NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Tak lama kemudian, Dokter Samudera keluar dari ruang tindakan bersama seorang dokter lain. Wajahnya serius, tetapi suaranya tetap tenang.

“Jingga, kami sedang menstabilkan kondisi pasien. Gejalanya mengarah pada serangan jantung. Kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan dan memantau responsnya terhadap penanganan.”

Jingga mengangguk. “Apa kondisinya sangat berbahaya, Dok?”

“Serangan jantung selalu perlu ditangani serius. Kami sedang melakukan yang terbaik. Kamu sudah benar meminta bantuan secepatnya.”

Ucapan itu membuat bahu Jingga sedikit mengendur. Ia berterima kasih, lalu bertanya apakah ada sesuatu yang bisa ia bantu. Samudera memintanya menunggu sambil memastikan keluarga pasien segera dihubungi.

Jingga meraih ponselnya. Ia sempat memandang nama Rangga di daftar kontak, tetapi jarinya berhenti sebelum menekan tombol panggil. Ia tidak ingin berbicara dengan laki-laki itu, terlebih setelah semua yang terjadi. Namun, Rangga harus mengetahui keadaan mamanya.

Akhirnya, Jingga mengirim pesan singkat.

[Ibumu dibawa ke IGD. Kondisinya sedang ditangani. Segera datang ke rumah sakit.]

Setelah pesan terkirim, Jingga duduk di kursi lorong dan menunduk, mencoba mengatur napasnya sendiri.

Kurang dari dua puluh menit kemudian, Rangga muncul dengan langkah cepat. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya menunjukkan kecemasan yang belum pernah Jingga lihat sejak mereka berpisah. Begitu melihat Jingga, ia langsung menghampiri.

“Mama di mana?”

“Masih ditangani dokter.”

“Apa yang terjadi?” Rangga mencengkeram bahu Jingga, membuat perempuan itu segera menepis tangannya.

“Lepas.”

Rangga terdiam sesaat, lalu menahan emosinya. “Jingga, ini tentang Mama. Aku cuma mau tahu apa yang terjadi.”

“Tante datang menemuiku di rumah sakit. Kami berbicara, lalu kondisinya mendadak memburuk. Aku langsung meminta bantuan.”

“Apa kalian bertengkar?”

Jingga menatap pria itu dengan wajah lelah. “Ibumu menyalahkanku atas kematian anakku. Aku berusaha menjelaskan, lalu menunjukkan sesuatu yang seharusnya kamu sendiri tidak pernah lakukan.”

Wajah Rangga berubah. Ia tahu apa yang dimaksud Jingga. Video itu, bukti ciumannya dengan Dira.

“Kamu memperlihatkan video itu kepada Mama?” tanyanya, suaranya merendah.

“Dia menuduhku berbohong ketika kubilang kamu berselingkuh. Aku hanya menunjukkan bukti.”

Rangga mengusap wajah dengan kedua tangan. Kecemasan terhadap keadaan mamanya bercampur dengan ketakutan bahwa rahasianya kini benar-benar terbongkar. “Kamu tidak seharusnya melakukan itu saat emosimu sedang tinggi, Jingga!"

Jingga menatapnya tak percaya. “Kamu masih sempat menyalahkanku?”

“Aku tidak bilang begitu!”

“Tapi itulah yang selalu kamu lakukan, Rangga! Apa pun yang terjadi, kamu mencari cara agar aku yang terlihat bersalah!“

Rangga membuka mulut, tetapi suara dari ruang tindakan menghentikan mereka. Seorang dokter keluar dan menjelaskan bahwa Bu Farah telah melewati penanganan awal. Kondisinya mulai stabil, tetapi ia harus dirawat dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Keluarga diminta menunggu sampai dokter mengizinkan mereka menemuinya.

“Boleh saya melihat ibu saya ?” tanya Rangga cepat.

“Sebentar lagi, setelah kondisinya memungkinkan. Untuk sekarang, biarkan pasien beristirahat.”

Rangga mengangguk, lalu duduk dengan gelisah. Jingga tetap berdiri agak jauh darinya. Tidak ada keinginan untuk menghibur laki-laki itu, tetapi ia juga tidak berniat pergi sebelum mengetahui keadaan Bu Farah.

Beberapa saat kemudian, ponsel Rangga bergetar. Nama Dira muncul di layar. Ia menolak panggilan itu. Tak sampai semenit, sebuah pesan masuk.

Dira: [Rangga, kamu di mana? Aku dengar Mama dibawa ke rumah sakit. Tolong kabari aku.]

Rangga menatap pesan itu lama. Ia belum menjawab ketika Jingga melihat nama pengirimnya. Tatapan mereka bertemu, dan Rangga buru-buru mematikan layar.

“Tidak perlu menyembunyikannya dariku,” kata Jingga datar.

“Aku nggak ingin membahas Dira.”

“Terserah!“ Jingga menghela napasnya.

Rangga menundukkan kepalanya, ia tidak menemukan kalimat yang bisa memaksa Jingga tetap tinggal atau mengubah keputusannya.

Ketika dokter akhirnya mengizinkan satu orang masuk, Rangga segera berdiri. Ia menoleh kepada Jingga, seolah berharap perempuan itu akan mengalah dan membiarkannya masuk lebih dulu tanpa pertanyaan. Jingga justru memberi jalan.

“Pergilah. Tante membutuhkan keluarganya.”

Rangga memandang wanita itu sejenak. Ada rasa bersalah yang ingin ia ucapkan, tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. Akhirnya, ia masuk sendirian.

Di dalam kamar, Bu Farah terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya. Matanya terbuka, tetapi begitu melihat Rangga, wajahnya berubah. Ia memalingkan kepala ke arah jendela.

“Mama,” panggil Rangga, mendekat. “Bagaimana keadaan Mama sekarang?”

Bu Farah tidak menjawab.

“Ma, dokter bilang kondisi Mama mulai stabil. Mama harus istirahat.”

“Keluar...“ ucap Bu Farah lirih.

Rangga terpaku. “Mama tidak mau bicara denganku?”

“Sekarang Mama belum sanggup melihat wajahmu.”

Ucapan ibunya membuat Rangga mundur selangkah. Ia ingin membela diri, mengatakan bahwa semuanya tidak sesederhana yang terlihat, tetapi tatapan ibunya yang terluka membuatnya menelan semua alasan.

Di luar kamar, Jingga masih menunggu kabar terakhir. Saat Rangga keluar dengan wajah pucat, ia tahu Bu Farah belum siap menghadapinya.

Jingga kemudian menghampiri pintu kamar dan bertanya kepada perawat apakah ia boleh masuk sebentar. Setelah mendapat izin, ia berdiri di sisi ranjang tanpa mendekat berlebihan.

“Tante, saya harap Tante lekas membaik,” ucapnya lembut.

Bu Farah menoleh. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia belum sanggup mengucapkan maaf. Jingga tidak memaksanya. Ia hanya merapikan selimut yang sedikit bergeser, lalu mundur.

Untuk saat ini, keselamatan Bu Farah lebih penting daripada pertengkaran mereka. Namun, setelah semua yang terjadi, tidak ada yang bisa kembali seperti semula. Kebenaran telah terbuka, dan Rangga harus menghadapi akibat dari pilihannya sendiri.

1
Cicih Sophiana
dasar laki laki bodoh kamu Rangga ada yg tulus malah di sia siakan...
Cicih Sophiana
semoga aja dokter Samudra jodoh nya Jingga...
Cicih Sophiana
semangat Senja 💪
Cicih Sophiana
jodohkan Senja dan Samudra thor...
Cicih Sophiana
suami nya buang aja ketempat nya yg pantas buat dia senja 🤭😄
Cicih Sophiana
ayo Jingga semangat 💪 bangunlah dari keterpurukan dan bangkitlah untuk melawan orang orang zolim...
Cicih Sophiana
bagus Jingga semangat... libas si Rangga biar dia menyesal nanti..
Cicih Sophiana
nah gitu Jingga... aq suka perempuan yg tegas jgn bisa nya cuma nangis...
Cicih Sophiana
jgn mundur Jingga walau di ancam... Rangga tdk mencerai mu hanya karena nama baik kluarga nya bukan krn mencintai mu
Cicih Sophiana
punya suami lebih perhatian samacuma ipar nya😭😭
Cicih Sophiana
mampir thor... seperti nya seru nih cerita nya
Mundri Astuti
ni nih modelan org egois...dah punya anak, dah punya keluarga masih ngerecokkin rmh tangga ipar ...dpt karma masih ga sadar...masih nyalahin org
Mundri Astuti
nah iya knapa kamu yg berantakan rangga😄
Mundri Astuti
bapaknya Dira arogan juga...anaknya sendiri juga salah lo...dah main belakang sama Rangga disaat Rangga masih terikat dng pernikahan ..
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
si serangga ini mmg ringan tangan yh serem deh😒
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
Mundri Astuti
mudah"an ga ada yg rusuh lagi ... akhirnya jingga menemukan bahagianya
Mundri Astuti
kirim org ke buat ngawasin keluarga mendiang istrimu sam...
Mundri Astuti
oiiiii Dira ....ga usah pake nyalahin org ..dah tau lagi berkendara suamimu ...malah ngajak ribut lagi...

denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!