NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Teror Di Ambon

Kemenangan di sidang adat Tual kemarin sore seharusnya membuat warga Langgur pesta semalaman. Tapi tidak ada pesta. Kapal motor kayu Pak Karim langsung tancap gas pulang ke Langgur malam itu juga, karena Paman Tua Theo bilang, "Jangan senang dulu. Pak Hendra itu licik. Dia pasti akan balas malam ini juga. Kalian harus pulang jaga desa."

Benar saja, jam dua dini hari ketika kapal mereka baru sampai di pantai Langgur, dari kejauhan mereka melihat api kecil masih menyala di beberapa rumah yang setengah hangus kemarin, dan di pantai ada jejak ban mobil besar yang baru.

Dion dan ayahnya sudah datang lagi dan pergi lagi, mungkin hanya untuk mengintai.

Pagi ini, jam enam pagi, suasana Langgur mencekam. Tidak ada yang berani keluar rumah. Pohon mangga raksasa di halaman belakang rumah Ara yang kemarin sudah bertunas hijau, pagi ini tunas hijaunya layu lagi, menguning dan rontok. Batang pohon yang sudah sembuh kemarin, sekarang mengeluarkan getah hitam lagi, meski tidak sebanyak dulu.

Mama Ino yang menyiramkan air ke akar pohon itu berkata dengan wajah cemas, "Pohonnya sakit lagi, Ara. Kayaknya dia tahu kita akan perang lagi yang lebih besar."

Pak RT Unus datang dengan wajah panik membawa surat. Surat itu dikirim lewat ojek laut pagi-pagi sekali dari kota Tual, ada stempel pengadilan.

"Surat panggilan sidang pengadilan tinggi di Ambon! Kita disuruh datang tiga hari lagi! PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA banding! Mereka gugat kita balik! Katanya kita pakai ilmu hitam dan dukun di sidang adat! Katanya batu kita palsu dan kita pakai jin untuk tipu Tetua Adat!" teriak Pak RT sambil meremas surat itu.

Warga yang mendengar langsung berkumpul di depan rumah Ara yang setengah hangus.

"Ilmu hitam? Kita dibilang dukun? Padahal mereka yang bakar rumah kita!" teriak Bu Ani marah.

Bapak Simon yang sudah tobat maju. "Di pengadilan negara, bukti hantu tidak laku. Mereka akan bawa pengacara lebih mahal lagi, mereka akan bawa saksi palsu yang bilang tanah Langgur tanah kosong. Kita harus bawa bukti lebih kuat lagi dari batu tulis. Kita harus bawa bukti foto satelit zaman Belanda dulu yang ada peta Langgur."

Ara yang duduk di bawah pohon mangga raksasa, memeluk Batu Tulis Leluhur yang sekarang tidak menyala lagi, hanya batu hitam biasa, mengangguk.

"Kita harus ke Ambon. Aku ikut. Batu ini harus dibawa ke Ambon."

Tiga hari kemudian, perjalanan ke Ambon dimulai. Ini perjalanan terjauh yang pernah dilakukan warga Langgur. Dari Langgur naik kapal kayu ke Tual tiga jam, dari Tual naik kapal feri besar ke Ambon dua belas jam. Total hampir lima belas jam di laut.

Yang berangkat ke Ambon hanya lima orang: Pak RT Unus, Bapak Simon, Ara, Jali, dan Paman Tua Theo yang jadi penerjemah bahasa hukum. Warga lain tidak bisa ikut karena tidak punya uang dan harus jaga desa dari serangan Dion lagi. Mama Ino tinggal di Langgur untuk jaga pohon keramat.

Kapal feri besar dari Tual ke Ambon berangkat jam tujuh malam. Kapal itu besar, ada lampu terang, ada banyak orang, ada yang jualan bakso, beda sekali dengan kapal kayu Langgur. Ara yang baru pertama kali naik kapal besar, muntah-muntah karena mabuk laut, tapi dia tetap peluk karung goni berisi Batu Tulis Leluhur erat.

Di dalam kapal feri yang penuh sesak itu, jam sepuluh malam ketika lampu kapal sudah diredupkan dan banyak penumpang sudah tidur, Ara terbangun karena merasa jaket hitam Revan yang dia pakai ditarik-tarik pelan dari belakang.

Dia menoleh ke belakang. Tidak ada orang. Hanya tumpukan karung beras.

Tapi tarikan itu terasa lagi, lebih kencang.

Jali yang duduk di samping Ara juga terbangun. "Ara, kamu merasa tidak? Kayak ada yang lewat di belakang kita terus, dingin sekali."

Pak RT Unus yang duduk di depan mereka juga terbangun dan berbisik, "Jangan tidur dulu. Aku merasa ada yang tidak beres di kapal ini. Dari tadi aku lihat ada dua orang laki-laki pakai topi hitam terus lihatin karung goni kita."

Ara langsung memeluk karung goni berisi batu itu lebih erat. Batu itu di dalam karung terasa hangat, seperti memberi tanda bahaya.

Tiba-tiba, lampu kapal feri yang sudah redup, mati total. Gelap gulita. Penumpang lain langsung ribut dan berteriak.

"Tenang! Tenang! Gangguan listrik saja!" teriak petugas kapal lewat pengeras suara.

Tapi di tengah kegelapan itu, Ara melihat dengan jelas, dua orang laki-laki bertopi hitam yang dibilang Pak RT tadi, berjalan mendekati mereka dengan cepat. Di tangan salah satunya ada pisau kecil yang berkilau kena cahaya darurat kapal.

"Rampok! Mereka mau rampok batu kita!" teriak Bapak Simon pelan tapi panik.

Sebelum dua orang itu sampai ke tempat Ara, dari dalam karung goni yang dipeluk Ara, keluar cahaya emas pelan, dan dari cahaya itu keluar asap putih yang membentuk Revan.

Revan muncul di atas kapal feri besar itu, di tengah kegelapan, di tengah kepanikan penumpang. Hanya Ara dan empat warga Langgur yang bisa melihat Revan, penumpang lain tidak bisa melihat.

Revan berdiri di depan Ara dan mengangkat tangannya. Angin laut yang kencang tiba-tiba masuk ke dalam kapal lewat jendela, membuat dua orang bertopi hitam itu terjatuh dan pisau mereka terlempar ke laut.

Dua orang itu bangun dan lari ketakutan ke dek atas kapal, meninggalkan kapal lewat pintu darurat.

Lampu kapal menyala lagi.

Penumpang lain bersorak karena lampu menyala lagi, mengira gangguan listrik sudah selesai.

Tapi Pak RT Unus tahu, itu bukan gangguan listrik. Itu teror pertama dari PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA. Mereka kirim preman untuk ambil batu tulis di tengah laut, biar tidak ada saksi.

"Terima kasih, Van," bisik Ara pelan ke asap putih Revan yang masih berdiri di depannya.

Revan tersenyum. "Jaga batunya, Ra. Di Ambon nanti akan lebih banyak lagi terornya. Mereka tidak akan biarkan kalian menang gampang. Ayahnya Dion punya banyak uang untuk bayar preman."

Revan menghilang lagi masuk ke dalam batu hitam di karung goni.

Kapal feri terus berlayar membelah laut malam yang gelap menuju Ambon, membawa lima warga kampung kecil yang akan melawan perusahaan miliaran rupiah di pengadilan tinggi.

Jam enam pagi, kapal feri sampai di pelabuhan Ambon yang sangat besar dan ramai. Kota Ambon jauh lebih besar dari Tual, gedung-gedungnya tinggi, mobilnya banyak sekali, dan orang-orangnya berjalan cepat-cepat.

Di depan pelabuhan Ambon, sudah menunggu sebuah mobil hitam mewah yang sama dengan mobil Dion. Kaca mobil itu dibuka, dan Dion melambaikan tangan ke arah Ara dengan senyum mengejek dari dalam mobil.

"Selamat datang di Ambon, warga Langgur. Selamat datang di kandang singa. Di sini tidak ada pohon keramat yang bisa selamatkan kalian. Di sini yang menang adalah yang punya uang paling banyak," teriak Dion dari dalam mobil, lalu mobil itu tancap gas pergi, meninggalkan asap knalpot hitam yang mengenai wajah Ara.

Pak RT Unus mengepalkan tangannya. "Ayo, kita ke pengadilan. Kita buktikan, uang tidak bisa beli tanah adat."

Lima warga Langgur itu berjalan kaki menyusuri jalan besar kota Ambon yang panas dan berdebu, membawa karung goni berisi batu hitam penentu nasib desa mereka, menuju gedung pengadilan tinggi yang menjulang tinggi di depan mereka, yang terlihat seperti raksasa yang akan menelan mereka hidup-hidup.

Di atas gedung pengadilan tinggi itu, Ara melihat ada burung gagak hitam besar yang bertengger, menatap mereka dengan mata merah menyala, persis seperti mata Revan waktu marah.

Teror di Ambon baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!