Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Langgur merdeka
BAB 20 - LANGGUR MERDEKA
Pagi setelah malam peti emas menelan lima maling itu, Langgur terasa berbeda. Matahari terbit dari laut seperti biasanya, ayam berkokok seperti biasanya, tapi ada sesuatu yang berbeda di udara, udara terasa lebih ringan, seperti beban 80 tahun yang menekan desa itu akhirnya terangkat.
Tanah di bawah pohon mangga raksasa sudah rata kembali, tidak ada bekas lubang, tidak ada bekas peti. Pohon mangga itu sekarang berdiri tegak, daunnya rimbun hijau mengkilap, batangnya besar dan kuat, dan di batangnya tidak ada lagi air mata atau getah hitam, hanya ada ukiran baru yang muncul sendiri di kulit pohon, ukiran lima lingkaran kecil melingkar, seperti tanda bahwa di bawahnya sekarang ada lima penjaga baru.
Warga Langgur yang semalam pingsan karena ketakutan, pagi ini bangun dengan wajah bingung, seperti habis mimpi buruk yang panjang. Pak RT Unus yang jatuh didorong maling, tangannya lecet tapi dia tertawa.
"Kita masih hidup! Langgur masih ada!"
Mama Ino yang demamnya sembuh total pagi itu, memasak papeda paling banyak dalam hidupnya dan membagikan ke semua warga di bawah pohon mangga raksasa. Itu syukuran kemenangan di Ambon dan selamat dari maling emas.
Anak-anak bermain petak umpet di sekitar pohon mangga itu lagi, tidak takut lagi, karena pohon itu sekarang terasa hangat dan melindungi, bukan menakutkan.
Hanya Ara yang masih duduk di bawah pohon itu, memeluk jaket hitam Revan yang sekarang sudah bersih dan wangi bunga mangga. Di sampingnya ada pecahan batu hitam yang sudah jadi debu emas kemarin, masih ada sedikit debu emas itu di tanah.
Jali datang membawa dua piring papeda dan duduk di samping Ara.
"Ara, kamu kenapa diam saja? Kita menang, harusnya senang," kata Jali sambil memberikan piring papeda itu.
Ara tersenyum pelan, tapi matanya berkaca-kaca. "Aku senang, Jali. Langgur merdeka. Tapi aku sedih, karena aku tahu, ini saatnya Revan pergi."
Jali diam, tidak tahu harus bilang apa. Dia tahu hubungan Ara dan Revan bukan hubungan biasa, itu hubungan antara yang hidup dan yang mati yang saling jaga.
Tepat jam dua belas siang, saat matahari tepat di atas pohon mangga raksasa dan bayangannya tidak ada, angin bertiup pelan dari arah laut, membawa bau garam dan bau bunga mangga.
Debu emas di tanah di samping Ara tiba-tiba beterbangan, membentuk pusaran kecil, dan dari pusaran debu emas itu, Revan muncul untuk terakhir kalinya.
Kali ini Revan tidak muncul sebagai hantu pucat atau asap putih, tapi sebagai Revan yang utuh, seperti manusia biasa, dengan senyumnya yang dulu, dengan jaket hitamnya yang bersih, dengan luka di kepalanya yang sudah sembuh, tidak berdarah lagi.
Ara langsung berdiri, air matanya jatuh.
"Van..."
Revan tersenyum dan mengulurkan tangannya, tapi tangannya tidak bisa menyentuh Ara, hanya bisa lewat seperti angin.
"Ra, aku harus pergi sekarang. Tugasku sudah selesai. Tanah Langgur sudah merdeka dari Pak Hendra, dari Dion, dari maling Singapura, dan dari kutukan Belanda. Pohon ini sudah punya penjaga baru, jadi aku tidak perlu jaga lagi."
Ara menggeleng sambil menangis. "Jangan pergi, Van. Tinggal di sini saja. Jaga aku. Jaga Langgur."
Revan menggeleng pelan, masih dengan senyumnya.
"Aku sudah mati, Ra. Orang mati tidak boleh lama-lama di dunia orang hidup. Nanti kamu tidak bisa move on, nanti Langgur tidak bisa maju kalau masih dijaga hantu terus. Langgur harus dijaga sama orang hidup sekarang, sama kamu, sama Jali, sama Pak RT, sama semua warga."
Revan menoleh ke arah pohon mangga raksasa dan menyentuh batangnya. Saat disentuh Revan, ukiran lima lingkaran kecil di batang pohon itu menyala emas sebentar, lalu padam lagi.
"Lima penjaga baru di bawah itu akan jaga Langgur selama 80 tahun ke depan, Ra. Mereka bukan hantu jahat, mereka penjaga yang kenyang. Selama warga Langgur tidak serakah dan tidak buka peti itu lagi, Langgur akan aman."
Revan kembali menatap Ara, matanya juga berkaca-kaca, tapi dia hantu, jadi air matanya tidak jatuh, hanya berkilau.
"Terima kasih, Ra. Karena kamu satu-satunya yang bisa lihat aku, satu-satunya yang percaya sama aku, satu-satunya yang berani pakai jaketku yang bau tanah itu."
Ara tertawa sambil menangis, ingat pertama kali dia menemukan jaket hitam itu di bawah pohon mangga raksasa waktu masih kecil.
"Jaketmu wangi sekarang, Van. Wangi bunga mangga."
Revan tertawa juga, tawa yang dulu sering didengar Ara waktu Revan masih hidup dan main bersama di bawah pohon ini.
"Jaga jaket itu, Ra. Kalau kamu kangen aku, pakai jaket itu dan duduk di bawah pohon ini, aku akan datang di mimpi kamu."
Angin bertiup lebih kencang, debu emas di tanah beterbangan lebih tinggi, tubuh Revan mulai memudar, mulai jadi transparan, mulai jadi cahaya.
"VAN! JANGAN!" teriak Ara, mau memeluk, tapi pelukannya hanya memeluk angin.
Cahaya tubuh Revan naik ke atas, masuk ke daun-daun pohon mangga raksasa, dan daun-daun itu bergetar dan mengeluarkan bunga mangga yang sangat banyak, bunga mangga putih yang harum, jatuh seperti hujan di atas kepala Ara.
Hujan bunga mangga. Di Langgur yang sudah lama tidak ada hujan bunga, hari itu hujan bunga mangga turun hanya untuk Ara.
Warga yang melihat hujan bunga itu dari balai desa, berlari mendekat dan ikut menangkap bunga-bunga itu sambil tertawa dan menangis, mereka tahu itu salam perpisahan dari penjaga lama Langgur.
Setelah hujan bunga selesai, Revan sudah tidak ada. Hanya ada jaket hitam di tangan Ara yang sekarang terasa lebih berat, karena di saku jaket itu ada sesuatu.
Ara merogoh saku jaket itu dan menemukan sebuah batu kecil, batu hitam kecil yang halus, sebesar kelereng, masih hangat, dengan ukiran huruf R dan A di atasnya, Revan dan Ara.
Itu hadiah terakhir dari Revan.
Jali yang melihat Ara menangis sambil memegang batu kecil itu, memeluk Ara dari samping pelan.
"Sudah, Ara. Dia sudah tenang sekarang. Dia sudah di tempat yang lebih baik."
Ara mengangguk sambil mengusap air matanya dan menggenggam batu kecil itu erat.
Sore harinya, seluruh warga Langgur berkumpul di bawah pohon mangga raksasa untuk selamatan besar. Mereka potong ayam, mereka bakar ikan, mereka doa bersama. Pak RT Unus berdiri di depan pohon dan berkata dengan suara lantang.
"MULAI HARI INI, TANAH LANGGUR ADALAH TANAH MERDEKA! TIDAK ADA LAGI YANG BISA BELI! TIDAK ADA LAGI YANG BISA BAKAR! KITA JAGA SAMA-SAMA! DAN POHON INI, POHON MANGGA RAKSASA INI, KITA KASIH NAMA BARU, NAMA NYA POHON REVAN! UNTUK INGAT PENJAGA KITA!"
Semua warga bersorak, "POHON REVAN! POHON REVAN! LANGGUR MERDEKA!"
Ara yang duduk di bawah Pohon Revan itu, memandang ke arah laut, ke arah matahari terbenam yang merah jingga, sambil memegang batu kecil R dan A di tangannya dan memakai jaket hitam yang wangi bunga mangga.
Di kejauhan, di atas laut, dia melihat sekilas bayangan Revan melambaikan tangan dari atas ombak, lalu menghilang bersama matahari terbenam.
Ara melambaikan tangan balik.
"Dadah, Van. Sampai ketemu di mimpi."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Langgur tidur nyenyak tanpa teror, tanpa takut rumah dibakar, tanpa takut tanah diambil. Hanya ada suara ombak dan suara jangkrik, dan di bawah Pohon Revan, lima penjaga baru tertidur pulas menjaga emas Belanda yang tidak akan pernah diambil lagi.
Season 2 selesai.
TAPI, di dalam penjara Polda Ambon, Dion yang diborgol, duduk di selnya yang gelap, tiba-tiba tertawa sendiri sambil menatap ke dinding selnya yang ada tulisan dengan darah, tulisan itu berbunyi, "EMAS ITU BELUM SELESAI, DION AKAN KEMBALI."
Dion tertawa semakin keras, matanya merah lagi, seperti kesurupan lagi, tapi kali ini bukan kesurupan Revan.
-END OF SEASON 2-