Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2.
Suara tut-tut-tut dari telepon yang terputus sepihak memukul indra pendengaran Bella, menyisakan rasa sesak di dadanya. Ia melempar ponselnya ke atas sofa dengan kekesalan yang membakar.
"Kenapa lagi, sih?" tanya Vero sambil berdiri dan merapikan pakaiannya. Raut wajahnya berubah acuh tak acuh, tak ada lagi sisa kehangatan seperti beberapa menit lalu.
"Kak Nathan," desis Bella sambil memeluk lututnya di sofa. "Dia selalu aja kayak gitu. Sok ngatur, padahal dia sendiri jarang pulang! Papa sama Mama juga sama aja, cuma peduli sama tagihan kartu kredit, bukan aku."
Vero menghela napas panjang, lalu meraih jaket kulitnya dari lengan sofa tanpa menatap Bella. "Ya udah, kamu pulang aja sekarang. Daripada kakak kamu ngirim orang ke sini dan bikin ribet?"
Bella menengadah, menatap Vero dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu ngusir aku, Vero? Kita baru aja..."
"Bukan ngusir, Sayang," potong Vero cepat dengan senyum tipis yang terasa begitu dingin. Ia menepuk kepala Bella sekilas. "Aku cuma nggak mau kena masalah sama keluarga kamu. Lagian besok aku ada urusan pagi. Kamu pesan taxi online aja, ya?"
Kata-kata itu bagai siraman air es. Kehangatan palsu yang baru saja Bella tebus dengan harga dirinya menguap begitu saja. Namun, demi mempertahankan kepemilikan yang rapuh itu, Bella hanya bisa mengangguk pasrah. "Oke... aku pulang."
*
Satu jam kemudian, mobil yang ditumpangi Bella berhenti di depan pagar besi menjulang tinggi milik kediaman Allegra. Rumah megah berarsitektur modern itu berdiri kokoh, namun tampak kelam. Hanya pendar lampu taman yang menyala, mempertegas kesan dingin yang selalu membuat Bella enggan menginjakkan kaki di sana.
Dengan langkah lesu, Bella melangkah masuk. Denting kunci dan decitan pintu utama bergema di dalam rumah yang sunyi.
"Dari mana aja kamu jam segini?"
Suara dingin dan datar yang begitu familier menyambutnya dari sudut ruang tamu. Bella tersentak kaget, menghentikan langkahnya di atas lantai marmer yang dingin.
Di sana, Nathan duduk di balik meja kaca dengan laptop yang masih menyala. Kemeja putihnya tergulung hingga siku, kacamatanya bertengger di pangkal hidung, dan tumpukan berkas perusahaan berserakan di sekitarnya. Pria berusia 23 tahun itu bahkan tidak menoleh saat berbicara; matanya tetap tertuju pada layar laptop, memancarkan aura sosok gila kerja yang acuh tak acuh.
"Bukan urusan Kakak," balas Bella sengit, berusaha menyembunyikan getar di suaranya sambil merapatkan jaket untuk menutupi bagian atas gaunnya yang sedikit kusut.
Nathan akhirnya menutup laptopnya perlahan. Suara clack kecil dari engsel laptop terasa begitu mengintimidasi di tengah keheningan malam. Ia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya sebelum menatap Bella dengan pandangan yang benar-benar hampa—tak ada kemarahan, tak ada rasa khawatir, hanya ada kelelahan dan ketidakpedulian yang pekat.
"Mama nelepon aku lagi jam satu malam tadi," kata Nathan tenang, suaranya tanpa emosi. "Tagihan kartu kredit kamu minggu ini melebihi batas lagi. Kamu buang uang sebanyak itu cuma buat cowok kamu yang nggak jelas itu, kan?"
"Tahu apa Kakak soal dia?" potong Bella, matanya mulai memanas. "Setidaknya dia ada buat aku! Nggak kayak Kakak yang cuma peduli sama kampus dan perusahaan Papa! Kakak nggak pernah peduli aku hidup atau mati di rumah ini!"
Nathan berdiri perlahan. Tinggi tubuhnya membuat bayangannya jatuh menutupi Bella, namun sorot matanya tetap datar tanpa riak emosi sedikit pun.
"Aku emang nggak peduli kamu mau pergi sama siapa atau pulang jam berapa, Bella," ujar Nathan dingin, kalimatnya menusuk tepat di dada Bella. "Tapi aku peduli kalau kebodohan kamu mulai ngeribetin aku dan bikin Papa Mama terus-terusan nelepon aku pas lagi sibuk."
Bella mengepalkan tangannya rapat-rapat, meratapi betapa asingnya saudara kandungnya sendiri.
Nathan meraih ponsel di atas meja, menggeser layarnya sebentar lalu menatap Bella kembali. "Tapi tenang aja. Mulai besok, aku nggak perlu pusing lagi ngurusin kamu."
Bella mengerutkan dahi, rasa curiga mendadak menyelimutinya. "Maksud Kakak apa?"
Nathan tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin tanpa rasa humor. "Besok Aku ada pekerjaan di luar kota selama satu bulan."
Bella terkekeh sumbang, sebuah tawa getir yang sarat akan rasa sakit yang terpendam sekian lama. "Pekerjaan lagi? Bagus! Pergi aja sekalian selamanya, Kak! Emang itu kan yang selalu Kakak lakuin? Lari dari rumah ini!"
"Jaga ucapan kamu, Bella," tegas Nathan, alisnya bertaut rapat.
"Kenapa? Tersinggung?" tantang Bella, melangkah maju hingga kini ia berdiri amat dekat di hadapan kakaknya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. "Aku capek, Kak! Aku capek selalu dibanding-bandingin sama Kakak! Di mata Papa sama Mama, Kak Nathan itu sempurna. Kak Nathan anak kebanggaan, mahasiswa berprestasi, calon penerus bisnis Allegra. Sedangkan aku? Aku cuma produk gagal yang bikin malu!"
Nathan memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas kasar. "Nggak ada yang bilang kamu produk gagal, Bella. Kamu yang bikin diri kamu sendiri kelihatan rendah dengan cara murahan kayak gini!"
"Karena aku butuh kasih sayang!" jerit Bella, suaranya pecah menggema di setiap sudut ruang tamu yang dingin itu. "Aku cuma mau diperhatiin! Papa sama Mama nggak pernah ada di sini! Mereka cuma ngirim uang seolah uang bisa gantiin sosok orang tua! Dan Kakak... Kakak ada di sini, tapi Kakak nggak pernah tanyain kabar aku, nggak pernah peluk aku, nggak pernah peduli sama perasaan aku! Aku kudu nyari kasih sayang dan perlindungan itu dari cowok lain karena di rumah ini... aku nggak punya siapa-siapa!"
Dada Bella naik turun membendung emosi yang meluap-luap. Ia menunjuk dada Nathan dengan jari gemetar. "Kakak tahu gimana rasanya kesepian di rumah sebesar ini sendirian? Enggak, kan? Karena Kakak selalu dipuji, selalu disayang, selalu dibanggakan! Aku iri sama Kakak!"
Ucapannya menjadi jerami terakhir yang membakar pertahanan Nathan. Kesabaran dan kepura-puraan dingin yang dibangun pria itu hancur seketika.
"DIAM, ARABELLA!"
Bentakan Nathan membahana, keras dan menggelegar hingga membuat Bella terlonjak kaget dan melangkah mundur seketika. Sorot mata Nathan yang biasanya tenang kini berkilat marah, urat-urat di lehernya menegang menahan emosi yang meledak.
"Kamu pikir kamu aja yang menderita di sini?!" bentak Nathan dengan nada tinggi, mencengkeram bahu Bella erat hingga gadis itu meringis. "Kamu mikir aku menikmati semua beban ini?! Aku harus mengorbankan masa muda aku, belajar sampai pagi, ngurusin bisnis Papa yang hampir bangkrut, cuma buat mastiin rumah ini tetap berdiri dan kamu masih bisa foya-foya!"
Nathan menatap Bella dengan tatapan penuh kebencian dan kelelahan yang mendalam. "Kamu bilang aku disayang? Kamu nggak tahu apa-apa, Bella! Kamu nggak tahu kenapa Papa sama Mama selalu menuntut aku buat jadi sempurna, sementara kamu dibiarin gitu aja! Itu karena kamu bukan—"
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang