NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 09

Part 09

Tina memanyunkan bibirnya saat Alfan mengajaknya ke sebuah restoran, padahal perutnya sedang kelaparan sekarang, namun harus menemani bosnya itu makan siang, tentu saja Tina pasti akan dibuat seperti sapi ompong yang hanya bisa melihat bosnya makan.

"Saya pesan ini, ini, ini, dan semua ini ya. Minumannya juga yang ini dua." Alfan menunjuk ke arah buku menu saat pelayan datang menanyakan pesanannya.

"Baik, Pak. Mohon ditunggu!"

"Iya, terima kasih." Alfan mengangguk samar lalu menatap ke arah Tina yang tampak muram wajahnya, ekspresinya bahkan terlihat kesal entah karena apa.

"Kamu kenapa?"

"Saya lapar, Pak. Tapi saya harus menemani Anda makan, ini kan jam istirahat bukan jam kerja, Pak. Masa saya harus tetap menemani Anda makan?" keluh Tina terdengar kesal, namun Alfan justru tersenyum diam-diam, asistennya itu terlalu polos atau bagaimana, padahal tadi Alfan sudah mengatakan bila dia akan makan bersamanya.

"Saya sudah bilang kan, kamu makan bersama saya di sini. Kenapa kamu malah merengek seperti anak kecil? Kekanak-kanakan." Alfan berdecap tak habis pikir, namun Tina justru masih cemberut.

"Iya karena saya seharusnya sudah makan sekarang, tapi Bapak malah menyuruh saya makan di sini. Memangnya apa enaknya makanan di sini? Pasti porsinya kecil, tidak banyak, tidak bisa kenyang." Tina menatap sekelilingnya, di mana orang-orang yang berada di sana begitu pelan memakan makanannya, berbeda dengan cara makannya.

"Ini restoran khas Indonesia bukan Perancis, jadi kamu tidak perlu khawatir dengar porsi makannya."

"Iya sih, tapi tetap saja saya seharusnya sudah makan sekarang." Tina mengelus-elus perutnya, merasa tidak sabar untuk diisi makanan. Sedangkan Alfan hanya terdiam dengan mata dingin dan tenang, yang langsung Tina senyumi setelah sadar tingkah lakunya sudah membuat bosnya marah.

"Maaf, Pak."

"Kenapa minta maaf?"

"Karena saya terlalu mengeluh." Tina menundukkan wajahnya yang diangguki mengerti oleh Alfan.

"Bagus lah kalau kamu sadar, saya hampir saja mengusir kamu dari sini." Alfan menjawab ketus yang hanya Tina gerutui dalam hati.

"Iya, Pak. Maaf." Tina menjawab pasrah, berusaha untuk mengalah, karena yang bisa ia lakukan sekarang hanya bersabar menghadapi bosnya dan menunggu makanan yang entah kapan akan datang.

Cukup lama menunggu, akhirnya pesanan mereka datang, membuat Tina tersenyum girang, merasa tak sabar ingin segera melahap makanannya.

"Permisi, Pak. Maaf sudah menunggu lama." Beberapa pelayan datang membawa banyak makanan dan menghidangkannya di hadapan mereka. Membuat Tina terkejut, melihat banyak makanan yang begitu menggiurkan lidah dan perutnya.

"Terima kasih," jawab Alfan setelah para pelayan meletakkan semua makanannya.

"Iya, Pak. Permisi."

"Wah," decak kagum Tina saat mendapati banyak makanan di mejanya.

"Kenapa cuma dilihat? Cepat makan, katanya lapar."

"Semua ini boleh saya makan, Pak?" tanya Tina terdengar antusias.

"Iya. Kecuali nasi saya, tapi kalau minuman kita bisa join." Alfan melirik ke arah minumannya, sedangkan Tina langsung cemberut tak suka.

"Ini minuman saya, Bapak tidak boleh minum. Kalau yang itu, baru minuman Bapak." Tina menunjuk bergantian dua minuman yang berada di sisi meja, sedangkan Alfan hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Tina yang menggemaskan.

"Iya-iya, makanlah! Tapi jangan semuanya kamu makan, saya juga lapar." Alfan memulai aktifitas makannya, membuat Tina tersenyum senang melihat ke arah meja di mana banyak makanan yang tersaji di sana.

"Terima kasih, Pak. Dan selamat makan." Tina mulai mengambil makanannya dengan bersemangat, tanpa menyadari bagaimana Alfan tersenyum, karena baginya kebahagiaan Tina terlalu sederhana, padahal hanya dengan makanan.

"Iya," jawab Alfan singkat.

"Bapak tidak kasih saya ucapan selamat makan?" Tina memicingkan matanya ke arah Alfan yang menghentikan makannya lalu menatapnya.

"Memangnya harus ya?"

"Iya dong, Pak. Saya sudah biasa seperti itu sama Papa saya, keluarga saya, sama Ria dan Viona juga."

"Terus sama siapa lagi?" tanya Alfan penasaran, yang Tina tanggapi dengan memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat orang lain selain mereka.

"Tidak ada, Pak." Tina menyunggingkan senyumnya, berusaha menutupi seseorang yang masih berada di hatinya.

"Begitu ya? Ya sudah, selamat makan ya?" Alfan berujar tulus ke arah Tina, entah kenapa ia merasa spesial saat mengatakannya pada asistennya tersebut.

"Siap, Pak." Tina kembali memakan makanannya, yang lagi-lagi tanpa menyadari bagaimana Alfan tersenyum melihat tingkah lakunya.

"Oh iya, mulai besok kamu harus menemani saya makan siang di sini, saya tidak mau mendengar penolakan." Alfan berujar serius ke arah Tina yang asyik dengan acara makannya.

"Setiap hari, Pak?"

"Ya iya setiap hari."

"Berarti saya tidak bisa makan dengan Ria dan Viona lagi?"

"Ya tidak bisa. Kenapa? Kamu mau saya tidak membayar kamu untuk pura-pura menjadi calon istri saya?"

"Ya jangan lah, Pak. Iya-iya saya akan terus makan siang dengan Anda, toh makanan di sini juga enak." Lagi-lagi Tina tersenyum hingga matanya menyabit lucu.

"Iya-iya, sudah sana habiskan makanannya, tapi jangan piringnya kamu telan juga." Alfan menjawab dengan tenang, sedangkan Tina justru kembali mendongak dengan ekspresi berbeda.

"Bapak ngajak saya bercanda ya? Enggak lucu, Pak." Tina memanyunkan bibirnya yang sempat membuat Alfan tertawa meski bisa ia tahan.

"Saya cuma mengingatkan. Apa salahnya? Cepat makan sana." Alfan menjawab ketus lalu kembali fokus dengan makannya, tanpa mau memedulikan bagaimana Tina cemberut mendengar ucapannya, meski pada akhirnya ia mulai makan juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!