Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sore turun dengan kelambatan yang muram. Langit mulai bersemu keemasan, sementara angin musim gugur menggoyang lembut ranting-ranting gundul pepohonan kampus. Dedaunan berderak di bawah langkah para mahasiswa yang berjalan pulang, di antara gumam perpisahan dan tawa tanpa beban.
Zaira duduk di salah satu meja taman dalam, dengan secangkir teh mengepul dalam genggaman. Uapnya membelai wajahnya sementara pandangannya hilang mengikuti ayunan daun-daun yang melayang ke tanah. Ia mengenakan sweter warna mustard, dan kedua kakinya yang bersila memperlihatkan getar halus orang yang tak kunjung menemukan ketenangan.
Tatiana tiba dengan langkah mantap, ransel tergantung di bahu dan segelas kopi di tangan. Ia duduk di hadapan Zaira dengan santai, seolah keheningan yang nyaman itu sudah menjadi bagian dari kedekatan mereka.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya setelah beberapa saat, sambil mengaduk minumannya asal-asalan dengan sedotan. "Pikiranmu melayang ke mana-mana sejak beberapa hari ini."
Zaira tersenyum letih dan menyingkirkan cangkirnya untuk menopang dagu dengan sebelah tangan.
"Aku baik-baik saja... atau mencoba begitu."
Tatiana mengamatinya dengan mata penyelidik yang tak melewatkan apa pun.
"Boleh aku tanya sesuatu... yang agak pribadi?"
Zaira mengangkat sebelah alis, penasaran.
"Tergantung. Seberapa pribadi?"
"Yang cuma boleh ditanya sesama sahabat baik," sahut Tatiana dengan setengah senyum, meski nadanya menjadi lebih serius. "Kamu pakai alat kontrasepsi?"
Zaira mengerjap, terkejut. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena ia sendiri belum pernah menanyakannya pada dirinya sejelas itu sampai sekarang.
"Iya... maksudku, aku minum pil kontrasepsi darurat... beberapa kali pertama," jawabnya sambil merendahkan suara, mengusap tepi cangkir dengan sebuah jari. "Tapi terakhir kali aku tidak minum."
Tatiana mengernyit.
"Kok bisa enggak?"
"Enggak perlu," kata Zaira, menghindari tatapan langsung. "Leonardo bilang dia tidak bisa punya anak."
Kesunyian yang menyusul terasa sepekat kabut yang mulai turun di taman. Tatiana mengerjap beberapa kali, tak sepenuhnya paham.
"Maksudmu, tidak bisa gimana?"
Zaira mengangkat bahu, menyeruput teh, lebih untuk mengulur waktu ketimbang alasan lain.
"Begitu yang dia bilang. Dia tidak menjelaskan detailnya, kurasa dia terluka... dan aku tidak bertanya. Aku tak mau membuatnya tak nyaman. Itu hal yang sangat pribadi, kamu tahu, kan?"
Tatiana menatapnya lekat, seakan mencoba memecahkan teka-teki tak kasat mata.
"Zaira, kamu tidak merasa harusnya kamu tahu lebih banyak? Kalau kamu bersama seseorang, apalagi dengan cara seperti kamu, kamu harusnya punya kejelasan."
Zaira menunduk, merasakan sengat kecil rasa tak aman di dadanya.
"Aku tahu... tapi waktu dia bilang, dia mengatakannya dengan kesedihan yang begitu dalam... seakan menyentuh luka yang masih menganga. Aku tak mau mendesak. Kupikir itu sudah cukup."
Tatiana menarik napas panjang, memandang langit kelabu, lalu kembali menatap Zaira.
"Dan dia tidak bilang kenapa dia tidak bisa punya anak?"
Zaira menggeleng pelan.
"Enggak. Dia cuma bilang itu mustahil. Lalu dia pergi."
Tatiana ragu sejenak, mempermainkan tutup gelas kopinya. Akhirnya, ia berbisik:
"Soalnya... aku dengar sesuatu. Aku tak mau mengatakannya, tapi mungkin kamu perlu tahu."
Zaira mengangkat pandangan, gelisah.
"Apa itu?"
Tatiana mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya, merendahkan suara.
"Leonardo pernah punya istri. Dan seorang anak."
Zaira terpaku. Dunia seolah berhenti sesaat, seakan angin sendiri menahan napas. Cangkir sedikit bergetar dalam genggamannya.
"Apa...?" bisiknya. "Dia pernah...?"
Tatiana mengangguk dengan berat hati.
"Iya. Mereka meninggal. Aku tak tahu bagaimana, atau persisnya kapan, tapi itu bertahun-tahun lalu. Aku mendengarnya di klub, dari seorang tamu yang sudah lama mengenalnya."
Zaira merasakan kehampaan di perutnya. Jantungnya berdegup keras, bukan karena cemburu, melainkan karena bayangan duka yang tertahan di sorot mata Leonardo. Semuanya jadi masuk akal. Bayang-bayang yang kadang menyelubunginya. Caranya membisu setelah bercinta. Kebisuannya setiap kali bicara soal masa depan.
"Aku tak pernah membayangkannya," gumamnya, dengan suara nyaris tak terdengar.
"Karena itu barangkali... dia tak bisa punya anak. Mungkin sesuatu terjadi setelahnya, atau... mungkin karena emosinya. Aku tak tahu, Zai, tapi menurutku ini penting."
Zaira mengangguk, memandangi kedua tangannya sendiri seakan itu milik orang lain.
"Terima kasih sudah memberitahuku. Tapi aku takkan menanyakannya. Kalau dia mau menceritakannya, dia akan melakukannya saat dia siap. Itu kisahnya. Lukanya. Aku tak mau membuka luka itu tanpa izin."
Tatiana menaruh sebelah tangan di atas tangan Zaira, hangat dan mantap.
"Kamu lebih berani daripada yang kamu kira."
Zaira tersenyum getir, mengangkat pandang ke langit kelabu.
"Entah berani atau bukan... tapi aku memang mencintainya. Dan itu, kadang-kadang, berarti diam."
Malam itu, sendirian di kamarnya, sementara hujan menepuk lembut kaca jendela, Zaira merebahkan diri di atas ranjang dengan mata terpaku ke langit-langit. Kesunyian terasa pekat, hanya terputus oleh embusan napasnya.
Ia membayangkan Leonardo, bertahun-tahun silam, memeluk seorang anak, mencium seorang istri. Lalu ia membayangkannya sendirian. Hancur.
Dan tiba-tiba, ia memahami banyak hal. Caranya menjaga Zaira dengan begitu dalam. Kebutuhannya menyentuh Zaira seakan gadis itu bisa lebur di antara jemarinya. Cara suaranya bergetar saat menyebut namanya.
Ia tak bertanya lagi. Tapi di dalam hatinya, rasa hormat tumbuh bersama cinta.
Dan malam itu, sebelum tidur, ia membisikkan ke udara sebuah janji yang tak perlu didengar siapa pun, sebab hanya ia yang tahu apa yang sesungguhnya dirasakan hatinya.
"Saat kamu siap, aku akan ada di sini. Aku takkan melepaskanmu."