Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kila mempercepat langkahnya. Di depannya, cukup jauh, Papa Adrian berjalan santai menuju pintu keluar mall bersama perempuan asing itu. Tangan perempuan itu melingkar manja di lengan Papa, tertawa genit.
Jantung Kila berdegup kencang sampai ke telinga. Kakinya gemetar hebat, tapi dia memaksakan diri untuk menyusul. Rasa takutnya kalah dengan rasa kecewa.
"PAPA!"
Papa Adrian berhenti. Tubuhnya kaku. Saat berbalik dan melihat Kila berdiri di belakangnya dengan dua paper bag di tangan dan mata berkaca-kaca, wajahnya langsung pucat pasi terkejut. Seperti maling ketangkap basah.
"Eh... Kila? Kok kamu bisa ada di sini?" kata Papa Adrian gugup, langsung melepaskan tangan perempuan itu dengan panik.
Kila justru tertawa kecil, getir dan dingin. "Justru aku yang mau nanya gitu, Pa. Kata Mama, Papa lagi di luar kota. Meeting penting. Ternyata meetingnya di mall ya?"
"Eh iya, Papa tadinya memang ada kerjaan di luar kota tapi udah balik tadi pagi. Tadi ada urusan sebentar di sini," jawab Papa Adrian cepat, berbohong dengan alibi yang berantakan.
_Ngeles aja terus,_ batin Kila. _Papa pikir aku anak kecil yang gampang dibohongin?_
"Oh, terus kenapa nggak langsung pulang aja? Kenapa harus ke mall? Terus perempuan ini siapa?" tanya Kila, suaranya mulai bergetar menahan kesal dan tangis. Dia menatap perempuan itu dari atas ke bawah.
"Oiya, ini sekretaris Papa, Santi. Dia nemenin Papa buat cari hadiah buat kamu, buat Mama," kata Papa Adrian masih mengarang.
Kila menatap Papa Adrian dingin, tatapan yang belum pernah ia berikan pada papanya sendiri. "Ngapain kasih aku hadiah? Aku nggak lagi ulang tahun. Nggak usah dibuat-buat, Pa."
"Kamu kenapa sih? Nggak biasanya kamu bersikap dingin sama Papa?" kata Papa Adrian, mencoba balik menyalahkan Kila.
"Pa, aku nggak mungkin bersikap dingin tanpa alasan, dan Papa pasti tahu alasannya," kata Kila. Suaranya pelan, tapi tajam menusuk. "Aku nggak pernah nyangka Papa bakal setega ini sama Mama, sama aku, dan sama Kak Elvar. Papa lebih milih perempuan seperti ini daripada keluarga kita yang udah hampir 30 tahun. Aku kecewa sama Papa, Pa. Kecewa banget." Tanpa aba-aba, air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Maksud kamu apa? Papa nggak ngerti kamu ngomong apa," kata Papa Adrian masih saja mengelak, pura-pura bodoh.
Perempuan di sebelah Papa Adrian yang bernama Santi itu ikut bicara, dengan nada dibuat lembut dan sok bijak, "Maksud kamu apa, Dek? Aku sama Papa kamu nggak ada apa-apa kok, kami hanya sebatas hubungan kerja aja, nggak lebih. Jangan salah paham ya."
Kila langsung naik darah. "Please, Pa, nggak usah bohong lagi. Aku udah tahu semuanya. Aku juga udah tahu kalau Papa sama Mama bakal cerai kan?" potong Kila, menatap Papa Adrian lurus. Lalu dia menoleh ke perempuan itu dengan mata menyala, suaranya naik satu oktaf. "Dan kamu, aku nggak lagi bicara sama kamu jadi nggak usah ikut campur! Ini urusan keluarga aku!"
Perempuan itu terdiam kaget, wajahnya cemberut. Papa Adrian malah membela perempuan itu dan menyalahkan Mama Lidya.
"Kamu jangan kasar sama dia! Dia nggak salah apa-apa! Lagian kamu jangan dengar kata-kata Mama, karena Mama cuma mau jelekin Papa di depan kalian biar kalian benci sama Papa!" bentak Papa Adrian, suaranya keras hingga beberapa pengunjung mall menoleh.
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Kila. Kecewanya meledak menjadi amarah yang membara.
"Apa? Nggak salah apa-apa? Ngerusak keluarga orang menurut Papa nggak salah? Gitu? Jadi pelakor itu nggak salah ya, Pa?" kata Kila sudah berapi-api, air matanya makin deras.
"Jaga bicara kamu! Kamu sudah benar-benar kemakan omongan Mama! Mama kamu itu yang hasut kamu!"
"Mama nggak pernah cerita apa-apa soal Papa! Justru Mama selalu jaga masalah ini dari aku! Mama selalu bilang Papa baik, Papa kerja keras! Tapi aku tahu sendiri, Pa! Aku lihat Papa sama Mama berantem waktu aku pulang ke rumah kemarin! Papa aja yang nggak sadar kalau aku di pintu!" teriak Kila, suaranya pecah.
"Kamu nggak usah besar-besarkan masalah! Ini masalah Papa sama Mama, kamu nggak usah ikut campur! Lebih baik kamu pulang sekarang!" kata Papa Adrian dengan nada memerintah, lalu menarik tangan perempuan itu.
"Gimana aku nggak ikut campur, Pa? Ini masalah keluarga kita! Aku anak Papa juga!" jawab Kila dengan air mata yang tak henti menetes, suaranya bergetar.
"Kita bicara lagi nanti di rumah. Kamu pulang aja!" kata Papa Adrian, lalu berbalik meninggalkan Kila begitu saja di tengah keramaian mall, menggandeng perempuan itu menjauh.
"Tapi kan, Pa... Pa... Papa! Jangan tinggalin aku!" teriak Kila. Papa Adrian sudah berjalan menjauh tanpa menoleh lagi, menghilang di antara kerumunan.
Kila masih berdiri mematung sendirian. Orang-orang di sekitar mulai menatapnya iba, menjadikannya tontonan. Seorang ibu-ibu bahkan berbisik. Dia tidak peduli. Dia tidak habis pikir bagaimana Papa Adrian yang selalu bersikap hangat, yang selalu memanggilnya 'putri kecil Papa' berubah menjadi sosok yang begitu kasar dan tidak peduli, bahkan membela perempuan lain di depan anaknya sendiri.
Cukup lama dia terdiam, lalu tersadar. Dengan langkah gontai dan air mata yang terus mengalir, dia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Dia tidak jadi menunggu Kak Elvar. Dia pulang ke rumah dengan menggunakan taksi, memeluk paper bag belanjaannya erat-erat seperti memeluk dirinya sendiri.
**_
Tiga puluh menit perjalanan yang terasa seperti tiga jam, taksi pun berhenti di depan rumah megah yang sepi itu. Kila berjalan memasuki rumah dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, dadanya sesak, kepalanya pening. Dia menaiki anak tangga satu per satu dengan berat menuju kamar. Sesampai di kamar, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, menenggelamkan wajahnya di bantal, dan menangis tanpa suara. Dia meluapkan segala kesedihan dalam tangisannya, sampai bantalnya basah. Tanpa sadar, dia tertidur setelah menangis cukup lama karena kelelahan.
_**
Kila terbangun oleh suara keributan yang berasal dari lantai bawah. Suara bentakan Papa Adrian lagi. Dia yang masih setengah mengantuk dengan mata bengkak memutuskan untuk turun memastikan apa yang sedang terjadi. Dari tangga, dia melihat Papa Adrian sedang marah-marah pada Mama Lidya di ruang tengah.
"Pasti kamu kan yang hasut anak-anak buat benci sama aku? Ngaku kamu!" kata Papa Adrian pada Mama Lidya dengan emosi.
"Aku nggak pernah bilang apa-apa sama anak-anak, Adrian. Kalau pun anak-anak benci sama kamu itu karena kesalahan kamu sendiri, karena perbuatan kamu!" kata Mama Lidya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tapi mencoba tegar.
"Kalau bukan kamu yang kasih tahu anak-anak, bagaimana mereka bisa tahu? Pasti kamu yang cerita!"
"Mana aku tahu, kamu tanya aja sendiri sama mereka, jangan tanya aku!" jawab Mama Lidya.
"Kamu sudah mulai ngejawab ya? Aku itu masih suami kamu! Hargai aku!" bentak Papa Adrian.
"Hahaha suami? Maksudnya suami yang selingkuh di mall sama perempuan lain dan ninggalin anaknya?" balas Mama Lidya, akhirnya meledak juga. Rupanya Mama sudah tahu dari Bibi kalau Kila melihat Papa di mall.
"Dasar perempuan tidak tahu diri!" kata Papa Adrian, tangannya sudah terangkat tinggi hampir menampar Mama Lidya, matanya merah karena amarah. Namun ia urungkan saat Kila sudah berada di tengah-tengah mereka, berlari turun.
"Papa jangan berani-berani nyakitin Mama lagi! Aku nggak akan tinggal diam kalau Mama sampai terluka lagi! Sudah cukup Papa nyakitin hati Mama! Cukup, Pa!" bentak Kila, berdiri melindungi Mama Lidya di belakang punggungnya. Tubuh kecilnya gemetar tapi berani.
"Ngapain sih belain Mama kamu terus! Ini tuh bukan sepenuhnya salah Papa! Kalau Mama kamu sedikit saja kasih perhatian sama Papa, Papa nggak mungkin milih perempuan lain! Mama kamu tuh selalu saja sibuk dengan kerjaannya sampai lupa ngurus suami! Rumah ini nggak pernah terasa kayak rumah!" kata Papa Adrian melimpahkan semua kesalahan pada Mama Lidya.
Kila tidak tahan lagi. Semua yang dia pendam sejak kecil, semua rasa sepi yang dia kubur dalam-dalam meledak hari itu juga di ruang tengah itu.
"Papa sadar nggak sih, Papa juga jarang banget kasih aku perhatian! Bahkan sejak kecil aku selalu kesepian karena Mama sama Papa selalu kerja! Rumah segede ini tapi sepi kayak kuburan! Tapi apa pernah aku protes sama kalian? Apa pernah aku ngeluh? Nggak kan?" teriak Kila, air matanya mengalir deras seperti bendungan jebol. Suaranya menggema di seluruh rumah.
"Aku berusaha sebisa mungkin untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan kalian! Aku udah merasa bahagia saat sesekali kita bisa makan bareng walaupun itu jarang banget! Aku udah bahagia kalau Papa bersikap hangat padaku walau itu hanya sesekali, tapi itu berharga banget buat aku! Aku simpan semua momen itu!"
Napasnya tersengal, dadanya naik turun.
"Kalau alasan Papa buat selingkuh cuma karena Mama nggak pernah perhatian sama Papa, bagaimana dengan aku, Pa? Aku juga jarang banget dapat perhatian dari kalian berdua! Aku juga kesepian! Aku juga pengen diperhatiin! Sampai-sampai aku memilih tinggal sendiri di kota lain, di rumah pemberian Kak Elvar, cuma supaya kalian lebih menghargai keberadaan ku! Cuma biar kalian nyariin aku! Tapi bukannya membaik, keluarga kita malah berantakan karena keegoisan Papa! Karena Papa selingkuh!"
Seluruh ruangan hening seketika. Hanya isak tangis Kila dan Mama Lidya yang terdengar. Kata-kata Kila menampar kenyataan pahit mereka.
Papa Adrian terdiam, tidak bisa menjawab. Wajahnya menegang.
"Maafin Mama, sayang. Maafin Mama... Mama nggak pernah tahu perasaan kamu yang sebenarnya selama ini. Mama pikir kamu baik-baik saja. Mama memang bukan orang tua yang baik buat kamu, sayang," kata Mama Lidya sembari memeluk Kila erat dan menangis dalam pelukannya, terisak-isak.
"Aku nggak apa-apa kok, Ma," kata Kila pada Mama, mencoba menenangkannya meski suaranya sendiri bergetar hebat. Dia mengelus punggung Mama. "Aku udah baik-baik aja kalau Papa nggak ungkit masalah ini, aku juga nggak bakalan membahasnya. Aku cuma pengen kita kayak dulu lagi, Ma."
Tanpa sepatah kata pun, Papa Adrian pergi meninggalkan Kila dan Mama Lidya yang masih berpelukan di lantai. Membanting pintu depan dengan keras. Entah apa yang ada di pikiran Papa Adrian saat itu. Entah penyesalan atau hanya ego.
"Sekali lagi maafin Mama, sayang. Mama janji bakal lebih perhatian lagi sama kamu. Mama janji," kata Mama Lidya masih terisak di bahu Kila.
"Sudah... sudah... Mama jangan nangis lagi. Meskipun Mama jarang di rumah tapi Mama tetap Mama yang terbaik buat aku, dan nggak akan ada yang bisa gantiin Mama di hati aku," kata Kila memaksakan senyumnya pada Mama sembari menghapus air mata Mama dengan tangannya yang dingin.
Hari itu benar-benar hari yang sangat berat baginya. Hatinya rasanya benar-benar sakit, remuk. Dia tidak pernah menyangka keluarga yang selama ini dia banggakan, keluarga yang dia kira sempurna, akan berantakan seperti itu di depan matanya sendiri.
---
ayok ada dibaca🤭