NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — KARTU AKSES HITAM PUKUL 21.50

Arga Pratama berdiri di bawah atap bengkel yang mulai sepi, menatap foto pada layar ponselnya.

Hujan turun semakin deras.

Di dalam foto itu, sebuah buku tamu lama memperlihatkan nama Raka Wibisono sebagai pengunjung fasilitas pemasok ARX-9 pada pukul 21.50. Di sebelah namanya terdapat tanda tangan penerima kartu akses.

Tanda tangan itu mirip dengan tanda tangan Pak Darto.

Arga memperbesar gambar tersebut, lalu menyimpannya.

Ia tidak ingin membuat kesimpulan hanya berdasarkan foto yang dikirim seseorang tanpa identitas.

Tetapi pertanyaan baru sudah muncul.

Jika Raka benar-benar datang ke fasilitas pemasok malam itu, apa yang dilakukannya di sana?

Mengapa ia menerima kartu akses hitam?

Dan mengapa seseorang berusaha menghubungkan kedatangannya dengan Pak Darto?

Arga kembali masuk ke bengkel.

Pak Darto sedang merapikan buku catatan di dalam kotak logam ketika Arga menunjukkan foto tersebut.

Wajah pria itu berubah serius.

“Bapak mengenali tanda tangan ini?” tanya Arga.

Pak Darto mengambil ponsel itu, memperhatikan gambar dengan saksama, lalu meletakkannya kembali.

“Bentuknya mirip tanda tanganku.”

“Apakah Bapak yang menyerahkan kartu akses kepada Raka?”

“Aku tidak bisa memastikannya dari foto ini. Buku tamu itu memang tampak seperti buku yang digunakan di fasilitas pemasok, tetapi aku harus melihat dokumen aslinya sebelum mengakuinya sebagai catatan yang sah.”

Arga mengangguk.

“Kalau memang benar, apa yang terjadi malam itu?”

Pak Darto terdiam cukup lama.

“Aku ingat Raka pernah datang untuk membicarakan masalah teknis. Namun, aku tidak ingat apakah itu terjadi tepat pada malam pengujian terakhir.”

“Apakah Bapak pernah meminjamkan kartu akses hitam kepadanya?”

“Tidak secara pribadi. Kartu seperti itu biasanya dikeluarkan oleh petugas keamanan atau pengelola fasilitas. Aku tidak memiliki kewenangan untuk menerbitkannya.”

“Lalu mengapa nama Bapak tercantum sebagai penerima?”

“Itulah yang harus kita periksa.”

Pak Darto mengambil buku catatan hitam dari meja.

“Dengar, Arga. Jika seseorang benar-benar ingin menutupi sesuatu, mereka bisa menggunakan dokumen asli dengan konteks yang dihilangkan. Mereka juga bisa membuat salinan yang tampak meyakinkan. Karena itu, kita tidak boleh hanya mencari jawaban yang cocok dengan dugaan kita.”

Arga memandang pria yang selama ini memberinya tempat untuk memulai kembali hidupnya.

“Saya mengerti, Pak.”

“Kalau foto itu asli, kita harus mencari catatan penerbitan kartu akses. Jika tanda tangannya bukan milikku, kita harus mengetahui siapa yang menggunakannya. Jika memang milikku, aku akan menjelaskan apa yang kuingat.”

Arga menyimpan ponselnya.

Ia tidak merasa semua kecurigaannya hilang.

Namun, ia menghargai sikap Pak Darto yang tidak mencoba menghentikannya menyelidiki.

Malam itu, sebelum pulang, Arga mengirimkan foto tersebut kepada Nadia dan Fajar.

Ia meminta mereka memeriksa kemungkinan adanya catatan penerbitan kartu akses di arsip ARX-9.

Ia juga menyampaikan satu permintaan.

Jangan menyebarkan foto ini sebagai bukti kesalahan siapa pun sebelum sumbernya terverifikasi.

Keesokan paginya, Nadia menghubungi Arga.

“Aku menemukan sesuatu.”

Arga segera duduk di meja kecil ruang administrasi bengkel.

“Apa yang kamu temukan?”

“Dalam daftar inventaris fasilitas pemasok, terdapat dua jenis kartu akses yang digunakan pada malam pengujian ARX-9. Kartu reguler untuk personel dan kartu hitam untuk akses sementara yang memerlukan otorisasi tambahan.”

“Apakah nama Raka tercatat sebagai pemegang kartu hitam?”

“Belum ada catatan yang bisa memastikan itu. Yang kutemukan hanya daftar nomor kartu yang diterbitkan pada minggu tersebut.”

“Apakah nomor kartunya cocok dengan foto?”

“Foto yang kamu kirim tidak memperlihatkan nomor kartu dengan jelas. Aku perlu gambar beresolusi lebih tinggi atau dokumen asli.”

Arga membuka kembali foto itu.

Nadia melanjutkan, “Ada hal lain. Pada catatan inventaris, satu kartu hitam dilaporkan kembali pada pagi setelah pengujian. Tetapi kolom penerimanya kosong.”

“Siapa yang bertanggung jawab memeriksa pengembalian?”

“Bagian administrasi fasilitas. Nama petugasnya tidak ada pada salinan yang kutemukan.”

Arga mencatat informasi tersebut.

“Jadi, kita belum tahu siapa yang memegang kartu itu pada pukul 21.50.”

“Benar. Dan kita juga belum tahu apakah kartu yang terlihat dalam foto merupakan kartu yang sama dengan yang tercatat dalam inventaris.”

“Bagaimana dengan buku tamunya?”

“Fajar sedang menghubungi Ratih. Jika buku itu benar-benar berasal dari fasilitas pemasok, mungkin ada catatan salinan atau pemindahan arsipnya.”

Arga menghela napas.

Satu pertanyaan belum terjawab, tetapi setiap jawaban justru membuka jalur penyelidikan baru.

Ia mulai memahami mengapa kasus ARX-9 begitu sulit dipecahkan.

Masalahnya bukan semata-mata karena seseorang menghilangkan sebuah dokumen.

Masalahnya adalah banyak catatan yang tidak lengkap, beberapa versi saling berbeda, dan setiap orang hanya mengetahui sebagian kecil kejadian.

Jika mereka ingin menemukan kebenaran, mereka harus menyusun kembali urutan peristiwa dengan hati-hati.

Di arena kompetisi, suasana semakin menegangkan.

Semifinal telah berakhir. Para peserta yang lolos bersiap menghadapi tahap berikutnya, sementara panitia mengumumkan bahwa babak selanjutnya akan menguji kemampuan merancang sistem pemantauan kondisi mesin.

Arga, Rendy, dan Dimas kembali bekerja bersama.

Mereka menerima tugas membuat rancangan sistem yang mampu mengenali perubahan kondisi mesin tanpa menghasilkan terlalu banyak peringatan palsu.

Rendy mempelajari karakteristik sensor.

Dimas menyusun model pengolahan data.

Arga memeriksa bagaimana perubahan kondisi operasi dapat memengaruhi interpretasi hasil pengukuran.

“Kalau kita menetapkan satu ambang batas untuk semua keadaan, sistem bisa memberikan peringatan ketika perubahan itu sebenarnya normal,” kata Dimas.

“Benar,” jawab Arga. “Kita harus membedakan perubahan yang disebabkan kondisi operasi dengan perubahan yang mungkin menunjukkan gangguan.”

Rendy mengangguk.

“Kita juga perlu menyimpan data sebelum dan sesudah peringatan agar teknisi bisa menelusuri penyebabnya.”

Arga tersenyum tipis.

“Itu penting. Sistem yang hanya memberi peringatan tanpa menjelaskan dasar keputusannya akan menyulitkan orang yang harus memperbaiki masalah.”

Mereka menyusun rancangan yang menggabungkan pemantauan beberapa parameter, pembandingan pola berdasarkan kondisi operasi, dan pencatatan data pendukung.

Dalam presentasi, Rendy menjelaskan desain sensor.

Dimas menerangkan cara pengolahan data.

Arga memaparkan batasan sistem dan prosedur verifikasi ketika peringatan muncul.

Salah seorang juri bertanya, “Bagaimana jika sistem menyatakan kondisi normal, padahal gangguan sebenarnya sedang berkembang?”

Arga menjawab, “Tidak ada sistem pemantauan yang dapat menjamin semua gangguan terdeteksi dalam setiap kondisi. Karena itu, kami mengusulkan tingkat keyakinan yang berbeda, pemeriksaan berkala, dan prosedur pemeriksaan manual ketika data tidak cukup untuk mengambil keputusan.”

Juri itu mengangguk.

“Jawaban yang realistis.”

Setelah presentasi, Rendy menepuk bahu Arga.

“Sepertinya kita mulai cocok bekerja sama.”

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan.”

Rendy tertawa.

“Tenang. Aku masih ingin mengalahkanmu di babak final.”

“Kalau begitu, teruslah belajar.”

Kali ini, Rendy tidak tersinggung.

Ia justru mengangguk dengan serius.

Di antara mereka mulai tumbuh persaingan yang berbeda. Bukan lagi persaingan untuk menjatuhkan lawan, melainkan keinginan untuk membuktikan kemampuan masing-masing.

Namun, ketika mereka meninggalkan ruang presentasi, Arga menerima panggilan dari Fajar.

“Arga, kamu harus melihat sesuatu.”

“Ada apa?”

“Aku baru berbicara dengan Ratih. Dia mengingat buku tamu fasilitas pemasok yang kamu ceritakan.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia tidak bisa memastikan foto yang kamu terima berasal dari buku asli. Tetapi dia ingat bahwa sebagian arsip pengunjung pernah dipindahkan ke kantor administrasi proyek setelah insiden ARX-9.”

Arga segera berhenti berjalan.

“Apakah arsip itu masih ada?”

“Ratih tidak tahu. Namun, dia mengingat adanya daftar serah terima yang mencantumkan sebuah kotak dokumen dengan kode VIS-09.”

“VIS-09?”

“Ya. Menurut catatannya, kotak itu berisi daftar pengunjung, catatan penerbitan kartu akses, dan beberapa dokumen keamanan fasilitas.”

Arga menatap ke depan.

Itulah dokumen yang mereka butuhkan.

Jika VIS-09 masih tersedia, mereka mungkin bisa mengetahui apakah Raka benar-benar menerima kartu hitam pada malam tersebut.

“Apakah Ratih memiliki salinannya?”

“Tidak. Dia hanya memiliki catatan bahwa kotak itu pernah dipindahkan. Aku sudah memintanya membantu mengajukan pencarian melalui pengelola arsip.”

“Bagus. Jangan mengambil jalan pintas. Kita harus memastikan setiap perpindahan dokumen tercatat.”

Setelah panggilan berakhir, Arga menghubungi Nadia dan menyampaikan informasi tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, mereka memiliki petunjuk yang tidak hanya berasal dari pesan anonim.

Ada mantan petugas dokumentasi yang mengingat keberadaan sebuah kotak arsip.

Ada kode inventaris yang dapat ditelusuri.

Dan ada prosedur resmi untuk memeriksa keberadaannya.

Mereka akhirnya memiliki jalur yang lebih jelas.

Sore harinya, Kevin Santoso datang ke ruang administrasi tempat Nadia bekerja.

Ia membawa sebuah amplop berisi salinan catatan lama.

“Aku menemukan referensi VIS-09 dalam daftar perpindahan arsip,” katanya.

Nadia segera memeriksanya.

“Dari mana kamu mendapatkan ini?”

“Dari catatan serah terima yang disimpan dalam arsip pribadi. Aku tidak mengambil dokumen asli. Ini salinan dari berkas yang sudah pernah diberikan kepadaku ketika aku masih bekerja di proyek.”

Nadia membaca setiap baris.

Catatan itu menunjukkan bahwa VIS-09 dipindahkan dari fasilitas pemasok ke kantor administrasi ARX-9 tiga hari setelah pengujian terakhir.

Penerima yang tercantum adalah bagian pengawasan.

Namun, pada kolom tanda tangan penerimaan terdapat tulisan yang tidak lengkap.

Hanya dua huruf yang terlihat.

G.W.

Nadia mengangkat wajah.

“Gunawan Wiratama lagi.”

Kevin mengangguk.

“Ya. Tetapi jangan menganggap itu bukti bahwa dia mengubah isi kotak. Catatan ini hanya menunjukkan bahwa bagian pengawasan tercatat sebagai penerima.”

Nadia tersenyum tipis.

“Setidaknya kamu sudah belajar untuk tidak membuat kesimpulan terlalu cepat.”

Kevin menunduk.

“Aku terlambat belajar hal itu.”

“Yang penting, sekarang kamu berusaha memperbaikinya.”

Mereka memindai salinan tersebut dan mengirimkannya kepada Arga.

Arga membaca catatan itu di ruang tunggu arena kompetisi.

Nama Gunawan kembali muncul dalam jalur dokumen yang berbeda.

Sebelumnya, ia tercatat menerima lampiran AUTH-03.

Sekarang, bagian pengawasan yang dipimpinnya tercatat menerima kotak VIS-09.

Dua dokumen berbeda.

Dua jalur pemindahan.

Keduanya berakhir pada orang yang sama.

Namun, Arga tetap tidak menganggapnya sebagai bukti kesalahan.

Gunawan mungkin mengetahui sesuatu tentang identitas pemegang kewenangan eksternal. Ia mungkin pernah mengelola dokumen penting. Tetapi itu belum membuktikan bahwa ia mengubah laporan atau menyembunyikan bukti.

Arga mengirimkan permintaan resmi untuk memeriksa status terakhir VIS-09.

Balasan otomatis menyatakan bahwa permintaan sedang diproses.

Ia menunggu.

Lima menit kemudian, sebuah email masuk.

Bukan dari pengelola arsip.

Melainkan dari Gunawan Wiratama sendiri.

Arga, saya mengetahui bahwa kamu sedang mencari kotak VIS-09. Saya bersedia menjelaskan pemindahan dokumen tersebut melalui pertemuan resmi. Namun, sebelum itu, ada satu hal yang perlu kamu ketahui.

Arga membaca kalimat berikutnya.

Kotak VIS-09 tidak pernah tercatat sebagai dokumen yang saya terima secara pribadi. Nama bagian pengawasan tercantum sebagai penerima, tetapi tanda tangan pada catatan yang kamu miliki bukan tanda tangan saya.

Arga segera membalas.

Apakah Bapak mengetahui siapa yang menandatangani penerimaan itu?

Balasan tidak datang seketika.

Beberapa menit berlalu sebelum email kedua masuk.

Saya tidak bisa memastikan identitas penandatangan dari salinan tersebut. Namun, saya memiliki catatan mengenai orang yang bertanggung jawab memeriksa kotak itu sebelum dipindahkan. Namanya tercantum dalam dokumen terpisah.

Arga menahan napas.

Siapa namanya, Pak?

Jawaban Gunawan hanya terdiri dari satu kalimat.

Nama itu adalah Raka Wibisono.

Arga menatap layar ponselnya.

Jika Raka bertanggung jawab memeriksa VIS-09 sebelum kotak itu dipindahkan, ia mungkin mengetahui isi arsip pengunjung dan catatan kartu akses.

Ia mungkin juga mengetahui siapa yang membawa kartu hitam pada malam pengujian.

Namun, masih ada satu masalah.

Pria yang mengaku sebagai Raka telah beberapa kali muncul dengan identitas yang belum terverifikasi. Tidak ada jaminan bahwa orang itu benar-benar Raka Wibisono.

Arga tidak akan membiarkan penyelidikan mereka bergantung pada seseorang yang belum terbukti identitasnya.

Ia segera menghubungi Nadia.

“Kita harus menemukan Raka melalui catatan resmi, bukan hanya melalui pesan dari nomor tidak dikenal.”

“Aku setuju,” jawab Nadia. “Aku akan meminta pemeriksaan riwayat personelnya melalui jalur yang tersedia.”

Arga lalu menghubungi Pak Darto.

Ia menceritakan temuan terbaru tentang VIS-09 dan nama Raka.

Pak Darto mendengarkan tanpa menyela.

Setelah Arga selesai, pria itu berkata, “Kalau Raka memang bertanggung jawab memeriksa kotak itu, mungkin dia mengetahui siapa yang datang malam itu. Tetapi jangan lupa, mengetahui isi arsip tidak berarti dia mengetahui seluruh kejadian di ruang kendali.”

“Saya mengerti, Pak.”

“Dan satu lagi. Jangan pergi menemui orang yang mengaku sebagai Raka sendirian. Jika dia benar-benar ingin membantu, dia seharusnya bersedia menjalani verifikasi identitas dan memberikan keterangan melalui prosedur yang aman.”

Arga menyetujui nasihat tersebut.

Setelah panggilan berakhir, ia kembali membuka email Gunawan.

Ada satu lampiran yang belum ia periksa.

Namanya sederhana.

VIS-09_KOREKSI.pdf

Arga mengunduh salinan tersebut melalui kanal resmi yang disediakan Gunawan, lalu membuka halaman pertama.

Dokumen itu berisi daftar koreksi inventaris yang dibuat setelah perpindahan arsip.

Pada halaman kedua, sebuah baris mencatat bahwa kotak VIS-09 telah diperiksa ulang karena terdapat perbedaan antara jumlah kartu akses yang tercatat dan jumlah kartu yang ditemukan.

Jumlah yang hilang hanya satu.

Satu kartu hitam.

Kolom keterangan menyatakan bahwa kartu tersebut belum dapat dipastikan siapa yang mengembalikannya.

Namun, pada kolom pemeriksa terdapat nama lengkap yang membuat Arga membeku.

RAKA WIBISONO.

Di bawah nama itu, ada catatan tulisan tangan:

Pemeriksaan lanjutan ditunda atas instruksi pemegang kewenangan eksternal.

Arga membaca kalimat itu berulang kali.

Raka bukan hanya tercatat sebagai pengunjung.

Ia juga tercatat sebagai orang yang memeriksa ketidaksesuaian kartu akses setelah pengujian.

Dan seseorang dengan kewenangan eksternal memerintahkan agar pemeriksaan tersebut ditunda.

Arga memperbesar bagian bawah halaman.

Di sana terdapat kode instruksi yang selama ini mereka cari.

EW-01/22:14.

Sebelum Arga sempat mengirimkan dokumen itu kepada Nadia, ponselnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia menjawab tanpa menyebutkan namanya.

Suara seorang pria terdengar pelan.

“Arga, berhenti mencari kartu hitam itu.”

“Siapa Anda?”

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku sekarang. Yang perlu kamu ketahui adalah bahwa Raka tidak pernah menjadi orang yang memiliki kewenangan untuk menghentikan pemeriksaan tersebut.”

“Kalau begitu, siapa yang memerintahkannya?”

Pria itu terdiam sesaat.

Kemudian ia menjawab dengan suara yang membuat Arga menegakkan tubuh.

“Orang yang memerintahkan penundaan pemeriksaan bukanlah orang yang menandatangani laporan final.”

“Siapa dia?”

Sebelum Arga mendapat jawaban, suara di seberang berubah tegang.

“Ada satu hal lagi. Foto buku tamu yang kamu terima telah dimanipulasi.”

Arga menggenggam ponselnya lebih erat.

“Bagian mana yang dimanipulasi?”

Pria itu menarik napas.

“Nama Raka memang ada di buku tamu. Tetapi tanda tangan penerima kartu akses yang kamu lihat bukan tanda tangan Pak Darto.”

“Lalu tanda tangan siapa?”

Terdengar suara pintu dibuka di ujung sambungan.

Pria itu segera berkata, “Cari catatan penerbitan kartu asli. Di sana kamu akan mengetahui siapa yang memegang kartu hitam pada pukul 21.50.”

Sambungan terputus.

Arga menatap layar ponselnya.

Kemudian ia kembali membuka foto buku tamu yang dikirimkan sebelumnya.

Ia memperbesar bagian tanda tangan.

Kini ia menyadari sesuatu yang luput dari perhatiannya.

Tanda tangan itu memang mirip dengan milik Pak Darto.

Namun, di sudut kanan atas halaman terdapat sebuah kode kecil yang sebagian tertutup bayangan.

Kode tersebut bukan nomor pegawai bengkel.

Itu adalah nomor identitas petugas keamanan fasilitas ARX-9.

Dan nama petugas itu tercatat dalam dokumen yang baru saja dibuka Arga.

BIMA SAPUTRA.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!