Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Dipanggil Ayah Hilman
Banyak wahana permainan dijelajahi dengan penuh semangat. Setelah puas, berganti istirahat sambil makan. Tidak melupakan kewajiban begitu waktu Zuhur tiba. Bahkan Tya mengajak Nesha ikut serta berwudhu dan salat bersama. Kesempatan quality time bersama keponakan sekaligus bestie kecilnya itu tak akan bisa lagi sesering dulu. Untuk itu, Tya memanjakan Nesha dengan lanjut belanja. Membeli pakaian dan sepatu, serta belanja supermarket berupa jajanan dan oleh-oleh untuk kakak di rumah.
Pukul tiga lebih, mobil yang dikemudikan Tya tiba di pekarangan rumah. Nesha terkulai lelap di jok yang direbahkan. Perpaduan antara girang dan lelah membuat anak gadis itu tertidur setelah mobil melaju separuh jalan pulang.
Tya menunggu Bisma yang ada di dalam rumah datang setelah baru saja ditelepon. Tak tega membangunkan Nesha yang terlihat sangat pulas. Tak lama kemudian sang kakak keluar dan menghampiri mobil.
"Digendong aja, Kak. Kasihan lagi tidur. Kecapean abis aktif main dia," ujar Tya saat Bisma membuka pintu mobil.
"Wah, kayak gini mah alamat bakal tidur sampai magrib." Bisma tersenyum melihat kepala putrinya terkulai ke kiri dengan badan memakai sabuk keselamatan. Ia dan Susan sudah melihat video kiriman Tya selama bermain di mall. Tenang dan senang melihat Nesha menikmati kebersamaan dengan tantenya. Perlahan mulai membuka sabuk.
"Eh, Kak. Tadi ketemu mamanya Mbak Susan nggak? Eh, atau masih ada di dalam?"
"Ketemu di luar pas Mama mau pulang. Kakak kan abis dari kelurahan terus aktifin aplikasi. Abis anterin Arif pulang, terus dapat penumpang. Lumayan dapat lima customer."
"Sikapnya masih sama kayak dulu atau udah baik sama Kakak?" Pertanyaan ini sengaja ditanyakan di luar. Karena kalau sudah masuk ke rumah, tidak akan leluasa membahasnya.
"Sama aja. Dan Kakak tetap bodo amat. Yang penting di hidupku cuma bundanya Nesha, nggak masalah punya mertua sinis mulu."
"Yeah. Ini baru ayahnya Joko." Tya tertawa. Dan itu menjadi obrolan terakhir setelah Bisma menjitak kepalanya dulu lalu menggendong Nesha.
"Kak, ke sini lagi ya. Bantuin bawa belanjaan." Teriak Tya yang menyusul turun.
"Oke."
Tya membuka bagasi. Menurunkan semua barang belanjaan dan mengalihkan belanjaan miliknya ke jok tengah karena akan dibawa ke Jakarta. Diaz bilang, akan pulang pakai mobil ini. Sementara mobil Diaz akan dibawa oleh Jordan.
"Banyak amat. Belanja apa saja?" Tanya Bisma yang tak lama kemudian datang lagi. Kali ini diikuti oleh Susan yang menyusul keluar.
"Ini belanjaan punya Nesha. Yang dua kantong ini untuk Mbak Susan," jelas Tya yang kemudian menatap Susan. "Mbak, langsung unboxing ya. Ada daging dan ikan yang harus dimasukin freezer."
"Makasih banyak, Dek. Aku masih nggak enak sama sikap Mama tadi. Tiap Mama datang selalu aja negatif vibes. Bikin bete. Maafin aku ya, Tya. Maafin sikap Mama yang ucapannya pedes." Apa yang menjadi ganjalan Susan sedari tadi, akhirnya bisa diungkapkan sekarang. Ketidak enakannya sudah lebih dulu diungkapkan pada Bisma. Entah kapan mamanya akan berubah sikap. Terlebih tadi sudah dijelaskan jika suaminya Tya seorang pengusaha sukses—tanpa menyebutkan jabatan karena dari awal Tya sudah wanti-wanti jangan mengekspos kedudukan Diaz. Dengan alasan biar terlihat mana yang mendekat dengan tulus dan mana yang mendekat karena modus.
"Santai aja, Mbak. Mbak tahu sendiri kan kalau aku mah nggak pernah baperan." Jawabannya bukan sekadar menyenangkan sang kakak ipar. Memang ia tak ambil pusing dengan sikap mertuanya Bisma itu. baginya yang terpenting adalah rumah tangga sang kakak harmonis.
***
Satu jam sejak Tya berada di rumah, Diaz datang. Pulang lebih awal sebelum jam bubar pabrik. Diaz berbincang sebentar dengan Jordan sebelum membuka pintu mobil. Selesai memberikan intruksi, barulah ia turun. Sang asisten melajukan mobilnya mundur meninggalkan pekarangan.
Tya sengaja menunggu dengan berdiri di ambang pintu. Menyambut dengan senyum manis dan berpelukan seperti kebiasaan sehari-hari.
Setelah menemani Diaz beristirahat dan kemudian makan sore bersama, Tya meninggalkan ruang obrolan antara Diaz dan Bisma yang membahas tentang reposisi di manajemen pabrik. Beralih mengecek kesiapan oleh-oleh yang sudah dipesan pada Susan.
"Total berapa, Mbak?" tanya Tya setelah memastikan semua kotak kue sesuai peruntukannya. Bukan hanya membawa oleh-oleh untuk ibu mertua, tetapi juga untuk semua pegawai di rumah dan juga untuk Jordan serta Anya.
Susan menggeleng. "Tidak usah, Tya. Ini free. Aku emang udah niatkan ngasih kok."
"Eh, jangan. Aku pesan banyak gini emang niatnya beli, Mbak. Yang free yang aku dan Mas Diaz makan di sini. Totalnya, please!"
"Tya udah ngeluarin banyak uang buat Nesha dan kita semua. Please, aku juga pengen ngasih, Dek." Susan tak kalah memaksa sambil memasang sorot memelas.
"Mbak boleh balas tapi tidak sekarang. Sekarang aku mau bayar. Kalau tidak mau, nggak jadi dibawa oleh-olehnya."
Proses paksa memaksa berlangsung alot. Susan masih berusaha merayu agar Tya tak perlu membayar.
"Ah, aku hitung sendiri aja deh. Nesha, sini!" Sekali panggil, sang keponakan yang sedang anteng bermain dengan boneka barunya langsung mendekat. "Nesha tahu harga-harga kue buatan Bunda nggak?"
"Tahu dong." Sahut Nesha dengan percaya diri.
"Good. Ini muffin harga berapa?"
"10 juta dolar Singapura."
"Heh!" Tya mendelik. Sudah bertanya dengan serius, malah dijawab dengan bercanda diiringi cekikikan. Keponakan stres.
Susan tertawa renyah. "Asbunnya berguru dari siapa coba?" tanyanya dengan tatapan menyipit.
Membuat Tya nyengir. Akhirnya, ia memilih mengira-ngira harga mengingat Diaz memanggil mengajak pulang sekarang. "Done, mbak. Udah ku transfer 500 ya. Lebihnya buat jajan."
Susan mendesah kalah. Tya benar-benar tidak bisa dirayu. "Makasih, Dek. Makin berkah rejekinya."
***
Apa yang membuat Diaz memajukan pulang sore padahal rencananya mau berangkat setelah magrib. Tiada lain karena sang ayah meminta bertemu malam ini juga. Sudah usul agar bertemunya besok saja. Tetapi ayahnya itu beralasan mau terbang pagi ke Surabaya.
"Bey, kita langsung ke apartemen Ayah atau pulang ke rumah dulu?" tanya Tya yang baru tahu kabar itu dari chat Diaz saat Tya sedang di mall.
"Langsung aja, Yang. Kalau udah ke rumah bisa jadi malas ke luar lagi. Biar Ibu tidak usah tahu juga kalau kita mau ketemu Ayah."
"Oke. Tapi waktunya magrib mampir ke masjid dulu ya."
"Siap, istriku."
"Ahay! Panggilan yang bikin hatiku meleleh. Gawat nih jadi pengen cium driver nya. Izin kiss, Bang"
Diaz tertawa. Ia belum bisa menoleh karena jalan raya sore ini sedang padat. Memang cocok kalau perjalanan ditemani Tya. Tidak mengantuk dan tidak bosan meski di jalan terjebak macet.
"Kiss pipi sama usap-usap icibos ya!"
"Oh no. Nanti bisa nggak konsen nyetir."
Mayan.. nambah koleksi diamond.. 🤪🤪😭😭😅😅
ya GK d kasih kah udah gak ada urusan lagi...
kasian Tya 😭
Aku waktu kumpul bareng keluarga suami (Kaka+adiknya suami).
Suami ku cerita segala macam sampai pada di titik nyeritain mantannya, dengan lantang dia bilang ( harusnya dia (mantan ) jadi sama aku, kalau emaknya ngasih restu.🤣🤣🤣
di situ aku langsung diam (hati dan pikiranku berantem)🤣🤣🤣 pdhal udah nikah 13tahun punya anak 3 ( 1 alm ).
Subhanallah banget ini hati🤣🤸