saya akan menemui beliau."
Tidak lama kemudian, Siska memasuki penthouse bersama tiga orang perancang busana. Aira menyambutnya dengan sopan.
"Selamat pagi, Bu."
Siska mengangguk singkat
"Kalau begitu, mari kita mulai. Waktunya tidak banyak."
Siska kemudian menoleh kepada Aira.
"Ikutlah. Kita harus memastikan pakaianmu selesai sebelum acara berlangsung."
"Baik, Bu."
Aira mengikuti mereka menuju ruangan yang telah disiapkan Arga. Beberapa rancangan gaun sudah dibawa untuk dipertimbangkan.
Salah seorang perancang busana mulai memperlihatkan pilihan yang menurutnya sesuai untuk acara peringatan ulang tahun Mahendra Group.
"Bagaimana kalau rancangan ini, Bu?"
Ia menunjukkan sebuah gaun berwarna biru navy dengan sulaman perak.
Siska mengamati rancangan tersebut sejenak.
"Yang ini cukup baik. Warnanya elegan dan tidak terlalu mencolok."
Ia kemudian menoleh kepada Aira.
"Bagaimana menurutmu?"
Aira memperhatikan gaun itu.
"Saya rasa bagus, Bu."
"Kalau begitu, gunakan rancangan ini. Pastikan ukurannya sesuai dan selesai tepat waktu."
"Baik, Bu."
Para perancang busana mulai melakukan pengukuran, sementara Siska sesekali memeriksa detail rancangan yang telah dipilih.
Setelah semuanya selesai, para perancang busana membereskan perlengkapan mereka. Siska meminta mereka menunggu di luar karena ingin berbicara dengan Aira.
Begitu mereka pergi, Siska duduk di salah satu kursi dan menatap menantunya.
"Ada beberapa hal yang perlu kamu pahami sebelum menghadiri acara minggu depan."
Aira berdiri di hadapannya.
"Silakan, Bu."
"Acara itu akan dihadiri keluarga besar Mahendra, para pemegang saham, dan orang-orang yang memiliki kepentingan dalam perusahaan. Kehadiranmu tentu akan menarik perhatian."
Aira mendengarkan tanpa menyela.
Siska melanjutkan dengan nada dingin, "Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk berdiri di tengah keluarga Mahendra. Jadi, sebaiknya kamu memahami posisi yang sekarang kamu tempati."
"Saya mengerti, Bu."
"Aku tidak ingin ada hal yang mempermalukan keluarga selama acara berlangsung."
Siska merapikan ujung lengan bajunya sebelum kembali berbicara.
"Ada orang-orang yang akan memperhatikan setiap gerak-gerikmu. Jangan sampai keberadaanmu justru memberikan alasan bagi mereka untuk mempertanyakan keputusan Devan."
Aira teringat kejadian dalam jamuan makan malam sebelumnya, ketika beberapa tamu mempertanyakan latar belakangnya dan melontarkan sindiran.
"Apakah Paman Hadi juga akan hadir, Bu?" tanyanya.
"Tentu saja. Dia bagian dari keluarga ini."
Siska menatap Aira lekat-lekat.
"Namun, kamu harus memahami bahwa tidak semua orang di keluarga ini memiliki kepentingan yang sama dengan Devan."
Aira mulai memahami maksud perkataan ibu mertuanya.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Bu?"
"Jalankan peranmu dengan baik. Jangan memberikan celah kepada siapa pun untuk menggunakan dirimu sebagai bahan pembicaraan."
Siska berdiri dan meraih tasnya.
"Aku sudah menyampaikan apa yang perlu kamu ketahui. Selebihnya, kamu seharusnya bisa memahami sendiri bagaimana bersikap di hadapan orang-orang yang akan hadir nanti."
Aira mengangguk.
"Baik, Bu. Saya akan berusaha menjalankan semuanya dengan baik."
Siska tidak menanggapi. Ia meninggalkan ruangan bersama para perancang busana.
Aira kembali duduk. Peringatan Siska mengenai Hadi membuatnya teringat pada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pria itu dalam acara sebelumnya.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan, tetapi kali ini ia ingin lebih siap menghadapinya.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Malam harinya, Devan kembali ke penthouse setelah menyelesaikan urusan di kantor.
Ia baru saja meletakkan jasnya ketika melihat Aira duduk di ruang tengah.
"Ibu datang tadi?" tanyanya.
Aira mengangguk.
"Iya, Mas Devan. Beliau datang bersama beberapa perancang busana."
"Bagaimana persiapannya?"
"Gaunnya sudah dipilih. Mereka akan menyelesaikan sisanya sebelum acara berlangsung."
Devan mengangguk singkat.
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada, Mas Devan. Semuanya berjalan lancar."
Devan memperhatikan Aira sejenak. Perempuan itu terlihat lebih diam daripada biasanya.
"Apa Ibu mengatakan sesuatu kepadamu?"
Aira terdiam sesaat.
"Beliau hanya mengingatkan agar aku menjaga sikap selama acara nanti."
Devan tidak langsung menanggapi. Ia sudah mengenal sifat ibunya yang selalu memperhatikan nama baik keluarga dan sulit menerima orang yang dianggapnya tidak pantas berada di lingkungan Mahendra.
"Kalau begitu, ikuti saja persiapannya. Pastikan semuanya selesai tepat waktu."
"Baik, Mas Devan."
Percakapan mereka berhenti. Devan mengambil ponselnya untuk memeriksa beberapa pesan pekerjaan, sementara Aira kembali memperhatikan layar ponselnya.
Aira tidak berniat menceritakan semua perkataan Siska. Ia tahu hubungan ibu dan anak itu bukan urusannya untuk diperkeruh.
Namun, ia tidak bisa mengabaikan satu hal, acara minggu depan mungkin akan kembali menempatkannya di tengah perhatian keluarga Mahendra.
Ia hanya berharap bisa menjalankan perannya dengan baik tanpa memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk merendahkannya.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,