"A...aku hanya ingin kamu bahagia, menikahlah dengannya. Aku bersedia berpisah..."
Tatapan suaminya yang pada awalnya penuh amarah menjadi penuh rasa iba."Aku rasa tunjangan perlu di revisi."
"Dia muda dan cantik, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Hanya saja foto pernikahan boleh untukku? Aku hanya ingin mengenang saat kita susah dan senang bersama-sama."
Sang suami kembali tertegun, menelan ludahnya."Aku akan menambahkan satu villa lagi dalam pembagian harta nanti."
Sementara putranya, berbisik kepada ibunya."Bagus ibu, manipulasi rasa bersalah Ayah. Agar kita mendapatkan lebih banyak hartanya lagi."
***
Ayu Ningsih merupakan istri sekaligus ibu rumah tangga yang baik. Memiliki seorang putra yang begitu cerdas.
Suaminya datang, mengatakan bahwa selingkuhannya hamil dan ingin menceraikan istrinya.
Ayu Ningsih, pada awalnya marah, tapi putranya memberikan gagasan yang lebih bagus."Cerai Boleh! Harta Harus!"
Ibu dan anak yang ingin memiskinkan pasangan selingkuh itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pujaan Hati
Sementara Dani masih di rumah sakit saat ini. Usai menandatangani surat persetujuan operasi. Dirinya menunggu di depan ruangan dengan cemas.
Jujur saja fisiknya begitu lelah, masalah bertubi-tubi datang. Dimulai dari masalah perusahaan di mana Arkan Jovanka menarik seluruh investasinya. Semuanya dapat diatasi oleh Dani. Tapi sekali lagi, mencari investor bukan hal yang mudah. Asetnya yang lain juga tidak dapat dijual begitu saja dengan cepat.
Dan sekarang masalah ibunya…
Menjambak rambutnya sendiri. Biasanya di saat-saat seperti ini, Ayu yang akan pergi ke rumah sakit. Menyuruhnya untuk lebih konsentrasi di kantor saja. Ibu biar Ayu yang mengurus.
Tapi sekarang Ayu sudah tidak ada, Siska menyuruhnya untuk menyerahkan semuanya pada dokter dan perawat.
Banyak pertimbangan dalam benaknya. Apa keputusannya untuk menceraikan Ayu salah? Apa dirinya benar-benar masih memerlukan Ayu?
Tidak! Keputusannya untuk menceraikan Ayu adalah keputusan yang benar. Memang lebih baik berpisah dengan Ayu. Pria yang tetap menunggu ibunya di depan ruang operasi. Sama sekali tidak tidur, lingkaran hitam terlihat di matanya.
Berusaha menghubungi Siska beberapa kali. Hanya untuk menyuruh Siska menggantikannya menjaga sang Ibu beberapa jam saja. Tapi sialnya panggilannya tidak terjawab.
Pada akhirnya, Dian keluar dari ruang operasi. Tempat tidur yang didorong oleh beberapa perawat menuju ruang rawat inap.
Seorang dokter melepas maskernya. “Operasinya berhasil, kondisi darurat sudah ditangani.”
“Terima kasih dok…” pada akhirnya Dani berjalan, mengikuti tempat ibunya akan dirawat.
Ruang rawat kelas 1 yang lumayan mahal. Dirinya duduk di sana melihat ibunya yang belum sadarkan diri. Hingga sinar matahari menyilaukan matanya, hanya tertidur beberapa menit.
Suara Dian membangunkannya. “Dani! Dani…ibu pipis…”
Dani segera bangkit dari tempatnya duduk. Dengan cepat memanggil perawat, untuk mengganti popok dewasa yang digunakan oleh ibunya.
Dirinya hanya diam penuh rasa jijik. Mengamati bagaimana perawat melakukannya.
“Pak…di mana istrinya?” Tanya salah seorang perawat.
“Anak saya mau bercerai, istrinya tidak becus.” Dian menjawab begitu acuh.
“Oh…maaf kalau begitu. Biasanya Bu Ayu sendiri yang mengganti pampersnya. Mungkin bapak bisa belajar, supaya nanti kalau sudah dirawat di rumah lebih gampang…” ucap sang perawat.
“Saya sudah punya calon menantu baru. Dia itu sarjana…” pandangan mata Dian kini tertuju pada putranya. “Dani, di mana Siska? Kenapa dia belum datang?” Tanyanya pada akhirnya.
Dani mendekati ibunya. Memegang jemari tangannya sembari berucap. “Siska sedang hamil muda, takutnya kalau bulak balik ke rumah sakit, dia bisa kenapa-napa.”
“Ayo saja waktu hamil tetap menemani Ibu yang sakit di rumah. Bahkan bisa keliling berjualan jamu. Ini baru hamil saja sudah manja…melayani ibu mertua adalah kewajiban menantu. Sebaiknya kamu ajari Siska supaya jadi lebih penurut.” Ucap Dian mengomel.
“I…iya…aku akan menyuruhnya supaya lebih perhatian pada ibu. Nanti dia akan menjenguk ibu ke rumah sakit, Ibu istirahat yang tenang ya.” Janji kosong yang diucapkan oleh Dani. Sebenarnya dirinya juga tidak yakin Siska akan bersedia untuk datang.
Apa benar yang dikatakan oleh Siska? Apa benar lebih baik menyewa perawat saja?
“Ibu…ini sudah siang. Aku mau berangkat ke kantor dulu, nanti biar aku sewakan perawat untuk menjaga ibu.” Ucap Dani menatap ke arah jam tangannya.
“Tidak mau! Kamu harus temani Ibu di rumah sakit, walaupun ada perawat, ibu selalu takut sendirian. Apalagi Ibu baru selesai operasi, masa kamu menyerahkan semuanya pada perawat. Di mana baktimu sebagai anak!?” Dian menatap tidak terima pada putranya.
Pada akhirnya Dani kembali duduk, meraih bubur yang ada di atas meja. Mulai berusaha menyuapi ibunya.
“Ibu makan ya? Nanti jam 09.00 aku ada rapat. Perusahaan sedang ada masalah kecil sekarang.” Namun ketika menyuapi Dian, wanita tua itu mengernyit.
“Rasa bubur rumah sakit tidak enak. Kamu minta Siska buatkan sup iga untuk ibu. Jangan pakai seledri dan daun ketumbar. Dimasaknya harus benar-benar matang.” Perintah Dian kepada putranya, mengalihkan pandangan tidak mau makan.
“Tapi Ibu…ibu makan bubur rumah sakit dulu ya? Kalau aku menunggu Siska membuatkan sup iga, aku harus segera berangkat bekerja. Ada rapat—”
“Kamu itu CEO, kamu itu pemilik perusahaan. Kamu bisa datang kapan saja, menemani Ibu beberapa hari di rumah sakit sebagai wujud baktimu, tidak ada yang salah kan!? Kamu harus ingat, Bagaimana Ibu seorang diri membesarkanmu dari kecil hingga dewasa. Bagaimana Ibu menggendongmu ke Puskesmas saat kamu sedang sakit. Dan sekarang setelah Ibu operasi kamu tidak mau menemani!?” Wanita yang menatap ke arah putranya penuh rasa emosional.
Jika dulu…jika dulu sudah pasti Ayu yang akan maju. Walaupun Dian masih kesal dan marah, tapi Ayu akan berusaha keras untuk menenangkannya. Membuatkan sup iga, mengurus Ibu mertuanya dengan baik.
Tidak peduli dimarahi atau bagaimanapun. Ayu akan tetap berusaha membujuk Dian, mengatakan Dani terlalu sibuk di perusahaan, itu juga untuk kebaikan mereka. Tapi sekarang tidak…tidak ada Ayu yang mendamaikan keperluan bisnisnya, dan keperluan baktinya kepada sang ibu.
“Maafkan aku ibu…Bagaimana kalau aku menyuruh Siska saja yang ke sini. Dia adalah menantumu, Siska pasti akan mengurus ibu dengan baik.” Ucap Dani antusias, dirinya benar-benar harus ke kantor hari ini. Bertemu dengan investor baru yang kemarin dihubungi olehnya.
“Kalau begitu suruh dia bawakan sop iga sekalian.” Sang Ibu menatap sengit.
Dani mencoba menghubungi pujaan hatinya beberapa kali. Tapi telepon sama sekali tidak diangkat, hingga pada akhirnya, beberapa menit kemudian baru panggilan tersebut dijawab.