Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Kemenangan yang Menggemparkan
Bab 29 — Kemenangan yang Menggemparkan
Keheningan masih menyelimuti arena ketika Tian Yuan terbaring tak sadarkan diri.
Para murid wilayah dalam yang sebelumnya menonton dengan santai kini memandang arena dengan wajah kaku. Seolah mereka membutuhkan waktu untuk menerima apa yang baru saja terjadi.
Seorang murid wilayah luar telah mengalahkan murid wilayah dalam.
Lebih mengejutkan lagi, Su Yun baru berada di tahap kedelapan Alam Murid Roh, sedangkan Tian Yuan telah mencapai Alam Roh Sejati.
“Peserta nomor 998... menang!”
Juri akhirnya mengumumkan hasil pertandingan setelah sempat terdiam beberapa saat.
Suasana langsung meledak.
“Tian Yuan benar-benar kalah?”
“Bagaimana mungkin? Lawannya hanya murid wilayah luar!”
“Perhatikan serangan terakhir mereka. Su Yun mengacaukan aliran energi spiritual Tian Yuan ketika telapak mereka bertabrakan.”
Perdebatan segera menyebar.
Ada yang menganggap kemenangan Su Yun sekadar keberuntungan. Namun beberapa murid yang lebih berpengalaman menyadari bahwa pertandingan tadi tidak sesederhana itu.
Su Yun memang kalah dalam tingkat kultivasi.
Namun ia menang dalam membaca kesempatan.
“Dia melawan seseorang yang satu alam di atasnya dan tetap menang. Bagaimanapun caranya, itu tetap mengerikan.”
Seorang murid wilayah dalam menghela napas.
“Tian Yuan mungkin akan mengingat kekalahan ini sepanjang hidupnya.”
Petugas segera membawa Tian Yuan menuju tempat perawatan Keluarga Su. Sementara itu, kabar tentang kemenangan Su Yun menyebar ke seluruh alun-alun turnamen.
Awalnya banyak yang tidak percaya.
“Su Yun mengalahkan murid wilayah dalam?”
“Jangan bercanda!”
“Bukankah dia hanya tahap keenam Alam Murid Roh?”
“Itu rumor lama.”
Ketika hasil pertandingan diperiksa, mereka akhirnya terdiam.
Nama Su Yun benar-benar tercatat sebagai pemenang.
Untuk pertama kalinya, orang-orang mulai membicarakannya bukan sebagai sampah yang pernah terlempar dari wilayah dalam, melainkan sebagai seseorang yang mungkin selama ini mereka salah menilai.
Qian Ge berdiri tidak jauh dari arena bersama seorang pemuda berambut panjang.
Berbeda dengan kebanyakan penonton yang hanya terpukau oleh hasil akhirnya, Qian Ge memperhatikan seluruh pertarungan sejak awal.
“Hebat,” gumamnya.
Pemuda di sampingnya tersenyum. “Kakak Senior pasti bisa melakukan yang lebih baik.”
“Belum tentu.”
Jawaban itu membuat pemuda tersebut terkejut.
Qian Ge menjelaskan, “Aku sudah berada di Alam Roh Sejati. Kalau aku mengalahkan Tian Yuan, tidak ada yang istimewa. Namun Su Yun baru tahap kedelapan Alam Murid Roh.”
“Jadi Kakak Senior menganggapnya berbahaya?”
“Bukan hanya karena kekuatannya.”
Qian Ge menatap arena yang telah kosong.
“Su Yun tahu dia tidak mungkin menang jika bertarung terlalu lama. Karena itu sejak awal dia mencari kesempatan mengganggu sirkulasi energi Tian Yuan.”
Ia mengangkat telapak tangannya.
“Ketika Tian Yuan memusatkan energi spiritual pada tangannya, meridian di sana menerima tekanan besar. Su Yun sengaja memancingnya sampai kesempatan itu muncul.”
Pemuda berambut panjang mulai memahami.
“Serangan terakhir itu jebakan?”
“Benar. Su Yun memadatkan energi spiritual menjadi tipis dan tajam, lalu menyerang meridian ketika keduanya bertabrakan. Begitu meridian Tian Yuan terluka, aliran energi dari Dantiannya menjadi kacau. Sejak saat itu, kekalahannya sudah ditentukan.”
Pemuda itu terdiam.
Qian Ge tersenyum tipis.
“Jangan pernah menilai kultivator hanya berdasarkan tingkat kultivasi. Pengalaman dan kecerdikan terkadang sama mematikannya dengan kekuatan.”
Ada satu hal yang tidak ia katakan.
Cara Su Yun bertarung terlalu matang untuk seorang pemuda seusianya.
Seolah ia telah mengalami jauh lebih banyak pertarungan daripada yang diketahui siapa pun.
Berakhirnya putaran tersebut memastikan peserta yang tersisa masuk dua ratus besar.
Artinya tujuan awal Su Yun sudah tercapai.
Ia memperoleh hak untuk memasuki wilayah dalam Keluarga Su.
Namun ketika menuju tempat istirahat, puluhan murid wilayah luar tiba-tiba mengerumuninya.
“Kakak Senior Su Yun!”
“Bagaimana kau mengalahkan Tian Yuan?”
“Aku dengar beberapa tetua wilayah dalam sudah menanyakan namamu!”
Seorang gadis bahkan bertanya dengan wajah memerah, “Kakak Senior Su Yun, apakah kau sudah memiliki pasangan kultivasi?”
Kerumunan langsung tertawa.
Su Yun hanya bisa mengusap pelipis.
Beberapa hari lalu, orang-orang mungkin masih menyebutnya sampah. Sekarang mereka berebut mendekatinya.
Ia menjawab seperlunya sebelum mencari kesempatan untuk pergi.
Tidak lama kemudian, Xin Yue kembali dari pertandingannya.
Beberapa luka terlihat di lengan dan bahunya. Wajah gadis itu juga tampak murung.
“Kalah?” tanya Su Yun.
Xin Yue mengangguk.
“Lawanku Xiao Xue, murid wilayah dalam. Aku sudah mencoba bertahan, tetapi perbedaannya terlalu besar.”
Su Yun tidak melihat keputusasaan dalam matanya, hanya kekecewaan.
“Tidak perlu terlalu dipikirkan. Ini turnamen pertamamu dan kau sudah mencapai sejauh ini.”
“Aku tetap kesal.”
“Kalau begitu simpan rasa kesal itu untuk latihan.”
Xin Yue menatapnya, lalu tertawa kecil.
“Kakak Su benar-benar tidak pandai menghibur orang.”
“Setidaknya kau sudah tersenyum.”
Setelah mengetahui bahwa Su Yun mengalahkan Tian Yuan, suasana hati Xin Yue langsung berubah.
“Kakak benar-benar mengalahkan kultivator Alam Roh Sejati?”
“Aku hanya menemukan kelemahannya.”
“Tetap saja Alam Roh Sejati!”
Malam itu, Xin Yue mengajak Su Yun pulang untuk merayakannya. Xing Yang yang masih memulihkan luka ikut bergabung.
Tidak ada pesta mewah.
Hanya makanan hangat dan percakapan sederhana di antara mereka bertiga.
Namun bagi Su Yun, malam seperti itu justru terasa berharga.
Sejak kembali ke kehidupan ini, terlalu banyak hal yang harus ia lakukan.
Sesekali menikmati ketenangan bukanlah sesuatu yang buruk.
Keesokan paginya, turnamen kembali berlangsung.
Ketika Su Yun tiba, tribun sudah penuh sesak. Jumlah murid wilayah dalam meningkat drastis, bahkan beberapa tetua Keluarga Su datang langsung untuk menyaksikan pertandingan.
Salah satunya adalah Shi Long.
Dua ratus peserta masih tersisa.
Namun hanya lima puluh yang akan melanjutkan.
Mereka yang berhasil masuk lima puluh besar akan memperoleh hadiah besar dan perhatian dari para tetua. Bagi banyak murid muda, kesempatan tersebut bisa mengubah masa depan mereka.
Dari dua ratus peserta, hanya enam belas berasal dari wilayah luar.
Jumlah itu sudah cukup menggambarkan jurang kekuatan antara kedua wilayah.
Su Yun duduk di tempat istirahat sambil menunggu.
Tak lama kemudian, lempengan nomornya menyala.
Arena Lima.
Nomor 998 melawan Nomor 17.
Su Yun bangkit.
Namun sebelum mencapai arena, sorakan besar terdengar dari kejauhan.
“Su Kuang!”
“Su Kuang, kalahkan dia!”
“Su Kuang! Kami mendukungmu!”
Langkah Su Yun melambat.
Ia mengangkat kepala.
Su Kuang sudah berdiri di arena.
Aura Alam Roh Sejati yang terpancar dari tubuhnya terasa jauh lebih stabil dibandingkan Tian Yuan.
Su Yun lalu melihat ke arah tribun.
Di sana, Su Dong Fang duduk dengan santai.
Ketika tatapan mereka bertemu, pria itu tersenyum.
Su Yun langsung memahami.
Pertandingan ini bukan kebetulan.
Perjanjian mereka sebulan lalu kembali terlintas dalam pikirannya.
Jika Su Yun mengalahkan Su Kuang, Su Dong Fang harus membayar lima puluh ribu koin roh.
Namun jika Su Yun kalah, ia harus memutuskan seluruh hubungannya dengan Qing Er.
Su Yun mengalihkan pandangannya kembali kepada Su Kuang.
Tidak ada kegugupan di wajahnya.
Sejak menerima taruhan tersebut, ia sudah tahu pertandingan ini cepat atau lambat akan datang.
Ia kemudian menaiki arena dengan langkah tenang.
Su Dong Fang akhirnya memainkan kartu yang selama ini disimpannya.
Dan Su Yun juga sudah menunggu kesempatan untuk menghancurkannya.
......................
Bersambung...