Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Direktur yang Aneh
Pagi itu terasa… berbeda.
Bukan karena hujan atau macet di jalan. Bukan karena AC yang tiba-tiba lebih dingin. Tapi ada sesuatu di udara kantor PT Arunika Jaya yang membuat Fajar merasa sedikit gelisah sejak dia menaruh tas di meja.
Dia baru saja duduk dan menyalakan komputer ketika Bayu tiba-tiba menarik kursinya mendekat. Wajah sahabatnya itu serius, terlalu serius untuk ukuran Bayu yang biasanya cuma bisa bercanda.
“Fajar…” bisik Bayu pelan, hampir seperti mata-mata.
“Apa?” tanya Fajar sambil menunggu komputer menyala.
Bayu menoleh ke kiri dan kanan dulu, memastikan tidak ada yang mendengar, baru berkata,
“Lo ngerasa gak… direktur akhir-akhir ini aneh?”
Fajar mengernyit. “Aneh gimana?”
Bayu menirukan gaya bicara formal sambil menegakkan punggung.
“‘Selamat pagi, kerja yang baik.’ BRO. Dia bilang selamat pagi. Ke gue. Langsung. Tanpa tatapan membunuh.”
Fajar langsung berhenti mengetik. Jari-jarinya masih di atas keyboard, tapi tidak bergerak.
“…serius?”
“Gue sampe merinding,” lanjut Bayu, matanya membelalak. “Biasanya kan dia cuma bilang ‘kerjakan’ atau ‘jangan terlambat’. Sekarang malah bilang ‘selamat pagi’. Gue kira lagi mimpi.”
Fajar tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap layar komputernya yang sudah menyala, tapi pikirannya sudah melayang ke ruang direktur di lantai atas. Sejak kejadian surat merah muda itu, banyak hal yang terasa bergeser. Pelan, tapi jelas.
Sementara itu, di ruang direktur, Kirana sedang menatap cermin kecil yang biasanya dia simpan di laci untuk memeriksa penampilan sebelum meeting. Hari ini dia tidak sedang bersiap untuk meeting. Dia hanya… menatap dirinya sendiri.
“Selamat pagi… terlalu ramah,” gumamnya pelan.
Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.
“Fokus kerja, Kirana.”
Tapi tangannya tanpa sadar membuka laci paling atas. Gerakannya pelan, seolah dia sendiri tidak ingin ketahuan. Di dalam laci itu, di antara beberapa pulpen dan sticky note, ada selembar kertas yang sudah dia lipat rapi.
Surat merah muda itu.
Kirana mengambilnya perlahan. Jari-jarinya menyusuri lipatan kertas, lalu membuka kembali tulisan yang sudah dia hafal di luar kepala.
“‘Untukmu yang selalu terlihat kuat…’”
Pipinya sedikit memerah. Dia menutup surat itu lagi dengan cepat, seolah takut seseorang akan masuk dan melihat.
“Kenapa kalimat ini… terus teringat?” bisiknya.
Dia meletakkan surat itu kembali ke dalam laci, lalu menatap layar laptopnya. Tapi fokusnya tidak sepenuhnya di sana. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Hangat. Aneh. Dan sedikit menakutkan.
Siang hari, panggilan itu datang lagi.
Sinta menghampiri meja Fajar dengan langkah yang biasa, tapi senyum tipis di wajahnya membuat Fajar langsung tegang.
“Pak Fajar, direktur ingin bertemu,” kata Sinta.
Fajar langsung panik. Kursinya hampir bergeser ke belakang.
“Lagi?! Gue salah apa lagi?!”
Sinta tersenyum tipis, kali ini lebih jelas.
“Saya rasa… bukan kesalahan.”
Fajar menelan ludah. Dia berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar, lalu mengikuti Sinta menuju ruang direktur. Sepanjang jalan, dia mencoba mengingat-ingat apakah ada laporan yang belum selesai, atau email yang belum dibalas. Tidak ada. Semuanya sudah beres. Jadi… kenapa dipanggil lagi?
Di dalam ruangan, Kirana duduk tenang di kursinya. Tapi jarinya mengetuk meja pelan. Ketukan yang tidak berirama, seolah dia sedang menahan sesuatu.
“Silakan duduk,” katanya ketika Fajar masuk.
“I-iya, Bu Direktur.”
Fajar duduk di kursi yang sama seperti beberapa hari lalu. Punggungnya kaku. Tangannya digenggam di pangkuan.
Kirana menatapnya beberapa detik sebelum berbicara.
“Bagaimana perkembangan laporan Anda?”
Fajar langsung gugup. Suaranya sedikit naik.
“Sudah selesai! Kali ini… benar-benar laporan! Bukan yang lain!”
Kirana hampir tersenyum. Sudut bibirnya sempat terangkat, tapi dia menahannya dengan cepat. Dia hanya mengangguk.
“Bagus.”
Hening.
Keheningan itu terasa aneh. Biasanya, setelah mendengar laporan, Kirana akan langsung bilang “Anda boleh keluar” atau memberikan instruksi tambahan. Tapi sekarang dia hanya duduk diam, menatap Fajar seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Fajar mulai merasa tidak nyaman. Dia menggeser posisi duduknya pelan-pelan.
“Pak Fajar,” panggil Kirana lagi.
“Iya?”
Kirana menatapnya lurus. Matanya tidak setajam biasanya. Ada sesuatu yang lebih lembut di baliknya.
“Jika seseorang… tidak pernah merasakan cinta sebelumnya…”
Fajar mengangkat alis. Dia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut direktur.
“Eee… maksudnya?”
Kirana menarik napas pelan, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
“Apakah… dia terlambat?”
Fajar mikir sebentar. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi terasa berat. Dia menatap Kirana, mencoba membaca apa yang sebenarnya ingin ditanyakan.
“Menurut saya… enggak sih,” jawabnya pelan.
“Kenapa?”
Fajar menggaruk tengkuknya, lalu menjawab dengan jujur.
“Karena… perasaan itu datangnya gak pakai jadwal, Bu. Kadang datang di waktu yang aneh. Kadang datang pas kita lagi nggak siap. Tapi bukan berarti terlambat.”
Kirana terdiam. Jawaban itu membuat dadanya terasa hangat. Hangat yang aneh, yang membuatnya ingin menunduk tapi dia menahan diri. Dia hanya mengangguk kecil.
“Saya mengerti.”
Tidak ada yang berkata-kata lagi setelah itu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang tidak lagi terasa menekan. Lalu Kirana bilang pelan,
“Anda boleh kembali bekerja.”
Fajar berdiri, membungkuk sedikit, lalu keluar dari ruangan dengan langkah yang masih sedikit kaku.
Di luar ruangan, Sinta berdiri sambil menyilangkan tangan. Wajahnya serius. Dia sudah menunggu sejak Fajar masuk.
“Sudah 15 menit…” gumamnya.
Bayu yang kebetulan lewat mendekat, wajahnya penasaran.
“Biasanya 2 menit udah keluar sambil trauma. Ini lama banget.”
Sinta menatap pintu ruang direktur.
“Ada yang berubah,” katanya pelan.
Saat Fajar keluar, wajahnya bingung. Bukan takut. Bukan lega. Hanya… bingung.
“Bayu… gue ditanya soal cinta lagi,” katanya langsung.
Bayu langsung melongo. Mulutnya terbuka lebar.
“INI FIX BUKAN DIREKTUR YANG SAMA.”
Sinta mendekati Fajar. Matanya tajam, tapi tidak menuduh.
“Pak Fajar… boleh saya tanya sesuatu?”
“Iya, Kak?”
Sinta menatapnya lurus.
“Surat waktu itu… untuk siapa sebenarnya?”
Fajar langsung salah tingkah. Pipinya memanas. Dia menggaruk kepala, menghindari tatapan Sinta.
“Itu… rahasia…”
Sinta tersenyum kecil. Senyum yang penuh arti.
“Begitu ya…”
Dia tidak bertanya lebih jauh. Hanya mengangguk, lalu kembali ke mejanya. Tapi dalam hati, satu pikiran terus berputar:
Jangan-jangan… Bu Direktur…
Dan di balik pintu ruang direktur, Kirana masih duduk di kursinya. Tangannya kembali membuka laci. Surat merah muda itu masih di sana. Dia menatapnya lama, lalu menutup laci pelan-pelan.
Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa takut dengan perasaan yang mulai tumbuh di dadanya.
Dia hanya… membiarkannya ada. Dan di luar jendela, matahari siang perlahan bergeser, seolah ikut menyaksikan perubahan kecil yang mulai terjadi di dalam ruangan itu. Kirana menyandarkan punggungnya, membiarkan keheningan mengisi ruang untuk beberapa saat lebih lama.