Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badas Gurls.....
Pagi hari di distrik Marunouchi, Tokyo, menara pencakar langit milik Uchiha Group berdiri megah membelah langit. Di lantai paling atas gedung lima puluh lantai itu, Itachi Uchiha berdiri di balik dinding kaca raksasa. Mengenakan setelan jas tailor-made warna charcoal pekat, sang CEO berusia 27 tahun sedang mendengarkan laporan akuisisi saham anak perusahaan bernilai puluhan triliun yen. Di dunia legal, Itachi adalah raja bisnis yang tak terkalahkan; sedangkan di dunia bawah tanah, dia adalah strategi utama yang menjaga kestabilan finansial klan Yakuza Uchiha.
Sementara itu, di markas keamanan kediaman utama, Hatake Kakashi sedang menyelesaikan tugas rutinnya sebelum menjemput Yoona. Di sela-sela jam kuliah Yoona, Kakashi tidak pernah benar-benar bersantai. Pria berusia 30 tahun itu memantau langsung jaringan kamera pengawas rahasia yang terpasang di sekitar perimeter universitas, memverifikasi laporan tim Pembersih yang mengonfirmasi bahwa klan saingan dari Yokohama belum menyadari hilangnya informan mereka dua hari lalu.
Selain itu, tangan kekar Kakashi yang dipenuhi ukiran tato Yakuza sibuk mengoordinasikan pengiriman pencuci mulut favorit Yoona dari koki langganan di Ginza. Bagi Kakashi, menjaga keamanan Yoona adalah prioritas absolut, dan memastikan senyuman gadis itu tetap mengembang adalah satu-satunya misi hidupnya. Namun pagi ini, sebuah kejutan kecil terjadi di garasi bawah tanah kediaman Uchiha.
Saat Kakashi membukakan pintu Range Rover hitam seperti biasa, Yoona melangkah melewatinya begitu saja. Langkah kaki gadis itu tegas menuju ke sudut garasi VIP, tempat berjejer supercar koleksi klan Uchiha.
"Nuna?" panggil Kakashi, menaikkan sebelah alisnya di balik masker.
Yoona memutar kunci di jarinya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh intrik. "Hari ini aku tidak mau naik Range Rover, Kakashi. Aku yang menyetir sendiri."
Mata Yoona tertambat pada satu mobil yang paling mencolok di garasi: sebuah Lamborghini Aventador SVJ berwarna kuning mentereng (Canary Yellow) yang memantulkan kilau lampu neon garasi.
REFERENSI cr. Pinterest
"Aku mendengar rumor menarik dari Lisa semalam," gumam Yoona santai, mengetuk kap mobil kuning itu dengan kuku cat hitamnya yang terawat.
"Si mantan centil Sasuke itu sibuk menyebarkan gosip kalau aku ini cewek simpanan om-om hanya karena sering dijemput mobil kaca gelap dan dikawal pria berjas. Jadi... mari kita beri dia tontonan yang makin heboh hari ini."
Kakashi terkekeh rendah—suara tawa serak yang sangat hangat. Dia tidak melarang. Pria itu justru melangkah mendekat, mengusap puncak kepala Yoona dengan lembut sebelum membukakan pintu gull-wing Lamborghini tersebut. "Nikmati permainanmu, Nuna. Saya akan mengikutimu dari belakang."
Satu jam kemudian, suasana area parkir VIP Universitas Tokyo mendadak gempar.
Suara deru mesin V12 yang menggelegar berat memecah kebisingan pagi. Sebuah Lamborghini Huracán Evo warna hitam pekat meluncur masuk dengan gaya tebar pesona. Pintu dibuka, dan Sasuke melangkah keluar. Si kadal playboy itu mengenakan kemeja hitam yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan dadanya yang bidang. Sasuke merapikan rambut acak-acakannya sambil melemparkan kerlingan maut ke arah deretan mahasiswi yang langsung histeris.
"KYAAA! SASUKE-KUN NAIK LAMBO BARU!"
"GILA, GANTENG BANGET NGGAK KUAT!"
Sasuke menyeringai puas, menyandarkan tubuhnya di kap mobil mewahnya sambil bersiap melangkah menuju gedung fakultas.
Namun, sebelum Sasuke sempat melangkah tiga ayunan, suara deru mesin V12 lain yang jauh lebih melengking, bertenaga, dan menggelegar dahsyat mengguncang seluruh area parkiran!
BRUMMM! BRUMMMM!
Sebuah Lamborghini Aventador warna kuning mentereng meluncur masuk dengan kecepatan tinggi, melakukan drift mulus di tikungan parkir, lalu berhenti dengan presisi sempurna persis di sebelah mobil hitam milik Sasuke!
Seluruh mahasiswa di parkiran mematung seketika. Bahkan Sasuke yang sedang menyisip kopi kalengnya sampai tersedak pelan, melongo menatap mobil kuning menyala yang mengalihkan seluruh perhatian publik dari dirinya.
Pintu gull-wing Lamborghini kuning itu terangkat perlahan ke atas bagaikan sayap burung pemangsa.
Dan dari dalam mobil, melangkah keluar sang pemilik panggung sesungguhnya: Yoona Uchiha.
Aura seksi, berani, dan badass memancar kuat dari penampilannya hari ini yang terinspirasi dari gaya denim-on-denim Calvin Klein.
Yoona mengenakan kemeja denim longgar, Relax Fit Daddy Denim Shirt warna biru klasik, yang sengaja dibiarkan terbuka total tanpa dikancingkan. Di balik kemeja denimnya, terbalut Modern Scoop Bralette warna hitam pekat dari Calvin Klein yang membungkus bagian dadanya dengan sangat pas, memperlihatkan perut ratanya yang mulus bergaris tipis serta pinggang rampingnya yang luar biasa seksi. Bawahannya dipadukan dengan celana CK1 Low Rise Straight Denim bertali pinggang melorot santai yang membungkus kakinya yang jenjang.
REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK
Dengan rambut hitam panjang yang terurai bergelombang tertiup angin pagi dan kacamata hitam bertengger anggun di hidungnya, Yoona benar-benar menjelma menjadi supermodel internasional yang melangkah keluar dari sampul majalah Vogue.
CRAK.
Kopi kaleng di tangan Sasuke hampir remuk. Sasuke melongo hebat, matanya melotot menatap adiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Anjir..." gumam Sasuke syok berat, refleks memegangi jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ini bocah kesurupan setan apa pagi-pagi?! Dih, outfit-nya kaga ada akhlak seksi amat! Bikin pria se-kampus senam jantung!"
Tak jauh dari sana, Lisa yang baru tiba di selasar parkiran mendadak menghentikan langkahnya. Muka Lisa seketika berubah jadi komuk paling absurd se-dunia: matanya melotot sampai mau copot, mulutnya menganga lebar bagaikan huruf O raksasa, dan tangannya menepuk paha sendiri dengan heboh.
"ANJIRRRR! BENTAR, BENTAR! INI GUE NGGAK SALAH LIHAT KAN?!" jerit Lisa dengan suara tertahan, mukanya bengek setengah mati antara syok dan mau ngakak mulas. "GOKIL NANA! KEMEJA DENIM DIBUKA PAKAI BRALETTE CALVIN KLEIN NAIK LAMBO KUNING?! REZE BISA KEJANG-KEJANG LIHAT INI!"
Di selasar utama gedung fakultas bisnis, Reze sedang berdiri di tengah kerumunan cewek-cewek penampung gosip. Mengenakan gaun feminin bergaya anggunly yang tampak biasa saja dibanding kehadiran Yoona, Reze sedang asyik menebar racun dengan suara sok prihatin.
"Kalian harus tahu ya," bisik Reze dengan cengiran penuh dengki, "si Yoona itu gaya doang sok mahal di kampus. Padahal aslinya dia itu cewek simpanan om-om kaya! Tiap hari dijemput mobil hitam kaca gelap, dikawal pria tua berjas... Palingan juga dibeliin tas sama om-om simpanannya!"
Beberapa cewek di sekitarnya mulai berbisik-bisik percaya. Namun tiba-tiba, kerumunan di selasar mendadak terbelah.
Suara ketukan santai sepatu sneakers milik Yoona bergema mendekat. Di sekelilingnya, ratusan pasang mata mahasiswa menatap Yoona tanpa kedip—terpesona sekaligus terintimidasi oleh pameran aura seksi dan mewahnya pagi ini.
Yoona melangkah anggun, menyilangkan tangan di depan dada hingga kemeja denimnya yang terbuka makin memperlihatkan bralette Calvin Klein dan lekuk pinggang cantiknya yang memikat.
Reze yang melihat Yoona datang menyetir Lamborghini kuning sendiri dengan penampilan luar biasa mahal itu seketika mematung. Senyum dengki di wajahnya luntur total, berganti jadi rasa kaget dan minder yang sangat parah.
Yoona menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depan Reze. Dia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Reze dari balik lensa gelap dengan pandangan mual yang sangat savage.
"Melanjutkan gosip murahanmu, Reze?" tanya Yoona pendek. Suaranya tidak kencang, tapi begitu dingin dan jernih hingga sanggup didengar oleh puluhan orang di sekeliling mereka.
Reze meneguk ludahnya yang terasa pahit. "K-kamu... kamu ngomong apa sih?! Nggak usah sok suci ya! Semua orang juga tahu kamu itu dijemput om-om tiap sore!"
Yoona terkekeh pelan—sebuah kekehan dingin yang menusuk ulu hati.
"Om-om?" Yoona memajukan tubuhnya sedikit, menatap Reze dengan tatapan dominasi mutlak. "Dengar ya, cewek miskin imajinasi. Pria berjas yang sering menjemputku itu adalah pengawal pribadiku. Dan mobil kuning mentereng di depan sana? Itu hanya salah satu mainan kecil di garasi rumahku."
Seluruh selasar seketika riuh oleh bisikan syok!
"A-Apa... pengawal pribadi?!" gumam Reze gagap, wajahnya mulai pucat pasi.
"Otakmu yang kotor itu terlalu dangkal untuk memahami bahwa ada cewek di dunia ini yang lahir dengan kekayaan yang bahkan tidak sanggup dibeli oleh seluruh harga diri keluargamu," semprot Yoona tanpa ampun, merobek sisa-sisa muka Reze di depan publik. Yoona menyentuh kerah gaun Reze dengan ujung jarinya yang bercat hitam, menyibakkannya risih. "Lain kali kalau mau menyebar rumor, pastikan dulu bisnismu cukup kaya untuk menyaingi isi dompetku. Kasihan sekali... sudah miskin, iri, mukanya kalah jauh pula."
"BWAHAHAHA! SKAKMAT ANJIR!" tawa Lisa akhirnya pecah kencang-kencang di balik kerumunan, disusul oleh sorakan dan tawa meremehkan dari mahasiswa lain yang selama ini muak dengan tingkah drama Reze.
Reze berdiri mematung di tempat. Wajahnya merah padam bercampur pucat pasi. Air mata malu meleleh di pipinya saat dia menyadari bahwa dirinya baru saja dibantai dan dipermalukan sampai ke dasar bumi oleh sang putri berkulit es. Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun, Reze menutupi mukanya dan berlari pergi sambil menangis histeris.
Sasuke yang memperhatikan kejadian itu dari jauh hanya bisa menepuk dadanya sendiri, menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Gila... adek gua kalau udah ngamuk bener-bener kagak ada obatnya."
Sore hari tiba. Matahari Tokyo mulai terbenam, memancarkan warna jingga keemasan di langit.
Di area jalan sepi tak jauh dari gerbang belakang kampus, mobil Range Rover hitam ber-kaca gelap milik Kakashi sudah terparkir rapi. Kakashi sengaja menyimpan Lamborghini kuning Yoona lewat tim pengawal klan agar Yoona bisa pulang dengan santai.
Pintu mobil terbuka, dan Yoona melangkah masuk ke dalam kabin passenger yang sejuk dan harum aroma kayu sandalwood.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan terisolasi dari dunia luar, seluruh aura badass, seksi, dan savage Yoona runtuh seketika. Yoona melepas kacamata hitamnya, mengomeli rasa lelahnya, lalu langsung memanjat pelan dan menyusupkan tubuhnya ke dalam pelukan Kakashi yang duduk di kursi pengemudi. Kedua tangan lentiknya melingkar manja di leher tegap pria berusia 30 tahun itu, menempelkan pipinya di dada bidang Kakashi.
"Kakashiii... capek banget hari ini," aduh Yoona dengan nada suara yang berubah 180 derajat—menjadi sangat serak, manja, dan kekanak-kanakan.
Kakashi terkekeh rendah—suara tawa hangat yang sangat membuai. Tangan besarnya yang tertutup ukiran tato Yakuza melingkar protektif di pinggang ramping Yoona, mengusap punggung gadis itu yang masih terbalut kemeja denim terbuka.
"Tapi kamu menang telak hari ini, Nuna," bisik Kakashi lembut, menunduk untuk mengecup puncak kepala Yoona dengan penuh kasih sayang. "Saya melihat semuanya dari jauh. Kamu sangat luar biasa... dan sangat seksi."
Pipii Yoona merona merah mendengar pujian jujur dari Kakashi.
Dia mendongak, menyandarkan dagunya di dada Kakashi sambil mengerucutkan bibirnya manja. "Iya dong! Biar cewek centil itu kapok! Tapi aku lapar... mau makan makanan enak sebelum pulang ke rumah."
"Tentu, Nuna. Apapun untukmu."
Kakashi mengemudikan Range Rover menuju ke sebuah area kedai tradisional tersembunyi di pinggiran distrik Yanaka—tempat sepi yang tidak terjangkau oleh keramaian publik.
Di dalam mobil yang terparkir di bawah rindangnya pohon sakura tua, Kakashi menyajikan beberapa bungkus hidangan yang baru saja dibelinya: Dango beras hangat berbalut saus karamel manis-gurih, Takoyaki isi daging sapi wagyu super pedas tanpa udang, serta dua gelas besar Matcha Latte kental ber-es.
Yoona duduk menyamping di pangkuan Kakashi, menikmati Dango-nya dengan gembira. Saat sedikit saus karamel menempel di sudut bibir Yoona, Kakashi menghentikan gerakannya.
Pria berusia 30 tahun itu perlahan menurunkan masker hitamnya. Dengan tatapan mata kelam yang begitu dalam dan lembut, Kakashi mendekatkan wajahnya, lalu mengusap lembut sudut bibir Yoona menggunakan ibu jarinya, sebelum menyesap sisa saus itu sendiri.
Tindakan sederhana namun sangat intim itu membuat napas Yoona tertahan sejenak. Jantungnya berdegup kencang dalam dekapan tegap sang pengawal.
"Kakashi..." bisik Yoona pelan, menatap bibir tipis dan rahang tegas Kakashi yang tersingkap tanpa masker.
"Ya, Nuna?" sahut Kakashi lembut, menempelkan dahinya di dahi Yoona, membiarkan ibu jarinya mengusap pipi mulus gadis itu.
"Sausnya masih ada di sini," gumam Yoona manja, menunjuk bibirnya sendiri dengan mata berbinar polos.
Kakashi tersenyum gemas di depan wajah Yoona. Tanpa ragu, Kakashi memajukan wajahnya dan menyapu bibir Yoona dengan ciuman lembut yang manis—sebuah kecupan pelan yang memadukan rasa manis karamel dan kehangatan cinta yang membakar di balik dinginnya dunia Yakuza.
Di dalam kabin mobil yang remang, di bawah naungan malam Tokyo yang mulai jatuh, Yoona memejamkan matanya sambil memeluk leher Kakashi erat-erat, menikmati setiap detik perlakuan istimewa yang hanya berhak dimiliki olehnya seorang.
...----------------...
FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.