Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Tak Mengenalnya Lagi
Kemarahannya yang selama ini ditahan akhirnya pecah. Bukan kemarahan yang liar dan membabi buta, melainkan kemarahan seorang perempuan yang telah terlalu lama menghormati orang lain hingga mereka mengira dirinya tidak memiliki batas kesabaran.
“Jika Yang Mulia memerintahkan hamba mengaku demi menjaga kehormatan kerajaan, apakah itu berarti kehormatan kerajaan lebih penting daripada kebenaran? Jika hamba mengakui dosa yang tidak pernah hamba lakukan, apakah kebohongan akan berubah menjadi kenyataan hanya karena diucapkan di hadapan singgasana?”
Raja menatapnya dengan rahang mengeras.
Wang Laoyin melanjutkan, suaranya bergetar oleh kepedihan yang semakin sulit ditahan.
“Selama bertahun-tahun, hamba menjaga nama keluarga kerajaan. Hamba menanggung penghinaan para selir, menengahi perselisihan para bangsawan, dan menjalankan kewajiban hamba sebagai Permaisuri tanpa meminta Yang Mulia membalasnya. Hamba berdiri di sisi Yang Mulia ketika orang-orang lain meragukan keputusan Yang Mulia. Hamba percaya bahwa selama hamba setia, Yang Mulia akan menjadi orang pertama yang melindungi hamba dari ketidakadilan.” Ia menarik napas, tetapi dadanya terasa semakin sesak.
“Tetapi sekarang, ketika hamba membutuhkan perlindungan itu, Yang Mulia justru meminta hamba berbohong.” Kalimat terakhirnya nyaris berbisik. Justru karena diucapkan dengan suara pelan, kata-kata itu terasa jauh lebih menyakitkan.
Raja Han Quan memalingkan wajah. Untuk sesaat, kesunyian memenuhi ruangan. Asap dupa melayang di antara mereka, membentuk garis-garis tipis yang segera buyar. Di luar jendela, ranting pinus bergesekan, mengeluarkan suara lirih yang menyerupai bisikan orang-orang yang sedang meratapi sebuah kematian. Bukan kematian tubuh melainkan kematian kepercayaan.
Raja Han Quan berjalan menuju jendela besar di sisi timur. Dari sana, ia dapat melihat taman kerajaan yang membentang hingga ke gerbang dalam. Para pelayan bergerak membawa keranjang bunga, penjaga berganti giliran, dan beberapa kasim bergegas menyampaikan laporan. Kehidupan istana terus berjalan seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di balik pintu ruang pribadi Raja.
“Biar apapun yang kamu lakukan di belakangku, aku menaruh hatiku padamu. Aku tidak ingin menghancurkanmu,” katanya setelah beberapa saat.
Wang Laoyin tertawa kecil. Tawa itu terdengar begitu getir hingga Raja menoleh.
“Yang Mulia tidak ingin menghancurkan hamba?” Ia menggeleng perlahan. “Lalu apa yang sedang Yang Mulia lakukan sekarang?”
“Aku sedang berusaha menyelamatkan kerajaan dari skandal.” Raja Han Quan menyahut meski jauh di dalam hatinya kebimbangan menusuk-nusuk, tapi semua bukti telah jadi bahan rumor yang sulit di bantah.
“Dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah?” Wang Laoyin membeku dalam rasa geram.
“Kadang-kadang, seorang penguasa harus membuat keputusan yang tidak menyenangkan.”
“Kalau begitu, mengapa bukan Yang Mulia yang menanggung ketidaknyamanan itu? Mengapa hamba yang harus mengorbankan nama dan kehormatan hamba untuk menutupi sesuatu yang bahkan belum terbukti?”
Raja mengepalkan tangannya.
“Karena kau adalah Permaisuri! Setiap tindakanmu membawa nama kerajaan!” Suara Sang Raja semakin meninggi.
Wang Laoyin menatapnya tajam.
“Dan karena hamba adalah Permaisuri, Yang Mulia merasa berhak meminta hamba menanggung segala sesuatu, termasuk dosa yang bukan milik hamba?”
Raja tidak menjawab.
“Jika seorang rakyat kecil difitnah, apakah ia juga harus mengaku demi ketenteraman desa? Jika seorang pejabat dituduh melakukan pengkhianatan, apakah ia harus menerima hukuman hanya agar para bangsawan tidak kehilangan muka? Jika seorang hakim mengetahui bahwa orang yang berdiri di hadapannya tidak bersalah, tetapi tetap menjatuhkan hukuman karena takut kepada penguasa, apakah ia masih pantas disebut penegak keadilan?”Wang Laoyin mengangkat dagunya.
“Permaisuri!”
“Jawablah, Yang Mulia!” Suaranya membelah keheningan seperti petir yang menyambar puncak gunung.
“Apakah kebenaran hanya berlaku ketika kebenaran itu menguntungkan takhta?” keberanian Wang Laoyin kadang-kadang membuat raja Han Quan merinding.
Raja Han Quan menatapnya lagi. Ia tidak terbiasa ditanyai seperti itu. Para pejabat selalu memilih kata-kata dengan hati-hati di hadapannya. Para selir menunduk ketika ia marah. Bahkan para panglima perang yang pernah kembali dari medan pertempuran dengan kemenangan besar pun tidak berani menatap matanya terlalu lama ketika ia sedang menjatuhkan keputusan.
Namun, Wang Laoyin berdiri di hadapannya tanpa gentar.
Perempuan itu tidak memiliki pedang di tangannya, tidak memiliki pasukan di belakangnya, dan tidak memiliki seorang pun yang dapat menjamin keselamatannya. Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dapat dirampas oleh perintah kerajaan: keyakinan bahwa dirinya tidak bersalah.
Dan keyakinan itu membuatnya lebih sulit ditundukkan daripada seorang musuh bersenjata lengkap.
Raja akhirnya berkata, “Aku tidak meminta kau mengaku di hadapan seluruh negeri. Cukup katakan kepadaku bahwa kau telah melakukan kesalahan. Setelah itu, biarkan aku mengatur semuanya.”
Wang Laoyin memandangnya dengan tatapan yang nyaris tidak percaya.
“Jadi, Yang Mulia bahkan tidak membutuhkan kebenaran?”
“Aku membutuhkan ketenangan. Tahta ini perlu ketenangan..." Raja Han Quan untuk pertama kali terlihat bimbang.
“Dengan kebohongan?”
“Dengan keputusan yang harus diambil seorang raja!”
Wang Laoyin terdiam. Ia merasa seolah-olah sebuah pintu besar telah tertutup di dalam dirinya. Di balik pintu itu tersimpan semua kenangan tentang lelaki yang pernah ia cintai, semua janji yang pernah ia percayai, dan semua harapan bahwa suatu hari nanti mereka akan menua bersama sebagai dua orang yang tetap saling memahami meskipun dunia di sekitar mereka berubah.Pintu itu kini mulai runtuh.
Bukan karena Raja membentaknya.
Bukan karena ia mengurungnya.
Melainkan karena Raja telah memperlihatkan bahwa dalam keadaan tertentu, ia lebih memilih kenyamanan kekuasaan daripada kebenaran perempuan yang berdiri di sisinya.
Wang Laoyin menundukkan kepala sebentar. Ketika ia kembali mengangkat wajah, matanya telah kehilangan kelembutan yang selama ini selalu ia sisakan untuk Raja Han Quan.
“Baiklah,” katanya.
Raja tampak sedikit lega.
“Jadi, kau bersedia mengakui—”
“Tidak.”
Satu kata.
Pendek.
Tegas.
Tidak menyisakan celah sedikit pun.
Wang Laoyin berdiri tegak, kedua tangannya terlipat di depan tubuhnya. Ia tampak seperti patung phoenix yang dibentuk dari batu giok, indah dan anggun, tetapi mustahil dipatahkan hanya dengan tekanan tangan.
“Hamba tidak akan mengaku melakukan sesuatu yang tidak pernah hamba lakukan. Hamba tidak akan menodai nama hamba sendiri demi memudahkan orang lain menyembunyikan kejahatan mereka. Jika Yang Mulia ingin menghukum hamba, lakukanlah berdasarkan hukum. Jika Yang Mulia ingin memeriksa hamba, periksalah dengan adil. Tetapi jangan meminta hamba berlutut di hadapan kebohongan dan menyebutnya sebagai pengabdian.” Kalimat terlontar dengan nada dingin.
Wajah Raja memerah.
“Apakah kau sadar kepada siapa kau sedang berbicara?”
“Hamba sangat sadar.”
Wang Laoyin menatapnya lurus-lurus.
“Hamba sedang berbicara kepada Raja Han Quan, penguasa Weiyang, lelaki yang memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman kepada siapa pun di negeri ini. Tetapi hamba juga sedang berbicara kepada lelaki yang pernah berjanji bahwa ia akan mendengar penjelasan hamba sebelum mempercayai tuduhan orang lain.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan hari ini, hamba tidak lagi mengenali lelaki itu.”
(Bersambung, readers kesayangan semua. Yuk kita lanjut lagi. Jangan lupa ya, like, komen dan supportnya😙 Lap yuuuuu)
itu pun jika kau pnya hati....🙄🙄
serasa aku yang jdi wang laoyin...😁