Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Perang Harga
"Seratus lima puluh ribu Batu Roh!"
Suara Ouyang Lie menggema dari ruang Kehormatan Nomor 2. Tekanan Pembentukan Fondasi membuat seluruh aula seketika sunyi.
Harga itu sudah jauh melampaui nilai pil Tingkat 2 biasa. Namun Sembilan Cincin Kemurnian membuat pil tersebut nyaris tanpa sisa racun. Jika dikonsumsi Ouyang Chen, manfaatnya akan jauh lebih besar daripada pil biasa.
Di ruang Kehormatan Nomor 3, Paman Qin mengerutkan kening.
"Nona, seratus lima puluh ribu terlalu mahal. Kita masih membutuhkan Batu Roh untuk mencari Api Surgawi."
Su Yue'er menggelengkan kepalanya.
"Paman Qin, yang kuincar bukan sekadar pilnya."
Tatapannya tertuju pada botol giok di atas panggung.
"Alkemis yang mampu memurnikan pil hingga Sembilan Cincin pasti memiliki kendali api yang luar biasa. Jika kita bisa menemukan orang itu, mungkin penyakitku juga bisa disembuhkan."
Ia menekan menawar kembali.
"Dua ratus ribu Batu Roh."
Seluruh aula seketika gempar.
Dua ratus ribu Batu Roh bukan jumlah kecil. Kekayaan sebesar itu bahkan cukup untuk menghidupi sebuah kota kecil selama bertahun-tahun.
Wajah Ouyang Lie menggelap. Ia hanya membawa empat ratus ribu Batu Roh dan sebagian besar harus disiapkan untuk mendapatkan Batu Roh Urat Bumi.
Jika ia terus menawar, rencana utamanya bisa hancur.
"Keluarga Su..." Ouyang Lie mengepalkan tangannya. "Lupakan pil itu."
Ia bersandar dengan wajah muram.
"Aku tidak akan mengorbankan terobosanku demi sepuluh pil."
Melihat tak ada tawaran lain, Liu Er mengangkat palu giok.
"Dua ratus ribu. Ada yang lebih tinggi lagi?"
Ia menunggu sejenak.
"Tiga!"
"Dua!"
"Satu!"
Tok!
"Terjual kepada tamu terhormat dari ruang Kehormatan Nomor 3!"
Sorak-sorai langsung memenuhi aula.
Di ruang Kehormatan Nomor 1, Lin Xuan bersandar santai sambil tersenyum.
Sepuluh pil yang dibuat dari bahan sisa Keluarga Zhao kini telah berubah menjadi dua ratus ribu Batu Roh.
"Bagus."
Ia menyesap tehnya.
"Kalau begini, serpihan kualiku pasti akan kembali ke tanganku."
Lelang terus berlangsung. Berbagai senjata spiritual dan pusaka ditawarkan satu demi satu. Lin Xuan hanya memejamkan mata. Baginya, semua itu belum layak menarik perhatiannya.
Satu jam kemudian, cahaya panggung kembali meredup.
Liu Er memberi isyarat. Empat penjaga membawa peti kristal yang diselimuti segel es ke atas panggung.
Begitu segelnya dibuka, sebuah batu seukuran kepalan tangan memancarkan cahaya keemasan. Qi elemen tanah yang pekat langsung memenuhi seluruh aula.
"Para tamu sekalian. Berikut salah satu barang utama hari ini. Batu Roh Urat Bumi!"
Suara Liu Er menggema.
"Batu ini berasal dari inti pegunungan kuno. Qi tanah di dalamnya cukup untuk membantu kultivator menerobos kemacetan Pembentukan Fondasi. Harga awal seratus ribu Batu Roh!"
Mata Ouyang Lie langsung berbinar.
Inilah benda yang ia tunggu.
Lima tahun ia terhenti di Pembentukan Fondasi Tingkat Menengah. Dengan Batu Roh Urat Bumi, ia yakin bisa menembus Tingkat Akhir.
"Seratus dua puluh ribu!"
Beberapa ketua sekte segera ikut menawar.
"Seratus tiga puluh ribu!"
"Seratus lima puluh ribu!"
Ouyang Lie berdiri dan melepaskan tekanannya.
"Siapa pun yang menawar lebih tinggi berarti menentang Keluarga Ouyang!"
Aula mendadak sunyi.
Liu Er mengerutkan kening. Ancaman terang-terangan itu membuat para penawar enggan melanjutkan.
"Seratus lima puluh ribu. Apakah ada yang..."
"Dua ratus ribu." Suara tenang terdengar dari ruang Kehormatan Nomor 1.
Seluruh aula terdiam. Semua mata tertuju pada balkon gelap itu.
Siapa yang berani menantang Peminpin Keluarga Ouyang?
Di ruang Kehormatan Nomor 2, Ouyang Lie bangkit dengan kasar. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Siapa kau?"
Tatapannya menembus kaca gelap ruang Kehormatan Nomor 1.
"Teman di ruang Kehormatan Nomor 1! Aku, Ouyang Lie, sangat membutuhkan batu itu. Beri aku muka dan serahkan benda itu. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika kau celaka di luar kota!"
Ancaman pembunuhan itu terdengar jelas.
Namun dari ruang Kehormatan Nomor 1 hanya terdengar tawa meremehkan.
"Memberimu muka? Memangnya Keluarga Ouyang punya muka untuk diberikan?" Lin Xuan mencibir. "Kalau tidak punya Batu Roh, bawa putramu pulang dan menangislah di sudut rumah."
Kata-katanya membuat seluruh aula gempar. Beberapa kultivator di lantai dasar bahkan menahan tawa.
"Kau mencari mati!"
Ouyang Lie menghantam kaca spiritual hingga retak.
"Dua Ratus Lima Puluh Ribu!"
"Tiga Ratus Ribu."
Lin Xuan menaikkan harga tanpa ragu. Nada suaranya tetap tenang seolah jumlah itu tak berarti apa-apa.
Wajah Ouyang Lie berubah pucat.
Tiga ratus ribu Batu Roh adalah seluruh kekayaan yang ia bawa hari itu. Jika ia terus menawar dan lawannya menaikkan harga lagi, ia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Bagus... kau boleh mengambilnya, keparat." Ouyang Lie menggertakkan giginya. "Tapi jangan berharap bisa keluar dari kota ini dengan selamat."
Batu Roh Urat Bumi akhirnya jatuh ke tangan Lin Xuan.
Di dalam ruang Kehormatan Nomor 1, Xiao Ya memijat bahunya dengan wajah cemas.
"Tuan Muda, semua Batu Roh dari penjualan pil sudah habis. Bagaimana kita membeli barang berikutnya?"
Lin Xuan tersenyum santai.
"Tenang saja. Master Yan sudah memberiku hak berutang."
Lagipula, menguras kantong musuh sampai muntah darah adalah kesenangan yang tak ternilai.
Satu jam berlalu.
Lelang semakin memanas. Hingga akhirnya Liu Er mengangkat tangannya.
Seluruh lampu padam.
Hanya satu cahaya yang tersisa. Sorotannya jatuh tepat pada sebuah nampan kayu sederhana.
Di atas nampan itu tergeletak lempengan logam hitam seukuran telapak tangan. Bentuknya tak beraturan. Permukaannya kasar dan berkarat. Tak ada sedikit pun aura spiritual yang terpancar darinya.
Di ruang Kehormatan Nomor 1, Kuali Naga Hitam di Lautan Jiwa Lin Xuan tiba-tiba bergetar hebat. Tatapannya langsung menajam.
Serpihan Kedua!
"Hadirin sekalian. Inilah barang misteri hari ini!" seru Liu Er. "Benda ini ditemukan di Reruntuhan Kuno Era Primordial. Api Surgawi maupun pedang pusaka tak mampu menghancurkannya. Namun benda ini juga menolak segala aliran Qi sehingga tak bisa ditempa menjadi senjata."
Kerumunan langsung kecewa.
Benda yang tak bisa dialiri Qi tidak lebih dari besi tua.
"Meski begitu, karena asal-usulnya masih menjadi misteri, harga awal kami tetapkan sepuluh ribu Batu Roh!"
Aula mendadak sunyi. Tak seorang pun mengangkat plakat.
Liu Er mulai canggung. "Sepuluh ribu. Tak ada yang tertarik pada benda kuno ini?"
"Sepuluh ribu. Aku beli untuk mengganjal kaki meja."
Suara Lin Xuan terdengar malas dari ruang Kehormatan Nomor 1.
Beberapa orang menggelengkan kepalanya. Mereka mengira penghuni ruang Kehormatan itu hanya pemuda kaya yang suka menghamburkan Batu Roh.
Di ruang Kehormatan Nomor 2, Ouyang Chen yang sejak tadi menahan sakit tiba-tiba bangkit. Matanya dipenuhi dendam. Ia tak tahu siapa orang di ruang Kehormatan Nomor 1.
Namun melihat orang itu mendapatkan apa yang diinginkannya membuat amarahnya kembali membara.
"Dua puluh ribu!" teriak Ouyang Chen. Ouyang Lie langsung menatap putranya.
"Chen'er, untuk apa kau menawar besi tua itu?!"
"Ayah, aku hanya ingin memancingnya. Biar dia membayar mahal untuk sepotong besi tua," bisik Ouyang Chen licik.
Lin Xuan mendengar semuanya lewat indera jiwanya. Ia hanya mencibir.
Jantung bocah ini sudah berada di ujung maut. Masih saja berani bermain trik.
"Dua Ratus Ribu Batu Roh."
Ouyang Chen langsung tersedak. Dua ratus ribu?!
Ia hanya berniat menaikkan harga sedikit lalu mundur. Siapa sangka Lin Xuan langsung melipatgandakannya berkali-kali.
Seluruh aula gempar.
"Dua ratus ribu untuk besi tua?"
"Orang di ruang Kehormatan Nomor 1 benar-benar gila!"
Ouyang Chen kembali duduk dengan wajah pucat. Ia tak berani menawar lagi. Jika Lin Xuan tiba-tiba berhenti, Keluarga Ouyang harus membayar dua ratus ribu Batu Roh untuk sepotong besi rongsok.
"Tiga... dua... satu!"
Liu Er segera mengetuk palu.
"Terjual kepada ruang Kehormatan Nomor 1!"
Lin Xuan tersenyum tipis.
Memang ia menghabiskan banyak Batu Roh. Bahkan sebagian besar hanya berupa utang. Namun Serpihan Kuali Naga Hitam adalah pusaka yang nilainya jauh melampaui harta fana.
Dua ratus ribu Batu Roh untuk mendapatkannya jelas sebuah keuntungan besar.
Tak lama kemudian, pintu ruang Kehormatan Nomor 1 diketuk.
Master Yan masuk dengan wajah berkeringat. Di tangannya terdapat nampan yang berisi Batu Roh Urat Bumi dan Serpihan Logam Hitam.
"T-Tuan Muda Lin... total belanjaan Anda mencapai lima ratus ribu Batu Roh. Setelah dikurangi hasil penjualan pil sebesar dua ratus ribu, Anda masih berutang tiga ratus ribu," jelas Master Yan hati-hati.
Lin Xuan tetap tenang. Api Teratai Bumi Terdalam menyala di ujung jarinya.
"Aku tidak punya Batu Roh. Tapi aku punya dua puluh Pil Sumsum Harimau Emas Tingkat 2. Semuanya Sembilan Cincin."
Master Yan membeku. Dua puluh pil Sembilan Cincin?!
"Utang lunas! Semuanya lunas, Tuan Muda!" seru Master Yan sambil menerima botol giok dengan kedua tangan. "Bahkan Rumah Lelang masih berutang pada Anda!"
Lin Xuan tak memedulikannya. Ia langsung mengambil lempengan logam hitam itu.
Begitu jarinya menyentuh permukaannya, logam tersebut mencair seperti air raksa lalu tersedot ke dalam Dantiannya.
Di Lautan Jiwa, Kuali Naga Hitam berguncang hebat.
Serpihan itu menyatu dengan retakan besar di sisi kiri kuali. Ukiran naga kedua yang selama ini redup tiba-tiba menyala merah.
Mata naga itu terbuka.
Naga Kedua telah bangkit!
Ledakan informasi kuno mengalir ke dalam pikiran Lin Xuan. Berbagai teknik alkimia dari Era Primordial muncul satu demi satu. Pada saat yang sama, Qi murni yang sangat besar membanjiri tubuhnya.
Lin Xuan segera memejamkan mata.
Pondasi kultivasinya di Tingkat 7 mulai bergetar hebat.
Terobosan sudah di ambang pintu.
Namun di luar Rumah Lelang Kekaisaran, ratusan pembunuh Keluarga Ouyang telah mengepung seluruh pintu keluar.
Jaring kematian telah ditebar.
Mereka hanya menunggu mangsanya keluar.